
"Serahkan gadis itu padaku, aku akan mengampunimu!" teriak orang itu lagi.
"Jangan mimpi! Berhenti bergerak, atau aku akan benar-benar menggorok lehernya." Lelaki yang menyandera Qia balik menggertak.
Qia semakin ketakutan. Dalam keadaan seperti itu, pikirannya tiba-tiba menjadi buntu.
***
Saat itu, posisi Qia ada di depan, sementara pria penyandera ada di belakangnya. Tangan kekar pria itu melingkar dengan posisi pisau tepat di leher Qia. Meski saat itu kerudung Qia sangat besar dengan bahan yang cukup tebal, tapi andai pisau itu digesek, tentu ia tetap terluka.
Sementara itu, pria bermata tajam semakin mendekat. Ia terlihat tidak peduli dengan ancaman pria penyandera. Dalam hal ini, yang paling tidak diuntungkan adalah Qia.
"Sudah kubilang, jangan mendekat atau gadis ini akan celaka." Sekali lagi lelaki yang sedang menyekap Qia itu berteriak.
Namun, lelaki bermata tajam seolah tidak peduli. Ia terus berjalan mendekat. Sebuah seringai tampak di sudut bibirnya. Orang yang menyandera Qia menjadi semakin panik. Spontan, ia menekan ujung pisau ke leher Qia kuat-kuat sambil menyeret gadis itu mundur ke belakang.
Jangan dibayangkan, apa yang dirasakan Qia. Saat itu, ia benar-benar sangat ketakutan. Namun, apa daya, ia sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. Mau teriak juga percuma, yang ada malah dirinya tambah celaka. Apalagi, gang yang mereka masuki tadi tergolong sepi. Mungkin orang-orang tahu apa yang sedang terjadi sehingga tidak ada yang berani keluar rumah.
Sampai di pertigaan gang, tanpa diduga sebuah kepalan tiba-tiba menghantam kepala orang yang menyandera Qia. Begitu kerasnya pukulan itu hingga membuat orang yang menyandera Qia terhuyung ke depan membuat posisi gadis itu dengan dirinya agak merenggang. Belum sampai orang itu berdiri tegak dan menyadari apa yang terjadi, sebuah tendangan keras kembali meluncur di kepalanya membuat orang itu sempoyongan hingga Qia betul-betul terlepas dari genggamannya. Secepat kilat, pemilik tendangan itu segera meraih tangan Qia dan menyeretnya ke arah tikungan.
Sementara, lelaki bermata tajam yang sedari tadi mengikuti Qia merasa terkejut dengan kejadian itu. Tadinya ia ingin menculik Qia sesuai dengan perintah bosnya. Hampir saja ia berhasil merebut Qia dari penyandera itu, tetapi penyerangan secara mendadak itu mengacaukan segalanya. Saat Qia dibawa menghilang di balik tikungan, lelaki bermata tajam itu sempat melepaskan tembakan.
"Duar."
Tembakan itu mengenai tiang listrik. Qia semakin ketakutan, tetapi ia berhasil diseret lebih jauh ke arah tikungan. Ternyata, sebuah Rubicon sudah menunggu mereka di sana.
"Masuk ..." perintah orang itu sambil membuka pintu dan mendorong Qia ke dalam.
Gadis itu tidak punya pilihan selain pasrah. "Bebas dari mulut harimau, sekarang pindah ke mulut singa," pikir Qia.
Mobil berlari kencang. Qia tidak tahu, sekarang ia dibawa ke mana. Saat itu, ia hanya bisa pasrah dan berdoa.
Sempat terlintas di pikirannya untuk menghubungi orang tuanya atau Satrio, tetapi orang yang duduk di sampingnya terus mengawasinya. Qia jadi takut. Bahkan, untuk bernapas pun rasanya susah. Ada dua orang selain Qia di dalam mobil itu. Seorang supir yang berpakaian serba hitam dan satunya lagi orang yang tadi membawa Qia dan sekarang duduk di sebelahnya. Ia juga berpakaian serba hitam. Selama dalam perjalanan, tidak ada satu pun dari mereka yang bersuara. Untuk sementara Qia merasa sedikit lega karena orang-orang itu ternyata tidak melakukan apa-apa padanya.
Tiba-tiba Rubicon itu berhenti. Qia hampir terjungkal karena mendadak sekali.
"Sudah sampai, Nona, silakan turun!" kata orang itu singkat.
Qia yang terkejut langsung menatap sekeliling.
"Eh ... Bukankah itu rumahku?" batin Qia sambil membelalakkan mata. Sungguh, ia hampir tidak percaya, ternyata orang-orang itu telah menolongnya. "Siapa mereka?"
"Anda bisa membuka pintu sendiri, Nona?"
Suara berat itu kembali masuk ke gendang telinga Qia. Gadis itu spontan menatap orang itu lekat-lekat. Maksudnya untuk membaca raut muka orang itu, siapa tahu bisa menemukan petunjuk. Namun, yang diperhatikan justru malah salah tingkah. Qia lupa, harusnya ia menundukkan pandangan. Namun, saat itu ia tidak kepikiran sama sekali.
"Sial, diperhatikan gadis secantik ini, mana tahan? Mana posisi dia deket banget ... sial, kenapa gue jadi deg degan gini? Kalau Bos tahu, bisa mati, gue," batin orang itu.
"E hem ..." Sebuah deheman dari kursi depan mengagetkan Qia dan lelaki di sampingnya.
Qia mengalihkan tatapan ke kursi depan. Kemudian kembali melihat orang yang ada di sampingnya.
"Terima kasih," ucapnya kemudian membuka pintu dan buru-buru keluar. Ia tidak mau kalau dua orang itu berubah pikiran.
Begitu sampai di depan pintu, sekali lagi, ia menoleh ke arah Rubicon, kemudian berlari kecil masuk ke dalam rumahnya.
***
Rubicon itu berlalu setelah Qia menghilang dari pandangan.
"Gimana rasanya?"
"Apaan?"
"Tadi, dipandangi cewek cantik polos sedemikian rupa?"
"Jangan bikin rumor yang gak jelas juntrungannya! Atau ...."
"Mulut usil lo terkena bogem mentah ..."
"Hallaaaa .... sekarang aja, galak amat. Tadi, bahkan sampai merona. Heran gue, playboy kayak lo ternyata bisa juga grogi di depan cewek sepolos dia ... ha ha ha."
"Sialan ... Itu fitnah. Jangan bicara macam-macam. Kalau si Bos tahu, bisa dipanggang, gue."
"Nah, itu ... tahu diri juga ... ha ha ha."
"Sial."
***
Sementara itu, di dalam rumah, Qia terlihat ngos-ngosan sambil bersandar di pintu. Ia masih terlihat syok. Pak Zul dan Bu Mirna yang sedang duduk di ruang tamu tentu saja terkejut.
"Kenapa, Qi?" tanya Bu Mirna khawatir.
"Eh, Ayah Ibu, assalamu'alaikum," ucapnya begitu menyadari kalau kedua orang tuanya ada di ruang tamu.
"Waalaikum salam. Kamu kenapa?" tanya Bu Mirna lagi.
Qia tidak menjawab. Ia lalu duduk di salah satu kursi, kemudian meraih salah satu gelas berisi teh yang ada di meja.
"Maaf, Bu, ini Qia minum satu," ujarnya sambil meneguk minuman itu setelah berdoa dalam hati. Dalam tiga teguk, cairan berwarna coklat itu langsung tandas.
Pak Zul dan Bu Mirna yang memperlihatkan hal itu saling pandang. Mereka jadi khawatir.
"Qi ... Kamu baik-baik saja, kan, Nak?" tanya Bu Mirna lagi. Sementara, Pak Zul masih menunggu dengan sabar.
Qia yang sudah merasa sedikit tenang, kemudian meletakkan tas di atas meja dan mulai menarik napas panjang.
"Tadi Qia ditodong orang, Bu," ujar Qia singkat.
"Apa?" Pak Zul dan Bu Mirna serempak bertanya. Bahkan, pria paruh baya itu sampai hampir terjatuh dari tempat duduknya.
"Bagaimana bisa, Qi?" tanya Bu Mirna belum hilang terkejutnya.
"Qia juga tidak tahu, Bu. Kejadiannya begitu cepat."
"Metro itu kota besar. Masak di sana tidak ada orang sama sekali?" tanya Pak Zul heran.
"Justru di sana ramai sekali, Yah."
"Trus, gak ada yang nolongin kamu, Qi?" tanya Bu Mirna tidak habis pikir.
Qia lalu menceritakan kejadiannya mulai dari awal hingga akhir, mulai dari ketika ia diikuti, hingga sampai diantar di depan rumah. Semua ia ceritakan tanpa ditambah atau dikurangi.
"Ya Allah, Qi, itu blai slamet (celaka tetapi selamat) namanya. Trus .... Orang yang mau mencelakai Qia itu siapa, Yah? Trus yang nolongin itu juga siapa? Kita lapor polisi saja, Yah ... Ibu khawatir mereka akan mencelakai Qia lagi," cerocos Bu Mirna cemas.
"Tenang, Bu," jawab Pak Zul.
"Tenang bagaimana? Nyawa anak kita sedang terancam? Bagaimana Ibu bisa tenang?" kata Bu Mirna lagi.
"Ayah tahu. Ayah juga sangat mencemaskan Qia. Tapi kita tidak bisa bertindak gegabah. Saat ini kita tidak punya bukti apa-apa," jelas Pak Zul. Bu Mirna dan Qia terdiam. Ayah benar, saat ini mereka tidak punya bukti apa-apa. Hanya berdasarkan cerita Qia saja tentu tidak akan membuat polisi percaya.
"Lantas, kita harus bagaimana? Apa kita harus diam saja?" tanya Bu Mirna.
Semua terdiam, terlihat masing-masing sedang berpikir keras.
"Tentu saja kita tidak akan tinggal diam. Insyaallah kita akan menemukan jalan keluar. Ayah akan menceritakan kejadian ini pada Abi Kun, siapa tahu mereka punya solusi. Bagaimana pun, Satrio juga harus tahu tentang ini," kata Pak Zul.
"Kenapa begitu, Yah?" tanya Qia tak nyaman.
"Bagaimanapun, kalian sudah bertunangan. Ia berhak tahu apa yang terjadi pada dirimu. Siapa tahu, ia memiliki solusi atas persoalan ini," putus Pak Zul.
Kalau sudah begitu, Qia tidak bisa berbuat apa-apa.