Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
102. Aku Percaya Sepenuhnya



...Aku tidak bisa memilih...


...Dari tulang rusuk siapa aku diciptakan...


...Lauhil Mahfudz bukan jangkauanku...


...Namun, ada wilayah ikhtiari...


...Agar aku mendekat padamu...


***


Wajah cantik Qia seketika memerah. Pertanyaan suaminya itu memang cukup menohok, tanpa sedikit pun teding aling-aling. Serta-merta, wanita cantik itu berpaling ke arah suaminya.


"Mengapa Kakak bicara seperti itu?" Ujar Qia agak terbata-bata.


"Karena faktanya juga seperti itu, kan, Hem?"


Nada suaranya sangat lembut, tatapan matanya sangat sendu.


"Kak."


"Sayang, Kakak sudah berikrar di hadapan Allah, juga kedua orang tua kita. Itu artinya, kamu adalah tanggung jawab Kakak sepenuhnya. Kakak yakin, kamu lebih paham tentang hal itu. Kamu boleh meragukan Kakak, tapi kamu tidak bisa mengingkari ikrar yang sudah Kakak ucapkan," ujar Satrio pelan, tetapi pasti.


Wajah lelaki muda itu terlihat begitu serius.


"Kak, Qia tidak seperti itu. Qia tidak pernah mengingkari ikrar pernikahan kita," protes Qia sedikit cemberut.


"Kalau begitu, ceritakan semua pada Kakak, biar Kakak bisa menentukan langkah." Ini bukan kalimat perintah, tetapi lebih ke permintaan.


Qia menunduk, tak sanggup menatap suaminya. Ada jejak keraguan yang ditangkap Satrio di wajah cantik itu.


"Sayang. coba lihat Kakak baik-baik. Tidakkah kamu melihat bahwa Kakak sedang bersungguh-sungguh?"


Diminta seperti itu, bukannya menurut dan menatap wajah suaminya, Qia malah menyembunyikan wajah di dada sang suami.


"Kak, Qia percaya sepenuhnya sama Kakak," bisik Qia pelan.


Secara naluriah, tangan kokoh Satrio mendekap tubuh mungil itu, membelai lembut kepalanya, kemudian menghidu wangi rambut hitam itu dalam-dalam.


"Kalau begitu, berikan sepatu kaca Kemilau Senja pada Kakak," pinta Satrio dengan berbisik pula.


Qia tampak merenggangkan pelukannya. Kemudian menatap wajah tampan yang ada di depannya itu dengan berdebar-debar.


Tentu saja ia paham dengan bahasa kiasan suaminya. Itu berarti lelaki tampan itu sudah pernah membaca cerbung Kemilau Senja.


Akhirnya, tanpa ada keraguan, Qia mengangguk mantap. Ia sudah pasrah. Apa pun yang terjadi kemudian, ia akan menghadapi dengan legowo. Selama ini ia sudah berusaha untuk menjaganya, tetapi Ternyata bukan kebaikan yang didapat, justru kemalangan-demi kemalangan karena banyak orang yang menginginkan benda itu.


Lagipula, Qia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Di tangannya, benda titipan Prasetyo itu bermanfaat apa-apa.


Qia lalu menyusupkan kembali mukanya ke dada bidang sang suami, menghidu dalam aroma maskulin itu untuk mendapatkan ketenangan, kemudian bangkit dan melangkah menuju kamar. Satrio yang penasaran kemudian mengikutinya dari belakang. Qia tahu kalau suaminya membuntut di belakangnya.


Tanpa ragu, Qia berjalan menuju kamar dan membuka lemari pakaiannya. Ia lalu mengambil kotak berisi gaun pengantin pemberian Prasetyo itu kemudian menyerahkan pada Satrio.


Satrio tertegun beberapa saat. Ia mengamati kotak beludru itu beberapa saat.


"Bukannya ini adalah kotak berisi gaun pengantin itu?" tanya Satrio dalam hati.


Dulu benda cantik itu sempat jadi tersangka. Namun, saat Satrio membuka dan memastikan sendiri, ternyata benda yang dicari tidak ada di dalamnya. Karena itu, ia menatap wajah cantik di sebelahnya penuh arti.


"Ini?" tanyanya ingin memastikan. Qia mengangguk pelan.


Satrio lalu mengalihkan pandangan ke Qia. Dengan tenang, wanita itu meraih perlahan gaun itu, kemudian membentangkan di atas kasur mereka. Tangan mungil itu meraih kotak jarum dan perlengkapan jahit yang ada di salah satu laci meja, kemudian mengeluarkan pendedel benang yang ada di dalamnya.


Setelah itu, jari lentik Qia meraba bagian berwiru dan berpita di bagian tengah gaun, kemudian melepaskan jahitan pita. Tak lama, jahitan itu pun terbuka. Tampaklah flashdisk kecil berwarna biru muda, warna kesukaan Qia.


"Pantesan, ternyata kelinci kecil ini lebih cerdik daripada rubah," pikir Satrio dalam hati.


Qia lalu menyerahkan benda kecil itu tanpa ragu pada suaminya.


"Qia belum tahu isinya apa, Kak. Qia tidak berani membukanya. Itu sebabnya Qia juga tidak berani memberi tahu siapa-siapa," ujar Qia pelan. Suaranya terdengar serak.


Satrio mengangguk. Ia mengambil benda itu sekaligus menggenggam tangan yang memegangnya.


"Kakak tahu," jawab Satrio. Matanya menatap Qia dengan lembut, seolah ingin memberikan ketenangan dan kenyamanan.


"Saat di kepolisian, Qia belum tahu kalau benda ini ada. Qia baru tahu saat mau mencoba gaun ini untuk pernikahan kita," kata Qia lagi.


Satrio mengangguk.


"Kakak mengerti. Itu sebabnya, detektor kebohongan tidak bisa mendeteksi adanya kebohongan dalam penjelasan itu," kata Satrio.


"Karena Qia memang tidak berbohong. Saat Kakak bertanya malam itu, Qia juga belum tahu," tegas Qia.


"Iya iya," jawab Satrio gemas sambil mencubit hidung Qia membuat pemiliknya cemberut dua centi.


"Aduuh, Kenapa selalu hidung yang jadi sasaran?" gerutu Qia jengkel.


"Iya, Kakak minta maaf. Salah lagi. Berarti yang bener ini," ujar Satrio. Kini tangan jahilnya beralih mencubit pelan pipi Qia.


"Kaaak," protes Qia sambil memukul pelan lengan suaminya.


"Oke oke, salah lagi." Kali ini Satrio mendaratkan ciuman di pipi Qia membuat wajah cantik itu semburat memerah. Namun, wanita cantik itu tidak terlihat protes.


"Ternyata ini yang benar," goda Satrio sambil tersenyum nakal.


Qia memukul sekali lagi lengan suaminya dengan ringan.


"Kita lihat isinya, Kak. Qia juga pingin tahu," kata Qia sambil meraih laptop di meja belajarnya.


"Oke. Tapi tidak di sini." Satrio menjawab dengan tenang.


"Trus?"


"Kita ke ruang kerja Kakak," jawab Satrio sambil menggamit lengan Qia.


Mereka lalu ke ruang kerja Satrio bersama. Qia belum pernah masuk di dalamnya. Dulu pernah melintas satu kali di depan kamar. Saat itu, Satrio sedang bersama dengan dokter Iman dan Adrian. Tanpa sengaja, Qia mendengar percakapan tiga pria itu. Ia jadi tahu kalau suaminya sendiri sedang mengincarnya. Itu sebabnya, ia selalu bersikap waspada.


Saat baru menikah, Qia belum begitu mengenal Satrio. Itu sebabnya ia belum berani memberi tahu tentang flashdisk dari Prasetyo. Setelah beberapa saat mereka bersama, Qia bisa merasakan kesungguhan dan kejujuran Satrio saat menolong dan melindunginya.


Namun, saat ia ingin percaya sepenuhnya, tiba-tiba Qia mengetahui kalau sang suami sedang mengawasi Kemilau Senja. Itu sebabnya, ia belum mau berterus terang mengenai rahasianya.


"Ayo, Sayang, kita masuk," ajak Satrio sambil menggamit tangan Qia.


Dengan berdebar-debar, Qia mengikuti suaminya. Setelah itu, Satrio mengunci pintu ruangan itu dari dalam.


Qia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ruangan itu sangat luas, hampir sama dengan kamar utama. Ada beberapa perangkat komputer di sana. Qia tahu, masing-masing pasti memiliki fungsi yang berbeda. Di sudut ruangan ada lemari buku yang sangat besar. Banyak sekali buku yang berjajar di sana membuat nata Qia ijo seketika. Satrio yang melihat tingkah Qia, menemukan ketertarikan yang amat sangat di sana.


Qia yang tidak sadar tindak-tanduknya diamati, kemudian mengalihkan pandangan ke meja kerja. Di atas meja ada foto di dalam bingkai berukuran 10R. Sontak Qia membelalakkan mata. Spontan ia melangkah mendekati meja itu. tangannya terulur dan meraih foto itu. Beberapa saat, daya hayalnya langsung membubung, jauh tinggi di awan melintasi samudera raya.