Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
122



...Kabut tebal berselimut rindu...


...Menambah gigil sanubari membeku...


...Suhu ruangku seolah tak mau kompromi...


...Saat kujauh dari jangkauanmu...


...Oh,...


...Seperti ini rasanya...


...Di kala separuh nyawa tak tersapu mata...


...Hanya wangimu yang masih melekat...


...Tak lekang kala sang bayu menyembur di penjuru empat...


...Rabbi,...


...Segumpal rindu menyumbat menyapa...


...Sesak...


...Ingin segera...


...Diri ini berjumpa...


***


Qia tidak bisa memicingkan mata. Entah mengapa perasaannya tidak enak. Ia betul-betul mengkhawatirkan suaminya. Sejak tadi perutnya serasa diremas-remas.


"Mungkinkah Kakak sedang dalam bahaya?"


Bahkan, malam itu ia tidak bisa memejamkan mata sama sekali.


Pagi harinya, kepala Qia betul-betul sakit. Tubuhnya semakin lemah karena kurang istirahat. Asupan gizinya juga kurang karena makannya hanya sedikit. Hanya infus saja yang membantunya untuk mempertahankan kondisinya. 


Itu sebabnya dokter belum mengizinkannya untuk pulang. Ia harus tetap dirawat di rumah sakit agar janin di dalam perutnya tetap bertahan.


"Kau harus banyak makan, Qi. Ingatlah, sekarang kamu tidak sendirian. Ada satu nyawa yang dititipkan kepadamu dan saat ini ia sangat bergantung padamu. Kau tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk padanya, kan?" nasihat Bu Mirna lembut.


Qia hanya mengangguk, tidak mengatakan apa-apa. Ia paham betul apa yang dikatakan ibunya. Hanya saja, begitu ingat Satrio, rasanya ia tidak bernafsu untuk makan.


***


Sementara itu, di tempat Satrio disekap.


Tubuh Satrio terasa lemas. Ia sudah menahan diri sekuat tenaga untuk tidak melawan tadi karena tidak ingin rencana mereka berantakan, meski rasanya ia hampir mati.


Apalagi, sejak berada dalam penyekapan itu, tidak ada asupan makanan ataupun setetes air pun yang masuk ke tubuhnya. Ia hanya menelan sebutir kapsul pengganti nutrisi kemarin untuk sedikit mendapatkan tenaga. Ditambah dengan siksaan yang dia terima secara bertubi-tubi, membuat pria itu kini betul-betul lemah. Apalagi, penjaga datang silih berganti. Jadi, ia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menahan rasa sakit baik secara fisik ataupun marah di hati.


Pukul sepuluh malam, pemeriksaan terakhir selesai. Satrio sudah mempelajari segala sesuatunya. Ia tahu, setelah itu, biasanya penjaga tidak masuk ke ruangan penyekapan lagi.


Suami Qia itu segera merapatkan kedua tangannya, kemudian menekan tombol berwarna hitam di jam tangannya. Tombol itu fungsinya mengacaukan semua gelombang yang ada di sekitar tempat itu. Secara otomatis, kamera pengawas juga tidak bisa berfungsi secara normal.


Setelah itu, Satrio menekan salah satu tombol lagi dan munculah benda sebesar jarum. Tanpa membuang waktu, ia segera membuka borgol di tangan kirinya, kemudian di tangan kanan. Setelah itu, kedua kakinya.


"Alhamdulillah, legah rasanya bisa duduk sebentar," ucapannya dalam hati.


Ia lalu menelan sebutir kapsul pengganti nutrisi yang ada di kantornya celanya sekali lagi. Sebenarnya ia haus sekali. Namun, di tempat itu tidak terlihat air bersih sama sekali. Untuk salat pun ia melakukan tayamum. Setelah itu, ia mencoba untuk merilekskan tubuhnya sebentar, sambil terus waspada.


Sekitar pukul dua dini hari, terdengar derit pintu bagian luar dibuka. Meski dalam mode istirahat, Satrio tetap terjaga.  


Seseorang masuk ke ruangan itu Satrio mulai waspada. Ia segera memasukkan kedua kakinya ke dalam gelang baja yang terhubung rantai. Begitu juga dengan kedua tangannya, tapi semuanya tidak dalam keadaan terkunci. Jika ada yang melihatnya, orang itu akan mengira Satrio masih dalam keadaan terbelenggu.


Awalnya, Satrio mengira orang itu adalah penjaga atau Danang yang ingin mengganggunya lagi. Ternyata dugaannya salah.


"Jangan berisik, nanti penjaga di luar akan curiga," bisik orang itu setelah berada di dekatnya.


Satrio yang penasaran akhirnya diam. Ia ingin tahu, apa yang akan dilakukan oleh lelaki yang ada di depannya.


Ternyata lelaki itu bermaksud melepaskan borgol di kedua tangan Satrio yang masih terlihat tergantung di atas tiang, juga di kedua kakinya.


Orang itu tidak menjawab. Ia hanya mengeluarkan sebuah benda seperti jarum kemudian mendekatkan ke pergelangan tangan Satrio.


Seketika raut mukanya berubah. Serta merta, lelaki itu menatap Satrio dengan tatapan penuh makna.


"Anda memang luar biasa," bisik lelaki itu.


Melihat muka Satrio yang bonyok, hampir tak dikenali, tetapi tetap tegar dan tetap teguh menjalankan misi, membuat pemuda itu semakin kagum.


Kemarin ia sempat meragukan kejujuran Satrio. Sekarang, ia tidak akan pernah menyesal telah menjadikan Satrio sebagai idolanya. Dari dulu hingga sekarang, Satrio memang tidak pernah berubah. Dan ia akan terus dan selalu mengaguminya.


Satrio tidak menjawab. Ia juga tidak tersenyum ataupun menyeringai. Wajahnya tetap datar tanpa ekspresi.


Sebenarnya Satrio sudah menduga lelaki itu akan datang padanya, tetapi menurut perkiraannya, tidak secepat itu.


Tanpa banyak bicara, lelaki itu mengeluarkan sebotol air mineral dari ransel dan memberikan pada Satrio. Ia juga memberikan ransum darurat dan sebutir kapsul pengganti makanan.


"Cepatlah, jangan sampai mereka bangun dan mendengar kita. Tubuh Anda belum pulih benar, jadi manfaatkan waktu sebaik-baiknya."


Satrio tidak menjawab. Ia segera meminum air itu dan memakan ransum darurat dengan cepat, kemudian mengantongi kapsulnya


"Alhamdulillah."


"Kapsulnya?" tanya lelaki itu mengingatkan


"Tadi sudah."


Lelaki itu kembali mengeryitkan dahi. Jejak kekaguman terlukis di sana.


Satrio tidak menghiraukan. Ia meneguk sekali lagi air yang ada di dalam botol. Meski belum pulih benar, tetapi tubuhnya kini lumayan segar dan bertenaga.


"Saya sudah memastikan kalau Pak Wijaya tidak akan pernah datang. Jadi, kita tidak melanjutkan rencana A."


Satrio kini yang terkejut. Ia menatap sekilas lelaki itu. Wajahnya tetap tanpa ekspresi.


"Jadi, kau sudah bertemu dengan Bos Adrian?" tanya Satrio.


Tanpa menunggu jawaban dari lelaki yang ada depannya, Satrio langsung menekan tombol hijau yang ada di jamnya.


[Sudah dengar semuanya, kan?] tanya Satrio tanpa basa-basi.


[Wijaya betul-betul seperti belut. Kita tidak akan bisa menjebaknya karena dia tidak akan pernah datang ke tempat itu]


[Trus?]


[Gunakan plan B]


[Dan dia?] pertanyaan itu merujuk pada lelaki yang ada di depannya.


[Dia akan menuruti semua petintahmu]


[Jadi, Kakak sudah bertemu dengannya?]


[Ya]


[Oke, siap]


[Berhati-hatilah]


Satrio menekan tombol merah kemudian pandangannya beralih ke lelaki di depannya.


Melihat itu, lelaki yang ada di depan Satrio semakin takjub.


"Sekarang!" Satrio memberi perintah.


"Siap!"


Lelaki muda itu segera mengeluarkan senjata laras panjang dan sebuah pistol, kemudian memberikan pada Satrio. Sementara, ia sendiri memegang masing-masing satu


Milik Satrio sendiri sudah dirampas saat ia berpura-pura tertangkap dua hari yang lalu. Untungnya, pasukan yang menangkapnya tidak menyadari kegunaan jam yang ada di pergelangan tangan Satrio. Karena itu, benda itu masih melekat sampai sekarang dan ia gunakan untuk berkomunikasi dengan Adrian.


Sebenarnya, ia masih punya satu lagi, yaitu dengan kakinya. Hanya saja, Satrio menggunakannya untuk berjaga-jaga.