Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
135



Qia langsung dibawa ke ruang tindakan. Di rumah sakit itu, keberadaan Qia dan Satrio dirahasiakan. Hanya orang-orang tertentu saja yang tahu, mengingat status Satrio yang saat ini masih buron.


Dokter Iman langsung memeriksa kondisi Qia. Ada dokter spesialis kandungan juga yang mendampinginya.


"Biarkan aku ikut masuk, Kak," pinta Satrio pada dokter Iman.  Ia sangat mengkhawatirkan keadaan istrinya. Pikirnya, kalau ia berada di dekat Qia terus, akan mempercepat kesadarannya.


Namun begitu, Satrio masih nampak sopan saat berbicara, tidak pakai bahasa lo gue. Ini berbeda saat ia bicara dengan Andrian. Padahal, kalau dipikir-pikir, jelas-jelas Adrian adalah atasannya.


"Tidak. Kamu tunggu di luar!" jawab dokter Iman tegas membuat Satrio agak kecewa.


"Tapi, Kak, aku ...." Satrio berusaha untuk membantah, tetapi dipotong oleh dokter Iman.


"Biarkan kami memeriksa dan memberi pertolongan padanya dengan tenang. Kecemasanmu sangat menggangu kerja para dokter. Aku tahu, kamu tidak akan bisa diam. Berdoalah semoga istrimu baik-baik saja," ujar dokter Iman sambil melangkah masuk.


Seorang perawat langsung menutup pintu ruangan tersebut. Tinggalah Satrio sendiri di luar. Ia terus mondar-mandir tidak sabar di depan pintu, sampai akhirnya Hendra datang membawa dua botol berisi air mineral.


"Silakan duduk dulu, Bos, minum dulu biar agak tenang," kata Satrio sambil menyerahkan sebotol air minum. Ia sendiri langsung duduk di kursi tunggu kemudian meneguk minuman di botol satunya.


Satrio tidak menjawab. Namun, ia menuruti kata-kata Hendra, duduk di sebelah bawahan yang sudah ia anggap sebagai adik itu, kemudian meminum air minum yang diberikan Hendra.


Sementara itu, suasana rumah sakit cukup lengang karena memang bukan jam besuk. Lagipula, ruangan tempat Qia dirawat adalah ruang khusus. Tidak sembarang orang bisa mendapatkan perawatan di sana.


"Kenapa lama sekali?" gumam Satrio. Matanya tak lepas dari pintu ruangan, tempat Qia dirawat.


"Sabarlah, Bos. Biarkan dokter Iman menjalankan tugasnya dengan baik. Kalau terburu-buru, nanti tidak akan baik jadinya," ujar Hendra sok tua.


Mendengar itu, Satrio hanya bisa mendengkus kesal. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa karena memang yang dikatakan oleh Hendra itu benar.


Beberapa saat kemudian, pintu ruangan dibuka. Tampak dokter Iman dan dokter spesialis kandungan keluar.


Tanpa membuang waktu, Satrio segera bangkit dan menyongsong kakaknya itu.


"Gimana, Kak? Qia baik-baik saja, kan?" tanya Satrio tidak sabaran.


"Kondisinya cukup lemah, terutama kandungannya. Tapi, kamu tenang saja. Saat ini Adek ipar sudah melewati masa kritis. Dia juga sudah sadar. Temui dia, tapi jangan sampai membuatnya terlalu lelah. Buat dia nyaman karena dia masih syok dengan hilangnya kamu, juga siksaan yang dia dapatkan selama disekap," tutur dokter Iman sambil menepuk pundak Satrio.


Sementara, pemuda itu tidak berkomentar. Ia langsung melesat menemui istrinya, membuat dokter Iman hanya geleng-geleng kepala.


Saat tiba di tempat Qia, Satrio melihat sang Istri sedang memejamkan mata. Ia mengira kalau Qia sedang tidur karena kata dokter Iman tadi Qia sudah sadar. Itu sebabnya, Satrio tidak berani bersuara. Ia duduk diam-diam di kursi yang ada di sebelah brankar sambil menatap wajah cantik itu secara intens. Ingin sekali ia menyentuhnya, tetapi takut membangunkan.


Sementara itu, Qia yang merasa ada seseorang yang duduk di samping kasurnya, langsung membuka mata.


"Kak?" panggil Qia dengan suara serak. Ia cukup terkejut karena tidak menyangka kalau suaminya sudah kembali dan saat ini sedang berada di dekatnya. Tadi dokter Iman tidak cerita kalau suaminya sudah ditemukan.


"Sayang!" bisik Satrio pelan sambil mengecup kening Qia.


"Bagaimana perasaanmu? Kau baik-baik saja, kan? Dia juga baik-baik saja, kan?" tanya Satrio lagi. Kali ini sambil memegang perut Qia.


"Alhamdulillah, Qia baik, Kak. Anak kita juga baik," jawab Qia pelan.


"Kakak juga baik-baik saja, kan? Kakak ke mana saja? Apa mereka juga menangkap dan menyiksa Kakak?" tanya Qia pelan sambil menyentuh muka Satrio yang masih terlihat bengkak.


Bukannya menjawab pertanyaan Qia, Satrio malah menyatakan penyesalannya pada Qia. Sama seperti yang dilakukan Qia, tangan lelaki muda itu juga menyusuri pipi Qia yang juga bengkak karena ditampar anak buah Wijaya Kusuma berkali-kali.


Kedua suami Istri itu pun akhirnya saling mencurahkan perasaan masing-masing. Rasa rindu yang mendera akibat terpisah sekian lama akhirnya tersalurkan.


***


Sementara itu, Andre yang merasa sangat kecewa akhirnya kembali ke rumah setelah memerintahkan pada anak buahnya untuk menghajar para penjaga yang telah melakukan kekerasan pada Qia.


"Ndre?"


Sebuah suara halus menegur Andre yang saat itu ngeloyor masuk tanpa mengucapkan sepatah kata.


Sejak mendapat informasi tentang bagaimana papanya, kepala Andre memang sudah dipenuhi dengan amarah, apalagi setelah melihat kondisi Qia yang seperti itu akibat ulah sang papa. Itu sebabnya, ia tidak begitu memperhatikan kalau ada orang yang sedang duduk di ruang tengah. Teguran itu sontak membuatnya terkejut.


"Eh, Ma? Sudah pulang dari liburan?" tanya Andre sambil menyalami mamanya.


"Iya, Ndre, baru saja. Sekarang Mama mau istirahat dulu, capek," kata mama Andre.


"Ya, sudah, Nama istirahat saja. Andre mau masuk dulu," pamit Andre kemudian langsung menuju kamarnya di lantai dua.


Di kamar, Andre memijit pelipisnya yang sejak tadi terasa berdenyut. Ia menatap langit-langit kamarnya. Untuk pertama kalinya, ia merasa hampa. Langit-langit itu masih seperti yang dulu, tidak berubah.


Akan tetapi, entahlah, kenapa sekarang rasanya berbeda saat ia menatapnya? Biasanya di kamar itu Andre paling betah berlama-lama, tetapi sekarang terasa hampa saat berada di sana.


Saat pikirannya sedang melayang, tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk. Dengan enggan, Andre membuka pintu.


"Lho, Ma? Mau pergi lagi? Katanya capek, mau istirahat?" tanya Andre melihat namanya sudah berdandan rapi.


"Iya, Ndre. Barusan Tante Salsa telpon, minta ditemani cari batik buat souvernir anaknya," jelas mama Andre membuat anak itu menghela napas.


"Mau Andre antar?" tawarnya.


"Tidak usah, biar Mama diantar supir saja. Kamu istirahat saja, kelihatannya capek banget."


"Ya sudah, Mama hati-hati, ya!"


Sepeninggal mamanya, Andre langsung masuk dan menutup pintu. Ia tersenyum miris, terutama saat melihat wajah cantik mamanya. Kecantikan yang telah disia-siakan oleh papanya, mungkin sudah sejak lama. Entahlah, Andre sendiri tidak terlalu memperhatikan.


Dulu ia menganggap apa yang dilakukan oleh mamanya itu adalah hal yang wajar, biasa-biasa saja. Namun, sekarang ia mengerti, bahwa di balik kecantikan itu dan keindahan itu, tersimpan ketidakbahagiaan dan berjuta luka di sana. Itu sebabnya, sang mama mencari kebahagiaan di luar sana, bersama dengan geng sosialitanya.


Saat Andre teringat Wandira, artis yang sedang naik daun dan kemungkinan besar dekat dengan papanya, ia jadi bertanya-tanya, apakah mamanya juga memiliki berondong di luar sana?"


"Astaghfirullah."


Tiba-tiba Andre merasa bersalah. Bagaimana pun, ia jarang memperhatikan mamanya. Apalagi, wanita yang telah melahirkannya itu lebih suka memendam dan menelan lukanya sendiri dan menutupinya dengan topeng kemewahan.


Eh, benarkah mamanya sedang tidak bahagia?


"Ma, maafkan Andre," batin Andre nelangsa.