
...Ini hanya sebuah gerbang...
...Katanya horor dan menakutkan...
...Entah...
...Tapi kakiku sudah terayun...
...Pantang bagiku untuk mundur ke belakang...
***
Qia sudah berpakaian rapi. Sebagaimana peraturannya, ia mengenakan gamis hitam dilapisi blazer putih, lengkap dengan kerudung berwarna putih juga.
"Kau sudah siap, Sayang?" tanya Satrio.
"Insyaallah, Kak. Bismillah," jawab Qia mantap.
Akhirnya mereka berangkat dengan diantar Hendra. Sementara, di kampus sudah bertebaran anak buah Satrio dengan pakaian acak. Penjagaan semakin diperketat di ruang yang akan dipakai untuk sidang.
Hari ini yang sidang ada beberapa orang. Kebetulan Qia mendapat giliran kedua.
"Sayang, kamu baik-baik saja, kan?" bisik Satrio.
Suami Qia itu menggenggam erat tangan Qia yang terasa dingin untuk memberi dukungan dan kekuatan.
"Rada grogi, sih," ujar Qia jujur.
"Kamu pasti bisa. Groginya itu cuma kalau di sini. Kalau sudah nyemplung, Kakak yakin rasa itu sudah hilang. Kamu pasti bisa, Sayang," support Satrio.
"Iya, Kak. Bismillah," jawab Qia.
Ujian baru dimulai tigapuluh menit lagi. Namun, para peserta sudah pada berdatangan, terutama yang mendapat urutan awal-awal.
"Halo, Qi. Assalamu'alaikum," sapa lembut seorang wanita. Qia menoleh.
"Aina?" Qia bangkit setelah membalas salam. Mereka kemudian cipika-cipiki sebentar.
"Sama siapa?" tanya Qia.
"Biasa, sama Mas Ardi lah," jawab Aina. Mata wanita cantik itu menunjuk ke arah pemuda tampan dengan pakaian rapi yang ada di depannya.
Sebenarnya hari ini bukan jadwal Aina sidang. Hanya saja, ia ingin memberikan dukungan pada sahabatnya.
Melihat kedatangan Aina, Satrio berdiri dan memberikan tempat duduknya pada wanita bermata biru itu. (Cerita tantang Aina dan Ardi ada di novel berjudul Mata Aina).
Suami Qia itu lalu berjalan mendekati Ardi yang duduk di kursi yang lain. Tanpa dua wanita itu ketahui, ternyata dua lelaki tampan itu saling mengenal.
Ya, sebenarnya Ardi adalah teman Prasetyo. Mereka dulu pernah bertemu saat pemakaman kakaknya Satrio itu. Namun, Ardi tidak tahu jati diri Satrio yang sesungguhnya.
"Makasih ya, Ai," kata Qia.
Jujur ia merasa senang saat sahabatnya memberikan dukungan. Maklum, setelah beberapa kali mengalami peristiwa menegangkan, ia hampir tidak pernah keluar rumah demi keselamatannya. Kalau toh terpaksa keluar, selalu ada penjagaan super ketat. Tentu saja geraknya sangat terbatas.
"Kamu tegang banget," kata Aina.
"Dikit, sih."
"Ayolah, Taqiya Eldiina pasti bisa. Ada si Abang juga," goda Aina.
Maksudnya Abang Satrio. Namun, tanpa diduga, sebuah suara dari belakang mengagetkan mereka.
"Kamu benar, Ai. Abang ada di sini. Adek Qia pasti baik-baik saja. Abang datang ke sini memang khusus untuk memberi dukungan buat Qia tercinta."
"Bayu??" Serempak suara Qia dan Aina bagai paduan suara.
"Hai, Qi. Selamat berjuang, ya. Abang di sini akan mendoakanmu," ucap Bayu sambil mendekat. Seperti biasa, ia dikelilingi beberapa temannya.
"Ehem ... ehem." Terdengar suara bariton sedang berdehem.
Namun, teman-teman Bayu tahu, kalau di belakang mereka ada dua wajah garang sedang menatap mereka dengan tatapan setajam pisau.
Mereka belum lupa, beberapa waktu yang lalu pernah dibuat keok sama suami Qia yang tampangnya menurut mereka kayak preman itu. Sementara, di sebelah suami Qia, ada pemuda yang berpakaian rapi dengan rambut cepak tak kalah rapi yang merupakan suami Aina.
Mereka juga belum lupa, kalau dulu mereka pernah dibuat babak belur oleh pemuda yang sepertinya lemah itu gara-gara menggoda Aina.
Dan kini, dua lelaki yang menurut mereka seperti monster itu kini ada di hadapan mereka.
Maka, spontan pemuda-pemuda yang merupakan mahasiswa abad itu menarik-narik tangan Bayu.
"Apaan, sih. Berisik, gak tau apa, gue lagi kasih dukungan sama yayang gue," kata Bayu jengkel.
"Tapi, Bos. Ini ada ...."
"Diam Lo!"
"Bos ....!"
"Banyak bacot, Lo!" bentak Bayu kesal sambil menoleh ke arah temannya. Tangannya sudah terangkat ke atas, siap untuk menggampar.
Namun, belum sempat terayun tangannya, sudut mata Bayu menangkap keberadaan dua sosok yang sangat ia takuti. Seketika, mata pemuda itu membulat.
Seketika ia merasa suhu di sekitar tempat itu seolah membeku. Terlebih dengan tatapan dingin dua makhluk kutub itu.
"He he he. Kenapa gak bilang dari tadi? Bod*h."
Bayu meringis memperlihatkan giginya, kemudian mengangkat dua tangan. Setelah itu perlahan-lahan mundur, menjauh dari tempat itu, lalu ....
"Wuusssh!"
Preman kampus itu lari tunggang-langgang diikuti oleh teman-temannya.
Melihat itu, Qia dan Aina sedikit terkekeh.
"Aneh-aneh saja, Kak Bayu itu," celetuk Aina.
"Iya, nekat sekali dia. Padahal, dulu pernah dihajar Kak Satrio sampai kencing di celana," kata Qia.
"Oh ya? Kamu melihatnya? Malu sekali, dong."
"Enggak. Kak Satrio yang cerita. Habisnya, ia menyewa banyak preman untuk mengeroyok Kak Satrio. Ternyata mereka berhasil diberi pelajaran," jelas Qia.
"Benar-benar nekat dia," kata Aina.
Sementara itu, Satrio dan Ardi hanya geleng-geleng kepala menyaksikan tingkah polah Bayu.
"Heran, gak ada kapok-kapoknya dia," kata Satrio.
"He he he." Ardi yang sudah hafal dengan kelakuan Bayu hanya terkekeh mendengarnya.
Sedangkan Hendra yang saat itu sedang duduk di bawah pohon tak jauh dari tempat Satrio dan Ardi berada menatap sang Bos penuh arti, seolah ingin meminta persetujuan untuk memberi pelajaran pada Bayu. Namun, gerakan kepala sekilas yang dilakukan oleh Satrio mengurungkan niatnya.
Meski sekilas dan tidak terlalu tampak, tetapi Ardi adalah pemuda yang terlatih juga. Mata tajamnya bisa melihat bahwa ada pergerakan tidak wajar di sekelilingnya. Namun, melihat interaksi tidak kasat mata antara Satrio dengan beberapa orang di sekitarnya ia bisa tahu kalau semuanya berada di bawah kendali suami Qia itu. Ia pun memilih diam, pura-pura tidak mengerti apa-apa.
Sampai pada akhirnya, tibalah giliran Qia.
"Bismillah, doain ya, Si!" bisik Qia di telinga Aina.
"Insyaallah, yassarallahu umuurana," jawab Aina.
Qia lalu berdiri kemudian melihat sekilas ke arah suaminya. Satrio yang sedang menatapnya kemudian mengangguk, setelah itu mengacungkan jempolnya. Sementara, mulutnya merapal dua kata tanpa suara. "Kamu bisa."
Qia yang mengerti kemudian mengangguk, lalu melangkah dengan pasti ke ruang sidang.
"Bismillah."