Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
130



Andre didorong masuk ke dalam mobil. Ia tidak bisa memberontak karena sebuah revolver mengarah tepat di kepalanya.


"Kalian siapa? Kalian mau apa?" bentak Andre garang.


Bagaimanapun, ia adalah seorang tuan muda yang biasanya selalu dituruti perintah dan kemauannya. Meski sehari-hari tindak-tanduknya kalem, ia masih punya sisi garang dan aura yang cukup menakutkan.


Namun, orang-orang yang berada di dalam mobil itu sama sekali tidak terpengaruh. Mereka masih bersikap santai menghadapi Andre.


Andre yang sangat kesal karena tidak mendapat tanggapan akhirnya diam. Saat itu, benaknya dipenuhi dengan kemungkinan-kemungkinan tentang siapa mereka, mengapa menargetkannya, adakah hubungannya dengan proyek yang saat ini ia garap, atau malah mereka justru adalah musuh ayahnya?


Andre tahu, seberapa kotornya dunia bisnis yang saat ini digeluti papanya. Ia juga tahu seberapa tangguh orang tuanya dalam mengelola bisnis. Wajar kalau dirinya sering menjadi sasaran karena mereka tidak bisa menargetkannya.


Mobil tiba-tiba berhenti tepat di sebuah bangunan. Andre


"Ayo, jalan!" kata orang-orang itu sambil mendorong Andre keluar dari mobil, kemudian digiring masuk ke pintu gerbang.


Andre mengamati tempat itu. Seperti bangunan kosong yang sudah tua. Andre bisa melihat itu dari kenampakan luar bangunan yang kurang terawat. Banyak rumput dan tanaman menjalar liar yang mengelilingi bangunan.


Melihat itu, Andre jadi semakin penasaran, siapa sebenarnya orang-orang yang menangkapnya ini.


Namun, pendapatnya itu lenyap begitu masuk ke dalam gedung. Ternyata kondisi di luar bangunan itu hanya sebuah kamuflase. Setidaknya, itu yang terlintas di benaknya. Faktanya, bagian dalam ruangan itu sangat bersih dan terawat.


"Silakan masuk, Pak!" Seseorang mempersilakan dengan ramah.


Andre tidak menjawab. Ia langsung masuk, mengikuti orang yang menodongkan revolver ke arahnya. Meski begitu, auranya sebagai tuan muda muncul. Jujur, ia sangat penasaran dengan sikap orang-orang yang ada di dalam yang justru bertolak belakang dengan orang yang membawanya secara paksa tadi.


"Apa mereka adalah orang-orang papa?" pikir Andre begitu melihat keramahan mereka.


Pemuda itu tahu, papanya memiliki banyak pengawal, bahkan bisa dikatakan sebagai pasukan kecil. Hanya saja, ia tidak tahu apa saja kegiatan yang mereka lakukan.


"Silakan duduk, Pak."


Orang itu mempersilakan Andre untuk dudu.


Andre mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ruang itu mirip ruang kerjanya.


Di situ ada sebuah meja yang cukup besar dengan dua kursi yang saling berhadapan, tetapi dibatasi oleh meja terse.


Sementara, di sisi kanan ruangan itu ada sofa besar lengkap dengan meja.


Masih dengan mode tanpa bicara, Andre duduk di salah satu sofa. Namun, karena dibiarkan menunggu cukup lama, mau tidak mau ia merasa gelisah.


"Belum ada satu jam menuggu, kamu sudah keringat dan gelisah seperti itu."


Sebuah suara yang cukup familiar mengagetkan Andre. Ia mengarahkan pandangan pada orang yang baru saja datang dan duduk dengan santai di sofa lain.


"Jadi, kau?" gumam Andre dingin.


Dengan mudah ia nengenali orang itu, Meski lebam-lebam di wajahnya masih terlihat dengan jelas. Mata Andre menatap tajam, menghujam tepat ke manik mata orang di depannya.


Aura Andre sangat kuat, tetapi pemuda di depannya jauh lebih menakutkan.


"Ya, ini gue." Pemuda yang ternyata Satrio itu menjawab dengan tenang.


"Apa yang kau inginkan? Di mana Qia?" tanya Andre dengan gusar.


Mendengar pertanyaan itu, Satrio tertawa terbahak.


Mendengar itu, Andre tersenyum smirk.


"Dan kau? Apa menurutmu layak? Harusnya kau tahu diri. Lihatlah dirimu sekarang? Kau hanya seorang buronan, mau pikir akan membuat Qia bahagia?" sindir Andre sambil menyeringai.


HA HA HA HA


Satrio semakin keras tertawanya.


"Lihatlah, siapa berbicara tentang kebahagiaan? Lo itu anak kemarin sore, gak tau apa-apa? Lo pikir siapa yang bikin gue kayak gini? Jika bukan karena bapak lo yang pengecut itu, Qia pasti akan baik-baik saja," sentak Satrio dengan nada dingin.


Pernyataan itu tentu saja membuat Andre semakin marah.


"Ini masalah kita berdua, gak usah disangkut-pautkan dengan siapa pun, apalagi itu papa," ucap Andre marah.


"Kenapa tidak? Asal kamu tahu, semua kekacauan yang dialami oleh Qia adalah ulah dari bapak lo yang pengecut itu."


"Jangan asal bicara!"


"Kenapa tidak? Bapak lo memang pengecut, berani berbuat, tetapi tidak mau bertanggung jawab. Lo lihat, siapa yang mukuli gue kayak gini?" Satrio berteriak sambil menunjuk mukanya yang masih bengkak.


Sementara itu, Andre hanya mengernyitkan dahi.


"Asal lo tahu, ini semua kerjaan bapak lo," lanjut Satrio dingin


"Lo tahu, siapa yang nuduh gue sebagai pemberontak? Bapak lo.


Siapa yang menyerang rumah gue? Bapak lo.


Siapa yang hampir membunuh Qia dan gue di mobil saat pulang dari sekolah lo? Bapak lo.


Siapa yang menculik dan menodong Qia dengan pistol? Bapak lo.


Lo tau, masih banyak lagi kejahatan yang dilakukan bapak lo, bahkan sudah gak terhitung lagi. Masih mau bilang, kalau gue bicara sembarangan? Lo memang anak bajingan!"


Mendengar papanya dijelek-jelekkan seperti itu, amarah Andre tak terbendung. Dari tadi ia menahan diri untuk tetap sabar, tetapi pemuda yang menjadi saingan cintanya itu ternyata semakin keterlaluan.


"Kurang ajar! Jangan sekali-kali menghina papaku!"


Andre mengepalkan tangannya. Mukanya yang putih bersih sudah berubah merah membara. Pemuda itu lalu mengayunkan tinjunya ke arah Satrio.


Namun, satu hal yang tidak ia ketahui. Satrio adalah perwira yang sudah terlatih. Kecepatan gerak Andre saat memukul tentu tidak ada arti baginya.


Dengan cepat, Satrio menangkap pergelangan tangan Andre yang hendak meninjunya hingga tangan putra Wijaya itu hampir mati rasa.


"Hah? Hanya segini kemampuan lo? Tentu saja gue paham, kalau bapaknya pecundang, bibitnya pasti juga pecundang!" ejek Satrio membuat Andre semakin marah.


Satrio sudah melecehkannya, ia masih berusaha untuk sabar. Namun, ini adalah papanya, orang yang sangat ia hormati dan ia banggakan? Suami Qia yang brengsek ini ternyata kurang ajar sekali.


Ia segera menarik tangannya yang digenggam Satrio dan berusaha untuk membebaskannya agar bisa memberi pelajaran padanya. Namun, tangannya tidak bisa digerakkan, seakan menancap kuat di antara jari-jari Satrio.


"Sial, ternyata orang ini kuat sekali. Tanganku tidak bisa digerakkan," batin Andre marah.


Satrio yang melihat itu hanya bisa tertawa. Suami Qia itu terus saja memprovokasi Andre, membuat anak Wijaya Kusuma itu marah agar bisa melancarkan aksinya. Tujuannya memang dengan memancing amarah Andre agar bisa mengikuti kemauannya.