Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
27. Pertikaian di Tengah Lamaran



"Maaf, kalau kedatangan saya mengagetkan Bapak. Perkenalkan, saya ...."


"Kita bicara di dalam saja, Nak. Mari, silakan masuk," ajak Pak Zul mempersilakan Bayu. Meski masih sedikit syok, lelaki itu tetap menghormati tamunya.


Karena kursinya tidak cukup, Pak Zul memindahkan kursi yang ada di ruang keluarga ke ruang tamu. Bayu dan teman-temannya masuk, kemudian duduk di sana.


Tentu saja kedatangan pemuda itu mengejutkan semua yang ada di ruang tamu, terlebih Qia.


"Kak Bayu?" ucap Qia spontan.


"Apa-apaan, ini? Jangan-jangan dia mau melamar juga? Yang bener aja," batin Qia sambil melirik beberapa teman Bayu yang membawa bingkisan.


"Hai, Qi, Abang datang untuk menghalalkanmu. Abang ingin melamarmu, Qi," jawab Bayu bersemangat. Wajahnya sumringah, memancarkan kebahagiaan.


"Dug." Jantung Qia rasanya seperti mau berhenti berdetak. Wajah Qia memerah seketika. Ia tidak menyangka kalau Bayu bakal senekat itu.


Ucapan Bayu dan interaksinya dengan Qia tersebut otomatis membuat Pak Zul, Bu Mirna, Andre, dan Pak Wijaya menatap ke arah keduanya dengan penuh keheranan, tidak menyangka kalau Qia ternyata mengenal pemuda itu.


"Siapa badut ini, Pak Zul? Mengapa dia datang mengacaukan acara lamaran kita?" tanya Pak Wijaya dengan nada agak merendahkan. Lelaki itu tidak suka kalau ada yang mengganggu acaranya. Karena itu, ia sengaja menekankan kata 'lamaran kita' agar tamu yang baru saja datang itu tahu diri. Selain itu, ia juga memberi peringatan pada Pak Zul secara tersirat untuk tidak mengabaikan lamarannya.


Melihat setelan Armani yang dikenakan, sebenarnya Pak Wijaya tahu kalau pemuda yang baru datang itu bukan orang sembarangan. Namun, Pak Wijaya hanya ingin menggertak anak muda itu untuk menjatuhkan mentalnya. Dalam dunia bisnis, gertakan seperti itu biasanya betul-betul bisa membuat lawan kalah sebelum berperang.


"Berani-beraninya ia mau merebut calon mantuku," pikir Pak Wijaya kesal.


Mendengar nada merendahkan dan hinaan yang ditujukan padanya, serta-merta Bayu menoleh, untuk mencari tahu siapa dalang kalimat pedas itu. Begitu tahu siapa yang ada di depannya, ia malah tersenyum smirk, alih-alih gentar atau takut.


"Oh, Tuan Wijaya yang terhormat ada di sini," cibir Bayu.


"Kau mengenalku? Baguslah," kata Pak Wijaya, masih dengan nada meremehkan.


"Tentu saja, Tuan Wijaya. Saya merasa sangat senang Anda berada sini. Maklum, kedua orang tua saya masih ada urusan bisnis di luar negeri, jadi keberadaan Tuan Wijaya yang terhormat ini bisa mewakili mereka, menjadi saksi pertunangan antara saya dengan pujaan saya, Nona Taqiya Eldiina tersayang," kata Bayu santai, tak peduli dua lelaki beda generasi di depannya mulai gelap wajah, pertanda menahan amarah.


"Ngawur ... Kamu jangan ngacau, anak muda. Siapa juga yang mau menjadi saksi kamu. Justru kamu dan teman-temanmu itulah yang akan menjadi saksi pertunangan anak saya dengan Ustazah Taqiya. Lagipula, kami yang datang duluan," kata Pak Wijaya sewot. Rupanya lelaki itu mulai kepanasan.


"Rupanya Anda sangat tidak sabaran Tuan Wijaya. Ini sangat tidak cocok dengan reputasi besar Anda selama ini. Anda mudah sekali terpancing emosi," kata Bayu lagi. Pemuda itu terus berusaha untuk memprovokasi.


"Kau .... Jaga sikapmu! Apa orang tuamu tidak pernah mengajari sopan-santun," teriak Pak Wijaya sambil menunjuk muka Bayu. Terlihat dengan jelas kalau ia sedang tersinggung.


"Jangan marah, Tuan Wijaya. Bagaimanapun, kedua orang tua saya bersahabat baik dengan Anda. Bukankah sangat tidak bijaksana jika mereka mengetahui perseteruan di antara kita?" jawab Bayu sarkas, tetapi masih dengan nada santai.


"Memangnya siapa orang tuamu?" tanya Pak Wijaya penasaran. Dia berpikir, pemuda di hadapannya ini sangat kurang ajar. Lidahnya sangat tajam. Tentu dia bukan orang sembarangan. Paling tidak, keluarganya pasti memiliki posisi yang setara dengan dirinya.


"Baiklah, saya akan memperkenalkan diri. Tidak hanya pada kalian berdua, tetapi juga pada kedua calon mertua saya," kata Bayu, membuat Pak Wijaya tambah panas.


"Jangan macam-macam, kamu. Mereka berdua ini adalah calon besan saya. Jangan ngaku-ngaku sebagai calon menantu," potong Pak Wijaya cepat.


"Sabar, Tuan Wijaya. Kenapa Anda cepat sekali marah? Biarkan saya memperkenalkan diri dulu."


Akhirnya semua orang menatap ke arah Bayu. Malam itu, penampilan Bayu cukup sopan, tidak seperti ketika di kampus yang selalu cuek dan terkesan urakan. Rambutnya yang sebahu diikat rapi ke belakang. Sebuah jas hitam keluaran Armani melengkapi kemeja putihnya membuat pemuda itu terlihat berbeda.


Ya, bagaimanapun, Bayu adalah anak orang kaya, meski sehari-hari tampil biasa saja. Namun, gambar ekor naga yang menyembul di punggung tangan pemuda itu tak luput dari tatapan Pak Zul dan lainnya, menunjukkan bahwa pemuda ini memiliki pergaulan yang tidak biasa.


Kalau Qia sendiri sebenarnya sudah terbiasa melihat tampilan seperti itu karena di kampus pun Bayu sering memakai baju lengan pendek. Jadi, dia sudah tahu kalau kedua lengan pemuda itu penuh dengan tato bergambar naga. Namun, gadis itu tidak pernah peduli akan hal itu.


"Saya Bayu Dirgantara, putra tunggal Satya Wiguna dari grup Satya Kencana. Saya yakin Tuan Wijaya sangat mengenal siapa itu Satya Wiguna. Bukankah kalian bersahabat baik?' sindir Bayu sambil tersenyum mengejek. "Oh ya, tujuan saya ke sini tadi adalah untuk meminang kekasih saya, Nona Taqiya," ujar Bayu Mantap.


"Oh, jadi kamu, anak tidak berguna itu?"


Bukannya terkesan, Pak Wijaya malah mencemooh Bayu. Siapa pun tahu siapa Satya Wiguna. Ia salah satu pengusaha terkemuka di negeri ini. Dan semua orang juga tahu bahwa Wijaya Kusuma dan Satya Wiguna tidak pernah akur. Mereka selalu bermusuhan, meski terkadang di pemerintahan mereka berada di dalam tim yang sama. Satu lagi, semua orang juga tahu kalau Satya Wiguna mempunyai seorang putra yang suka membuat masalah. Dengan kelemahan itulah Wijaya Kusuma bermaksud menjatuhkan Bayu.


"Apa maksud Anda dengan tidak berguna, Tuan Wijaya?" tanya Bayu kesal. Titik lemahnya disinggung, ia mulai terlihat emosi.


"Ha ha ha ... Semua orang tahu kalau Satya mempunyai putra tunggal yang tidak berguna. Dan hari saya benar-benar tidak menyangka bisa berhadapan langsung denganmu. Saya sarankan, kamu sekolah dulu yang benar, baru mikirin nikah," kata Pak Wijaya terus terang, kemudian kembali tertawa renyah. Ia sama sekali tidak menunjukkan rasa sungkan lagi setelah mengetahui identitas Bayu. Bagaimanapun, pemuda ini berlida sangat tajam, persis seperti ayahnya.


"Setidaknya, saya berani maju sendiri dengan gagah saat meminta anak gadis orang, tidak diam saja dan bersembunyi di ketiak orang tua," cibir Bayu sambil melirik ke arah Andre yang dari tadi tidak bersuara.


Pukulan yang dilontarkannya Bayu itu cukup telak dan langsung mengenai sasarannya.


"Kau ...." Kali ini Andre sudah tidak bisa menahan amarah. Ia bangkit dan hampir menyerang Bayu andai tidak dihalangi oleh papanya.


Melihat itu, Bayu menjadi tertawa renyah, tidak menyangka bisa memancing emosi Andre dengan mudah. Tentu dengan senang hati ia akan meladeni kalau sewaktu-waktu Andre mengajaknya bertarung untuk memperebutkan Qia.


Melihat gelagat yang kurang baik, Pak Zul sebagai tuan rumah yang dari tadi diam menyaksikan pertikaian, kini angkat bicara.