
"Bruak!" Tiba-tiba terdengar suara benturan yang cukup keras.
Qia terkejut, terlebih setelah orang-orang datang berkerumun. Gadis itu terlihat syok. Beberapa detik kemudian, barulah ia tersadar, ternyata orang-orang itu mengerumuni dirinya.
Sedangkan orang yang menabraknya sudah melarikan diri demgan motor matiknya.
"Tabrak lari," batin Taqiya.
Tiba-tiba berjuta kunang-kunang memutari kepalanya. Dalam kondisi setengah sadar, Qia merasakan tubuh mungilnya diangkat seseorang dan dibawa ke tepi.
Qia menoleh ke belakang dan mendongakkan kepala. Terlihat seorang pemuda jangkung dengan jaket kulit berwarna hitam sedang menatapnya dengan cemas. Rambutnya yang panjang sebahu, berkibar-kibar tertiup angin. Sementara, tangan kokoh orang itu masih memegang pundak Taqiya.
Taqiya tersentak. Ia merasa risih. Selama ini, belum pernah ada seorang lelaki pun yang pernah menyentuh gadis itu selain ayahnya. Pernah sih, saat Bayu mencoba mencomot tangannya dulu, tapi tidak seintim ini Apalagi orang asing.
Reflek, Taqiya mengibaskan tangan orang itu dan berujar dengan marah.
"Ini apa, kok pegang-pegang pundak saya?" hardik Taqiya. Pemuda itu tampak terkejut.
"Eh, maaf ... maaf, saya hanya mau nolongin," kata pemuda itu.
"Tapi bukan berarti harus pegang-pegang saya!" Taqiya masih terlihat jengkel.
Pemuda itu mundur beberapa langkah. Ia tidak berkata apa-apa. Wajahnya juga terlihat datar-datar saja. Lebih tepatnya, cuek.
"Mas ini cuma mau membawa Embak ke tepi, biar lalu lintas tidak macet. Bagaimana ia bisa angkat kalau tidak menyentuh Embak?" celetuk salah seorang yang berkerumun.
"Maaf, tapi saya masih bisa menepi sendiri," jawab Qia sambil berusaha bangkit. Tapi karena kakinya cedera dan mulai terasa ngilu, ia menjadi sempoyongan dan terjatuh lagi.
Spontan, pemuda yang tadi mengangkat Taqiya menangkap tubuh mungil itu agar tidak terjatuh. Taqiya menatap pemuda itu dengan marah, tapi yang ditatap hanya cuek saja.
"Sudah saya bilang, saya bisa sendiri!"
hardik Qia sekali lagi.
"Mbak ... Mbak. Wong ditolong, kok, belagu," cibir seorang lelaki yang ikut berkerumun.
"Biar saya saja."
Tiba-tiba seorang wanita bergamis mendekati Taqiya dan mengulurkan tangan.
"Saya Husna. Anti tidak apa-apa?" tanya wanita itu sambil membantu Taqiya berdiri.
"Tidak apa-apa, Kak, hanya ngilu sedikit," jawab Taqiya.
"Alhamdulillah," jawab wanita bernama Husna. Husna lalu berpaling ke lelaki yang menolong Taqiya tadi.
"Terima kasih, ya, Mas. Maaf, Mbak ini hanya sedikit syok."
Lelaki muda itu mengangguk, masih dengan wajah tanpa ekspresi. Ia hanya menatap Qia sekilas kemudian beralih ke Husna.
"Saya rasa, lututnya cedera. Sekarang memang belum terasa, tapi nanti malam atau besok pagi akan terasa sakit sekali. Oh ya, tolong berikan ini padanya!" kata pemuda itu sambil memberikan botol kecil air mineral yang ia ambil dari ranselnya pada Husna.
Husna memeriksa sebentar botol itu. Masih utuh dan bersegel. Ia lalu memberikan minuman itu pada Qia.
"Beneran, anti baik-baik saja?" tanya wanita itu memastikan. Taqiya mengangguk.
"Minumlah dulu, anti masih terlihat syok."
Sejenak Qia terlihat ragu. Tapi Husna meyakinkannya.
"Tidak apa-apa. Ini masih utuh dan bersegel. Minumlah dulu!" kata Husna.
Akhirnya Qia menuruti kata-kata Husna. Ia minum beberapa teguk. Sesungguhnya Taqiya memang sangat haus. Bersepeda pancal di tengah matahari yang terik memang sangat menguras tenaga. Terlebih setelah mengalami kejadian mengerikan barusan.
"Alhamdulillah, terima kasih ya, Kak!" Husna mengangguk sambil tersenyum.
"Dia yang kasih," jawab wanita itu sambil mendongak ke arah pemuda berambut gondrong.
"Benarkah lutut anti cidera?" tanya Husna.
"Iya, Kak. Tapi hanya ngilu sedikit. Saya rasa, masih bisa mengayuh sepeda," jawab Qia sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
"Anti mau ngayuh sepeda dalam kondisi luka seperti ini?" tanya Husna cemas.
"Tidak apa-apa, Kak. Tidak terlalu sakit, kok."
"Tapi, nanti malam bengkaknya akan semakin besar," kata Husna.
"Sampai rumah, nanti akan saya boreh dengan minyak, biar tidak membengkak," jawab Qia meyakinkan. Ia melirik sekilas ke pemuda berambut gondrong, kemudian melengos.
Terus terang, Qia masih kesal padanya. Terlebih setelah Husna termakan kata-katanya. Ia yakin, kakinya pasti baik-baik saja.
"Dasar, sok tahu!" gerutu Qia dalam hati.
"Ini sepedanya, Mbak, sudah saya betulin. Tadi stangnya agak bengkok dan rantainya lepas," kata seorang tukang becak sambil menyerahkan sepeda Taqiya.
"Terima kasih, Pak," ucap Qia ramah.
Ia menerima sepeda itu dan mulai duduk di atas pedal.
"Sekali lagi, terima kasih ya, Kak, dan Bapak Ibu semua. Saya harus pergi sekarang," kata Qia pada semua orang.
"Sepedanya ditinggal saja, Ustazah, biar nanti diambil Pak Mat. Sekarang Ustazah pulang sama saya saja!"
Sebuah suara berat yang sudah dikenal, menghentikan niat Qia untuk mengayuh sepeda. Gadis itu menoleh.
"Pak Andre? Kenapa di sini? Bukannya rapat belum selesai?" tanya Qia begitu menyadari siapa yang datang.
"Tidak, rapatnya sudah saya tutup," jawab Andre.
Andre tadi bertanya pada Ningrum, kenapa Qia belum juga muncul. Ia terkejut dan langsung panik begitu tahu kalau Qia pulang karena calon suaminya kecelakaan dan sekarang dalam keadaan kritis.
"Kenapa tidak Ustazah antar?" tanya Andre pada Ningrum. Terus terang, lelaki itu agak kecewa dengan sikap Ningrum.
"Tadinya mau saya antar, tapi saya kan harus menghadiri rapat," jawab Ningrum sambil menunduk.
"Rapat bisa ditunda, tapi keselamatan seseorang lebih utama. Apa Ustazah Ningrum tidak mengkhawatirkan Ustazah Qia? Ia baru saja menerima berita buruk, pasti pikirannya sedang kacau. Takutnya malah terjadi sesuatu di tengah jalan," kata Andre cemas
"Maaf, Pak Andre."
"Kalau begitu, rapatnya kita tunda. Saya mau mengejar Ustazah Qia. Mudah-mudahan belum jauh," kata Andre lagi.
Ningrum hanya bisa mengangguk. Ia merasa sangat bersalah. Sebenarnya ia juga mengkhawatirkan Taqiya. Namun, rasa takut pada Andre lebih menguasai dirinya. Dan dugaan gadis itu ternyata meleset. Andre justru marah karena ia tidak mengantar Taqiya.
Akhirnya Andre menunda rapat. Untungnya, Guru-guru tidak menanyakan alasannya. Mereka hanya menerima begitu saja, apa pun keputusan Andre. Yang ada, mereka malah senang, terlebih karena merasa penat setelah rapat sejak pagi.
Ternyata, apa yang dikhawatirkan lelaki itu terjadi. Qia mengalami kecelakaan di bundaran perempatan jalan.
"Silahkan masuk ke dalam mobil, Ustazah! Mari, saya antar sampai rumah!" kata Andre lagi dengan sopan. Wajah lelaki itu terlihat sangat cemas.
"Tidak usah, Pak, terima kasih. Alhamdulillah, saya tidak apa-apa. Insyaallah semua akan baik-baik saja," tolak Qia halus.
Andre tidak berani memaksa. Ia tahu seperti apa Taqiya. Wanita cantik itu sangat menjaga interaksinya dengan pria. Kalau ia memaksa, salah-salah malah akan dibenci oleh Qia. Itu yang paling tidak ia inginkan. Karena itu, ia biarkan saja gadis itu bersepeda sendiri, meski ia sangat cemas.
Sementara itu, orang-orang masih berkerumun di sana, termasuk Husna dan pemuda gondrong. Beberapa orang terlihat sangat jengkel melihat sikap keras kepala Taqiya. Hanya Husna saja yang memahami mengapa Qia bersikap seperti itu.
"Baiklah, kalau tidak apa-apa, saya permisi dulu. Maaf, saya sedang terburu-buru!" Tiba-tiba pemuda gondrong yang tadi menolong Qia itu bersuara.
Beberapa saat mata lelaki itu bersirobok dengan mata Andre. Entah mengapa, ada perasaan tidak nyaman melingkupi Andre. Tiba-tiba saja hati pengagum rahasia Taqiya itu bergelenyar tak karuan.
Sementara, pemuda gondrong yang super cuek itu berpaling, kemudian berjalan ke arah motor gedenya. Setelah menutup kepala dengan helm teropong, pemuda itu memacu kuda besinya tanpa menoleh lagi ke belakang.
-Bersambung-