Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
74. Kesal



"Qi, Mereka berdua adalah Kakak kita, selain Kakak Pras. Jadi, kamu jangan takut sama mereka," ujar Satrio kemudian, membuat hati dokter Iman dan Adrian menghangat.


Qia mengangguk, kemudian menatap sekilas dua orang yang kini menjadi kakaknya. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana.


Kalau Pras adalah kakak kandung suaminya, dua orang hebat ini pasti kakak angkatnya. Kalau begitu, suaminya pasti bukan orang sembarangan.


Bos suaminya sebenarnya orang yang sangat berwibawa. Aura kepemimpinannya sangat kuat. Hampir sama dengan Satrio, lelaki itu juga tidak banyak bicara, lebih mendekati dingin. Setidaknya yang dirasakan Qia saat itu, ketika mereka baru saja bertemu. Entah kalau kebiasaannya sehari-hari.


Begitu juga dengan dokter Iman, lelaki itu juga memiliki aura yang luar biasa. Hanya saja, performanya lebih lembut dan ramah dibandingkan si Bos dan Suaminya.


Namun, entah mengapa suaminya bersikap rada urakan di hadapan mereka. Apa mungkin karena kedekatan mereka? Qia yakin, mereka bersikap seperti itu hanya ketika tidak bersama dengan orang lain. Tapi sekarang kan ada dirinya?


Qia jadi bingung, harus mengambil sikap bagaimana. Jujur, ia masih merasa sangat canggung.


"Kenapa?" tanya Satrio ketika melihat Qia terdiam.


"Tidak apa-apa, cuma ... sedikit haus saja. Tadi mau beli minum di luar, tapi ... lupa kalau tas Qia masih ada di mobil," jawab Qia agak terbata.


Sebenarnya tadi Qia hanya bermaksud mengalihkan pembicaraan karena ia mulai merasa tidak nyaman dengan orang yang baru ia kenal, meski mereka sudah dianggap sebagai saudara. Namun, ternyata respon Satrio sungguh di luar dugaan.


Suami Qia melirik jam di pergelangan tangan. Dahinya terlihat mengernyit.


"Sudah hampir pukul delapan malam, kamu belum minum sama sekali? Gak ada yang ambilin kamu makanan juga?" tanya Satrio khawatir.


Ia tahu, saat terjadi baku tembak tadi, Qia sangat ketakutan. Gadis itu pasti sangat syok. Paling tidak, seseorang mestinya memberinya minum.


Ia juga tahu kebiasaan Qia. Gadis ini mudah sekali sakit kepala, terutama kalau telat makan.


Ditanya seperti itu, Qia tidak menjawab. Ia tahu kalau suaminya sedang marah karena tidak ada seorang pun dari anak buahnya yang memperhatikan istrinya.


"Astaghfirullah, aku salah pilih kata, nih," pikir Qia.


Tiba-tiba saja ruangan yang sudah dingin karena AC itu berubah menjadi semakin dingin.


"Hebat betul, dua kakakku ini, betul-betul baik hati dan penuh perhatian. Lihatlah, istri kecilku ini sangat menyedihkan, tapi kalian tidak berbuat apa-apa," ucap Satrio datar.


Dokter Iman dan Adrian saling pandang. Tentu saja mereka berdua tidak kepikiran untuk memperhatikan Qia secara mendalam. Tadi mereka sangat fokus dengan keadaan Satrio.


Kata-kata yang diucapkan Satrio itu membuat Qia merasa tidak nyaman. Jelas sekali lelaki tampan yang kini menjadi suaminya itu sedang menyalahkan dua orang sahabatnya.


"Kak, jangan begitu. Kita semua mencemaskanmu tadi. Jadi, wajar kalau gak kepikiran soal yang lain. Lagipula, mereka kan tidak tahu siapa Qia," kata Qia mencoba menenangkan.


"Siapa bilang dia tidak kenal kamu." Satrio berkata ketus sambil melirik Adrian.


Sebagai seorang pimpinan yang memerintahkan dirinya untuk menikahi Qia, tentu saja Adrian mengenal gadis itu, bahkan sangat baik.


"Sorry, Bro, istri lo benar, kita semua memang sedang fokus sama lo tadi. Kita semua mencemaskan lo," kata dokter Imam.


"Dan gue mencemaskan dia," potong Satrio cepat. "Kalau tadi gue gak tertolong, gue yakin kalian berdua tidak akan peduli sama dia."


"Kak, kenapa bilang seperti itu. Apa Kakak tidak tahu, betapa cemasnya Qia tadi." Wajah Qia memerah, bukan karena tersipu, tetapi karena marah dengan pernyataan suaminya. Matanya tampak berkaca-kaca.


Hati Satrio jadi mencelos seketika. Sungguh, ia tidak menyangka kalau kata-katanya tadi membuat gadisnya hampir meneteskan air mata.


"Maaf, Kakak hanya kesal sama mereka. Aku hampir sekarat. Kalau aku meninggal ...."


"Kak ... Qia tidak suka Kakak bicara seperti itu. Apa Kakak tidak tahu betapa takutnya Qia tadi. Qia sudah pernah merasakan itu, Kak. Bahkan, Qia melihat dengan mata kepala sendiri saat jenazah Kak Pras keluar dari ruang ICU. Qia gak mau itu terulang lagi." Awalnya suara gadis itu cukup keras namun semakin lama semakin pelan seiring dengan keluarnya isakan. Gadis itu kini kembali sesenggukan.


Hati Satrio semakin mencelos. Ia baru menyadari kalau istri kecilnya ini memang agak trauma. Bahkan, ia juga tahu saat Qia pingsan dalam pelukan uminya karena waktu itu ia juga ada di sana. Lelaki dingin itu lalu meraih tubuh gadis itu dan membenamkan ke dalam pelukannya.


"Berjanjilah, Kakak tidak akan pernah mengucapkan kata-kata seperti itu lagi. Qia takut ...." Qia mengucapkan itu dengan terbata-bata sambil terisak. Air mata masih mengucur deras dari kedua netranya.


Satrio semakin tidak berdaya. Hatinya juga serasa diremas-remas.


"Maafkan Kakak, ya. Kakak janji, tidak akan pernah mengucapkan itu lagi," kata Satrio tercekat. Tangan kokohnya menghapus air mata yang semakin menderas itu.


"Jangan menangis lagi. Lihatlah, suamimu yang tampan dan baik hati ini baik-baik saja."


Qia melengos. Mukanya kini memerah karena tersipu.


"Hemmm, mulai lagi narsisnya," pikir Qia.


"Berjanjilah kau tidak akan pernah menangis lagi. Kakak janji, semua akan baik-baik saja. Selama ada Kak Iman, Kakak akan baik-baik saja. Lagipula, Kak Adrian masih jomlo," kata Satrio ambigu.


"Kenapa gue dibawa-bawa?"


"Karena di sini lo satu-satunya yang masih jomlo," jawab Satrio sekenanya


"Terus, apa hubungannya sama luka lo?" kata Adrian kesal.


"Gak ada. Gue cuma kesal sama lo. Kalau Kak Iman, gue masih bisa maklum karena dia lagi ngerawat gue. Dan Lo?" Satrio menggantung kalimatnya.


"Kak, jangan begitu. Kak Adrian ini Kakak kita kan?" kata Qia lembut.


"Justru karena dia kakak kita, sekarang Kakak bisa membullynya. Karena kalau sudah di luar, Kakak tidak bisa melawan perintahnya," kata Satrio santai.


"Dasar lo memang adik lucknut," kata Andrian kesal. Namun, ia tidak marah. Satrio benar tidak ada orang lain, mereka seperti saudara. Kalau sudah di luar, lain lagi ceritanya.


"Adik ipar, kamu harus sering-sering menertibkannya. Lihatlah, adikku terlucknut ini hanya bisa dijinakkan sama pawangnya," kata Adrian lagi.


Kontan saja pernyataan itu membuat wajah Qia memerah. Ia paham kata-kata itu karena sering muncul di novel yang sering ia baca.


"Apa iya aku bisa menjadi pawangnya?" batin Qia. Ia jadi malu sendiri.


Ia melirik sekilas suaminya. Wajah lelaki tampan itu masih terlihat kesal sambil menatap Adrian.


Qia jadi khawatir kalau-kalau dua orang itu akan terus bertengkar. Karena itu, ia segera mengalihkan pembicaraan.


"Iya, Kak. Oh ya, maaf, karena peristiwa penembakan tadi, mobil Kak Adrian jadi rusak berat," kata Qia.


Untuk kesekian kalinya tiga lelaki yang ada di ruangan itu jadi saling pandang.


"Mengenai mobil itu, tidak usah dirisaukan. Lagi pula ia juga belum kasih kado pernikahan kita," potong Satrio cepat.


"Jangan begitu, Kak. Kita pinjam dalam kondisi baik, waktu mengembalikan juga harus dalam kondisi baik pula," kata Qia lagi.


"Satrio benar, Qi. Bos Adrian ini sangat kaya raya. Kalau hanya satu Porche rongsokan saja tidak ada artinya." Kali ini dokter Iman yang bersuara.


Qia jadi membelalakkan mata. Namun, belum sempat ia bersuara, tiba-tiba pintu ruangan dibuka. Seorang gadis cantik dan ramping berpakaian serba hitam masuk tanpa ba-bi-bu.


"Sat, bagaimana keadaan lo? Lo baik-baik saja, kan? Coba gue periksa."


Mendadak suasana jadi mencekam. Tiga lelaki yang ada di ruangan itu saling pandang.


"Anita?"