Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
25. Bughatti Chiron Milik Siapa?



Qia sedang bersiap-siap mengerjakan skripsi ketika bel rumahnya berbunyi berulang-ulang. Umumnya, orang yang akan bertamu hanya memencet satu kali, kemudian berhenti sejenak untuk menunggu respon dari pemilik rumah. Namun, tamu yang datang kali ini kelihatannya berbeda. Belum ada dua menit, ia sudah memencet bel berulang kali, pertanda sang tamu adalah orang yang tidak sabaran. Hal ini membuat Qia jadi kelabakan. Pasalnya, ia tidak memakai gamis ataupun kerudung di dalam rumah.


“Biar Ayah saja, Qi,” kata Pak Zul sambil mengintip terlebih dahulu di lubang kunci.


Melihat raut terkejut ayahnya, Qia jadi bertanya-tanya. Karena penasaran, akhirnya ia ikut mengintip juga. Di balik lubang itu, sayup-sayup mata Qia menangkap dua mobil mewah di berhenti di pinggir jalan depan rumahnya. Tadinya ia mengira yang datang itu Andre karena pemilik Yayasan itu tadi siang telah memberitahunya kalau ia akan dating terkait hal penting yang hanya bisa disampaikan secara langsung. Akan tetapi, yang nangkring di depan rumahnya itu bukan Pajero sport milik Andre, tetapi Bughatti Chiron keluaran terbaru yang bisa jadi pemiliknya hanya bisa dihitung dengan jarinya. Sejenak, rasa takut mulai membayang di wajah cantik itu. Bagaimanapun, ia masih trauma dengan kasus yang saat ini masih membelitnya.


“Kamu masuk ke dalam dulu, Qi, biar Ayah yang temui mereka,” ulang Pak Zul melihat wajah pucat putri semata wayangnya.


Qia mengangguk. Ia lalu masuk ke dalam kamar dan segera memakai gamis dan kerudungnya untuk berjaga-jaga barangkali diperlukan. Sempat terlintas di benaknya untuk menghubungi Satrio. Bagaimanapun, pemuda itu adalah calon suaminya. Kalau terjadi sesuatu dengan keluarganya, pemuda itu bisa langsung menghubungi polisi. Namun, niat itu segera ia urungkan mengingat sikap Satrio selama ini yang cuek dan terkesan meremehkan. Ia tidak mau, hanya karena ada dua mobil mewah di depan rumah yang belum jelas apa maksudnya, ia ketakutan dan akhirnya menjadi bahan tertawaan, terutama oleh Satrio. Jikaa teringat hal itu, rasa sebal di dalam dirinya kembali muncul.


***


Pintu dibuka. Seorang pria berpakaian serba hitam dengan tubuh tegap dan terlihat sangat kuat tampak berdiri di hadapan Pak Zul.


“Maaf, apa benar ini rumahnya Ustazah Taqiya?” tanya orang itu.


Sesaat, lelaki yang banyak makan asam garam itu sempat tertegun. “Betul,” jawab Pak Zul akhirnya. “Anda siapa … dan ada maksud apa mencari anak saya?” tanya Pak Zula lagi. Rupanya ia mulai curiga. Tiba-tiba ayah dari Taqiya itu merasa cemas. Ia sangat mengkhawatirkan Qia. Bagaimanapun, anaknya itu sedang menghadapi kasus yang cukup rumit. Ia tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa anak gadisnya.


“Untuk maksud kedatangan kami, biar atasan saya saja yang menyampaikan. Maaf, tadi saya hanya ingin memastikan bahwa kami tidak salah alamat.”


Setelah berkata begitu, lelaki itu lalu menuju Bughatti Chiron yang ada di depan, kemudian menyampaikan pada orang-orang yang ada di dalamnya bahwa mereka mendatangi alamat yang benar.


Tak lama kemudian, seorang pemuda tampan dan gagah keluar bersamaan dengan lelaki paruh baya yang juga masih terlihat tampan dan gagah. Tanpa ragu, mereka berjalan mendekati Pak Zul diikuti dengan beberapa orang dari Bughati Choron yang ada di belakang dengan membawa banyak bingkisan. Saking banyaknya, Pak Zul sampai membelalakkan mata.


“Mohon maaf sebelumnya Pak Zul, kami telah mengejutkan Bapak dengan datang secara beramai-ramai tanpa memberitahukan sebelumnya. Perkenalkan, Saya Andre, pemilik yayasan tempat Ustazah Qia menagajar, dan ini adalah ayah saya, Bapak Wijaya Kusuma,” kata Andre setelah mereka berbalas salam.


Mendengar itu, rasa terkejut di raut muka Pak Zul belum hilang. Namun begitu, ada sedikit kelegaan di hatinya karena yang datang adalah orang yang dikenal Qia. Paling tidak, ini tidak ada kaitannya dengn kasus yang sedang menimpa Qia.


“Oh, mari, silakan masuk,” ajak Pak Zul sopan. Namun begitu, ia bersikap normal, sangat jauh dari kesan menjilat atau merendahkan diri, mengingat orang yang datang adalah pengusaha terkaya nomor tiga di tanah air. Orang tua dari Andre itu juga seorang pejabat publik yang cukup populer karena sepek terjangnya di kancah perpolitikan.


Andre dan Pak Wijaya Kusuma lalu duduk di kursi. Begitu pula beberapa orang yang membawa bingkisan. Karena bingkisan itu di bagian atasnya hanya ditutup dengan mika transparas, maka siapa pun bisa melihat isinya. Ada beberapa set perhiasan mahal, baju, tas, dan sepatu branded. Juga masih banyak yang lain, membuat Pak Zul menelan ludah. Bukan karena ngiler, tapi karena perasaan cemas tiba-tiba meliputi hatinya. Firasat buruk tiba-tiba datang menerpa meski Andre belum megutarakan niatnya.


“Sepertinya bingkisan itu adalah seserahan lamaran,” pikir Pak Zul. “Sebenarnya, ada apa, ya Nak Andre, Pak Wijaya?” tanya Pak Zul sopan.


“Sebenarnya, maksud kedatangan kami ini adalah untuk melamar putri Bapak,” jawab Pak Wijaya penuh wibawa.


“Duar ….” Meski dalam hati sudah menduga, tetapi Pak Zul tetap terkejut juga. Bukan karena apa, masalahnya, Qia sudah menerima lamaran dari Satrio, dan tidak mungkin untuk dibatalkan mengingat kedekatan keluarga mereka dengan Abi Kun dan Umi Silmi.


“Betul Pak Zul. Saya ingin melamar Ustazah Taqiya,” tegas Andre mantap. Wajah pemuda itu terlihat penuh harapan membuat Pak Zul merasa tidak nyaman.


Sebenarnya, bisa saja Pak Zul langsung menolak niat baik mereka. Namun, rasanya sangat tidak sopan kalau langsung menolak detik itu juga. Ia perlu mengulur waktu sejenak, untuk mencari kata-kata penolakan yang tepat tanpa menyinggung sama sekali.


“Silakan, Pak Zul,” jawab Andre dan Pak Wijaya serempak.


Pak Zul bergegas masuk ke dalam, kemudian memberitahukan pada Qia dan Bu Mirna, siapa tamu yang datang dan apa maksud kedatangan mereka.


Sesaat, Qia merasa agak tegang. Ia betul-betul tidak menyangka kalau yang datang adalah betul-betul Andre, mengingat biasanya pemuda itu sepaket dengan Pajero Sportnya.


“Ya sudah, kita keluar saja sekarang, biar mereka tidak menunggu terlalu lama,” ujar Bu Mirna. Qia dan Pak Zul langsung setuju.


Pak Zul keluar duluan, disusul dengan Bu Mirna dan Qia yang membawa nampan. Sesaat, gadis itu melirik ke arah Andre dan pria paruh baya di sebelahnya.


“Dug.” Qia terkejut bukan kepalang. Saking terkejutnya, sampai-sampai nampan yang ia bawa hampir jatuh. Untungnya, Bu Mirna segera memegangi tangan Qia dan nampan berisi minuman itu. Tadi Pak Zul hanya mengatakan kalau Andre datang bersama dengan ayahnya untuk melamar. Pak Zul tidak mengatakan kalau ayahnya adalah Pak Wijaya.


Siapa yang tidak kenal dengan lelaki itu? Sebagai seorang penulis, Qia dituntut untuk memahami banyak hal, meski tidak secara detil, termasuk dunia perpolitikan. Tentu saja ia tahu siapa Wijaya Kusuma, seorang pengusaha besar sekaligus pejabat publik yang sangat terkenal. Qia juga tahu kalau Wijaya Kusuma juga mempunyai putra tunggal yang akan menjadi pewaris kerajaan bisnis sang ayah. Itu berarti, memiliki beberapa yayasan sosial dan pendidikan hayalah seujung kuku dari kekayaannya. Sungguh, Qia tidak pernah mengetahui bahwa Andrelah orangnya, lelaki yang selama ini menyukainya dalam diam, tetapi Qia sama sekali tidak pernah menggubrisnya. Menyesal? Oh, tentu tidak. Justru Qia merasa bersyukur karena selama ini selalu mengabaikannya.


Qia lalu duduk di sebelah Bu Mirna setelah meletakkan nampan di atas meja. Ia mengangguk tipis ke arah Andre dan ayahnya untuk menghormati mereka.


“Maaf, Ustazah, kalau kedatangan kami ini sangat mendadak dan mungkin membuat kalian terkejut. Seperti yang tadi saya sampaikan pada Pak Zul, kami datang ke sini untuk melamar Ustazah.” Kali ini Andre yang membuka pembicaraan. Terlihat sekali pemuda itu sangat gugup di hadapan Qia. Sebenarnya Andre masih ragu terkait status Qia, apakah gadis itu sudah menerima lamaran orang lain atau belum. Meski sudah ada desas-desus, tetapi ia memilih untuk mengababaikan dan melawan hati nuraninya.


Qia dan kedua orang tuanya terlihat masih syok. Gadis itu sekilas melirik ke seserahan yang dibawah oleh bawahan Andre. Pemuda itu secara spontan megikuti tatapan Qia. Saat gadis itu menatap kembali ke arah Andre, pemuda itu tidak menemukan kebahagian dan kebanggaan di mata Qia, layaknya tatapan seorang gadis saat dilamar. Justru yang ditemukan di mata itu adalah rasa tidak suka dan keengganan.


Diam-diam pemuda tampan itu merutuki ayahnya. Tadinya ia hanya ingin mengajak ayahnya untuk sekadar menanyakan kejelasan status Qia dan kesediaannya untuk menikah dengannya. Namun, begitu mengetahui siapa gadis yang disukai Andre, entah mengapa Pak Wijaya sangat antusias dan ngotot untuk melamar dan membawa seserahan saat itu juga.


“Kamu harus menunjukan kesungguhanmu, Ndre. Lagipula, gadis itu harus tahu siapa dirimu sebenarnya,” jawab Pak Wijaya enteng.


“Tapi Qia bukan gadis sembarangan, Pa, ia tidak pernah silau terhadap harta.”


“Bodoh … dia belum tahu aja, siapa kamu sesungguhnya, dan berapa banyak kekayaanmu.”


“Tapi, Pa ….”


“Kamu harus realistis. Semua Wanita itu sama. Mereka sama-sama menyukai harta. Percayalah, gadis itu tidak akan menolakmu begitu tahu kalau kamu adalah pewaris tunggal kerajaan bisnis Wijaya.”


Pada akhirnya, Andre memilih untuk mengalah. Ia membiarkan papanya bertindak sesuka hati, bahkan ide membawa Bughatti Chiron itu juga berasal dari sang papa. Jujur, pemuda itu sudah cukup senang terhadap antusiasme dari papanya. Ia tidak menyangka mengingat selama ini orang tua itu selalu pilih-pili dalam hal apa pun. Andre tidak menyangka kalau papanya sangat menyukai Qia.