
Qia baru selesai konsultasi dengan dosen pembimbingnya bersama dengan Aina. Alhamdulillah, ini adalah konsultasi terakhir karena semua sudah disetujui, tinggal merapikan tulisannya saja.
"Beneran, kamu tidak apa-apa kutinggal sendirian?" tanya Aina ketika mereka berada di luar kelas. Ia buru-buru mau pulang karena Ardi, suaminya sudah menjemput.
"Iya, tidak apa-apa. Sebentar lagi Kak Satrio datang, tadi sudah aku hubungi."
"Baiklah, kamu di sini saja, jangan jauh-jauh dari kelas. Tar kalau ada apa-apa, langsung masuk ke kelas yang banyak orangnya," pesan Aina. Setelah berbalas salam, ia lalu menghampiri Ardi yang sudah menunggu di mobil.
Sambil menunggu jemputan, Qia duduk di bangku sambil membaca buku, di bawah sebuah pohon yang rindang. Ada beberapa mahasiswa yang juga ada di sekitar tempat itu.
"Aku cintaaa ... padamu, sungguh. Haruskah kuuuulangi, dari mulutku sendiri. Aku cintaaa ...."
Sayup-sayup terdengar suara cempreng diiringi genjrang-genjreng petikan gitar.
"Astaghfirullah al aziim."
Qia berusaha untuk bersikap tenang. Suara yang cukup dikenalnya itu semakin mendekat. Gadis itu melirik jam di pergelangan tangan, pukul satu lewat seperempat siang.
"Kenapa Kak Satrio lama sekali?" batinnya gelisah.
"Hai, Qi. Sendirian aja? Tumben gak sama Aina?" tanya Bayu setelah berada di dekat Qia. Seperti biasa, bersama dengan teman-temannya.
"Eh ... iya, Kak," jawab Qia sopan. Ia mulai merasa tidak nyaman.
"Jangan khawatir, Qi. Ada Abang di sini. Abang akan selalu ada buat kamu," kata Bayu lagi.
Pemuda itu lalu duduk di bangku panjang yang diduduki Qia, tapi di bagian tepi. Sementara itu, teman-temannya masih berdiri di sekitar Bayu. Sebagian ada yang duduk di bangku lain.
Qia semakin merasa tidak nyaman. Spontan, ia bangkit dan agak menjauh.
"Loh, mau kemana? Duduk saja, Qi. Abang gak ganggu, kok. Suwer, justru Abang akan jagain kamu," gombal Bayu lagi. Duduknya kini bergeser ke tengah, agak mendekati Qia yang tadi menjauh.
Sekali lagi Qia melirik jam tangannya. Terlihat dengan jelas kalau ia sangat gelisah. Namun, ia tidak bersuara.
"Bagaimana, Qi, apa kamu sudah mempertimbangkan lamaran Abang? Asal kamu tahu ya, Qi, Abang sangat sabar menunggu."
Lagi-lagi, Bayu kembali mengoceh. Ia belum mendengar kabar tentang pernikahan Qia, jadi rasa percaya dirinya masih tingkat tinggi.
"Kenapa kamu diam? Kamu malu sama mereka, ya? Tidak perlu malu, Qi, mereka ini teman-teman Abang. Itu berarti teman kamu juga. Atau ... kamu ingin Abang datang ke rumahmu lagi?"
Qia masih tetap bungkam.
"Qi, Abang janji, untuk lamaran berikutnya, Abang akan datang bersama dengan orang tua Abang. Mereka sudah pulang dari luar negeri."
"Tidak perlu, Kak, terima kasih," jawab Qia akhirnya.
Merasa direspon, Bayu jadi bersemangat. Kini duduknya lebih ke tepi, lebih dekat dengan tempat Qia berdiri.
Tentu saja Qia jadi ketakutan. Ia semakin gelisah. Untungnya, sebelum Bayu melanjutkan ocehan gilanya, sebuah motor sport berhenti di depan mereka.
Semua mata berpaling, termasuk Qia.
"Alhamdulillah," bisiknya lega setelah mengenali motor itu.
Sementara itu, Satrio yang sudah turun dari motor, kemudian membuka helm dan meletakkannya di atas jok. Rambutnya yang panjang sebahu berkibar diterpa angin. Kebetulan, rambut itu tidak diikat, persis seperti milik Bayu yang juga gondrong. Namun begitu, Satrio tampak cool dan sangat tampan.
Beberapa mahasiswi yang kebetulan berada di tempat itu langsung terpana, tak mau memalingkan mata.
"Cogan, tuh, cogan," celetuk seorang gadis.
"Cari gue, nih."
"Gue, dong."
"Es teh, es teh!" Yang lain ikut nyeletuk.
"Apaan, es teh?"
"Iish ... kau ini."
Mulut-mulut yang kasak-kusuk itu tiba-tiba melongo begitu tahu kalau cogan itu ternyata berjalan mendekati Qia.
Sementara itu, melihat seorang pemuda gondrong berjalan mendekati Qia, spontan membuat Bayu bangkit dari tempat duduk, dan berjalan mendekati Qia juga, diikuti teman-temannya. Matanya tiba-tiba melotot karena pemuda itu tanpa ba bi bu langsung menggamit tangan Qia.
"Maaf, Kakak terlambat. Apa mereka mengganggumu?" bisik Satrio.
Qia baru mau menjawab, tiba-tiba Bayu berteriak.
"Hei, kurang ajar, apa yang kau lakukan pada gadisku?"
Bayu terlihat sangat marah. Berani-beraninya ada preman yang memegang tangan kekasihnya, padahal ia sendiri tidak berani melakukan. Ia semakin marah karena melihat Qia tidak melakukan perlawanan.
Mendengar itu, semua mata langsung melihat ke arah Bayu, kemudian beralih ke Qia dan Satrio dengan penuh tanda tanya.
Sementara itu, Satrio menatap Bayu dengan tatapan tajam. Meski rada kesal, wajahnya tetap terlihat tenang. Bagaimana tidak kesal, seorang pemuda bau kencur baru saja meneriakinya kurang ajar. Jangan dikira ia tidak mendengar perkataan Bayu yang akan melamar Qia sekali lagi dengan membawa orang tuanya.
Tanpa basa-basi, Satrio menarik pinggang Qia dan merapatkan ke tubuhnya. Ia lalu mencium kening gadis itu di hadapan semua orang. Mata pemuda itu melirik Bayu sekilas. Senyuman smirk tipis tampak di sudut bibirnya.
Kelakuan Satrio itu tentu saja membuat wajah Qia seperti kepiting rebus.
"Kak, jangan gitu, ah, malu."
"Kenapa? Kamu istri Kakak. Yang Kakak lakukan itu tidak dosa," bisik Satrio sambil tersenyum nakal.
"Iya ... tapi tetap tidak boleh diumbar di hadapan banyak orang. Kasihan yang jomlo. Lagian, tidak ada yang tau kalau kita menikah, tar malah timbul fitnah," balas Qia.
"Berarti sekalian kasih pengumuman." Sekali lagi Satrio tersenyum, tapi kali ini sangat manis.
"Kaaak ...."
"Iya ... iya. Tidak akan diulangi lagi."
Tindakan Satrio dan keintiman yang ditunjukkan suami istri itu kontan membuat Bayu semakin panas hatinya. Sungguh ia tidak terima.
"Qi ... Kenapa kamu diam saja? Jelas-jelas preman itu sedang melecehkan kamu!" teriak Bayu.
"Atau ... jangan-jangan dia ini adalah tunangan kamu? Astaga, Qi, tadinya Abang rada minder karena kamu ini anak masjid, sementara Abang ini seorang preman. Nyatanya, kamu lebih memilih preman jelek ini. Mending sama Abang saja, Qi."
Mendengar itu, Satrio rada panas juga. Jelas-jelas ada lelaki yang berani menggoda istrinya di depan batang hidungnya. Siapa yang tidak marah, coba? Mana dia dibilang preman jelek, lagi.
Tangan Satrio langsung mengepal. Ia mau maju tapi dicegah oleh Qia.
"Kak Bayu, jangan salah sangka. Dia ini bukan tunganan Qia."
Suara Qia terjeda. Sesaat, terlihat binar senang di mata Bayu.
"Tapi ... dia ini adalah suami Qia," lanjut Qia.
"Duar." Kalimat itu bagai petir di siang bolong yang menghantam telinga Bayu.
"Suami? Jangan bercanda. Kapan nikahnya?" Bayu kembali meradang.
"Kemarin kami menikah," jelas Qia.
"Yang bener aja. Abang tidak percaya, Qi. Masih mending sama anak si Wijaya Kusuma itu. Lah ini? Kalau sama-sama preman kayak Abang, mending sama Abang saja. Lihat, dia tidak bisa menghargai kamu sama sekali. Masak iya, antar jemput kamu pakai ojekan kayak gitu," sindir Bayu kesal sambil menunjuk motor sport Satrio.
Satrio yang tidak biasa bersilat lidah semakin kesal. Tanpa bicara apa-apa, ia lebih mendekat ke arah Bayu, kemudian menonjok muka preman kampus itu. Satu tonjokan cukup membuat kakak tingkat Qia itu dlosor.
"Kau ..." teriak Bayu sambil memegangi hidungnya yang berdarah. Kelihatannya retak.
Spontan, teman-teman Bayu mendekat dan mengepung Satrio dan Qia.