Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
101. GLUK



"Maaf," kata Anita memecah keheningan.


"Maaf untuk apa, Mbak Nita?" tanya Qia ingin memastikan.


"Untuk semuanya, terutama ketidaknyamanan yang pernah kau rasakan dariku."


"Baiklah. Aku juga minta maaf Mbak Nita. Aku juga sering melontarkan kata-kata yang kurang menyenangkan padamu. Oh ya, aku belum mengucapkan terima kasih padamu, Mbak. Kalau bukan karena pertolonganmu waktu itu mungkin kondisiku tidak seperti sekarang ini," jawab Qia panjang lebar.


"Oke. Sekarang kita impas, ya? Kosong-kosong."


Keduanya mengangguk kemudian saling tatap. Setelah itu, mereka saling berpelukan cukup lama.


***


Sementara itu, di ruang makan, Satrio merasa tidak tenang. Masalahnya, istri kecilnya dibawa Anita keluar dan tidak balik-balik. Menurutnya ini sudah terlalu lama. Itu sebabnya lelaki itu merasa sangat khawatir.


"Biar gue liat mereka," ujarnya seraya berdiri.


Di luar dugaan, ternyata yang ada di ruangan itu sepakat semua. Mereka juga khawatir terjadi sesuatu pada Anita dan Qia karena dilihat dari standar keumuman, mereka berdua terlalu lama.


Tanpa banyak bicara, Satrio berjalan menuju ruang depan. Namun, sampai di dekat pintu, Satrio menghentikan langkah. Dia tertegun sejenak menyaksikan dua wanita cantik di depannya saling berpelukan.


Setelah itu ia berbalik dan langsung duduk kembali di kursinya tanpa berkata apa-apa.


"Apa yang terjadi?" tanya Rena cemas. Masalahnya ia pernah diberi tahu suaminya tentang masalah Anita dengan istri Satrio. Hanya saja, ia tidak pernah menduga kalau istri Satrio itu adalah Kemilau Senja.


"Gak ada. Kurasa, mereka sudah baikan," ucap Satrio ringan, membuat semua yang ada di tempat itu merasa lega.


"Alhamdulillah, akhirnya satu masalah beres. Tapi ingat Sat, pe er lo banyak," kata Iman mengingatkan.


***


Pagi itu Satrio tidak ngantor. Qia sendiri juga tidak punya kerjaan. Setelah sarapan dan semua urusan rumah beres, ia duduk-duduk santai di ruang tengah bersama dengan Satrio. Ia tahu, semalam suaminya itu ingin bertanya tentang banyak hal. Namun, berhubung Qia sudah sangat lelah dan mengantuk, lelaki itu sengaja menahan diri untuk tidak bertanya apa-apa.


Inilah yang paling ia sukai dari Satrio. Lelaki itu betul-betul tahu waktu dan sangat menghargai privasinya. Sekarang, Qia tahu bahwasanya dirinya sudah tidak bisa lagi mengelak. Mau tidak mau, siap tidak siap, dirinya harus membuka kartunya.


Itu sebabnya, Qia sengaja duduk di sofa, persis di sebelah Satrio seperti seorang pesakitan yang siap menerima hukuman.


Saat itu, Satrio sedang membaca koran harian. Bukannya bersandar di sandaran sofa, Qia malah nemplok dengan manis di lengan kiri suaminya. Modus.


"Beritanya tentang apa, nih?" Qia memancing pembicaraan.


Satrio masih asik membaca, tanpa mengalihkan perhatian sedikit pun.


"Berita tentang Kemilau Senja," jawab Satrio. Suara bariton itu terdengar pelan dan ringan, tidak ada nada mengejek atapun amarah di dalamnya.


Walaupun begitu, saat melewati gendang telinga Qia, suara itu diproses, kemudian mengalir ke pikiran sadarnya, sebagian merasuk ke perasaannya.


GLUK


Qia menelan ludah. Namun, ia sudah tidak bisa menghindar lagi. Mungkin inilah saatnya.


Setelah mengucapkan kalimat itu, Satrio belum juga mengalihkan matanya dari koran yang dia baca.


Sementara itu, Qia yang masih dalam posisi bersandar di lengan kiri suaminya kemudian menyelipkan tangan kanan di belakang pria itu, lalu memeluknya erat, sedangkan tangan kirinya ia letakkan di dada bidang sang suami. Setelah itu, ia mendongak dan menatap wajah tampan itu sedemikian rupa.


Diperlakukan seperti itu, mana tahan? Serta-merta, Satrio meletakkan korannya di atas meja kemudian menatap balik wajah imut itu. Sementara, tangan kirinya yang dipakai bersandar kemudian meraih tubuh tubuh mungil itu masuk ke dalam pelukannya.


Dalam hati ia bertanya, trik apa lagi yang akan dilakukan kelinci kecil itu untuk menutupi kesalahannya. Semalam Satrio berpikir keras untuk mencari berbagai macam alternatif cara untuk menghadapi istri kecilnya itu jika ia berdalih macam-macam.


Namun, apa yang dilakukan oleh wanitanya kali ini sungguh di luar dugaan. Ternyata wanita polos ini tidak merayu atau menggodanya, tetapi hanya menatapnya sambil tersenyum memperlihatkan gigi putihnya yang rapi. Mata kelinci itu berkedip-kedip menatapnya, membuat Satrio gemas dan ingin sekali memencet hidungnya.


"Sial, apa gue harus kalah lagi? Kelinci kecil ini sudah seperti rubah betina saja," gerutu Satrio dalam hati.


Jantung pria itu kini berdebar-debar. Karena trik yang seperti ini tidak terpikirkan tadi malam, jadi ia belum mempersiapkan cara untuk menghadapinya.


GLUK


Satrio menelan ludah. Spontan, nalurinya menuntun tangan kanannya untuk membelai rambut hitam Qia, kemudian turun ke pipinya.


"Apa yang ingin Kakak ketahui tentang Kemilau Senja?" Bibir ceri itu tiba-tiba mengeluarkan suara, membuat Satrio kembali tersadar akan tujuannya semula.


"Kenapa Kemilau Senja begitu misterius?" Suara bariton Satrio mengudara.


Mendengar itu, Qia kembali tersenyum manis membuat Satrio semakin blingsatan.


"Kenapa malah tersenyum?"


Kakak ini lucu. Harusnya pertanyaan itu tidak pernah keluar dari mulut Kakak?" kata Qia ringan.


"Memangnya kenapa?"


"He he he. Semua orang juga tahu, siapa Satrio Adi Kuncoro. Kalau sekadar mencari tahu tentang Kemilau Senja, itu bukan perkara besar," jawab Qia.


"Nyindir, nih, ceritanya?" cibir Satrio.


"Gaklah, Kak. Mana berani Qia nyindir-nyindir Bos yang punya kuasa," jawab Qia asal.


"Jadi, sejak kapan kamu tahu tentang Kakak?" tanya Satrio menyelidik.


Qia tidak langsung menjawab. Sekali lagi ia mengalihkan pandangan ke arah suaminya. Senyum manis itu tiba-tiba lenyap. Wajah lembut itu kini berubah serius.


"Sebenarnya, Qia tidak tahu apa-apa tentang Kakak. Tadi itu, Qia hanya menirukan Hendra saat panggil Kakak, atau teman-teman Kakak yang lain. Bagiku, Kakak begitu misterius, dari awal ketemu, sampai sekarang," ujar Qia.


"Itukah sebabnya kamu tidak mau berterus terang sama Kakak?"


Suara Satrio terdengar serak. Sebagaimana Qia, wajah tampan itu kini terlihat serius.


"Kenapa Kakak mengira kalau Qia menyembunyikan sesuatu?" Qia balik bertanya.


"Ha ha ha." Satrio tertawa saking gemasnya. Bagaimana tidak, dalam kondisi terjepit seperti ini saja istrinya masih bisa bersilat lidah.


"Kenapa malah tertawa?" tanya Qia sambil cemberut.


"Jadi, kamu yakin tidak menyimpan rahasia apa pun sama Kakak, Hem?" tanya Satrio gemas sambil mencubit pipi Qia.


Wajah cantik itu kini memerah. Yang pertama, meski tidak keras, cubitan Satrio itu ternyata meninggalkan sedikit warna merah karena kulit Qia sangat putih dan lembut yang kedua, karena ia memang menyembunyikan sesuatu dari suaminya.


"Kenapa istri Kakak yang salihah ini tidak percaya pada suaminya?" tanya Satrio sambil menatap sendu istrinya. Suaranya terdengar serak. Tangan kokoh itu membelai lembut wajah cantik itu.


GLUK


Ucapan Satrio kali ini memukul telak hati Qia, tepat di pusat sanubarinya.



Ruang tengah rumah Satrio dan Qia