
Qia hilang bagai di telan bumi. Yang paling menyesal dan sedih di sini tentunya Bu Mirna dan Ummi Silmi.
"Andai kita tidak pergi ke Musala, tentu Qia masih bersama kita saat ini," ujar Bu Mirna sambil menangis.
"Ndak baik seperti itu, Mbak Mirna. Tidak baik kita meratapinya seperti itu. Ini semua sudah kehendak Allah. Meski kita tetap di sini pun, kalau memang waktunya dibawa pergi ya tetap dibawa pergi." Ummi Silmi memberi wejangan.
"Paling tidak, kita bisa mencegah mereka, Mbak Silmi," ujar Bu Mirna masih sambil menangis.
"Jangan merasa bersalah Mbak Mirna. Kita sudah berusaha maksimal dengan menitipkan pada penjaga. Mbak lihat sendiri, penjagaan di sini sangat ketat. Meski kita di sini pun belum tentu bisa mencegah Qia dibawa pergi. Kalau para penjaga yang super canggih saja berhasil dikelabui, apalagi kita yang tidak bisa apa-api ini," jelas Ummi Silmi.
"Betul itu, Mbak Mirna," kali ini Abi Kun yang berbicara.
"Sebaiknya kita tidak saling menyalahkan diri sendiri. Lebih baik kita bergerak mencarinya," sambung Abi.
"Mencari ke mana, Mas Kun? Kita malah gak tahu apa-apa, ini. Kita sendiri juga gak boleh ke mana-mana karena sedang diincar juga," tanya Bu Mirna.
Seketika, Abi Kun terdiam. Begitu juga dengan yang lainnya. Kata-kata Bu Mirna ini memang sangat masuk akal. Bisa saja mereka dijadikan target berikutnya. Bukannya Mereka mau enak sendiri, hanya saja, kalau mereka tertangkap, ini akan menyulitkan anak buah Satrio untuk mencari Qia. Kekuatan mereka akan terpecah karena perhatiannya teralihkan.
"Itu benar, Pak. Sebaiknya Ibu dan Bapak tidak ke mana-mana. Biarkan kami yang mencarinya. Mari, kami akan mengantar Ibu dan Bapak kembali ke markas." Tiba-tiba seorang laki-laki berbadan besar dan tegap yang berkaus hitam ketat berbicara dari belakang mereka.
Umi dan yang lainnya terkejut.
"Tapi, saya tidak mau pulang, saya mau menunggu Qia di sini," tolak Bu Mirna keras.
"Maaf, Bu. Di sini sangat berbahaya. Seperti yang Ibu katakan tadi, biarkan kami mencari Bu Qia dengan leluasa, biar perhatian kami tidak terpecah." Orang itu mencoba untuk meyakinkan.
"Tapi ...." Bu Mirna masih berusaha untuk ngeyel. Maklum, dia adalah orang yang melahirkan Qia, wajar kalau sangat mengkhawatirkannya.
"Maaf, Bu. Baru saja saya dapat telepon, Bos Satrio meminta Ibu dan Bapak untuk segera kembali. Bos Satrio akan segera menemui Ibu dan Bapak di sana." Seseorang berpakaian serba hitam juga tiba--tiba menyela perkataan Bu Mirna.
Seketika, Bu Mirna dan yang lain mendongak, menatap lelaki itu.
"Satrio sudah ditemukan? Satrio sudah kembali?" teriak Umi Silmi gembira. Begitu juga dengan yang lain. Ini berarti mereka masih punya harapan besar untuk menemukan Qia.
"Sssstttt." Orang yang berpakaian hitam tadi memberi kode pada keempat orang itu untuk tidak bersuara keras.
"Mohon maaf, Bu, Pak, sebaiknya tidak membicarakan hal ini secara fulgar. Dinding di rumah sakit ini memiliki telinga. Jadi, ini sangat berbahaya bagi keselamatan Bos, mengingat status Bos saat ini," bisik lelaki itu.
Semua akhirnya terdiam. Mereka mengerti apa yang dimaksud oleh anak buah Satrio itu. Faktanya, status Satrio saat ini adalah buronan, tentu tidak bisa leluasa bergerak.
Singkat kata, akhirnya keempat orang tua itu bersedia kembali ke markas, dengan harapan besar bisa bertemu dengan Satrio agar bisa menemukan Qia dengan segera.
***
Setelah berpisah dengan Andika, ia membuat janji ketemu dengan Adrian di tempat itu. Mereka memilih tempat itu karena di rasa lebih aman. Bagaimanapun, tempat yang berbahaya adalah tempat yang paling aman.
Hanya saja, mereka tidak memilih bertemu di markas karena dirasa terlalu mencolok. Mereka sudah tahu kalau saat itu Adrian berhasil kabur dengan ditolong oleh seseorang. Akan sangat mencurigakan jika tiba-tiba Adrian bertemu di markas dengan seseorang yang tak dikenal pada saat yang sama. Dengan kemampuan menyamar Satrio yang tidak kaleng-kaleng, pasti musuh sudah menduga kalau orang tak dikenal itu adalah Satrio.
Itu sebabnya, mereka bertemu secara diam-diam di rumah kosong itu.
"Dari tadi kamu mondar-mandir seperti kitiran saja. Aku jadi tambah pusing!" seru Adrian jengkel.
"Harusnya lo tahu, Kak, gue jauh lebih jengkel!" seru Satrio tak kalah ketus. Begitu jengkelnya sampai kata lo gue muncul lagi. Padahal, sudah sangat jarang ia menggunakan sebutan itu, sejak menikah dengan Qia.
"Duduklah dengan tenang, biar kita bisa berpikir jernih dan logis!" Adrian memberi perintah. Jujur, saat itu ia ingin sekali merealisasikan keinginan terpendamnya, yaitu menjewer telinga adiknya.
Namun, Adrian berusaha untuk mengendalikan dirinya. Ia mencoba untuk bersabar karena memang saatnya belum tepat.
Untungnya, kali ini Satrio segera duduk. Namun, sikapnya sama sekali tidak tenang. Itu sebabnya, dua menit kemudian, pemuda itu langsung berdiri lagi, dan kembali mondar-mandir.
"Sorry, gue tidak bisa berpikir jernih saat duduk dengan tenang," kata Satrio.
Adrian hanya bisa menghela napas, tetapi tidak berusaha untuk melarang. Ia tahu, adiknya saat ini dalam keadaan galau dan sangat kacau. Qia adalah kelemahan sekaligus kekuatannya. Kini, separuh nyawa Satrio itu sedang berada di tangan musuh, apalagi sedang membawa cikal-bakal Satrio junior di perutnya.
Asal reader tahu, sampai saat ini belum ada yang berani menyampaikan pada Satrio kalau istrinya itu sedang berbadan dua, termasuk Adrian. Ia sudah mewanti-wanti anak buahnya, juga anak buah Satrio sendiri agar tidak keceplosan di hadapan Satrio.
Adrian paham betul seperti apa adiknya. Saat Qia hilang saja, ia sudah seperti orang gila. Bagaimana jika lelaki itu tahu kalau istrinya sedang mengandung anaknya dan sekarang sedang dalam kondisi berbahaya?
Jawabannya sudah pasti, adiknya itu pasti akan membuat kekacauan dan akan menghancurkan seluruh dunia. Tentu hal itu akan semakin membahayakan.
"Apa dengan mondar-mandir begitu, kamu sudah menemukan jalan keluar?" sindir Adrian.
"Tidak. Tapi setidaknya gue merasa sedikit tentang," dengkus Satrio kesal.
"Berhentilah, aku betul-betul pusing dan tidak bisa berpikir jernih. Duduklah, kita pikirkan bersama-sama jalan keluarnya." Sekali lagi Adrian menginginkan Satrio. Kali ini dengan nada sedikit lembut.
"Kak .... Gue ...."
"Duduklah, ini perintah!" Adrian berkata tegas. Suaranya terdengar sangat datar, tidak ada nada sama sekali.
Kalau sudah seperti itu, Satrio tidak bisa membantah. Mau tidak mau, ia harus menurutinya lelaki yang ada di depannya itu. Ia tahu, saat itu, Adrian tidak berbicara sebagai kakaknya, tetapi sebagai atasannya.
"Siap!"
Dalam hati, Adrian ingin sekali tertawa, tetapi tidak tega melihat betapa kusutnya wajah adiknya itu.