Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
106. Framing 2



...Mayapada menyaksikan...


...Betapa benih telah kusemaikan ...


...Kupupuk, kusiram, kurawat, dan kujaga...


...Berharap suatu saat indah berbunga...


...Manis lezat buahnya 'kan kurasa...


...Tak pernah kusangka...


...Badai kutuai...


...Membuatku bertanya-tanya...


...Apa yang salah?...


...Adakah makna indah di baliknya?...


***


Bu Mirna dan Pak Zul digiring masuk ke dalam mobil milik orang-orang itu tanpa mengucapkan sepatah kata. Mereka juga tidak memperhatikan keadaan sekitar. Namun, saat kaki mau masuk ke dalam mobil, telinga mereka mendengar beberapa suara saling bersahutan.


"Mas Zul, mau ke mana?"


"Pak Zul, apa Qia dan suaminya sudah ditemukan?"


"Pak Zul, mereka ini satu gerombolan, ya?"


"Pak Zul, mau bertemu mereka, ya?"


Teriakan itu terus bersahutan, menggema tiada henti di telinga dan masuk ke kepala Pak Zul dan Bu Mirna, hingga membuat kedua orang tua Qia itu semakin sesak. Akhirnya, karena tidak tahan, Bu Mirna mulai menangis tertahan.


"Bagaimana ini, Pak?" kata Bu Mirna sambil sesenggukan.


"Sudah, tidak usah didengarkan. Tidak usah dipikirkan. Mereka kan tidak tahu kejadian yang sesungguhnya," bisik Pak sambil menggenggam erat tangan Bu Mirna.


"Tapi mereka keterlaluan sekali, Pak. Mereka kan tahu, sehari-hari kita seperti apa? Mereka juga tahu, anak kita seperti apa? Kok tega-teganya mereka berkata seperti itu?" ujar Bu Mirna sambil terus terisak.


"Yakinlah, Bu. Semua ini hanya sementara. Kita tidak bersalah, cepat atau lambat, kebenaran akan terungkap."


"Tapi, sampai kapan, Pak? Rasa-rasanya, cobaan ini tidak ada habisnya," kata Bu Mirna.


"Astaghfirullah, kita tidak boleh seperti itu, Bu. Itu sama saja dengan berprasangka buruk sama Allah. Beristigfarlah, mohon ampun sama Allah," ujar Pak Zul.


Mendengar itu, Bu Mirna langsung terdiam. Ia bukannya tidak tahu apa yang disampaikan suaminya barusan. Namun, sekadar berbicara memang berbeda dengan mengalami sendiri. Ia sendiri juga sering memberi wejangan pada orang lain, agar bisa sabar dan tawakal ketika menghadapi cobaan. Hanya saja, saat mengalami sendiri, amboi, alangkah beratnya!


"Padahal, kita tidak pernah berbuat jahat pada orang lain, Pak," keluh Bu Mirna.


"Kita tidak boleh sombong, Bu, merasa sudah banyak menebar kebaikan, dan berharap tidak akan pernah mendapat cobaan. Ingatlah, selagi kita masih bernapas, cobaan hidup pasti akan selalu ada," jelas Pak Zul mengingatkan.


"Iya, Pak."


Bu Mirna menghela napas panjang, beristighfar berulang-ulang, memohon ampun kepada Allah atas kesombongannya.


Sementara itu, orang-orang berpakaian hitam yang berada di dalam mobil hanya diam sambil mendengarkan percakapan antara Pak Zul dan istrinya.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, melintasi jalan kecil beraspal. Namun, saat tiba di simpang tiga, salah seorang yang duduk di kursi belakang berteriak.


"Kita diikuti, Bang!"


"Kalau begitu, belok kanan, habis itu putar balik, kembali lagi ke sini trus ambil jalur kiri," kata orang yang duduk di samping sopir.


Akhirnya, mobil pun bergerak sesuai dengan arahan orang tersebut.


***


Di markas rahasia.


"Bos, apa Kakak Ipar sudah tahu apa yang terjadi di luar sana?" tanya Hendra.


Bukannya menjawab, Satrio malah memukul ringan kepala Hendra dengan gulungan kertas HVS yang ia ambil dari atas meja.


"Kita cuma berdua, gak usah terlalu formal," ujar Satrio.


"Qia belum menyaksikan berita sama sekali. Usahakan ia tidak mengetahuinya. Aku tidak ingin ia sedih atau stress memikirkan hal ini," kata Satrio.


"Trus, apa langkah kita selanjutnya?" tanya Hendra.


Tentu saja ia sangat kesal dengan berita yang beredar di luar. Saat ini bosnya sedang menjadi bahan gorengan yang menyenangkan bagi masyarakat. Terlebih, belum ada konfirmasi sama sekali dari pihak terkait untuk memperjelas semua ini.


Berita dibiarkan simpang-siur, seolah disengaja agar masyarakat memberikan kesimpulan sendiri. Itu pun dilakukan secara berulang-ulang sehingga netizen menganggap hal itu sebagai kebenaran.


"Tidak ada," jawab Satrio singkat, tetapi terkesan santai, tidak ada kekhawatiran sama sekali.


"Tidak ada bagaimana? Kakak gak ingin mengklarifikasi berita yang ada di media?" tanya Hendra mengubah panggilannya.


Mereka sedang berdua, tidak ada bos dan atasan di antara mereka. Lagipula, ia tidak ingin mendapat pikulan lagi di kepalanya gara-gara memanggil bos.


Hendra bertanya seperti itu karena memang betul-betul mengkhawatirkan kakaknya.


"Buat apa?" Satrio balik bertanya. Nada suaranya masih terdengar santai.


"Anggap saja kita sedang istirahat. Biarkan mereka kelabakan sendiri. Aku yakin, penjahat yang sesungguhnya akan segera tampil sebagai pahlawan di hadapan publik. Dengan begitu, kita bisa tahu, siapa dalang sesungguhnya," jelas Satrio.


Hendra hanya manggut-manggut, mulai mengerti jalan pikiran Kakak angkat sekaligus bosnya itu.


"Ya sudah, kita keluar sekarang, takutnya Qia bangun dan mencariku," kata Satrio lagi.


Seperti sebelumnya Hendra hanya mengangguk, kemudian mengikuti langkah Satrio keluar ruang pertemuan.


Di luar, ternyata Qia sudah bangun. Kejadian yang ia alami tadi betul-betul membuat Qia syok. Ia juga merasa sangat lelah hingga akhirnya tertidur. Dan kini, Satrio menemukan wanitanya itu sedang berdiri menatap keluar jendela, membuat hatinya mencelos.


"Kenapa? Heem?" tanya Satrio sambil memeluk pinggang Qia dari belakang.


Qia menoleh dan langsung memutar tubuhnya menghadap sang suami.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Satrio lagi.


Qia menghela napas, kemudian menjawab pertanyaan Satrio.


"Semuanya." Qia menjawab singkat.


Mendengar itu, Satrio tersenyum.


"Bagaimana Kakak masih sempat senyam-senyum, sementara keadaannya sudah seperti ini?" sindir Qia.


Sekarang Satrio malah terkekeh. Ia tahu, kepala istrinya ini memang sangat mungil, tetapi isinya sungguh di luar dugaan.


"Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Kita hanya perlu bersabar sedikit sampai semua betul-betul terungkap," jelas Satrio.


"Kenapa kita tidak langsung menunjukkan flashdisk itu ke pihak yang berwenang, beres, kan?" bantah Qia tidak sabar.


"Tidak semudah itu, Sayang."


"Tapi kenapa?"


"Saat ini kita belum tahu secara pasti, pihak mana yang benar dan mana yang salah. Bisa-bisa, kita sendiri yang kena gebuk, sementara satu-satunya barang bukti yang berharga ini akan segera dilenyapkan," jelas Satrio membuat sang istri menghela napas sekali lagi.


"Kakak betul. Bahkan, saat ini saja kita tidak tahu bagaimana informasi yang berkembang di tengah masyarakat terkait serangan mendadak di rumah kita. Jangan-jangan, kita malah yang jadi tersangka," tebak Qia.


Ia selalu mengikuti perkembangan berita. Itu sebabnya, ia paham trik-trik semacam itu sering dipakai untuk menutupi kebenaran yang sesungguhnya.


Jawaban Qia itu tentu saja membuat Satrio sedikit membulatkan mata, apalagi Hendra yang duduk tak jauh dari mereka.


Tadi dua orang pria itu sepakat untuk tidak membocorkan apa yang terjadi di luar sana. Namun, di luar dugaan, justru Qia malah bisa menebaknya.


"Apa Kakak sudah membuka flashdisknya?" tanya Qia.


"Belum, Kakak sudah janji, kita akan melihatnya bersama-sama. Tadi kamu tertidur, jadi Kakak sengaja menunggu sampai kamu bangun."


Mendengar itu, Qia tersenyum. Ternyata suaminya betul-betul menepati janji.


"Bagaimana kalau kita buka sekarang? Qia betul-betul penasaran."


"Baiklah, ayuuk."