Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
44. Sepertinya Tidak Terkenal?



Satrio yang tidak biasa bersilat lidah semakin kesal. Tanpa bicara apa-apa, ia lebih mendekat ke arah Bayu, kemudian menonjok muka preman kampus itu. Satu tonjokan cukup membuat kakak tingkat Qia itu dlosor.


"Kau ..." teriak Bayu sambil memegangi hidungnya yang berdarah. Kelihatannya retak.


Spontan, teman-teman Bayu mendekat dan mengepung Satrio dan Qia.


***


Spontan, Qia merapat ke suaminya karena ketakutan.


"Jangan sampai Qia terluka!" teriak Bayu sambil menyeka darah yang keluar dari hidungnya.


Sementara itu, Satrio melepaskan pegangan Qia, kemudian melangkah sedikit ke depan.


"Jangan jauh-jauh dari Kakak," bisik Satrio.


"Sebaiknya tidak usah meladeni mereka, Kak. Kita nanti akan mendapatkan masalah. Dia itu keponakan pemilik yayasan." Qia balas berbisik.


"Memangnya kenapa kalau keponakan pemilik yayasan?" Satrio balik bertanya.


"Kita akan mendapatkan masalah, Kak. Qia gak mau di-DO."


"Tidak usah takut. Lagian, Kakak bukan mahasiswa di sini, tidak akan dapat masalah. Dan kamu, kamu tidak akan bakalan kena DO. Temanmu itu cinta mati sama kamu, dia tidak akan bikin masalah. Kalau toh ia mau macam-macam, Kakak tidak akan tinggal diam," jawab Satrio.


"Tapi, Kak ...."


"Kamu tenang saja, Qi. Justru kalau diam saja, berarti Kakak salah. Seorang istri adalah kehormatan suami. Berarti kamu adalah kehormatan Kakak. Kalau Kakak diam saja, berarti Kakak ini dayuts. Kamu tidak ingin suamimu ini menjadi dayuts, kan?"


Klakep. Qia tidak bisa menjawab. Jujur ia agak speacles, ternyata suaminya yang seperti urakan itu mengenal istilah dayuts. Itu adalah istilah bagi seorang lelaki yang istrinya dilecehkan kehormatannya, sementara ia tidak berusaha membela. Ia tidak memiliki rasa cemburu sama sekali sehingga membiarkan saja, meski istrinya dizinahi sekalipun. Na'uzubillah, Qia jadi bergidik


Lelaki seperti itu tidak memiliki harga diri dan kehormatan. Qia jadi teringat perkataan Buya Hamka. Kata Buya, lelaki seperti itu sebaiknya dikainkafani saja. Itu sebabnya, ia membiarkan Satrio menyelesaikan masalah dengan Bayu sesuai caranya.


"Hati-hati, Kak," kata Qia akhirnya.


Sementara itu, semua teman Bayu sudah melingkar, mengepung Satrio dan Qia. Seketika, tempat itu menjadi agak gaduh. Beberapa mahasiswa berkerumun untuk melihat, tetapi tidak ada satu pun yang berani membantu Satrio dan Qia. Bukan karena tidak ingin, tetapi mereka tahu, bagaimana konsekuensinya.


Tanpa memberi aba-aba, salah seorang teman Bayu yang membawa rantai sepeda motor mengayunkan benda itu ke arah Satrio. Qia mengenal pemuda itu. Namanya Toni.


"Hiyaa ... rasakan ini!"


Bukannya menghindar, suami Qia itu malah menangkap rantai itu, kemudian menariknya dengan keras. Bersamaan dengan itu, dua tendangan berturut-turut dilayangkan. Satu mengarah ke kepala Toni, satu lagi ke kepala teman yang ada di dekatnya.


"Aaah ..." pekik Toni dan temannya bersamaan. Sungguh, mereka tidak menyangka.


Sebagaimana Bayu, dua orang itu juga langsung dlosor terkena tendangan maut Satrio. Namun, sepertinya mereka belum jera. Keduanya lalu bangkit, kemudian menyerang Satrio bersama-sama secara membabi-buta.


Tidak butuh waktu lama, dua tiga tendangan saja sudah cukup bagi Satrio untuk membuat dua pemuda yang sok-sokan itu tidak berdaya.


Sedangkan teman-teman Bayu yang lain, mereka cuma bonek (bondo nekat) alias bekal nekat saja. Mereka tidak berani menyerang.


"Segitu aja? Gak dilanjut?" Suara bariton Satrio yang dingin itu terdengar menakutkan.


"Kita cabut saja!" Seru Bayu kesal. Dia tidak menyangka kalau suami Qia itu betul-betul seorang preman. Setidaknya itulah yang ada di benak Bayu.


Namun, dalam hati ia tidak terima. Ia bersumpah akan membuat perhitungan di lain waktu. Tentunya dengan perencanaan yang matang. Teman-temannya memang tidak berdaya, tetapi anak buah papanya sangat banyak. Mereka adalah petarung-petarung tangguh. Tentu tidak akan sulit untuk mengalahkan suami Qia.


Rombongan Bayu dan kawan-kawan akhirnya ngacir dan semua orang pun bubar. Untungnya, kejadian itu tidak diketahui oleh pihak rektorat.


"Kakak gak papa?" tanya Qia cemas. Tangannya sibuk mencari-cari barangkali ada luka di tubuh suaminya.


"Jangan khawatir, suamimu ini masih tetap ganteng seperti semula," jawab Satrio sambil cengar-cengir.


Demi mendengar itu, Qia langsung mendengkus kesal, kemudian buru-buru melepaskan tangan.


"Dasar narsis!" gerutunya.


"Eeehh, bukan narsis, Qi. Kamu tidak liat, dari tadi cewek-cewek pada liatin suamimu yang ganteng ini dengan tatapan lapar. Memangnya kamu tidak khawatir, suamimu bakal direbut mereka?" goda Satrio lagi.


Qia melengos. "Ayo kita pulang, Qia laper."


Satrio yang baru melangkah langsung menghentikan langkahnya. Ia melirik jam tangan yang tertutup jaket hitamnya, kemudian mengernyit.


"Belum. Kakak lama banget, jemputnya." Qia berkata jujur. Pasalnya, ia mudah pusing kalau terlambat makan.


"Maaf, tadi masih ada kerjaan di kantor. Kenapa tidak makan di kantin saja? Ini sudah hampir lewat jam makan siang."


"Memangnya Kakak sudah makan siang?" Qia balik bertanya.


"Kalau Kakak mah, udah biasa telat makan, maklum aja, bujangan," jawab Satrio santai.


"Eeeeh ... mana bisa begitu. Sekarang kan sudah bukan bujangan, gak boleh lagi makan sembarangan." Kali ini Qia menjawab dengan sewot.


"Siap, Nyonya. Ayo, kita makan. Apa kamu ingin makan di luar?" tanya Satrio.


"Kita makan di rumah aja, ya, Kak. Qia yakin, ibu pasti sudah masak banyak. Sayang kalau tidak dimakan."


Akhirnya mereka pulang.


***


Malam itu, Qia mencoba melanjutkan novelnya yang selama beberapa hari tertunda. Setelah berkutat dengan skripsi tadi siang, rasanya ia ingin refreshing sejenak dengan cara menghalu.


Namun, beberapa hari Hiatus, ternyata Qia mulai kehilangan ruh ceritanya. Itu sebabnya, ia membaca lagi cerita itu mulai dari awal. Tapi, kali ini ia membaca melalui ponselnya. Kalau baca di laptop, ia takut kalau-kalau Satrio yang saat itu sudah pulas tertidur tiba-tiba bangun kemudian melihat tulisannya. Jujur, sampai saat ini, hanya beberapa orang saja yang mengetahui kalau dirinya adalah Kemilau Senja.


Saat membaca, kadang ia tertawa sendiri, kadang senyum-senyum, kadang matanya berkaca-kaca karena menghayati cerita itu.


Satrio yang sebenarnya tidak tidur, diam-diam mengamati istrinya. Ia penasaran, sebenarnya apa yang sedang dibaca Qia.


"Kamu chatingan sama siapa? Kelihatannya seru banget?"


Suara bariton Satrio mengejutkan Qia. Tiba-tiba saja lelaki itu sudah berdiri di sebelahnya. Reflek, Qia mematikan ponselnya membuat Satrio agak curiga.


"Eh, enggak kok, Kak."


"Enggak bagaimana? Orang Kakak liat dari tadi kamu senyum-senyum sendiri. Asik banget ngobrolnya sampai suamimu yang tampan ini dianggurin," ujar Satrio pura-pura kesal.


Eh???


"Memangnya Kakak tidak tidur?" tanya Qia penasaran. Jelas, tadi ia melihat suaminya itu tertidur pulas. Itu sebabnya ia tidak berani mengganggu.


"Tadi memang tidur. Sekarang tidak bisa lagi karena penasaran lihat istri Kakak ketawa-ketawa sendiri. Memangnya lagi ngobrol sama siapa?"


"Maaf, Qia tidak tahu kalau Kakak sudah bangun. Kakak butuh apa? Kakak mau minum?" tanya Qia dengan wajah memerah.


Siapa coba, yang tidak malu ketahuan senyum-senyum sendiri, bahkan ketawa-ketawa sendiri. Lagipula, ia tidak ingin Satrio mengetahui apa yang sedang ia baca. Novel itu bercerita tentang kasus yang ia hadapi saat ini. Meski tidak sama persis, tetapi ide dasarnya adalah kisah nyata yang sedang terjadi padanya. Tentu saja di situ ada Satrio menurut versinya.


"Jangan mengalihkan pembicaraan. Kamu belum jawab pertanyaan Kakak."


"Tapi Qia gak chatingan, Kak. Qia cuma baca novel online," bantah Qia serba salah. Ternyata ia tidak bisa berbohong.


"Oh ya? Coba Kakak lihat," kata Satrio lagi, pura-pura tidak percaya.


Awalnya Qia ingin menolak. Namun, ia tidak ingin suaminya berprasangka buruk. Akhirnya, dengan terpaksa Qia membuka salah satu aplikasi dan menunjukkan judul novel yang tadi ia baca. Sebuah nama tertera di sana, Kemilau Senja.


"Sepertinya tidak terkenal. Memang bagus, ya?" tanya Satrio asal.


"Lumayan, pembacanya cukup banyak," jawab Qia. Ia merasa malu dibilang tidak terkenal sama suaminya.


"Coba lihat!"


"Tidak usah, Kakak tidak akan suka."


Satrio tidak memaksa. Jujur ia memang tidak suka dengan dunia hayalan.


"Ya, sudah, sebaiknya sekarang kamu tidur. Oh ya, besok kamu kasihkan jadwal kegiatan kamu ke Kakak, semuanya," kata Satrio membuat mata kelinci Qia menatapnya.


"Bu ... buat apa?" tanya Qia terbata.


"Tidak usah lebay gitu." Satrio menyentil kening Qia melihat ekspresi tegang gadis itu. "Kakak hanya ingin mencocokkan dengan kegiatan Kakak."


Muka Qia kembali memerah. Ia merasa malu karena mencurigai suaminya. Jujur, tadi pikirannya sudah ke mana-mana karena pada dasarnya ia memang belum sepenuhnya percaya pada lelaki itu.