
Bagaimana tidak jengkel, dini hari membangunkan orang hanya untuk mengucapkan selamat bangun dan menunaikan ibadah salat malam. Kurang kerjaan banget dan ... terlalu lebay.
Kalau mau salat, ya salat saja, gak usah diperlihatkan ke orang lain! Belum tentu juga, orang yang membangunkan itu mau melakukannya. Ups ... kenapa ia jadi suuzon? Siapa tahu Andrea memang bermaksud baik. Mestinya, ia juga harus beterima kasih karena sudah dibangunkan jam segitu.
Karena itu, Taqiya langsung beranjak ke kamar mandi. Guyuran air dingin di mukanya membuat rasa kantuk yang tadi masih menyerang, seketika menjadi hilang. Akhirnya, ia pun salat dengan khusuk dan tenang.
..............
Berita bahwa Taqiya sudah dilamar akhirnya tersiar. Andre juga sudah mendengar tentang hal itu. Entah siapa yang memberi tahu.
"Kamu ngasih tahu Pak Andre, ya?" tanya Taqiya pada Ningrum.
"Sorry, Qi, aku keceplosan. Kemarin, tanpa sengaja aku bilang kalau kamu sedang sibuk mempersiapkan lamaran. Habisnya, Pak Andre maksa banget, minta kamu datang ke sekolah. Terpaksa, deh, kubilang begitu," jawab Ningrum merasa bersalah.
"Ya sudahlah, gak apa-apa. Lagian, ia kan memang harus tahu," kata Taqiya.
"Kamu benar. Pak Andre memang harus tahu, biar tidak berharap lagi. Tapi dasar cinta buta, kayaknya dia gak peduli, tuh, dengan status kamu. Dia malah bilang gini, selama janur kuning belum melengkung, Ustazah Taqiya masih milik umum. Gila gak, tuh?" jawab Ningrum.
Qiya jadi bergidik. Ia merasa ngeri dengan sikap atasannya itu. Wajar kalau ia merasa was-was. Ia khawatir lelaki itu akan berbuat yang aneh-aneh. Kalau sampai itu terjadi, maka Qia sudah siap mengundurkan diri dari pekerjaan.
Untungnya, kekhawatirannya itu tidak terbukti. Qia merasa lega ketika Andre bersikap wajar seperti biasa, seolah tidak terjadi apa-apa. Lelaki yang cinta mati pada Taqiya itu tetap bersikap ramah dan baik. Akan tetapi, kalau ingat perkataan Ningrum tadi, tak urung perasaan tidak nyaman itu kembali datang.
"Apa kabar, Ustazah Taqiya?" tanya Andre ketika mereka berpapasan. Lelaki itu mengangguk sambil tersenyum.
"Alhamdulillah, baik, Pak Andre," jawab Qia singkat.
Tidak ada yang aneh dari sapaan dan mimik wajah lelaki itu. "Semoga ia hanya main-main dengan ucapannya pada Ningrum," bisik hati Taqiya.
.......
Tidak seperti biasa, rapat kali ini berlangsung cukup lama. Taqiya merasa terperangkap di tempat yang tidak semestinya. Kalau bukan karena Ningrum yang memohon berkali-kali, mungkin ia tidak akan datang. Lagipula, seperti yang sudah-sudah, Qia tidak begitu paham dan merasa tidak berkepentingan dengan yang mereka bicarakan.
Gadis muda itu belum menemukan jawaban, kenapa Andre begitu ngotot ingin dirinya menghadiri rapat itu. Naif sekali kalau alasannya hanya ingin bertemu dan menatap wajah Taqiya lama-lama. Pasti ada alasan lain yang lebih masuk akal.
"Aah, tau ah, gelap," batin Qia.
Itu semua bukan urusannya. Yang ia inginkan saat itu hanyalah keluar dari tempat itu segera.
Gayung bersambut, pucuk dicinta ulam tiba. Ternyata bisikan hati itu tercatat sebagai doa dan Allah mengabulkannya. Seperti yang diinginkan Taqiya, rapat itu pun akhirnya ditutup. Kabar buruknya, rapat akan dilanjutkan lagi setelah isoma.
"Alhamdulillah, lumayan lah, bisa bebas meski hanya sementara," batin Qia.
Ia lalu menghampiri Ningrum yang sedang berkemas, kemudian menuju ke musala bersama. Setelah itu, mereka menyantap nasi kotak yang sudah disediakan panitia.
Baru beberapa suap makanan itu masuk ke mulut, ponsel di tas Qia berdering. Dengan sigap, ia merogoh tas mungil itu dan mengeluarkan ponselnya. Kening gadis itu tiba-tiba berkerut begitu tahu siapa yang mengirim pesan.
"Dari Ibu. Tumben, gak biasanya ibu kirim pesan saat aku sedang kerja," jawab Qia sambil membuka pesan itu.
Seketika mata bulat itu terbelalak. Jari-jari tangan yang sedang menggenggam ponsel itu tampak bergetar. Wajah putih mulus itu terlihat semakin pucat. Spontan, tangan mungilnya menutup mulut yang setengah terbuka.
"Kenapa, Qi? Semua baik-baik saja, kan?" tanya Ningrum. Gadis itu mulai terlihat cemas.
"Innalillaahi wainna ilaihi raaji'uun!" ucap Qia tak menghiraukan pertanyaan Ningrum.
"Qi? Siapa yang meninggal?" tanya Ningrum lagi. Ia semakin terlihat cemas.
Beberapa saat Taqiya diam. Ia tampak sedikit linglung.
"Qi?" tanya Ningrum sambil mengguncang lengan Qia.
"Kak Prasetyo, Rum. Ia mengalami kecelakaan. Sekarang ia ada di rumah sakit. Kondisinya sangat kritis. Ayah dan ibu mengajakku ke sana," jawab Taqiya panik.
"Innalillaahi wainna ilaihi raaji'uun!" seru Ningrum tak kalah panik. "Semoga ia segera baikan. Trus, sekarang bagaimana?"
"Aku mau pulang dulu. Tolong sampaikan pada Pak Andre, aku tidak bisa ikut rapat lanjutan," jawab Qia sambil membereskan barang-barang miliknya.
"Aku antar, ya, biar cepet!" ujar Ningrum sambil beberes pula.
"Tidak usah, Rum. Kamu kan masih harus rapat. Keberadaanmu di sini sangat dibutuhkan," jawab Qia cepat.
"Kalau gitu, kamu bawa motorku aja! Nanti aku bisa bareng Sukma," kata Ningrum.
"Jangan bercanda, dong! Kamu kan tahu, aku tidak bisa naik motor. Tolong pamitkan aku saja, ya! Assalamualaikum," pinta Qia sambil beranjak.
"Waalaikum salam. Hati-hati ya, Qi!" seru Ningrum. Sebenarnya ia tidak tega membiarkan Qia pergi sendiri. Namun, mau bagaimana lagi. Sebentar lagi rapat akan dimulai. Qia benar, keberadaannya di tempat rapat sangat dibutuhkan.
Sementara itu, Qia langsung menuju garasi dan mengambil sepeda kayuh miliknya. Dengan tergesa-gesa, gadis yang biasa kalem itu mengayuh sepeda dengan kekuatan penuh. Pikirannya berkecamuk. Tak henti mulut mungil itu merapal doa. Ia berharap, calon imamnya itu segera melewati masa kritis.
Terik mentari betul-betul sangat menyengat. Berkali-kali Taqiya mengusap peluh yang menetes di dahi dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanan memegang stang. Begitu banyak keringat yang ia keluarkan sampai-sampai gamis yang ia kenakan terasa lengket. Namun, semua itu tak mengurangi kecepatan dan kekuatan kayuhnya. Sementara, pikiran gadis itu mengembara ke mana-mana.
Karena kurang konsentrasi, Qia jadi kurang berhati-hati. Saat melewati bundaran, jalur yang ia ambil terlalu melebar. Ia tidak memperhatikan ketika sebuah motor berusaha mendahului dari sebelah kiri.
"Bruak!" Tiba-tiba terdengar suara benturan yang cukup keras.
Qia terkejut, terlebih setelah orang-orang datang berkerumun. Gadis itu terlihat syok. Beberapa detik kemudian, barulah ia sadar kala orang-orang itu ternyata mengerumuni dirinya.
Tiba-tiba berjuta kunang-kunang memutari kepalanya. Dalam kondisi setengah sadar itu, Qia merasakan tubuh mungilnya diangkat seseorang dan dibawa ke tepi.
-Bersambung-