
Andre tidak bisa memicingkan mata. Pertemuan dengan Taqiya tadi sore sungguh tak terduga. Selama ini dirinya berusaha untuk melupakan. Namun, pertemuan yang sesaat itu begitu membekas, memupuk bilur-bilur kerinduan yang telah lama terpendam.
"Dia semakin cantik dan bersinar," pikir Andre. Pemuda itu semakin gundah.
Akhirnya, tanpa ia sadari, jari-jarinya menuntun dia untuk membuka sosial media Kemilau Senja.
Jujur, sejak Qia menikah, Andre sudah tidak pernah membukanya, juga menengok grup menulis Qia atas nama Andrea. Namun, kali ini ia ingin sekali melihatnya, sekadar untuk membunuh rasa sepi karena kerinduan yang tak kunjung bertepi.
Seperti biasa, pemuda itu selalu senyum-senyum sandiri tiap membaca tulisan Kemilau Senja. Tangannya terus menggulir mencari. Tetiba matanya manangkap tulisan yang menurutnya tidak biasa. Dilihat dari tanggalnya, tulisan itu baru dipos kemarin malam.
...Ragu...
...(Kemilau Senja)...
...Bulan merah jambu...
...Sebulan yang lalu...
...Dua raga bertemu...
...Tetapi saling membisu...
...Tanpa hati...
...Dalam ikatan suci...
...Hanya sepotong janji...
...Di antara hamparan mawar berduri...
...Siapa dirimu?...
...Bibir ini selalu meragu...
...Pikiran ini selalu terganggu...
...Lidah ini selalu kelu...
...Dapatkah kusentuh jiwamu?...
...Hati ini meremang...
...Saat kauucap kata sayang...
...Duhai, apakah itu adalah kebenaran?...
...Tolong aku, oh Tuhan...
...Aku tersesat...
...Dalam pusaran tak kasat mata...
...Syak dan prasangka...
...Membuat diriku buta...
...Aku bertanya kepada awan...
...Dapatkah aku bertahan...
...Di antara gelapnya malam...
...Di antara kerasnya gelombang...
...Di antara jahatnya terpaan...
...Pusaran ketidakpercayaan...
...Wahai angin...
...Tolong...
...Sampaikan padanya...
...Aku merindu kepastian...
***
"Deg!"
Jantung Andre berdetak kencang.
"Ada apa dengan pernikahannya? Apakah dia tidak bahagia?" batin Andre.
Puisi memang memiliki multi tafsir. Masing-masing orang bisa mengartikannya apa saja. Namun, Andre sudah membaca kalimat itu berulang-ulang, tetap saja kesimpulannya sama.
"Apakah suaminya tidak bisa dipercaya?"
Sekali lagi ia bertanya-tanya, apakah puisi itu mewakili hati Qia? Ataukah itu hanya tuntutan dari sebuah even yang menghendaki tema demikian?
Semakin lama memikirkan, Andre semakin gelisah. Tiba-tiba saja kerinduan pada dara cantik itu semakin membara.
Beberapa kali bertemu dengan Ustaz Hanif, Andre banyak belajar, tentang rasa ikhlas, tentang pengorbanan, dan tentang makna cinta yang sesungguhnya. Dari situ, Andre mulai belajar untuk melepas cintanya, sedikit demi sedikit. Asal gadis itu bahagia, ia rela.
"Tunggu aku Qia. Aku akan membuatmu bahagia. Itu janjiku, meski harus berhadapan dengan kekasih halalmu!" sumpah Andre dalam hati.
Satrio, siapa sebenarnya dia? Sekuat apa pun orang itu, Andre tidak akan takut sekarang. Karena kebahagiaan Qia menjadi taruhannya.
Satrio, ia sama sekali tidak pantas menyandang gelar sebagai kekasih halalnya, karena lelaki itu telah membuat gadis yang ia cintai menderita.
Terus ... dan begitu seterusnya, Andre terus mendoktrin dan menyugesti dirinya sedemikian rupa. Dengan begitu, ia memiliki alasan untuk merebut dan memperjuangkan kembali cintanya.
Tapi, bagaimana caranya? Andre mulai mengerahkan segala daya upaya untuk memulai rencananya. Akhirnya, pilihan jatuh pada Andrea. Ya, pertama-tama, ia harus menggali semua informasi terkait Qia melalui Andrea.
Sambil senyum-senyum sendiri, Andre mulai menghubungi Qia, atas nama Andrea.
***
Di tempat yang berbeda, Qia juga tidak bisa memicingkan mata. Pikirannya sedang kacau. Pertemuannya dengan Ustazah Kamila tadi membuatnya gelisah.
Ia tahu, apa yang dikatakan Ustazah tadi benar adanya, tetapi untuk menerapkan di dunia nyata, betapa sulitnya
Ia ingin mempercayai suaminya dan berusaha jujur pada lelaki itu. Tapi mengapa hatinya terasa berat?
Qia menghela napas panjang. Pertentangan batin itu rasanya sangat tidak nyaman.
Biasanya, saat hatinya sedang gundah, Qia menuangkannya dalam bentuk tulisan. Namun, kali ini pikirannya betul-betul tidak bisa diajak kompromi. Itu sebabnya, ia memutuskan untuk menonton televisi.
***
Di ruang keluarga, Qia hanya pencat-pencet remote berulang kali. Tak satu pun dari acara-acara itu yang menarik minatnya sampai-sampai ia merasa bosan.
Beberapa saat kemudian, tetiba ponselnya berdering. Kebetulan itu adalah ponsel atas nama Kemilau Senja. Bentuk, warna, dan mereknya memang sama, tetapi isinya berbeda dengan nomor biasanya.
Saat ponsel itu dibuka, Qia mengeryitkan keningnya, terlihat raut muka tidak suka setelah membaca pesan yang baru saja masuk.
"Andrea?"
***
Sementara itu, Satrio masih berada di ruang kerjanya. Tinggal satu berkas lagi yang harus ia periksa, selanjutnya .... beres.
"Alhamdulillah, akhirnya selesai sudah." Pemuda itu mendesah pelan.
Ia bangkit kemudian meregangkan kedua tangan, setelah itu melangkah keluar.
Seperti biasa Satrio melongok sebentar ke kamar Qia untuk memeriksa keadaannya. Lampu kamar masih menyala, tetapi pemiliknya tidak ada di tempat. Pemuda itu mengernyitkan dahi, kemudian melangkah keluar.
Ternyata kelinci kecil itu ada di ruang keluarga. Televisi terlihat menyala, entah siaran apa. Sementara, Qia terlihat memegang ponsel dengan muka terlibat sangat kesal.
"Kenapa? Kelihatannya kesal banget? Marah sama Kakak?" tanya Satrio sambil duduk di samping Qia.
"Kak ... sudah selesai kerjaannya? Mau dibikinkan sesuatu?" Qia balik bertanya.
"Tidak usah, ini sudah malam banget. Kamu tidak tidur?" jawab Satrio.
"Belum bisa tidur, Kak," jawab Qia singka.
Tiba-tiba ia merasa gugup. Dengan jawaban itu, ia khawatir Satrio akan mengerjainya lagi. Selain itu, ia juga khawatir kalau suaminya itu mengetahui ponsel yang sedang dipegangnya itu.
"Lagi chatingan sama siapa? Kenapa kelihatan kesal sekali?" tanya Satrio.
"Seorang teman. Qia cuma heran, kenapa dia bisa tahu tentang Qia, ya? Padahal, Qia tidak suka cerita ke orang lain tentang masalah Qia, apalagi itu masalah rumah tangga. Memang tidak secara detil, tapi seolah-olah dia sudah kenal sama Qia," jelas Qia jujur.
Dulu ia memang berniat untuk mencari tahu siapa Andrea, tetapi belum sempat.
Mendengar itu, Satrio mengeryitkan dahinya.
"Apa saja yang dia lakukan?" tanya Satrio santai.
"Kadang curhat, kadang minta pendapat, pokoknya aneh-aneh lah. Ada saja yang dia tanyakan seolah persoalan dia gak ada habisnya. Kadang Qia kasihan, tapi kadang jengkel juga karena ia gak tahu waktu."
Sampai di sini Satrio semakin mengernyitkan dahi.
"Trus?"
"Pernah ya, Kak, tapi ini dulu sekali, sebelum kita nikah, dia tanya apakah Qia sudah ada yang punya. Katanya saudara sepupu dia maksa, pingin tahu dan kenal Qia lebih jauh."
"Laki-laki atau perempuan?" tanya Satrio.
Qia langsung menoleh ke arahnya.
"Perempuan, Kak. Ia salah satu member di grup yang Qia punya. Anggotanya memang perempuan semua," jawab Qia tanpa mengatakan grup apa itu.
"Boleh Kakak tahu, siapa namanya?"
Qia tidak langsung menjawab. Ia menatap sekilas wajah suaminya. Ia baru tersadar suaminya baru saja menginterogasinya. Namun, karena tidak merasa melakukan kesalahan, maka ia memilih untuk jujur, seperti saran Ustazah Kamila. Toh ini tidak ada hubungannya dengan kasus Kak Pras, begitulah pemikirannya.
"Namanya Andrea," jawab Qia akhirnya.
Mendengar itu, serta-merta Satrio menatap lekat istrinya. Sebuah seringai tipis tiba-tiba muncul di sudut bibir pria itu.
Qia melihatnya. Hatinya berdesir seketika. Tiba-tiba ia merasa bergidik.