Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
108. Konspirasi 1



Satrio kembali ke ruang kerja diikuti oleh Qia. Hendra yang duduk di kursi tak jauh dari mereka juga ikut beranjak. Namun, baru beberapa langkah mereka meninggalkan tempat itu, tiba-tiba terdengar suara ribut dari luar. Dua orang pria berbadan besar masuk menghampiri mereka.


"Bos, Pak Adrian akan siaran pers di televisi," ujar salah seorang lelaki tinggi besar yang ternyata bernama Badrul.


Mereka adalah anak buah Satrio yang dibentuk secara langsung di luar pasukan formal. Jadi, tidak ada hubungannya sama sekali dengan Adrian. Namun, orang-orang itu tahu kalau Adrian adalah atasan Satrio.


Mendengar itu, Satrio, Qia, dan Hendra langsung berhenti dan berpaling ke arah Badrul dan temannya.


"Siaran pers? Qia mau lihat dulu, Kak," kata Qia antusias sambil menatap suaminya.


"Kita lihat flashdisknya dulu, ya. Kakak sudah sangat penasaran ingin segera mengetahui apa isinya," jawab Satrio berusaha mencegah Qia untuk menyaksikan siaran pers itu.


"Kak ... Qia tidak akan terkejut atau cemas dengan berita apa pun tentang kita. Kakak tidak perlu khawatir. Qia yakin, apa pun yang terjadi, Kakak akan berusaha secara maksimal untuk mengatasinya." Qia berusaha meyakinkan.


Akhirnya, mau tidak mau Satrio mengizinkan Qia menyaksikan jumpa pers itu.


"Tapi ingat, apa yang tampak di permukaan belum tentu sama dengan isinya," ujar Satrio mengingatkan.


Qia mengangguk. Ia tahu, bahwasanya isi buku itu seringkali tidak bisa dilihat hanya dari sampulnya saja. Ia sendiri editor sekaligus penulis di media anti-mainstream, tentu saja hal-hal semacam ini sudah menjadi makanannya.


Akhirnya mereka menyalakan televisi besar yang ada di ruang tengah.


Qia duduk di sofa bersama Satrio, sedangkan Hendra di sofa lain tak jauh dari mereka. Sementara, Badrul dan temannya lebih memilih undur diri.


Saat televisi menyala, pers release belum dimulai. Hanya ada beberapa wawancara dari beberapa chanel terhadap beberapa orang yang dianggap sebagai tokoh penting di masyarakat.


Hendra terlihat mengganti channel beberapa kali dengan malas. Terlihat sekali kalau ia sama sekali tidak antusias.


"Yang itu, Hen!" seru Qia meminta Hendra untuk tidak mengubah ke channel yang lain.


Di layar tampak pengusaha tajir melintir yang tidak asing di mata mereka, terutama Qia. Terlebih, lelaki paruh baya yang masih terlihat muda dan tampan itu beberapa bulan yang lalu ngotot untuk menjadikan Qia sebagai menantunya. Ya, lelaki itu adalah Wijaya Kusuma.


Sebenarnya orang tua dari Andre itu sedang diwawancarai tentang sumbangsih pemuda bagi pembangunan di era revolusi industri 4.0. Pria yang memiliki jabatan mentereng di pemerintahan itu baru saja meresmikan gedung kreativitas pemuda.


Namun, di tengah-tengah wawancara itu, tiba-tiba reporter nyeletuk menanyakan bagaimana pendapat Wijaya Kusuma terkait kasus penyerbuan yang baru saja terjadi di rumah Satrio.


"Sebagai warga negara yang baik, saya sangat mengutuk keras tindakan biadab tersebut. Apalagi ini sangat meresahkan masyarakat, jawab Wijaya Kusuma.


"Bagaimana pendapat Bapak Wijaya tentang Pak Satrio sendiri? Benarkah ia sendiri juga terlibat dengan gerombolan pengacau tersebut?" kejar reporter.


"Wah, kalau itu, bukan wewenang saya untuk mengatakan. Saya rasa masyarakat bisa menyimpulkan sendirilah. Masyarakat sekarang kan sudah pinter-pinter," jawab Wijaya Kusuma retoris, dan sangat manis. Terlebih kalimat itu dibubuhi dengan senyuman tipis.


"Satu lagi, Pak WK, sebagai penutup, nih, seandainya Pak Satrio memang terlibat, menurut Anda, apa yang harus dilakukan terhadap beliau mengingat selama ini beliau dikenal sebagai abdi negara yang berjasa dalam berprestasi?" kejar sang reporter.


Wijaya Kusuma tampak menghela napas panjang, kemudian berkata dengan serius.


"Siapa pun itu, kalau berusaha merongrong keamanan negara dan bertindak meresahkan masyarakat, harus ditindak tegas, tanpa kecuali," jawab Wijaya Kusuma tegas.


Qia menghela napas panjang kemudian menatap suaminya.


"Maaf, Kak. Gara-gara Qia, nama baik Kakak jadi hancur," ujar Qia menyesal.


"Iya, Kak, Qia tahu. Namun, entah mengapa perasaan tidak nyaman itu begitu melekat," kata Qia sambil menunduk. Wajahnya terlihat sangat murung.


"Itulah sebabnya tadi Kakak melarangmu menyaksikan siaran televisi. Karena Kakak tidak ingin melihatmu sedih," ucap Satrio sambil merangkul pundak istrinya.


"Ehem ehem. Ingat, masih ada jones di sini, Kak. Gak kasihan, apa?" celetuk Hendra.


Satrio tidak menghiraukan.


"Ya sudah, kita buka flashdisk aja kalau begitu. Toh, Chanel yang lain juga tampilannya sama," ujar Qia.


Beberapa tokoh masyarakat yang sempat diwawancarai di beberapa channel tadi juga memberikan pernyataan yang kurang lebih sama dengan apa yang diucapkan oleh Wijaya Kusuma.


Satrio langsung mengiyakan ajakan istrinya. Ia lalu menggamit lengan Qia sambil berdiri. Serta-merta, Qia juga ikut berdiri.


"Loh, gak jadi lihat siaran Bos Besar?" tanya Hendra.


Mendengar celetukan bawahannya itu, Satrio langsung melotot kesal. Bagaimana tidak, susah payah ia membujuk Qia untuk tidak menyaksikan acara televisi, sekarang si jones itu malah mengingatnya.


"Oh, iya," jawab Qia sambil duduk kembali.


"Sayang ..."


"Sebentar saja, Kak. Cuma Kak Adri saja. Habis itu kita buka flashdisknya, ya?" pinta Qia.


"Justru karena ini Kak Adri. Kakak khawatir, kamu akan sakit hati," ujar Satrio khawatir, seolah tahu apa yang akan dikatakan oleh bosnya Satrio itu.


"Bismillah, insyaaallah Qia gak akan sakit hati, janji," jawab Qia mantap.


Akhirnya Satrio mengizinkan istrinya menyaksikan pers release oleh Adrian.


Lima menit kemudian, yang ditunggu-tunggu tiba. Adrian melakukan siaran pers karena Satrio berada di bawah kesatuannya. Sebagai pemimpin tertinggi di kesatuan itu, ia bertanggung jawab secara penuh untuk mendisiplinkan anak buahnya.


Saperti biasa, Adrian tampil elegan, tampan, dan sangat berwibawa. Namun begitu, aura dingin dari muka datar itu masih sangat terasa.


Ucapan Adrian tidak jauh berbeda dengan apa yang disampaikan oleh Wijaya Kusuma, sedikit ambigu sehingga orang-orang masih menduga tentang keterlibatan Satrio. Namun, bahasanya dibuat condong seolah-olah Satrio memang bersalah.


Di akhirat ucapannya, Adrian juga menyampaikan bahwa ia sangat mengutuk keras tindakan brutal dan biadab yang meresahkan masyarakat, siapa pun pelakunya, meski itu adalah anak buahnya. Ia berjanji untuk mengusut tuntas kasus tersebut.


Selesai. Siaran pers ditutup.


"Ini konspirasi!" seru Qia dan Hendra hampir bersamaan sambil menatap Satrio.


Bedanya, Hendra mengatakan itu sambil menggebrak meja saking kesalnya. Ia sungguh tidak menyangka, Bos Besar yang selama ini sangat baik, bahkan sudah dianggap sebagai keluarga ternyata rela mengorbankan anak buah untuk mengamankan posisinya.


Namun, tidak sama dengan sikap Qia dan Hendra, Satrio justru bersikap tenang, bahkan terlihat sangat santai.


"Kan tadi Kakak sudah bilang, kamu akan sakit hati kalau dengar pernyataan Kak Adri," kata Satrio.