
[Hitungan ketiga, laksanakan!] Jack mulai memberi aba-aba. Si anak buah sudah siap dengan granat nanasnya untuk dilemparkan.
[Satu ... Dua .... ]
Belum sampai pada hitungan ketiga, sebuah Pajero Sport datang dari arah yang berlawanan berhenti tepat di depan Rubicon. Seorang pemuda tampan berpakaian rapi keluar dari mobil itu dan berjalan menuju rumah Qia. Seketika, Jack menjadi panik.
[Tahan!] Buru-buru Jack memberi peringatan.
[Kenapa, Bos?]
[Sial, kenapa anak si Bos malah datang? Dia malah masuk ke dalam juga. Tarik mundur pasukan, jangan sampai dia terluka]
[Siap, Bos]
***
Andre, pemuda tampan yang baru keluar dari Rubicon itu berjalan dengan langkah lebar. Dari luar, pemuda itu terlihat sangat tenang, tetapi sebenarnya hatinya berdebar-debar tak keruan. Bagaimanapun, Qia adalah cinta matinya, cinta yang pertama. Ia telah memendam rasa itu sudah cukup lama. Semua itu ia lakukan demi menjaga perasaan gadis itu. Namun, sikap diamnya itu justru membuat dirinya kehilangan gadis itu secara nyata.
Karena itu, setelah menemui papanya tadi pagi, Andre memutuskan untuk datang ke acara pernikahan Qia, meski tidak diundang. Pertama karena ia ingin mengucapkan selamat pada gadis itu secara ksatria. Yang kedua, tentunya karena ia ingin tahu, seperti apa lelaki yang akan bersanding dengan Qia.
"Pak Andre!" Seru Pak Zul kaget.
Saat lelaki tua itu menyambut kedatangan Satrio bersama rombongannya, matanya menangkap keberadaan Andre yang berjalan mendekat. Jujur ia agak khawatir kalau-kalau pemuda tampan itu akan membuat ulah. Ia masih ingat, bagaimana sikap Pak Wijaya saat datang melamar Qia beberapa hari yang lalu.
Andre yang mendengar seruan itu tersenyum sopan kemudian berjalan mendekat dan menyalami Pak Zul.
"Maaf, kalau kedatangan saya mengagetkan," ujarnya.
"Tidak apa-apa, Pak Andre. Terima kasih atas perhatiannya. Mari, silakan masuk," jawab Pak Zul retoris.
Perbincangan antara Andre dan Pak Zul cukup keras hingga membuat Qia dan Ningrum yang ada di ruang tengah mendengar. Sejenak, dua gadis itu saling berpandangan.
Dengan alasan berbeda, jantung kedua gadis itu mendadak berdebar. Tentu saja Qia merasa khawatir kalau-kalau Andre akan membuat keributan Sementara, Ningrum merasa prihatin dan sangat berempati. Gadis manis itu yakin kalau Andre pasti sedang patah hati.
Di ruang tamu, tempat akad nikah akan dilangsungkan, Andre melangkah masuk. Matanya yang teduh itu sedikit menyapu ke seluruh ruangan dan mendapati seorang pemuda tampan dengan setelan rapi, lengkap dengan tuksedo dan dasi.
"Jadi, dia orangnya? Sepertinya aku pertama bertemu dengannya, tapi di mana?" pikir Andre.
Sementara itu, Satrio yang baru akan duduk mengurungkan niatnya begitu mendengar kata Andre. Ia lalu berpaling menghadap langsung ke arah Andre. Dua pria itu akhirnya saling berhadapan.
Satrio menatap tajam ke arah Andre membuat atasan Taqiya itu agak bergidik. Andre adalah pemimpin beberapa yayasan pendidikan dan sosial, pewaris tunggal kerajaan bisnis Wijaya. Semua orang tunduk dan hormat padanya. Namun, di hadapan calon suami Qia ini, dirinya tidak berdaya. Rasa-rasanya, tatapan calon suami Qia itu sangat mengintimidasi. Jujur, hati Andre menjadi bergetar. Jantungnya semakin berdetak kencang.
"Bukankah dia pria gondrong yang nolongin Qia saat kecelakaan waktu itu?"
Andre tiba-tiba ingat dengan kejadian itu. Saat itu, Satrio memang menatapnya. Namun, hanya tatapan cuek, tidak ada intimidasi, tetapi sekarang ini berbeda. Calon suami Qia itu menatapnya dengan tatapan tidak suka. Perasaan tidak enak mulai menyelimuti Andre.
Sementara itu, Satrio masih tenang. Hanya tatapan matanya saja yang seperti hendak menyapu lawan. Tidak ada senyum, tidak ada ekspresi apa pun. Wajahnya terlihat sangat datar
"Sialan ... Besar juga nyali lo. Kemarin lo berani ngelamar wanita gue padahal lo tau kalo dia sudah bertunangan. Brengsek ... Sekarang lo malah terang-terangan datang ke pernikahan gue," batin Satrio mengumpat. Ia tidak melakukan apa-apa karena tidak ingin membuat keributan di hari pentingnya itu.
Melihat gelagat yang tidak mengenakkan itu, Abi Kun yang tadinya sudah duduk, langsung berdiri lagi.
"Ayo, duduk dulu, Sat, akad nikah akan segera dimulai," bisik Abi Kun sambil memegang pundak Satrio untuk menenangkan.
Untungnya pemuda itu menurut. Ia langsung duduk, meskipun begitu, matanya tetap tertuju pada Andre.
"Silakan duduk Pak Andre," kata Pak Zul yang saat itu masih berada di dekat Andre. Ia bersyukur karena situasui aman terkendali.
Setelah itu, Pak Zul segera duduk di dekat Satrio karena ijab kabul akan segera dimulai.
"Baiklah, mari kita mulai acaranya," kata Pak Penghulu.
Acara dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Quran oleh kerabat Qia, kemudian dilanjutkan khutbah singkat pernikahan oleh Pak Penghulu. Setelah itu barulah ijab kabul dilangsungkan. Pak Zul sendiri yang melakukan ijab.
Sementara itu, Qia yang berada di ruang tengah, mendengarkan prosesi itu dengan jelas. Dari tadi ia nampak gelisah.
Sekarang giliran Satrio. Pemuda itu mengucapkan kabul dengan satu tarikan napas.
“Saya terima nikahnya dan kawinnya Taqiya Eldiina binti Muhammad Zulkifli dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai.”
"Bagaimana? Sah?" tanya penghulu.
"Sah!" jawab yang hadir di situ serentak.
"Alhamdulillah!" kata pak penghulu.
Kemudian lelaki sepuh itu memanjatkan doa dan diamini yang lain, termasuk Qia.
"Alhamdulillah, Baarakalaahu laka wabaaraka 'alaika wajama'a bainakumaa fii khairin. Semoga Allah memberkahimu di waktu bahagia dan memberkahimu di waktu susah, dan semoga Allah menyatukan kalian berdua dalam kebaikan." ucap Bu Mirna terharu sambil memeluk Qia.
Begitu juga dengan Aina, Ningrum dan yang lainnya. Mereka mengucapkan doa yang sama membuat mata Qia berkaca-kaca.
Kini saatnya penandatanganan dokumen nikah. Karena Qia tidak berada di tempat akad, maka Pak Zul memberikan milik Qia pada Satrio untuk diantar ke dalam.
"Mari, Bapak antar," kata Pak Zul sambil menggamit tangan Satrio.
Mereka berdua kemudian melangkah ke ruang tengah. Para wanita yang ada di ruang tengah memberikan jalan untuk mereka.
Satrio memegang dua buku nikah. Entah mengapa jantung pemuda itu tiba-tiba berdetak kencang, bahkan rasanya lebih dahsyat dibanding saat ijab kabul tadi.
Melihat ayahnya datang, Qia bangkit dan langsung memeluk kekasih pertamanya itu. Di dada sang ayah, Qia terisak perlahan.
"Barakallah, Nak, semoga kamu selalu bahagia," bisik Pak Zul setelah mengucapkan doa panjang. Qia mengaminkan doa itu sambil masih terisak.
"Jadilah istri yang baik. Sekarang kamu adalah milik suamimu, taatilah dia selalu. Bicarakan setiap perkara dengan baik, jangan kedepankan emosi. Jangan lupakan Allah di setiap kesempatan," sambung Pak Zul.
"Iya, Yah." Qia mengangguk sambil masih memegangi tubuh ayahnya.
Setelah itu, Pak Zul melepaskan pelukannya kemudian menghadap ke Satrio.
"Sekarang dia menjadi tanggung jawabmu. Bapak harap, kamu menyayangi dan menghormatinya. Antarkan dia baik-baik ke Bapak jika suatu saat kamu sudah tidak ingin bersamanya. Dengan lapang hati Bapak akan merawat dan menjaganya. Jangan pernah sia-siakan dia."
Pak Zul menatap manik mata Satrio dengan hati bergetar. Ia memasrahkan semua pada Sang Pencipta, terlepas dari apa maksud dan tujuan Satrio sesungguhnya.
Mendengar itu, Qia yang sudah berhenti menangis kembali berkaca-kaca.
Begitu juga dengan Satrio. Hatinya bergetar. Kerongkongannya tercekat, bagai tertelan biji rambutan. Ia lalu mendekati Qia, tepat berada di depannya. Namun, gadis itu tidak berani mengangkat kepalanya.
Satrio mengucapkan salam sambil menatap gadis itu lekat-lekat. Qia menjawab pelan, masih tidak berani memandang wajah suaminya.
"Qi ..." panggil Satrio pelan dengan suara bergetar. Jantungnya berdetak kencang.
Sementara itu, Qia masih tetap menundukkan kepala. Jantungnya juga terasa berdebar-debar.
"Kenapa tidak mau lihat Kakak?" kata Satrio lagi. Suaranya masih terdengar bergetar dan serak.
Mendengar itu, wajah Qia menjadi pink muda. Dia tidak habis pikir, dalam keadaan seperti itu, Satrio masih saja menggodanya, apalagi di hadapan banyak orang. Akhirnya, ia memberanikan diri mengangkat wajah, membuat Satrio semakin berdebar.
"Cantik sekali," batin Satrio mengakui. Tidak ada riasan menor. Qia hanya memakai bedak tipis dan penyegar bibir. Namun, aura yang terpancar dari dalam diri gadis itu membuatnya semakin terlihat memesona.
Dengan masih berdebar-debar, Qia lalu memberanikan diri meraih tangan Satrio dan mencium punggung tangan itu
Satrio semakin mendekat dan kemudian meraih kepala Qia. Ia lalu mencium ubun-ubun sang istri kemudian membaca doa. Gadis itu mengamini sambil masih menunduk.
Dengan dada masih berdebar-debar, Satrio mengangkat dagunya pelan. Untuk pertama kali, mereka saling menatap dalam jarak dekat. Bahkan sangat dekat. Sampai mereka bisa merasakan hangat napas masing-masing. Bahkan degup jantung mereka bisa terdengar satu sama lain. Sejenak mereka lupa kalau banyak orang ada di sana.