
"Ssssttt!" Satrio mendekatkan jari telunjuk di bibirnya. Ia tidak ingin Qia tahu keberadaannya karena ingin memberi kejutan.
Seketika ruangan itu menjadi sunyi. Tak ada satu pun yang berani bersuara, meski rasa penasaran memenuhi benak mereka.
Dengan santai, Satrio melangkah masuk, kemudian duduk di bangku paling belakang.
Karena toilet ada di dalam ruangan, Qia sempat mendengar suara ribut-ribut di kelas. Namun, karena perutnya masih terasa sakit, ia membiarkan saja kegaduhan itu. Untungnya, keributan itu tidak berlangsung lama. Ia merasa lega karena ruangan kelas kembali tenang.
Beberapa saat kemudian, ia keluar dan duduk kembali di tempatnya. Karena tidak biasa jelalatan, tengok kiri tengok kanan, ia belum menyadari kalau suaminya duduk di bangku paling belakang.
Satrio tidak duduk dengan tegak seperti biasa. Badannya dirundukkan sedikit. Sebuah buku berukuran Folio dibuat agak menutupi mukanya. Dengan begitu, Qia sama sekali tidak curiga.
Memang, gaya orang ketika sedang berpikir atau mencari inspirasi berbeda-beda. Qia tidak mempermasalahkan hal itu selama masih dalam batas kesopanan.
"Ustazah, saya juga coba-coba bikin novel di rumah. Masih kaku, sih, terutama cara memasukkan hikmah ke dalam cerita tanpa ada kesan menggurui. Belum pernah ada yang membacanya karena saya malu, Ustazah," kata seorang siswi. Kebetulan duduknya di bagian tengah sedikit ke belakang.
"Wah, itu bagus. Kenapa harus malu?" tanya Qia sambil menatap lembut siswi itu.
Qia jadi ingat awal menulis dulu. Ia adalah gadis introvert. Dulu ia juga merasa tidak percaya diri untuk menunjukkan karyanya. Itu sebabnya ia memakai nama Kemilau Senja, agar tidak dikenali orang sekitarnya. Bahkan, Bu Mirna sendiri tidak tahu kalau anak gadisnya adalah seorang novelis.
"Karena masih kaku, Ustazah. Saat membaca ulang, saya sendiri merasa belum begitu nyaman," kata siswi itu lagi.
"Tidak perlu takut untuk dikritik. Justru dengan kritikan itu, kita bisa tahu, di mana letak kelemahan dan kelebihan kita. Tidak semua orang bisa membuat novel, loh. Jadi kamu tidak perlu malu lagi. Berani membuat saja, itu termasuk hebat."
Qia mencoba memberikan motivasi pada siswi tersebut. Ia juga mengedarkan pandangan ke yang lainnya untuk menggugah keinginan mereka.
"Untuk membuat tulisan fiksi kita harus ..."
Qia menggantung ucapannya. Pandangannya yang tadi menyapu seisi kelas berhenti pada sosok tidak asing yang duduk di bangku paling belakang. Saat itu, buku besar yang menutupi wajahnya sudah turun ke atas meja.
"Kakak?" ucap Qia terkejut.
Sementara, yang dipanggil tetap duduk dengan tenang sambil memberikan senyuman termanisnya membuat wajah Qia memerah.
Tiba-tiba ruang kelas kembali gempar.
"Wah, ternyata kàkaknya Ustazah."
"Pacarnya, dong, Ustazah kan tidak punya kakak?"
"Tapi Ustazah tidak pernah pacaran."
"Itu benar. Pacaran kan tidak diperbolehkan."
"Benarkah Ustazah?"
"Wah, Ustazah. Pacarnya atau kakaknya, nih? Jadi penasaran."
Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan pada Qia membuatnya hanya geleng-geleng kepala. Anak zaman sekarang, mana sih yang tidak kesengsem melihat yang segar-segar? Ganteng, lagi.
"Oke, baiklah. Biar Ustazah perkenalkan," jawab Qia. Perkataan itu membuat seisi kelas menjadi diam.
"Silakan ke depan, Kak!" lanjut Qia. Ajakan itu ditujukan pada Satrio.
Tanpa berkata apa-apa, Satrio maju ke depan.
"Perkenalkan, ini namanya Pak Satrio. Beliau ini bukan pacar saya." Qia menjeda kalimatnya
Mendengar itu, kelas kembali riuh.
"Wah, boleh dong, sama saya."
"Sama saya saja, Pak."
"Iiish ... Kalian ini. Kata Ustazah kan tidak boleh pacaran."
"Langsung nikah juga boleh, Pak."
Mendengar kekacauan itu, Qia kembali bersuara.
"Deng dong"
Mendengar itu, seisi kelas menjadi hening. Hampir semuanya terbelalak. Bagi siswa laki-laki, Qia adalah guru dambaan. Informasi bahwa sang guru idola sudah menikah membuat mereka patah hati.
Begitu juga dengan para siswi. Mereka juga patah hati karena cogan yang mereka sukai ternyata sudah memiliki istri.
"Pak Satrio ini adalah seorang programmer. Kalian boleh bertanya pada beliau seputar dunia digital ataupun IT."
"Wah, mau dong, Pak."
"Iya, Pak."
Sekali lagi, terdengar suara saling bersahutan.
"Hayuuk, monggo Pak Satrio, silakan mereka diberi pencerahan. Siapa tahu bisa buat referensi untuk menulis opini," kata Qia mempersilakan.
Mau tidak mau, Satrio menuruti kemauan istrinya. Lagipula, tak ada ruginya membagikan sedikit pengetahuan dan pengalamannya. Bukannya ia tidak bisa. Ia seorang pemimpin. Baginya, hal sekecil ini sudah biasa.
Hanya saja, tadinya ia ingin memberi kejutan pada istrinya. Tak tahunya, justru dirinya yang malah dikerjai.
"Lihat saja, kelinci kecil itu pasti akan mendapatkan hukuman," seringai licik Satrio
"Baiklah, Ustazah Taqiya. Terima kasih atas kesempatannya," kata Satrio basa-basi. Tangan kekarnya tiba-tiba meraih pinggang Qia dan didekatkan padanya, membuat wajah gadis itu memerah.
"Kakak ... Gak pakai peluk-peluk juga, kali," bisik Qia rada kesal. Ia tahu kalau suaminya itu sedang mengerjainya.
Satrio tidak berkata-kata apa-apa. Ia hanya menatap wajah cantik itu dengan tatapan menggoda. Tak lupa memberi senyuman termanisnya.
"Kak ... Lepas, ini di tempat umum. Ini semua murid Qia, loh."
"Memangnya kenapa? Kita kan sudah menikah."
"Meski sudah menikah, tetap tidak boleh umbar kemesraan. Semuanya masih jomlo, loh."
Satrio terkekeh, kemudian melepaskan pelukannya. Setelah itu, suami dari Qia itu mulai ceramahnya.
***
Pukul lima sore kelas menulis sesi dua sudah selesai. Qia dan Satrio bersiap untuk pulang.
Sampai di depan kantor Andre, mereka dikejutkan oleh sebuah suara yang kelihatannya sudah bersiap-siap sejak lama.
"Maaf Ustazah. Apa saya bisa menggang ...."
Andre tidak melanjutkan kata-katanya setelah mendapati Qia tidak sendirian. Ada lelaki yang paling dibenci Andre sedang menggenggam erat tangan Qia.
"Eh ... Pak Satrio. Bagaimana kabarnya"
"Alhamdulillah baik, Pak Andre. Istri saya ini memang luar biasa. Tidak hanya cantik, ia juga sangat pandai merawat saya," jawab Satrio sengaja memanasi Andre.
Mendengar itu, tangan Andre langsung mengepal. Namun, ia tidak peduli. Tujuan suami Qia itu memang ingin menberi pelajaran pada Andre
"Maaf, tadinya saya ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting."
"Oh iya maaf ya, Pak Andre. Ini ... saya sudah dijemput," potong Qia cepat. ia sama sekali tidak ingin memberi kesempatan pada pemilik yayasan itu.
"Gak apa-apa, Sayang. Sepertinya memang ada hal sangat penting yang ingin disampaikan oleh Pak Andre. Kakak tidak keberatan kok nemenin kamu," ujar Satrio. Ia melepaskan genggaman tangannya, kemudian merangkul pinggang Qia. ia tersenyum nakal. Qia sampai bergidik dengan ulahnya kali ini.
"Tapi, Kak ...."
"Sayang ....."
Qia tampak pasrah. Wajahnya dari tadi sudah seperti kepiting rebus. Sementara, Andre lebih erat mengepalkan tangannya.
BERSAMBUNG