
"Cuma ...."
"Cuma apa?" tanya Satrio penasaran.
"Matanya itu."
"Kenapa dengan matanya?"
"Matanya seperti ...."Qia terlihat ragu.
"Seperti apa?" desak Satrio penasaran.
Qia tidak menjawab, tetapi wajahnya berubah memerah. Tiba-tiba ia menjadi gugup, membuat Satrio semakin penasaran.
Tiba-tiba pemuda itu semakin kesal. Tadi Qia mengatakan kalau si penguntit itu wajahnya tampan, dan kini ia bilang matanya istimewa.
***
"Qi ...." desak Satrio.
Qia diam. Wajahnya semakin memerah. Diam-diam ia menyesal, kenapa tadi harus menyinggung masalah mata.
"Ish ... bodoh ... bodoh ... bodoh. Kenapa Qia yang cerdas dan dewasa tiba-tiba jadi bodoh dan konyol di hadapan Satrio?" pekik hatinya.
Kini Satrio pasti tidak akan berhenti bertanya sebelum mendapatkan jawaban darinya. Akhirnya, Qia tidak berani mengangkat wajah.
"Qi ...," panggil Satrio lagi, sementara Qia semakin menunduk.
"Matanya ... matanya biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa," jawabnya agak terbata. Ia memaksakan diri untuk tersenyum palsu, kemudian buru-buru berdiri dan mau melarikan diri.
Namun, belum sampai ia melangkah, Bu Silmi memanggilnya.
"Qi ...."
Qia berdiri mematung, tidak tahu harus berbuat apa. Wajah putihnya semakin memerah, terlebih semua pasang mata kini memandang ke arahnya.
"Mata orang itu seperti apa, Qi?" kali ini Pak Zul yang bertanya.
Kalau sudah begini, Qia tidak bisa berbuat apa-apa, selain menjawabnya. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kemudian menatap ayahnya sekilas.
"Sudahlah, Yah, sebaiknya tidak usah. Tidak penting, kok," elak Qia.
"Tapi menurut Abi, yang dikatakan Kak Satriomu itu benar. Sekecil apa pun, bisa menjadi petunjuk. Siapa tahu, dari bentuk matanya, kita bisa mengenali orang itu," kata Abi Kun. Tatapan matanya penuh arti. Ada sedikit senyum yang tertahan di bibirnya.
Qia bertambah malu. Wajahnya semakin memerah.
"Baiklah, kalau begitu. Orang itu sudah mengamati Qia sejak Qia turun dari angkot, Bi. Bahkan, Qia sempat mengecohnya dengan masuk ke toko pakaian dan bersembunyi di balik baju-baju. Namun, orang itu tetap mengikuti Qia. Qia hafal betul dan tidak bisa melupakannya karena matanya ... matanya ... Itu ... ehm, matanya seperti ... seperti mata Kak Satrio saat melihat Qia."
Akhirnya, keluar juga kalimat itu, sangat pelan, tetapi semua orang bisa mendengar.
"Uhuk ...! Satrio yang saat itu sedang menyeruput teh hangat langsung tersedak.
"Mata gue? Dia gak bisa melupakannya? jadi, selama ini diam-diam dia suka merhatiin gue? Yang bener aja?" pikir Satrio. Ia sontak membelalakkan mata, tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Ujung telunjuknya mengarah ke dirinya sendiri dan mulutnya membentuk huruf O pertanda dia sedang bertanya.
Begitu juga dengan empat orang tua itu. Mereka tak kalah terkejutnya dengan jawaban Qia. Namun, mereka hanya bisa menahan senyum.
Qia jadi bertambah malu.
"Astaghfirullah, aku salah pilih kata. Bodoooooh ..... kenapa aku bilang tidak bisa melupakan orang itu? Bukankah itu sama saja dengan bilang kalau dirinya tidak bisa melupakan mata Satrio?" batin Qia merutuki kenaifannya.
"Memangnya, Kak Satrio kalau memandang Qia kayak apa?" tanya Umi Silmi hati-hati. Sebenarnya wanita itu ingin tertawa, tetapi tidak tega dengan wajah yang sudah seperti kepiting rebus itu.
"Umi .... Kenapa tanya Qia seperti itu?" protes Qia.
"Lah, Umi kan tidak tahu, Qi," balas Umi Silmi.
"Iya, Qi, Ibu juga pingin tahu Kakakmu kalau liatin kamu kayak apa?" goda Bu Mirna.
"Bu ...."
"Sudah, jangan godain Qia terus. Kita kembali fokus ke persoalan tadi," kata Abi Kun menengahi. "Sat, kamu kalau lihat Qia kayak apa?" tanya Abi Kun. Kali ini sambil menatap ke Satrio penuh arti. Kali ini, lelaki tua itu tidak bisa menyembunyikan senyum lebarnya.
"Astaga, Abi. Kenapa Satrio yang jadi tertuduh sekarang?" protes Satrio kesal. Bagaimana tidak, Qia yang bikin masalah, kenapa dirinya yang harus bertanggung jawab.
Qia sendiri jadi merasa tidak enak. Malunya gak ketulungan.
Bagaimanapun, pembicaraan yang tadi sangat sensitif. Aneh sekali rasanya berbicara masalah pribadi dengan orang tuanya, terlebih di situ ada orang lain. Selama ini, Satrio sudah terbiasa mandiri, hampir tidak pernah bersikap terbuka pada siapa pun, termasuk pada Anita yang selama ini lumayan dekat dengannya.
"Sebenarnya, masalah ini sangat serius, Yah, tidak bisa kita anggap remeh," kata Satrio akhirnya.
"Apa tidak terlalu berlebihan? Mungkin hari ini Qia aja yang lagi apes, kali, ya?" seloroh Qia.
"Tidak, kejadian siang tadi bukan kebetulan, tapi sudah dirancang dengan penuh perhitungan."
"Maksudnya bagaimana, Sat?" tanya Umi Silmi khawatir.
"Satrio sempat dapat informasi kalau selongsong peluru yang ditembakkan tadi sudah ketemu dan berhasil diidentifikasi. Yang mengejutkan, ternyata selongsong itu milik pasukan elit, tidak ada duanya di negeri ini. Itu artinya, pelaku adalah orang besar," jelas Satrio panjang lebar.
"Kok bisa begitu, Sat?" Bu Silmi bertanya.
"Karena hanya orang besar saja yang bisa menggerakkan pasukan elit, Mi" jelas Satrio lagi.
"Apa informasi itu valid? Dari mana Kakak tahu kalau si penembak tadi berasal dari pasukan elit?" Kali ini Qia yang bertanya.
"Kakak dapat informasi ini dari seorang teman yang bisa dipercaya."
Semua diam, mencoba untuk mencerna kata-kata yang keluar dari mulut Satrio.
"Jangan-jangan ... salah satu dari mereka," celetuk Bu Mirna.
"Mereka? Mereka siapa, Bu?" tanya Satrio curiga.
"Sebenarnya, dua hari yang lalu Qia dilamar orang?" jawab Bu Silmi jujur.
"Dilamar? Siapa?" tanya Umi. Satrio dan Abi Kun ikut membelalakkan mata.
Wanita yang melahirkan Qia itu akhirnya menceritakan apa yang terjadi, termasuk bagaimana sikap Pak Wijaya dan Bayu pada saat itu.
"Wah, Sat, kali ini sainganmu sangat berat. Dua putra pengusaha dan pejabat besar sama-sama menginginkan Qia. Mungkin mereka sakit hati karena ditolak Qia." Abi Kun mencoba menganalisa.
Mendengar itu, Satrio mendengkus kesal.
"Betul, Sat. Ibu rasa juga begitu," timpal Bu Mirna.
"Itu tidak benar. Penembakan dan penodongan tadi siang tidak ada hubungannya dengan lamaran. Meskipun mereka sakit hati, tetapi mereka tidak bodoh. Tidak mungkin hanya karena ditolak lamarannya, mereka sampai mengeluarkan pasukan elit," jelas Satrio.
"Lantas ...."
"Saya yakin kasus ini berkaitan erat dengan kasus Kak Pras."
"Sekarang bagaimana, Sat?" Bu Mirna dan Umi Silmi kompak bertanya.
"Bagaimana apanya? Tentu saja untuk sementara Qia tidak boleh keluar rumah," jawab Satrio santai.
"Itu tidak mungkin, Kak? Qia kan harus ke kampus untuk konsultasi masalah skripsi? Qia harus mengajar. Qia juga masih perlu ke toko buku, dan banyak aktivitas lainnya.
"Untuk sementara, kamu tidak punya pilihan," kata Satrio. Kali ini disertai dengan seringaian.
"Qia tidak mau."
"Demi keselamatan, Qia harus mau." Kali ini Satrio berkata dengan tegas.
"Iya, Sat. Apa tidak ada jalan keluar lain?" tanya Pak Zul.
"Tidak. Kalau mau selamat ya, jangan keluar dulu sebelum kasus ini selesai. Kecuali ...." Satrio sengaja menggantung ucapannya membuat orang-orang penasaran.
"Kecuali, apa?" tanya Qia penasaran. Sungguh, ia tidak bisa membayangkan kalau tidak boleh keluar rumah. Sampai kapan? Sementara, kasus Pras semakin tidak jelas juntrungannya, seolah tidak pernah ada titik terang.
"Kecuali ... Besok pagi kamu ikut Kakak ke KUA dan kita menikah," jawab Satrio santai sambil menghadap ke arah Qia.
"Apa? Jangan main-main, dong Kak. Kita semua lagi serius, nih," protes Qia kesal.
"Betul Sat, jangan main-main. Apa lagi tentang pernikahan."
"Tidak, Mi. Saya tidak main-main. Saya serius," jawab Satrio.
"Qia tidak setuju."
Enak saja, sembarangan. Memangnya menikah bisa semudah membalikkan telapak tangan?