Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
41. Masyaallah, Cantiknya!



Tak seperti dalam dongeng Cinderella, keberuntungan dan kebahagiaan pasti didapatkan setelah bertemu pangeran tampan dan hidup bersama dalam bingkai suci pernikahan. Namun, dalam kehidupan nyata, perjalanan panjang dan berliku justru baru dimulai.


Tidaklah beban hidup dan kewajiban itu berkurang atau hilang setelah menempuh babak baru, tetapi justru semakin bertambah.


Begitu juga dengan yang dialami Taqiya Eldiina binti Zulkifli. Kehidupan sesungguhnya baru dimulai. Ia tidak tahu, kedepannya nanti akan seperti apa. Hidup bersama dengan seorang yang sama sekali tidak dia kenal sungguh bagaikan berjalan di tengah padang luas yang gelap gulita. Ia harus meraba, memasang insting kuat-kuat, dan mengerahkan segala upaya untuk bisa sampai pada tujuan. Belum lagi, kasus yang berkaitan dengan Prasetyo yang membuatnya diincar oleh para pembunuh bayaran.


***


Acara walimah sudah selesai digelar. Qia memutuskan untuk masuk kamar, kemudian membersihkan diri karena badannya terasa lengket. Setelah itu, ia duduk di tepi pembaringan dengan pakaian lengkap, yaitu gamis dan kerudung instan.


Sementara itu, Satrio masih berada di luar karena ada beberapa teman yang belum pulang. Kedua orang tuanya juga sudah pulang setelah prosesi akad nikah selesai.


Karena tidak tahu apa yang harus dilakukan, Qia memutuskan untuk berselancar di dunia maya dengan akun Kemilau Senja dan mulai menyapa para penggemarnya. Banyak yang mempertanyakan, kenapa cerbung yang ia tulis di salah satu aplikasi belum dilanjutkan.


Beberapa hari Qia memang tidak menulis, juga mengunjungi medsosnya karena ada banyak persoalan. Itu sebabnya, kali ini ia agak kewalahan.


Setelah itu, ia menutup Kemilau Senja dan beralih ke akun aslinya, Taqiya Eldiina dengan ponsel yang berbeda. Ponsel pertama dengan model, merk, dan warna yang sama segera dia sembunyikan. Saking sibuk dan seriusnya, sampai-sampai ia tidak menyadari kalau Satrio sudah berada di dalam kamar dan duduk di sampingnya.


"Kenapa senyum-senyum sendiri?"


Sebuah suara bariton tiba-tiba mengagetkan Qia.


"Astaghfirullah ...." Reflek gadis itu bergeser sambil memegangi dadanya saking terkejutnya. Maklum saja, selain ayahnya, belum pernah ada seorang lelaki pun yang memasuki kamarnya. Apalagi, orang itu datang secara tiba-tiba.


"Kakak bikin kaget, aja. Ucap salam, kek, biar Qia gak jantungan. Udah kayak hantu, tau ....." ujar Qia jengkel.


Buru-buru gadis itu menutup akun Taqiya, kemudian mematikan ponsel agar tidak dilihat oleh orang di sebelahnya.


Namun, terlambat, Satrio tadi sempat mengintip. Untung yang dilihat pemuda itu adalah akun Taqiya Eldiina, bukan Kemilau Senja.


"Memang kamu sudah pernah liat hantu?" Satrio balik bertanya.


"Jelas sudah, dong," jawab Qia asal.


"Wah ... Kapan? Seperti apa?" tanya Satrio tak percaya. Pasalnya, anak masjid kayak Qia biasanya tidak percaya kalau hantu itu ada.


"Barusan ... Tampangnya seperti ... itu. Sama persis," jawab Qia sambil menunjuk ke cermin rias di depan mereka. Jari telunjuknya tepat mengarah ke bayangan Satrio.


Satrio yang merasa sebagai tertuduh, kontan saja menjadi kesal.


"Eeeh, sembarangan. Orang ganteng gini, kok, dibilang hantu. Mana ada hantu cakep kayak gini?" jawab Satrio pura-pura marah.


"Dasar narsis!" seru Qia jengkel. "Lagian, salah sendiri diam-diam menyusup ke kamar seorang gadis tanpa izin."


"Ha ha ha. Siapa bilang Kakak nyusup ke kamar orang? Ini kamar Kakak sendiri, kale?"


"Sejak kapan?"


"Sejak tadi siang, kamu lupa? Satu lagi, kamu bukan lagi seorang gadis. Ingat ... kamu adalah Nyonya Satrio. N y o n y a." Satrio sengaja menekankan pada kata nyonya.


"Astaghfirullah, Qia hampir lupa," jawab Qia pura-pura.


"What? Yang bener aja? Baru beberapa jam Kakak mengucapkan ijab kabul, kamu sudah melupakan Kakak. Bagaimana kalau sudah puluhan tahun? Bisa-bisa kamu malah gak ingat sama sekali kalau sudah punya suami," goda Satrio kesal.


"Ya Allah, Kak, jangan bilang gitu, dong! Seolah Qia ini begitu kejamnya. Itu sama saja dengan menyumpahi Qia ... Lagian, wajar dong, Kak. Kita baru aja kenal, eh ... tau-tau langsung nikah. Qia kan belum terbiasa," sahut Qia. Jujur ia takut kuwalat.


Namun, Qia heran, kenapa sekarang dirinya begitu lancar saat beradu mulut dengan Satrio? Sebelum Satrio masuk tadi, ia sudah membayangkan, betapa kikuknya mereka nanti, seperti cerita malam pertama di novel-novel romantis yang sering ia baca selama ini. Bahkan, ia sendiri juga pernah menulis adegan seperti itu di novelnya. Namun, ternyata kejadian seperti itu tidak pernah ia rasakan di dunia nyata.


Ya, Qia merasa saat ini Satrio seperti seorang kakak lelaki saja. Mungkin karena saat ini Satrio tidak menatapnya seperti elang yang sedang mengincar mangsa, sebagaimana yang ia rasakan selama ini.


"Makanya, jangan keterlaluan." Satrio mendengkus kesal.


"Iya ... iya, Qia minta maaf. Trus, Kakak mau ngapain datang ke sini? Apa ... ada yang bisa Qia bantu?"


"Gak usah berlagak pilon. Tentu saja Kakak mau tidur, capek banget. Ini sudah malam, kamu juga harus cepatlah tidur," ujar Satrio tenang. Ia lalu membaringkan tubuhnya di kasur dan meletakkannya kedua telapak tangan di bawah kepalanya. Ia lalu menutup mata.


"Glek."


Qia menelan ludah. Bukannya ia tidak mengerti tentang apa yang terjadi. Namun, jujur ia masih sangat canggung. Ia sendiri sebenarnya juga sangat lelah dan ingin segera istirahat. Tapi untuk tidur di sebelah Satrio, rasanya kok gimana, gitu. Sungguh, ia tidak tahu harus berbuat apa. Mau ngusir Satrio, jelas tidak mungkin karena lelaki itu juga berhak tidur di kasurnya. Satu hal yang membuat Qia sedikit lega, bahwasanya malam ini Satrio tidak meminta haknya.


"Kenapa bengong? Ini sudah sangat larut, cepatlah tidur. Besok masih banyak yang harus kita kerjakan." Masih dengan menutup mata, Satrio terdengar bersuara.


Sekali lagi, Qia masih tetap bergeming. Ia masih menatap tempat tidurnya dengan penuh keraguan, mau berbaring atau tetap duduk sambil terus bergadang.


"Qi ... Cepat tidur atau Kakak yang akan menidurkan kamu."


Ucapan Satrio yang terakhir itu tentu saja membuat Qia menjadi ketakutan. Semburat merah langsung menyebar di mukanya. Untung saat mengucapkan itu Satrio masih menutup mata, kalau tidak, Qia pasti malu sekali.


"Satu lagi, kau tidak akan tidur dengan pakaian lengkap seperti itu, kan? Lepas dan cepat tidur," kata Satrio lagi.


"Glek."


Sekali lagi Qia menelan ludah. Ia berpikir, semakin lama permintaan Satrio semakin aneh-aneh saja. Namun, ia masih tetap bergeming.


"Kenapa? Bahkan Kakak punya hak untuk melihat semua. Kakak rasa ... kamu lebih paham tentang hal itu daripada Kakak," ujar Satrio lagi dengan santai.


Tentu saja Qia sangat paham. Itu sebabnya, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Satrio adalah suaminya. Ia punya hak untuk melihat dirinya dan Qia tidak ingin dilaknat malaikat rahmat gara-gara menolak permintaan suaminya.


Karena itu, meski merasa canggung dan sangat malu, Qia segera bangkit, kemudian melepas gamis dan kerudungnya, menyisakan babydoll lengan pendek dengan panjang selutut. Rambutnya yang lurus panjang dibiarkan tergerai membuatnya terlihat semakin cantik. Ia bersyukur Satrio sedang memejamkan mata. Ini sedikit mengurangi canggung dan rada malunya.


Saat itu, posisi Qia membelakangi Satrio. Namun, Satrio yang sesungguhnya tidak betul-betul memejamkan mata dapat melihat dengan jelas pantulan wajah di cermin yang ada di depan Qia. Melihat kecantikan yang luar biasa itu, jiwa lelakinya meronta.


"Masyaallah, cantiknya!" batin Satrio.


Secara spontan, pemuda itu bangkit dan duduk tegak sambil menatap wajah cantik itu dengan pandangan yang tidak biasa.