
Qia menatap foto itu tanpa berkedip. Sejak dia menikah dan pindah ke rumah Satrio, baru kali ini ia menemukan sebuah foto, karena di ruang lainnya tidak ada sama sekali. Itu sebabnya, ia cukup terpana, terlebih setelah mengetahui gambar siapa yang tercetak di sana.
Seorang lelaki tampan berpakaian seragam militer lengkap dengan senjata laras panjang di tangan. Wajahnya terlihat tegas, dengan tatapan mata setajam elang.
Ya, mata itulah yang dulu pernah membuat Qia kebat-kebit saat pertama kali bertemu dengannya.
Sementara tangan kiri Qia memegang bingkai, tangan kanannya bergerak meraba gambar wajah di dalam bingkai itu. Sungguh, Qia terpana, bahkan rasanya enggan untuk berpaling.
"Kau tahu, Sayang, Kakak begitu cemburu melihatmu memandangi foto itu sedemikian rupa? Begitu menarikkah dia hingga membuatmu terpesona?"
Suara bariton itu berbisik tepat di telinga Qia, membuat wanita itu tersentak. Ia baru sadar kalau sang suami sudah ada di belakangnya.
Ia lalu menoleh dan menatap suaminya dengan muka merona.
"Yang asli jelas lebih ganteng, kenapa lebih tertarik sama gambarnya, hem?" tanya Satrio protes.
Mendengar itu, Qia hanya melengos membuat Satrio semakin gemas.
"Kita buka sekarang, Kak?" tanya Qia sengaja mengalihkan pembicaraan. Kalau tidak begitu, bisa berbahaya urusannya.
Mendengar itu, Satrio terkekeh. Ia sudah mulai hafal dengan trik istri kecilnya kalau sedang menghindarinya. Untuk kali ini, ia tidak berusaha untuk mempersulit karena ia sendiri juga sangat penasaran apa sebenarnya isi flashdisk itu.
"Oke," jawabnya singkat.
Satrio lalu duduk di kursi kerjanya kemudian mendudukkan Qia di kursi yang sama, tepat di depannya. Jadi, posisi Qia sekarang ada di pangkuan Satrio, tetapi duduknya masih menapak kursi.
Tanpa ragu, Satrio lalu menyalakan laptop yang ada di meja kerja itu, kemudian memasukkan flashdisk ke dalamnya.
Ternyata di dalamnya ada dua folder. Mereka memutuskan untuk membuka folder pertama yang ternyata isinya sebuah rekaman video.
"Sudah siap?" tanya Satrio terdengar lembut di telinga Qia.
Qia tidak menjawab. Ia hanya mengangguk mantap.
"Tenanglah, semua akan baik-baik saja," ujar Satrio lagi.
Sekali lagi Qia mengangguk.
Setelah itu, tanpa ragu Satrio meng-klik video itu.
Pertama kali yang terlihat adalah gambar Prasetyo. Beberapa saat, Qia tampak tercekat. Ia sudah belajar untuk move on. Namun, tetap saja ada perasaan tidak nyaman yang meliputi, terlebih ia melihat sosok itu bersama dengan Satrio. Tentu ia merasa tidak enak. Itu sebabnya, Qia sama sekali tidak berani menoleh ke belakang.
Sementara, Satrio tahu apa yang dirasakan oleh istrinya. Karena itu, ia menggenggam tangan mungil itu erat-erat untuk memberikan kekuatan.
"Mau diteruskan?" bisik Satrio lembut.
Kembali Qia hanya mengangguk, tanpa berkata apa-apa.
[Assalamu'alaikum, Qia] Terdengar suara Prasetyo di layar laptop.
Sementara, Satrio dan Qia menyaksikan dengan seksama.
[Semoga kamu selalu dalam perlindungan Allah. Maaf, Kakak tidak bisa menemuimu secara langsung. Saat kamu membuka flashdisk ini, mungkin Kakak sudah berada di tempat yang sangat jauh. Kakak juga minta maaf karena tidak bisa memenuhi janji Kakak untuk menggenapkan ibadah kita. Semoga kamu berlapang dada dan ikhlas menerimanya] lanjut Prasetyo.
Qia tercekat. matanya berkaca-kaca.
"Tes!!" Satrio merasakan ada air hangat yang menetes di tangannya.
Ya, Qia berusaha untuk menjaga air matanya agar tidak menetes. Ia ingin menjaga perasaan suaminya. Namun, ternyata ia tidak bisa menahannya. Air mata itu benar-benar tumpah.
Satrio bisa merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Qia. Ia sendiri juga merasa sangat sedih. Itu sebabnya, Satrio hanya bisa menggenggam tangan sang istri untuk memberikan kekuatan sambil terus melihat video rekaman Prasetyo.
[Qi, Kakak mau minta tolong. Flashdisk yang ada di tanganmu ini berisi informasi yang sangat penting. Akan sangat berbahaya jika jatuh ke tangan orang jahat. Karena itu, jangan beri tahu siapa pun, termasuk orang terdekat, apalagi memberikannya. Kamu hanya boleh memberikan flashdisk ini pada seorang pemuda bernama Satrio. Ingat, hanya dia, karena ia tahu apa yang harus dilakukan dengan flashdisk itu. Kalak, ia juga bisa melindungimu dari berbagai macam bahaya. Tanyakan pada Umi karena Umi mengenal orang ini
Prasetyo menutup rekaman video itu.
Hening. Sepasang suami istri itu termenung beberapa saat, tanpa mengeluarkan sepatah kata.
"Kak Pras sudah mempersiapkan segalanya," ujar Qia akhirnya. Suaranya terdengar serak pertanda ia menahan keluarnya lagi air mata.
"Iya," jawab Satrio tak kalah serak.
"Bahkan Kak Pras sudah mempersiapkan dirimu, Kak, untuk menjalankan wasiatnya. Ternyata hanya Kakak yang dipercaya," ujar Qia.
"Ya. Ini merupakan kejutan bagi Kakak. Selama ini, tidak banyak yang tahu tentang pekerjaan Kakak yang sesungguhnya. Bahkan, Umi dan Abi juga tidak tahu," kata Satrio.
"Kak Pras seorang wartawan, Kak," jawab Qia.
"Ya, Ternyata Kak Pras diam-diam telah mengetahuinya. Ia tidak pernah menyinggung itu kalau bertemu dengan Kakak," kata Satrio lagi.
"Tentu saja. Orang Kakak cueknya minta ampun kayak gitu. Lagipula, sepertinya Kak Pras tidak ingin menelanjangi Kakak." Pernyataan Qia itu membuat Satrio melotot.
"Tentu saja tidak boleh. Lagipula, Kakak juga tidak akan mau. Ingat, hanya kamu yang boleh melakukan itu pada Kakak," gerutu Satrio pura-pura marah.
"Astaghfirullah, kenapa suamiku ini mesum sekali?" teriak Qia membuat Satrio spontan tertawa. Sebenarnya ia tahu apa yang dimaksud Qia. Ia hanya ingin menggoda istrinya saja.
"Qia minta maaf, Kak," ujar Qia tiba-tiba.
Satrio tertegun. Serta-merta ia menghentikan tawanya. Ia menangkap kesedihan yang amat mendalam di wajah cantik istrinya.
"Kenapa?" tanya Satrio cemas.
Qia menatap suaminya sekilas, kemudian menunduk.
"Andai Qia langsung membuka flashdisk itu, mungkin Qia bakal menyerahkan flashdisk pada Kakak secepatnya, dan kasus ini tidak akan berlarut-larut," ujar Qia pelan.
Satrio menghembuskan napas panjang. Ia kembali menggenggam erat tangan Qia.
"Ya."
"Saat itu Qia begitu takut, Kak. Qia berpikir, kalau Kak Pras memberikan flashdisk itu dengan cara yang tidak biasa, pasti ada sesuatu yang sangat penting, dan itu pasti sangat berbahaya. Itu sebabnya Qia tidak berani membuka. Qia takut kalau tiba-tiba ada yang memergoki saat Qia membukanya. Apalagi, Kakak begitu misterius. Qia tidak tahu, Kakak ini membela siapa? Ternyata ketakutan Qia tidak beralas. Ternyata Kak Pras justru hanya memercayai Kakak," ujar Qia lagi.
"Kakak ngerti. Sekarang, yang penting kamu sudah memberikan pada Kakak. Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Kita akan segera mengusut masalah ini secara tuntas," bisik Satrio lembut.
Qia mengangguk.
"Kita buka folder satunya, Kak?" tanya Qia tidak sabar.
"Ya, mari kita lihat apa isinya. Kakak juga sangat penasaran, kenapa banyak orang penting menginginkannya," jawab Satrio.
Dengan cepat ia lalu membuka folder kedua. Namun, belum sempat video di dalamnya terbuka, terdengar suara heboh di luar.
"Pyaar!!!"
Dua insan itu saling pandang.
"Sepertinya itu kaca jendela," ujar Qia.
Namun, belum sampai Satrio menjawab, terdengar suara pecahan kaca lagi, dan lagi.
Tak sampai lima menit, ponsel Satrio berdering.
"Bos, kita diserang. Rumah ini sudah dikepung. Pergilah, kami akan menangani mereka.
Terdengar suara Hendra di seberang. Bawahan Satrio itu tahu, Bos mereka dan istrinya harus selamat karena ada tanggung jawab besar yang sedang menanti mereka.