
Sebuah flashdisk kecil berwarna hitam tergolek di lantai kamarnya. Buru-buru gadis itu memungut dan melipat kembali gaun pengantin itu, kemudian memasukkan flashdisk itu kembali ke lipatan gaun itu tanpa berusaha mengetahui apa isinya. Ia lalu memasukkan gaun itu ke dalam kotak kembali dan meletakkannya di antara baju-bajunya seperti semula.
"Astaghfirullah al aziim. Mungkin ini yang dicari orang-orang itu. Ternyata Kak Pras memang sudah mempersiapkan semua," pikir Qia.
Jantung Qia berdetak kencang. Sungguh ia sangat ketakutan. Bagaimana tidak, tanpa disadari ternyata dirinya menyimpan suatu rahasia.
***
Akad nikah diadakan agak siang, sekitar pukul sebelas pagi. Tidak banyak yang diundang, hanya keluarga dan teman-teman terdekat saja. Qia mengundang Ningrum, Aina, dan Ustazah Kamila.
"Kok mendadak sekali, Qi?" tanya Ningrum terkejut. Saat Qia menelpon, ia sedang mengajar di kelas.
Secara ringkas Qia menjelaskan kalau hal itu dilakukan demi keselamatannya. Qia juga sedikit bercerita tentang kejadian penodongan dan penembakan kemarin siang, sehingga membuat Ningrum maklum, kenapa Qia harus menikah dadakan. Itu sebabnya, Ningrum segera bergegas.
"Hari ini Ustazah Qia akan melangsungkan pernikahan. Sebagai teman dekat, saya ingin menghadirinya. Karena itu, saya minta izin pada Pak Andre untuk pulang lebih awal," kata Ningrum begitu menyelesaikan kelas pertama.
Andre terhenyak.
"Ustazah Qia menikah?" tanyanya terkejut. "Kenapa mendadak sekali? Apa guru-guru di sini diundang semua? Kenapa saya tidak diundang?" Andre terlihat sangat kecewa.
"Tidak ada yang diundang, Pak, hanya saya saja. Semua memang mendadak," jawab Ningrum. Ia lalu sedikit menjelaskan alasan percepatan pernikahan itu. Ia juga menjelaskan tentang penodongan dan penembakan pada Qia.
Mendengar itu, Andre terdiam. Pikirannya kini mulai menerawang. Seraut wajah tampan berwibawa tiba-tiba muncul di benaknya.
Di ruangannya, pemuda itu tampak mondar-mandir. Sungguh, cerita Ningrum tentang penodongan dan penembakan pada Qia itu sangat memengaruhi pikirannya.
Bangunan itu cukup besar. Ada sekat-sekat yang membatasi ruang Andre dengan ruang pengurus yayasan yang lain. Karena itu, apa yang dilakukan oleh Andre itu tentu saja dilihat oleh orang lain. Namun, tak ada satu pun yang berani bertanya atau menegur.
Beberapa saat kemudian, tampak pemuda itu keluar dari ruangan itu dan berjalan menuju tempat parkir dan mulai mengendarai Pajeronya. Tigapuluh menit kemudian, ia tiba di sebuah perusahaan besar. Sebuah nama terpampang dengan jelas di depan perusahaan itu "PT. Wijaya Kusuma Grup".
Tanpa banyak bicara, Andre langsung menuju ke ruang CEO. Semua orang yang ada di situ sudah tahu siapa Andre, karena itu tidak ada satu pun yang menghalangi sang pewaris tunggal perusahaan.
Tentu saja Wijaya sangat terkejut melihat kedatangan putra tunggalnya. Ia sangat kenal, seperti apa anak itu. Selama ini, Andre memang lebih suka ke yayasan pendidikan yang dibinanya daripada di perusahaan.
"Tumben?" tanya Wijaya setelah Andre duduk di depannya. Pria paruh baya itu tidak mengalihkan pandangannya dari berkas-berkas yang dia tanda tangani.
Andre tidak menjawab. Saat itu wajahnya sangat tegang.
"Apa ada masalah?" tanya Wijaya lagi.
Jujur, Andre sangat khawatir papanya bertindak melampaui batas. Ini karena beberapa hari yang lalu, ia sempat mendengar sendiri kalau orang tua itu memerintahkan pada anak buahnya untuk memata-matai tunangan Qia.
Mendengar pertanyaan itu, Wijaya mengangkat kepala dan menatap lekat-lekat putra kesayangannya. Ia dapat melihat, ada bayang-bayang kesedihan dan kecemasan di sana.
"Kenapa? Apa dia mengeluh atau mengadu padamu tentang hal itu?" Wijaya balik bertanya, membuat Andre semakin gusar.
"Tidak. Qia tidak pernah melakukan hal itu. Andai dia melakukan Andre pasti sangat senang karena itu artinya ia percaya sama Andre," jawab Andre lugas. Wajahnya masih memancarkan kecemasan.
"Lantas, apa yang terjadi padanya?" tanya Wijaya sabar.
"Ada beberapa orang yang mencoba menodong dan menembaknya kemarin. Apa itu ada kaitannya dengan Papa?" tanya Andre lagi.
Sekali lagi, Wijaya menatap lekat-lekat wajah putranya. Lelaki paruh baya itu terlihat sangat tenang.
"Bagaimana kau bisa berpikir kalau Papa yang melakukannya? Apa menurutmu Papa ini kurang kerjaan?" jawab Wijaya.
"Papa memang tidak. Tapi anak buah Papa bisa saja melakukan hal itu." Andre masih terlihat gusar.
"Trus, apa untungnya bagi Papa? Tidak ada, kan? Hanya orang bodoh yang mau mengorbankan reputasinya hanya untuk masalah seperti ini. Kau tahu, Papa sangat menginginkan dia menjadi menantu Papa, bagaimana mungkin Papa menyuruh orang untuk menyakitinya?" Wijaya balik bertanya. Soal bersilat lidah, ia memang jagonya.
Andre sangat memahami hal itu. Itu sebabnya, ia tidak langsung mempercayai kata-kata sang papa. Itu balik menatap lekat-lekat mata tua itu untuk mencari kejujuran di sana.
"Apa menurutmu Papa ini begitu jahat dan kejam, hingga sanggup melakukan hal-hal seperti itu untuk mendapatkan menantu? Papa memang pernah menyuruh anak buah Papa untuk memata-matai tunangannya. Papa hanya ingin tahu, seperti apa lelaki itu? Apa dia lebih pantas dibandingkan dengan kamu? Tapi ... bukan berarti Papa menyakitinya." Wijaya balik menantang tatapan Andre untuk membuktikan bahwa ia mengatakan yang sesungguhnya.
Andre melengos. Ia agak ragu. Sepertinya lelaki yang di depannya itu tidak berbohong. Namun, entah mengapa ia merasa tidak nyaman. Sempat terlintas di pikirannya, mungkin papanya tidak bermaksud jahat. Ia hanya ingin menakut-nakuti Qia agar mau bergantung padanya. Tapi .... entahlah.
"Sebenarnya, apa yang terjadi padanya? Kenapa kamu tiba-tiba datang dan menuduh Papa seperti itu?" tanya Wijaya lagi.
"Hari ini, Qia melangsungkan pernikahan. Mereka melakukan itu demi menjaga keselamatannya. Gara-gara penodongan dan penembakan itu, mereka terpaksa melakukannya agar ada yang selalu menjaga dan melindunginya. Sekarang, Andre sudah tidak memiliki kesempatan lagi," kata pemuda itu sambil membuang napas kasar, lebih menyerupai pengakuan atau curahan hati. Ada luka mendalam yang tersimpan di kedua manik matanya.
Wijaya dapat melihat hal itu. Ada rasa nyeri di hati tua itu. Andre adalah putra kesayangannya. Kesedihan sang putra tentu menjadi kesedihannya juga. Terlebih, pemuda itu dari kecil memang jarang berkeluh kesah. Selama ini ia selalu mandiri dan berusaha mengatasi masalahnya sendiri. Meski tanpa dia ketahui, sering kali Wijaya membantunya secara diam-diam hingga anak itu tidak mendapatkan kesulitan yang berarti.
Dan saat ini, pemuda itu telah mencurahkan isi hatinya yang sedang terluka. Tentu saja hati lelaki tua itu juga ikut terluka. Namun, untuk masalah hati, ia bisa apa? Ternyata kekayaan sebanyak itu yang mereka miliki tidak berarti apa-apa.
Namun, bukan Wijaya Kusuma namanya kalau ia hanya berpangku tangan, sementara buah hatinya menderita. Diam-diam, lelaki paruh baya itu mengirim pesan pada anak buahnya.