Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
28. Tolong Pahami Posisi Saya



"Setidaknya, saya berani maju sendiri dengan gagah saat meminta anak gadis orang, tidak diam saja dan bersembunyi di ketiak orang tua," cibir Bayu sambil melirik ke arah Andre yang dari tadi tidak bersuara.


Pukulan yang dilontarkannya Bayu itu cukup telak dan langsung mengenai sasarannya.


"Kau ...." Kali ini Andre sudah tidak bisa menahan amarah. Ia bangkit dan hampir menyerang Bayu andai tidak dihalangi oleh papanya.


Melihat itu, Bayu menjadi tertawa renyah, tidak menyangka bisa memancing emosi Andre dengan mudah. Tentu dengan senang hati ia akan meladeni kalau sewaktu-waktu Andre mengajaknya bertarung untuk memperebutkan Qia.


Melihat gelagat yang kurang baik, Pak Zul sebagai tuan rumah yang dari tadi diam menyaksikan pertikaian, kini angkat bicara.


***


"Hari ini memang sangat luar biasa bagi saya. Sungguh saya tidak menyangka bisa mendapatkan kehormatan seperti ini. Bagaimana tidak? Putra dari dua orang pembesar di negeri ini telah berkenan meminang anak saya. Namun, seperti yang saya sampaikan pada Pak Wijaya Kusuma tadi, saya tidak bisa menerima lamaran Nak Andre. Begitu juga dengan Nak Bayu. Bukan karena kalian mempunyai kekurangan, tapi karena anak saya sudah dilamar oleh orang lain," jelas Pak Zul.


Ruang tamu yang agak sempit dengan kehadiran mereka semua itu mendadak hening seketika. Bayu yang belum tahu tentang hal ini tentu saja agak syok. Ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan Pak Zul.


"Betulkah itu, Qi? Kau tidak sedang mencari alasan untuk menolak lamaran Abang, kan?" tanya Bayu merajuk.


Belum sempat Qia menjawab, Andre yang dari tadi diam mulai angkat bicara. Berbeda dengan Bayu, gaya bicara Andre tampak sopan dan berwibawa, menunjukkan kalau dia seorang yang terpelajar


"Saya juga ingin mengajukan pertanyaan Pak Zul," katah Andre.


Mendengar itu, Bayu tampak mencibir dengan sedikit memonyongkan bibirnya.


"Mohon maaf kalau saya lancang. Saya hanya ingin menanyakan, apakah Ustazah Qia betul-betul menerima lamaran itu karena keinginan sendiri, bukan karena keterpaksaan? Sekali lagi saya mohon maaf, bukan maksud saya mencampuri urusan Pak Zul sekeluarga, hanya saja, saya sangat mencemaskan Ustazah Taqiya. Kita tahu, banyak rumor yang beredar tentang Ustazah. Saya tidak berharap, hanya karena ingin menghindari rumor, Ustazah terpaksa menerima lamaran itu," lanjut Andre.


"Iya, betul itu, Qi. Kamu tidak boleh menerima lamaran karena terpaksa. Kamu tidak akan pernah bahagia, Qi. Percayalah, hanya Abang yang bisa membuatmu bahagia." Bayu ikut-ikutan menambahkan.


Mendengar itu, Pak Zul menghela napas panjang dan bermaksud memberikan penjelasan. Namun, Qia segera mencegah.


"Biar Qia saja, Yah," bisik Qia pada Pak Zul, tetapi masih bisa di dengar oleh yang lainnya.


Setelah itu, semua terdiam, kemudian menatap Taqiya. Sementara, yang ditatap terlihat menghela napas sejenak kemudian menatap mereka satu-persatu tanpa ada keraguan.


"Pak Andre, Kak Bayu ... sebenarnya, tidak ada kewajiban bagi saya untuk menjelaskan pada kalian berdua, apakah saya bahagia atau menderita dengan lamaran yang saya terima. Namun, saya tidak ingin terjadi kesalahpahaman di antara kita. Perlu kalian ketahui, kami sekeluarga, terutama saya sudah mempertimbangkan masak-masak tentang lamaran itu. Dan saya menerimanya dengan suka rela tanpa ada paksaan dari siapa pun. Apakah saya nanti akan bahagia? Tentu tidak ada seorang pun yang bisa meramalkan masa depan. Jadi, apa pun konsekuensinya ke depan, tentunya kami sudah siap menanggungnya."


Qia berhenti sejenak untuk melihat reaksi orang-orang yang ada di hadapannya. Mungkin kata-katanya itu agak kasar. Namun, bicara dengan orang-orang kaya ini memang  perlu dijelentrehkan dengan jelas dan tegas. Bila perlu dikunci rapat agar tidak ada celah untuk nego atau kompromi. Kalau tidak, mereka akan terus ngeyel, bahkan cenderung memaksakan kehendak. Buktinya apa? Dari tadi ayahnya sudah bicara baik-baik bahwa dirinya sudah dilamar orang, masih saja ditawar-tawar. Sejenak, ruangan itu tampak lengang.


"Pak Andre ... " panggil Qia kemudian. "Saya sangat menghargai niat tulus Bapak. Namun, Saya harap Bapak memahami posisi saya. Saya adalah wanita yang sudah menerima  khitbah. Sangat tidak layak bagi saya untuk menerima atau mempertimbangkan lamaran dari orang lain. Saya yakin Pak Andre lebih paham dari saya tentang hal itu. Jadi, saya mohon pada Pak Andre untuk menghargai keputusan saya. Saya mohon maaf sebesar-besarnya karena harus mengecewakan Pak Andre," ujar Qia mantap. Ia sengaja langsung membidik Andre agar persoalan itu tidak berlarut-larut. Ia tahu, bagaimana Andre. Pemuda itu sangat menjaga image di depannya.


Dan benar saja dugaan Qia. Tadinya, Pak Wijaya bermaksud mementahkan lagi pernyataan Qia, tetapi dicegah oleh Andre.


"Baiklah, insyaallah saya bisa mengerti, Ustazah. Mohon maaf kalau kami terkesan agak memaksa. Saya berdoa, semoga Ustazah bahagia dengan pilihan Ustazah," ujar Andre tampak tulus. Namun, senyumnya terlihat kecut. Sebenarnya ia penasaran tentang identitas lelaki yang telah berhasil merebut kekasih hatinya ini, tetapi ia merasa tidak enak. Akhirnya ia telan begitu saja rasa penasaran itu.


"Mungkin Andrea bisa membantu," pikir Andre.


Bagi Qia, itu wajar. Di mana-mana, namanya ditolak pasti tidak menyenangkan. Akan sangat aneh jika orang itu tersenyum ceria.


Sementara itu, Qia merasa lega karena satu persoalan sudah terpecahkan. Ia tersenyum sambil sedikit menganggukkan kepala ke arah Andre dan Pak Wijaya untuk menghormati mereka.


Namun, saat menatap wajah paruh baya itu, perasaan lega itu mendadak sirna. Sepertinya orang itu belum mau menyerah. Qia kembali merasa cemas. Entah mengapa tatapan licik itu masih belum hilang dari manik mata Pak Wijaya. Apa begitu besar keinginannya untuk menjadikan dirinya menantu? Hanya itu akhirnya yang bisa ia tangkap dari mimik muka itu.


"Kak Bayu ... Saya sangat berterima kasih kepada Kakak karena sudah perhatian sama Qia di kampus sampai saat ini. Saya juga sangat tersanjung atas lamaran ini. Hanya saja saya belum bisa menerima. Seperti yang Kakak dengar sebelumnya, Qia sudah dilamar beberapa hari yang lalu dan Qia juga sudah menerima lamaran itu. Jadi, Qia minta maaf karena harus mengecewakan Kak Bayu kali ini. Qia sangat memohon pengertian dari Kakak."


Qia mencoba memberi pengertian pada Bayu. Jujur, bicara dengan orang satu ini gampang-gampang susah. Sudah dijelaskan berkali-kali gak mau ngerti juga. Ini hampir sama dengan Pak Wijaya. Mungkin karena mereka orang kaya dan sudah terbiasa dituruti kemauannya. Itu sebabnya mereka tidak bisa menerima penolakan atau kekalahan. Beda dengan Andre yang selama ini memang membangun images baik di hadapan Qia.


Untungnya setelah mulut Qia sedikit berbusa, akhirnya orang-orang itu mau mengerti juga. Akhirnya mereka bisa menerima dan bersedia kembali dengan membawa pulang bingkisan mereka. Tadinya, Pak Wijaya dan Bayu ngotot untuk memberikan bingkisan itu pada Qia. Namun, Qia tidak bersedia memberikan ruang atau celah sedikit pun bagi mereka untuk kembali merecokinya. Qia juga tidak mau susah-susah mengembalikannya, karena banyak sekali. Pasti sangat ribet.


"Alhamdulillah, akhirnya drama malam ini berakhir sudah. Semoga mereka bisa legowo," ucap Qia setelah para tamu itu pergi. Bu Mirna dan Pak Zul hanya bisa mengamininya.


***


Di dalam Bughatti Chiron.


[Cari tahu secara detil tentang tunangan Nona Taqiya, jangan sampai ada yang terlewat.]


[Baik, Bos. Anaknya Satya itu kurang ajar sekali, apa perlu saya kasih pelajaran juga?]


[Tidak perlu. Bajingan kecil bermulut tajam itu tidak berbahaya. Fokuslah pada tunangan Nona Taqiya]


[Baik, Bos]


Lelaki paruh baya itu akhirnya menutup ponselnya.


***


"Sudahlah, Pa, jangan ganggu mereka," ujar Andre mendengar percakapan Wijaya dan anak buahnya.


"Kenapa? Kamu sudah tidak menginginkan Qia lagi?" sindir Wijaya.


"Bukan begitu, Pa. Masalahnya sudah jelas, kan? Ia sudah menerima lamaran orang."


"Trus, masalahnya apa? Itu masih lamaran, bukan pernikahan."


"Andre sangat menghargainya, Pa."


"Sebagai pewaris grup Wijaya, kamu itu terlalu lemah. Bagaimana kamu bisa mempertahankan kerajaan bisnis kita kalau hanya untuk mewujudkan satu keinginan saja tidak sanggup "


"Tapi, Pa ...."


"Sudahlah, kamu terima beresnya saja. Lagipula, papamu ini bukan orang jahat. Papa hanya menggali informasi tentang tunangannya. Papa tidak akan menyakiti mereka."


"Qia akan semakin membenci Andre kalau tahu Papa Curang."


"Apa artinya kebencian itu? Kalau dia sudah menjadi milikmu, semua rasa tidak suka itu akan hilang. Ia akan bergantung padamu."


"Andre harap, Papa tidak melebihi batas."


"...."


Mereka diam, tak ada pembicaraan.