Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
80. Ada yang Main-Main Sama Kita



Hallo Readers, Author muncul lagi nih, jangan bosan, ya.


Maaf, kali ini tidak bermaksud membuatmu berdebar-debar.


oh ya, jangan lupa kasih dukungan dengan like dan komen, ya, biar lebih semangat, nih, nulisnya 😘😘😘


***



Ada yang Main-Main Sama Kita



Dengan bantuan Aretha, Qia mendapatkan blazer putih sesuai dengan keinginannya. Bersyukur ia mendapatkan ukuran yang pas, jadi tidak harus memermak lagi.


Qia juga membeli satu kerudung berwarna putih untuk melengkapi blazer dan gamisnya nanti, juga satu kerudung instan berwarna salmon yang menarik hatinya. Maklum, bagaimanapun, Qia adalah wanita. Di mana-mana yang namanya wanita paling tidak betah lihat barang menarik.


Sebenarnya Qia bukan tipe wanita yang suka berbelanja. Bahkan, beberapa bulan ini ia hampir tidak beli baju, kecuali gaun pengantin dan beberapa hadiah dari orang-orang terdekatnya. Jadi, sesekali beli tidak apalah, toh suaminya sudah mempersilakan. Ia sendiri juga tidak berlebihan.


"Bu Qia mau cari apa lagi?" tanya Aretha sopan.


"Wah, jangan panggil Bu, dong Mbak. Kesannya kok saya tua banget," tolak Qia sambil tertawa ramah. "Gimana kalau panggil Qia saja?"


"Mana bisa begitu? Bu Qia adalah istri bos saya, mana berani saya panggil nama saja," kilah Aretha cepat. Ia akui, wanita cantik di depannya ini masih sangat muda, mungkin selisih empat atau lima tahun dengannya.


Mendengar itu, kontan saja Qia membelalakkan mata.


"Jadi, Kak Satrio itu bosnya Mbak Aretha? Bukan teman sekantor? Bukannya bos kalian itu Kak Adrian ya?" tanya Qia polos.


Aretha menatap istri bosnya itu sekilas. Tiba-tiba ia menyadari sesuatu.


"Astaga, apa aku salah ucap, ya? Kalau wanita cantik itu tidak tahu bahwa suaminya adalah salah satu bos di kesatuannya, tentu karena Pak Satrio sengaja merahasiakannya. Berarti, aku sudah membuka rahasia itu. Waduh ... Kena marah gak, ya?" Pikir Aretha.


"Bagaimana kalau saya panggil Mbak Qia saja?" tanya Aretha untuk mengalihkan pembicaraan.


Qia bukannya tidak tahu akan trik itu, tetapi memang ia tidak mau memaksa Aretha untuk memberikan jawaban. Gadis itu pasti memiliki alasan tertentu hingga memutuskan untuk tidak menjawab pertanyaan yang ia ajukan.


"Baiklah, terserah Mbak Aretha saja gimana enaknya. Kalau aku sih, lebih suka dipanggil Qia saja, biar lebih akrab kesannya," kata Qia akhirnya.


"Baiklah, panggil Qia saja biar akrab. Tapi kalau ada Pak Satrio atau yang lainnya, aku panggil Bu lagi loh, ya?" jawab Aretha.


Qia tertawa renyah.


"Wanita ini sangat menyenangkan, sama sekali tidak arogan. Beda banget sama Anita," batin Aretha.


Mereka pun berbincang riang. Tampak sekali kalau mereka mulai akrab.


"Beneran, kamu cuma cari blazer aja, gak ada yang lain?" tanya Aretha.


"Iya, Mbak. Cuma blazer aja. Mbak Aretha gak cari apa-apa?" tanya Qia.


"Untuk saat ini ... tidak. Lagi gak pingin. Sini, biar saya bantu bawa belanjaannya, Qi," tawar Aretha.


"Tidak usah, Mbak. Ini tidak berat. Lagipula, Mbak Aretha bukan bawahan saya," kata Qia sambil tertawa renyah.


Ini yang membuat Aretha semakin suka.


Qia mengangguk. Mereka lalu berjalan beriringan menuju pintu keluar. Sesekali terlihat canda dan tawa mereka.


Saat hendak menuju tempat parkir, tiba-tiba Qia melihat suatu kejadian yang menurutnya sangat miris. Seorang wanita tua renta terlihat kesulitan menyeberang jalan tanpa ada seorang pun yang mau menolong. Padahal, tempat itu cukup ramai. Banyak orang berseliweran di tempat itu.


Yang lebih miris lagi, tak satu pun dari mobil-mobil mewah di tengah jalan itu yang mau berhenti sejenak untuk memberi kesempatan orang itu lewat. Jadinya si nenek hanya bisa maju mundur saja.


Melihat itu, jiwa polos Qia meronta-ronta. Tanpa pikir panjang ia berlari kecil mendekati si nenek yang sedikit bongkok itu untuk membantu menyeberang. Qia melesat begitu saja tanpa bicara apa-apa pada Aretha dengan paperbag yang masih di tangan. Sampai-sampai, Aretha yang sedang membuka pintu mobil sedikit tertegun dan berteriak.


"Tunggu, Qi, mau ke mana?" teriaknya.


Qia yang sudah sampai di tempat si nenek menoleh sekilas. Kemudian kembali menghadap si nenek. Tanpa dia duga, di dekat nenek itu sudah ada seorang wanita. Sepertinya wanita itu juga ingin membantu si nenek tua. Perawakan wanita itu sama persis dengan Qia. Pun dengan warna gamis dan coraknya. Semua terlihat sama. Begitu juga dengan kerudung yang dipakai. Beberapa orang tampak mulai tertarik dan berjalan mendekati mereka.


Sebuah minibus berwarna hitam tiba-tiba melintas. Tanpa diduga, secepat kilat nenek tua itu menarik tangan wanita yang mirip dengan Qia dan mendorongnya masuk ke dalam minibus. Dengan gerakan super lincah, nenek itu segera masuk ke dalam mobil. Qia jadi terpana.


"Ternyata nenek itu tidak lemah," batinnya.


Qia sangat terkejut dan sedikit syok. Masih dalam mode tidak sadar secara sempurna, tiba-tiba tangannya ditarik oleh seorang pria tak dikenal yang berjalan melintas di dekat mereka, kemudian didorong ke seberang jalan.


Kejadian itu begitu cepat membuat Aretha tertegun beberapa saat, kemudian berteriak cepat ke beberapa orang di sekitarnya.


"Tunggu apa lagi, cepat kejar!" perintah Aretha.


Sama seperti Aretha, orang-orang suruhan Satrio itu juga sempat terbengong karena tidak menyangka. Istri bos yang tadinya mereka jaga ketat di sekitar mereka tiba-tiba melesat menghampiri seorang nenek kemudian ditarik masuk ke dalam mobil.


"Tinggu, istri bos yang mana? Yang ditarik ke mobil atau ke seberang jalan di antara kerumunan orang-orang?" Seseorang anak buah Satrio berteriak. Mereka agak sulit membedakan karena dari belakang mereka tampak sama.


"Kejar dua-duanya, dodol!" teriak Aretha panik. Ia merutuki kecerobohannya. Bagaimana nanti mempertanggungjawabkan di hadapan bos?


"Semoga Qia baik-baik saja," batinnya sambil melangkah ke seberang jalan untuk mencari keberadaan Qia.


Ia tidak berani langsung menghubungi Satrio karena bosnya itu sedang rapat dengan orang penting. Aretha tidak ingin mengganggu. Selain itu, ia juga berusaha untuk mencari dulu bersama dengan anak buahnya.


Sementara itu, orang-orang yang berada di TKP kembali bersikap normal, seolah tidak pernah terjadi sesuatu yang gawat. Penculikan tadi memang terjadi begitu cepat seolah-olah tidak ada pemaksaan sama sekali.


"Sepertinya semua sudah diperhitungkan dengan cermat," pikir Aretha.


Tapi, bagaimana bisa? Ia tahu, Qia membeli blazer ke butik itu tidak ada perencanaan sama sekali. Ia mengutarakan keinginannya pada Satrio baru tadi pagi dan tidak ada seorang pun yang berada di sekitar mereka.


Mungkinkah mereka berhasil disadap? Rasa-rasanya tidak karena Satrio adalah ahli IT, begitu juga dengan beberapa anak buahnya. Hal-hal semacam itu pasti dengan mudah diatasi. Lagipula, sistem keamanan di rumah itu sangat ketat.


"Mungkinkah ada penghianat di tim ini?" pikir Aretha lagi.


Mata tajamnya masih sibuk mencari ke sana ke mari. Ia berjalan di antara lalu-lalang banyak orang di sekitar tempat itu.


Karena belum membuahkan hasil, wanita jangkung itu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Arka, seorang penembak jitu, anak buah Satrio yang ahli IT juga.


"Iya, Ta, ada apa?" tanya Arka dari seberang.


"Tolong kamu lacak nomor ponsel Bu Qia, istri bos Satrio. Aku baru saja kehilangan dia. Rupanya ada yang mau main-main sama kita," kata Aretha.


"Oke, lo kirim ke gue nomernya."


"Oke."