Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
114. Penyamaran



Satrio membiarkan Kakak sekaligus bosnya itu tidur. Ia tahu kalau sang Bos harus kembali ke markas besok. Namun, melihat kondisinya yang betul-betul kacau itu, Satrio jadi tidak tega.


Di kesatuan, mereka memang dididik dengan sangat keras. Namun, Satrio tidak akan membiarkan hal buruk menimpa Kakaknya. Tanggung jawab orang nomor satu di kesatuan itu sangat besar, jika terjadi sesuatu yang buruk padanya, semuanya malah jadi berantakan. Selama ini mereka mati-matian menjaga agar posisi penting itu tidak jatuh ke tangan orang yang tidak bertanggung jawab.


Posisi itu sangat rawan dan vital, banyak orang saling senggol mengincarnya. Namun, dengan adanya duet maut antara Adrian dan Satrio, sering kali orang-orang itu menjadi keder dibuatnya.


Namun, setelah Satrio dinyatakan sebagai buronan dan namanya tercemar, adalah hal yang masuk akal kalau orang-orang picik itu mulai bergerak untuk menggeser posisi Adrian.


Mereka berpikir, inilah kesempatan bagi mereka untuk bertindak, mumpung kekuatan Adrian sudah mulai berkurang. Mereka tidak pernah menyadari bahwa Satrio dan Adrian masih saling berkoordinasi.


***


Setelah salat Subuh, Adrian dan Satrio langsung ke tempat kerja untuk membahas rencana selanjutnya.


Pukul enam pagi, barulah Adrian undur diri karena harus tiba di markas sebelum pukul tujuh. Satrio sendiri yang mengantarkan karena tidak ada yang lebih baik di satuan mereka dalam berkendaraan melebihi Satrio. Selain itu, ada misi khusus yang harus ia jalankan.


"Lo yakin?" tanya Adrian.


"Sangat. Lo butuh waktu kurang dari satu jam untuk sampai di sana. Dengan kondisi berantakan kayak gitu, lo tidak akan bisa. Lagipula, gue gak betah kalau terus-terusan ngandang. Apa enaknya jadi jago kandang," jawab Satrio sambil memakai kumis dan gigi sedikit tongos, serta baju khas seorang ajudan.


Bahkan, Qia pun tidak mengenalinya saat mereka berpapasan sewaktu Adrian berpamitan. Di markas itu ada banyak orang. Tentu ia tidak mengenal atau menghafal satu-persatu, termasuk pria sedikit tongos yang baru saja berjalan di depannya.


Satrio hanya ingin menyamarkan sedikit bentuk rahangnya, sehingga orang lain tidak mengenalinya. Jadi, ia tidak perlu memasang gigi yang sangat tongos, apalagi di dalam kesatuan bentuk gigi sangat diperhatikan. Gigi yang terlalu tongos tidak mungkin bisa diterima. Meski begitu, Qia tetap tidak mengenali suaminya.


"Loh, Kak Satrio mana? Katanya mau nganter Kak Adri?" tanya Qia polos, bahkan aroma Satrio saja Qia tidak mengenali. Itu karena Satrio sudah melumuri tubuhnya dengan bebauan yang lain.


"Satrio sudah di depan. Bukannya tadi sudah pamitan?" jawab Adrian seolah tanpa dosa.


"Ya sudah, hati-hati, Kak," pesan Qia.


"Baiklah, Kakak berangkat dulu, jaga diri baik-baik. Jangan banyak pikiran. Kami berdua pasti bisa mengatasi ini semua. Doakan saja," nasihat Adrian.


Qia mengangguk, begitu juga para orang tua. Adrian menyalami mereka satu-persatu, kecuali Qia. Bagaimana pun, orang tua Satrio adalah orang tuanya juga.


Ssetelah itu, Adrian berangkat menyusul Satrio yang sudah ada di kendaraan.


"Kenapa Satrio tidak pamit ke kita, Bi?" tanya Umi Silmi.


"Bukannya tadi sudah pamit, habis salat Subuh tadi?" jawab Abi Kun.


"Tadi kan cuma bilang saja, Bi, Bukan pamitan?" bantah Umi Silmi.


"Gak papa, sama saja, Mi. Mungkin ada hal yang harus ia kerjakan, jadi pamitnya sekalian tadi. Doakan saja."


Jawaban Abi Kun itu sedikit membuat Qia, Umi Silmi, Pak Zul, dan Bu Mirna sedikit tenang.


Sebenarnya, Abi Kun sudah tahu kalau Satrio sekarang dalam mode penyamaran. Tadi, sebelum berangkat, suami Qia itu sempat pamit ke orang tua itu dan menitipkan semua orang pada sang ayah, terutama Qia, Umi, dan kedua mertuanya. Itu sebabnya, lelaki yang sudah senja itu merasa tenang-tenang.


Ini berbeda dengan Qia. Jujur Qia merasa sedikit khawatir karena sebelumnya Satrio tidak pernah bersikap seperti itu. Segenting apa pun keadaannya, lelaki yang bucin pada dirinya itu selalu menyempatkan diri untuk pamit.


Memang, tadi sebelum salat Subuh, lelaki itu sudah mengutarakan niatnya untuk mengantar Adrian. Bahkan, lelaki itu masih sempat bermanja. Awalnya Qia keberatan dengan maksud Satrio itu. Namun, suaminya berhasil meyakinkan. Akhirnya, dengan berat hati dan perasaan yang tidak nyaman, ia mempersilakan lelaki itu untuk berangkat.


Qia berpikir, suaminya adalah prajurit, sudah selayaknya berada di garda terdepan, bukan meringkuk di tempat persembunyian.


***


Di dalam mobil.


"Kanapa tidak berpamitan sama Qia?" tanya Adrian.


"Tadi sudah," jawab Satrio singkat sambil menyetir mobil.


"Tapi itu berbeda."


"Gue gak ingin melihat dia khawatir," ucap Satrio.


"Justru dengan kucing-kucingan kayak gini, semakin membuatnya cemas," bantah Adrian.


"Gue tahu, Kak. Tapi gue gak punya pilihan. Gue gak tahan lihat matanya, gue gak tega."


Dengan jujur, Satrio mengungkapkan isi hatinya.


Adrian terdiam sejenak, kemudian menatap adiknya sekilas.


"Lo sudah banyak berubah. Gue seneng, akhirnya ada yang bisa jadi pawang lo secara suka rela," ujar Adrian asal. Selama ini Satrio memang lebih suka berbuat seenaknya, meski tetap dalam standar operasional prosedur (SOP)


Mendengar itu, Satrio langsung melotot.


"Pawang pawang. Memangnya gue ular, harus ada pawang?" sengit Satrio.


"Loh, lo gak sadar kalau lo memang ular berbisa. Lo lupa kalau racun lo itu sudah berkali-kali menembus jantung Kakak lo ini." Adrian tak mau kalah.


"Dasar kakak durhaka. Di mana-mana, seorang adik itu harus dijaga dan dilindungi, bukan dijadikan umpan. Apalagi disamakan dengan ular," gerutu Satrio.


"Oh adik manisku yang durhaka, hallo, apa lo punya kriteria seperti itu? Justru karena lo itu licin kayak ular, lo pantas menjadi umpan," ejek Adrian tak mau kalah.


Mendengar itu, Satrio melengos.


"Gue sumpahin lo bakal lebih parah dari gue. Lo bakal bucin banget sama Anita!" gerutu Satrio pura-pura kesal.


Sementara itu, Adrian hanya memasang tampang polos membuat Satrio bertambah kesal.


Setengah jam mereka di dalam mobil. Tak tanggung-tanggung Satrio mengemudikan Maybach hitamnya dengan gila-gilaan. Sudah gitu, ia masih sempat bercanda pula.


Adrian yang sudah mengetahui kemampuan Satrio hanya tenang-tenang saja.


Kalau saat berangkat kemarin jalan menanjak, kini jalan dalam posisi menurun


"Kalau mereka tidak termakan umpan bagaimana?" kata Satrio masih sambil menyetir mobil..


"Kita sudah membuat penyamaran lo tidak terlalu sempurna, gue yakin mereka akan termakan," jawab Adrian.


"Semoga saja begitu," kata Satrio sambil menghela napas.


Ide gila untuk menyamar dan menjadikannya sebagai umpan ini adalah miliknya. Satrio ingin masalah ini segera tuntas tidak berlarut-larut. Itu sebabnya, ia rela menjadikan dirinya sebagai umpan, meski paham betul bagaimana konsekuensinya.