Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
77. Tempat yang Paling Berbahaya adalah Tempat yang Paling Aman



Adrian menyodorkan beberapa nama. Satrio membacanya sekilas. Ada duapuluh nama. Matanya tiba-tiba sedikit membelalak ketika jatuh pada urutan ke sembilan.


"Kemilau Senja?" gumam Satrio.


"Kenapa? Kau mengenalnya?" tanya Adrian.


"Dia penulis novel idola Qia. Apa iya, ia nulis opini juga?" Gumam Satrio. "Kalau gitu, yang ini, biar aku saja yang mengawasinya."


"Oke."


***


Qia mondar-mandir di depan pintu. Tadinya ia ingin menyampaikan ke suaminya kalau makan siang sudah siap. Namun, secara tak sengaja, ia mendengar perbincangan tiga orang pria yang ada di ruang kerja. Entah karena merasa tidak berbahaya, mereka tidak menutup pintu rapat sehingga Qia masih bisa mendengar.


"Deg! Kemilau Senja? Mereka sedang mengawasi Kemilau Senja?" batin Qia.


Seketika jantung Qia berdetak kencang. Ia mulai menebak-nebak, siapa sesungguhnya Satrio Adi Kuncoro.


Untuk sesaat, gadis itu tampak kebingungan. Sekarang ia jadi ragu, mau terus masuk atau pergi dari tempat itu. Namun, hati kecilnya menuntun untuk segera pergi. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali lagi ke ruang makan.


Di ruang makan, Qia kembali mondar-mandir. Sesekali ia menatap makanan yang sudah tersaji di atas meja. Akhirnya pemilik nama Kemilau Senja itu memutuskan untuk menghubungi suaminya melalui ponsel.


"Iya, Qi? Ada apa?" tanya Satrio ketika Qia menelpon.


"Makan siang sudah siap, Kak," jawab Qia.


"Baiklah, kami akan segera turun."


"Segera, ya. Kalau keburu dingin nanti tidak enak."


"Oke."


"Oh ya, Kak, Qia boleh kan, tidak ikut makan siang bareng kalian? Qia rada pusing, pingin berbaring sebentar di kamar?" tanya Qia hati-hati.


Jujur Qia merasa tidak nyaman makan bareng mereka. Terutama setelah Qia mendengar perbincangan tentang dirinya tadi. Ia tidak ingin merasa gugup di depan mereka kemudian salah tingkah. Intinya ia tidak ingin mereka curiga kalau dirinya mendengar perbincangan mereka.


"Kamu sakit?" tanya Satrio cemas.


"Cuma sedikit pusing, Kak. Habis tidur sebentar, insyaallah segera sembuh."


"Baiklah."


Telpon ditutup, Qia merasa lega. Ia segera masuk kamar dan mencoba untuk berbaring dan memejamkan mata, tetapi tidak bisa.


"Seandainya Kak Satrio tahu kalau aku adalah Kemilau, memangnya kenapa? Toh aku tidak pernah berbuat salah, kecuali ...."


Qia menghela napas. Tulisan opininya memang tersebar di berbagai media, terutama media anti-mainstream. Kebanyakan isinya tentang kritik sosial. Bahkan, ia sendiri sebenarnya seorang reporter sekaligus editor di salah satu media. Mungkin ini yang membuat beberapa orang merasa gerah. Namun, ia hanya ingin menyuarakan aspirasi rakyat, apa itu salah?


Dan sekarang, ia masuk ke dalam daftar orang yang dicari. Mirisnya, ia harus berhadapan dengan suaminya.


***


Setelah dua tamunya pulang, Satrio segera menemui Qia di kamar. Gadis itu sedang memejamkan mata, meski tidak bisa tidur. Karena itu, ia bisa merasakan kalau sang suami naik ke pembaringan dan meletakkan tangan di keningnya. Ia tahu kalau lelaki ini tidak bisa dibohongi, itu sebabnya ia segera membuka mata.


"Sudah minum obat?" tanya Satrio lembut.


Qia mengangguk.


"Tapi sudah makan, kan?"


Lagi-lagi Qia mengangguk.


"Ya sudah, sekarang kamu istirahat saja, tidur," kata Satrio lagi.


"Apa yang kau lakukan padaku kalau tau aku adalah Kemilau Senja?" tanya Qia dalam hati.


Sementara, Satrio merasa kalau tingkah gadisnya sangat aneh. Tatapan matanya itu ... sepertinya ada yang ganjil.


"Kenapa?" tanya Satrio lembut.


Kali ini Qia menggeleng.


"Qia tidak bisa tidur," jawabnya pelan. Mata kelincinya masih menatap suaminya.


"Apa mau ditemani?" Satrio tersenyum nakal.


Qia buru-buru menggeleng, wajahnya kini seperti kepiting rebus.


"Atau ... mau Kakak pijit?"


"Ah, tidak tidak tidak. Qia mau langsung tid ...." Qia buru-buru menolak. Ia tidak bisa membayangkan tangan kokoh itu meraba-raba tubuhnya. Padahal, tadi ia hanya ingin mengalihkan pembicaraan.


Namun, belum selesai ia menolak, Satrio sudah mengulurkan tangannya ke arah belakang telinganya. Dengan lembut, pemuda itu memijit titik-titik di daerah itu.


"Ini namanya titik An Mian atau Mimpi Damai. Titik ini mampu meningkatkan kualitas tidur dan sangat efektif untuk insomnia," bisik Satrio lembut.


Suami Qia itu juga memijit telapak kaki, di antara ibu jari dan jari telunjuk. Kemudian di


pergelangan tangan bagian dalam, lalu di antara dua alis, dan juga di atas kepala.


Qia tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya merasa nyaman, sampai akhirnya betul-betul tertidur.


***


Malamnya, setelah semua urusan dengan suaminya selesai, Qia menyempatkan diri untuk menulis. Sambil mencorat-coret tulisan di atas kertas, kedua telinganya dipasang headset yang terhubung dengan ponsel. Ia duduk serius di kursi belajar yang ada di dalam kamarnya. Sesekali, gadis cantik itu melirik suaminya.


"Tempat yang paling berbahaya adalah tempat yang paling aman," batin Qia.


Sementara itu, Satrio sedang berbaring di kasur sambil memainkan ponsel. Sesekali ia melirik istrinya. Lelaki itu tidak mau mengganggu saking seriusnya wajah Qia. Ia pikir kelinci kecil itu sedang belajar sambil mendengarkan musik. Maklum, ujian skripsi sudah semakin dekat.


Padahal, saat itu Qia sedang mendengarkan ceramah seorang tokoh masyarakat di YouTube untuk keperluan reportase sambil mencatat bagian-bagian yang dianggap penting.


Sebagai seorang reporter, Qia dituntut untuk menyajikan berita terupdate. Namun, untuk menulis berita, ia tidak harus melakukan liputan melalui wawancara secara langsung pada narasumber, tetapi cukup dengan mencari statement para tokoh tersebut di IG, Twitter, atau YouTube, kemudian dikonfirmasi langsung pada orangnya melalui WA. Berita semacam itu legal dan sah.


Yang paling penting, narasumber betul-betul mengucapkan statement itu sehingga berita yang dibuat Qia bukan hoax.


Itu sebabnya, Satrio tidak pernah menemukan bukti kalau sebenarnya Qia adalah seorang kuli tinta sebagaimana Prasetyo. Ini karena ia tidak pernah melihat istrinya melakukan wawancara secara langsung.


Selain itu, Satrio sudah meretas ponsel dan laptop milik Qia. Ia juga mengetahui semua media sosial yang dimiliki gadis itu. Namun, tidak ada tanda-tanda yang mengarah ke sana. Dan saat ini pun, lelaki itu sedang meretas data-data milik Kemilau Senja.


Memang, setiap media sosial pasti terhubung dengan nomor ponsel tertentu. Apa pun jenis kartunya, setiap provider pasti memiliki identitas penggunanya. Setelah diselidiki, ternyata nomor ponsel Kemilau Senja tidak terdaftar atas nama Taqiya Eldiina.


"Ini artinya mereka bukan orang yang sama," pikir Satrio.


Padahal, Satrio merasa bahwa ada korelasi yang sangat erat antara Qia dan Kemilau Senja. Ia ingat, istrinya sering mengatakan kata-kata yang puitis padanya, mirip dengan tulisan Kemilau Senja.


"Mungkinkah hanya karena terlalu ngefans padanya hingga ia sering mengutip kata-kata dari Kemilau Senja?" batin Satrio.


Tangan kokoh itu mulai mengubek-ubek beranda FB Kemilau Senja. Seperti Andre, Satrio juga tertarik dengan tulisan- tulisannya.


"Cukup rame dan selalu update, beda dengan punya Qia," pikir Satrio.


Seperti yang dikatakan Adrian, banyak tulisan Kemilau yang berisi kritikan sosial. Followersnya juga banyak. Satrio juga menemukan tulisan yang berjudul 'Perjaka Mencari Cinta'. Sambil membaca, lelaki itu senyum-senyum sendiri sambil sesekali melirik istrinya.


"Tenang saja, Qi, tidak semua lelaki itu brengsek. Buktinya, suamimu ini masih perjaka."