
"Balik," titah Wijaya Kusuma pada Robert, sang sopir.
"Ke kantor atau ke rumah, Bos?" tanya Robert hati-hati. Ia takut salah, terlebih melihat sang Bos sedang tidak enak hati.
"Kantor," sahut Wijaya cepat.
Lelaki paruh baya yang masih terlihat tampan dan awet muda itu sebenarnya sedang galau. Ia marah karena sandera yang merupakan satu-satunya saksi kunci karena memegang rahasianya sudah lepas. Ini sangat berbahaya untuknya.
Namun. Yang paling ia takutkan dari semuanya adalah jika Andre mengetahui keterlibatannya dalam banyak kasus. Untuk saat ini dirinya mungkin bisa mengelak. Ia sudah menyiapkan jawaban logis saat Andre bertanya nanti. Namun begitu, entah mengapa Wijaya masih sangat khawatir.
Bagaimanapun, Andre adalah segala-galanya. Bagi Andre, dirinya adalah pahlawan, selalu terlihat baik tanpa celah. Dan Wijaya tidak ingin pandangan sang anak terhadap dirinya itu berkurang atau berubah.
Lelaki yang juga dikagumi oleh masyarakat, terutama wing cilik itu melihat jam di pergelangan tangannya. Tiba-tiba ia teringat sesuatu.
"Cepat sedikit, Bet," kata Wijaya tidak sabar.
Robert tidak menjawab. Namun, ia mempercepat laju kendaraannya. Ia sangat paham dengan tabiat bosnya. Karena itu, lelaki muda itu tidak banyak bicara.
"Jam berapa penerbangan Wandira?" tanya Wijaya.
"Jam lima sore, Bos." Lagi-lagi Robert menjawab dengan singkat.
Sekali lagi Wijaya Kusuma melirik jam tangannya. Sudah hampir pukul empat. Sebenarnya ia ingin menemui Andre untuk menjelaskan untuk mengklarifikasi semua dan memberikan alibi yang masuk akal. Namun, ia sudah berjanji untuk menjemput sendiri Wandra di bandara.
Biasanya, saat bermain-main seperti ini, Wijaya Kusuma selalu melakukannya dengan rapi dan cantik. Ia tidak ingin jejak hitamnya terendus sedikit pun. Karena itu, ia tidak pernah mau repot-repot menampakkan diri di muka publik. Soal jemput-menjemput seperti ini selalu ia serahkan pada pengawalnya.
Lagipula, hampir dua minggu ini Wijaya Kusuma tidak berjumpa dengan gadis itu. Ia sudah sangat merindukan sentuhan dari keremajaan yang terawat dengan sempurna itu.
"Tidak jadi menemui Bos Andre, Bos?" tanya Robert.
"Nanti malam saja. Lagipula, anak itu pasti sedang marah. Biarkan ia menenangkan diri dulu." Wijaya memberikan jawaban. Ia kemudian bersandar, lalu mulai memejamkan mata sejenak.
Sebenarnya ia lumayan capek. Dari pagi tadi ia belum istirahat sama sekali. Sebelum rapat dengan para pejabat tadi, Wijaya menyempatkan diri untuk melakukan pemeriksaan rutin di perusahaannya pribadi. Belum lagi penanganan kasus yang melibatkan Qia. Semua itu membuatnya lumayan capek.
Itu sebabnya, Wijaya butuh yang segar-segar dan Wandira adalah pilihan yang tepat menurutnya.
"Kabarnya, Nyonya sudah pulang, Bos," kata Robert mengingatkan.
Lelaki muda yang usianya dua atau tiga tahun di bawah Andre itu sebenarnya merasa kasihan pada nyonyanya. Dalam hati ia mengumpat bosnya yang begitu bodoh karena menyia-nyiakan wanita cantik dan lembut itu.
Robert sangat peduli pada wanita itu. Itu sebabnya, ia tidak pernah keberatan ketika bos wanitanya itu mengajaknya untuk bersenang-senang.
Mendengar perkataan Robert, Wijaya yang belum tertidur langsung membuka mata.
"Jangan merusak mudku," jawab Wijaya Kusuma ketus.
Robert terdiam, tidak berani lagi bicara.