
Qia membuka matanya. Tubuhnya terasa sangat lemas dan sakit semua. Pikirannya belum genap sehingga belum tahu apa yang sedang terjadi.
Saat berusaha untuk meregangkan tangannya yang terasa capek dan kesemutan, ia sangat terkejut karena tubuhnya tidak bisa digerakkan. Barulah ia menyadari kalau saat itu tidak sedang berada di tempat tidur seperti sebelumnya, tetapi ia sedang duduk dalam keadaan tangan dan kaki terikat.
"Astaghfirullah, di mana aku ini?" Pikiran wanita itu seketika bermain.
"Ya Allah, bukankah tadi aku sedang berada di rumah sakit? Apakah sekarang aku sedang diculik?"
Seketika wajah Qia yang semula sudah pucat kini semakin pucat. Ia berusaha untuk melepaskan ikatan di tangan dan kakinya, tetapi ikatan itu terlalu kuat, apalagi tubuhnya memang sangat lemah. Akhirnya, wanita cantik itu pasrah.
Namun, beberapa saat kemudian, Qia mencoba untuk membuka ikatan itu lagi. Seperti yang sudah-sudah, ia tidak sanggup melakukan.
Dengan cepat, matanya mengitari sekeliling, mencoba mencari sesuatu yang sekiranya bisa digunakan untuk membuka ikatan.
"Sepertinya ini sebuah gudang. Tapi di mana ini?" batin Qia karena melihat beberapa benda yang berserakan. Hatinya sedikit girang begitu melihat beberapa benda yang ia cari. Ia segera menggeser tubuhnya sedikit untuk mendekati benda itu.
Namun, karena tubuhnya terlalu lemah, ia hanya mampu bergeser kira-kira satu langkah saja. Itu saja sudah ngos-ngosan.
"Apa mereka tadi memberiku obat tidur? Atau justru malah obat bius?" pikirannya.
Qia semakin yakin dengan pemikirannya itu karena merasa tubuhnya sangat lelah. Ia yakin hal itu disebabkan karena pengaruh obat itu masih ada. Tiba-tiba ia meraba perutnya. Ia ia dengan perkataan dokter Fitri tentang bahaya obat tidur bagi perkembangan janinnya.
"Semoga kamu baik-baik, Nak. Kamu harus kuat seperti ayahmu."
Tiba-tiba ia merasa sangat merindukan suaminya.
"Kak, kamu di mana? Cepatlah datang, Qia takut banget. Qia juga takut anak kita akan kenapa-kenapa," batin Qia sambil meraba perutnya yang masih rata sekali lagi.
Seolah saling terhubung, di tempat terpisah, Satrio tiba-tiba merasakan nyeri di ulu hatinya.
"Astaghfirullah, Qi." Kalimat itu keluar begitu saja dari bibirnya.
"Kenapa?" tanya Adrian yang ada di depan terkejut.
"Entahlah, Kak. Gue khawatir banget sama Qia. Tiba-tiba saja hatiku ini seperti sedang diremas-remas," jawab Satrio sambil menatap Adrian tanpa daya.
Ia tidak peduli lagi dengan gengsinya. Ia tidak peduli jika dikatakan sebagai budak cinta. Ia hanya ingin mengungkapkan isi hati pada kakaknya.
"Tenanglah, kita pasti akan menemukannya segera. Lagipula, istrimu itu bukan wanita biasa, ia pasti akan baik-baik saja," kata Adrian berusaha untuk meyakinkan dan menenangkan Satrio.
Padahal, jujur saat itu ia sendiri juga tidak yakin dengan perkataannya. Ia sebenarnya sangat khawatir dengan kondisi Qia, terlebih istri adiknya itu sedang hamil. Dari informasi terakhir yang ia dapatkan, saat itu Qia tidak dalam kondisi baik-baik saja. Namun, Adrian tidak ingin membuat Satrio semakin khawatir. Itu sebabnya, ia tidak menceritakan kondisi Qia pada adiknya itu.
"Coba hubungi anak buahmu lagi, siapa tahu sudah ada yang mendapat petunjuk. Aku akan menelpon Andika sekarang, kenapa anak itu belum juga nongol," kata Adrian lagi.
Namun, belum sempat Adrian membuka ponselnya, orang yang baru saja dibicarakan itu sudah nongol di hadapan mereka.
"Gimana, apa kamu sudah mendapatkan informasi tentang tempat-tempat yang sekiranya dijadikan persembunyian Wijaya Kusuma?" tanya Adrian setelah mereka berbalas salam ala militer.
"Duduklah, tidak usah terlalu formal. Kita sedang bertukar pikiran untuk mencari solusi dari persoalan ini!" Ucapan Adrian terdengar sangat tegas dan berwibawa.
Andika menurut. Ia duduk di salah satu kursi yang masih kosong, tidak menyangka bisa duduk sejajar bersama dengan orang-orang hebat yang selama ini ia kagumi.
"Bagaimana?" tanya Adrian.
"Ada beberapa tempat yang biasanya dikunjungi oleh Pak Wijaya untuk berlibur, juga beberapa tempat-tempat yang dijadikan sebagai tempat mangkal anak buah Pak Wijaya. Saat ini, anak buah saya sedang melacak tempat-tempat itu satu-persatu," jelas Andika.
"Bagus!" jawab Adrian.
Pandangan lelaki itu kini beralih pada adiknya.
"Gimana?"
"Belum ada perkembangan. Dari CCTV yang kini sudah dipulihkan, terlihat dua orang lelaki berpakaian dokter dan perawat mendorong brankar dari kamar Qia. Itu pasti anak buah Wijaya. Aku yakin, kalian sudah mendapatkan informasi tentang hal itu," jawab Satrio.
Adrian menghela napas. Kabar tentang itu sudah ia terima. Menurut informasi, dua orang itu pergi dengan ambulan, kemudian berganti mobil tanpa plat di sebuah gang tak jauh dari rumah sakit. Namun, mobil tak berplat itu berhasil ditemukan di tanah kosong yang terletak di pinggir jalan rasa Albatros KM 5. Saat ditemukan, mobil itu dalam keadaan kosong.
Adrian yakin, mereka sudah berganti mobil lagi agar bisa menghilangkan jejak.
Sementara itu, berita di televisi semakin simpang siur. Sejak menerima laporan bahwa Satrio berhasil kabur dan memorak-porandakan markas ilegalnya, Wijaya Kusuma menjadi kalap. Ia bersyukur tidak jadi pergi menemui pemuda sialan itu. Kalau tidak, ia pasti sudah terjebak bersama dengan pasukannya itu.
"Hampir saja kita tertangkap basah. Dasar sialan! Lihat saja, aku pasti akan membuatmu menyesal karena sudah membuatku rugi miliaran," gerutu Wijaya kesal.
"Lantas, apa langkah kita selanjutnya?" kata mitra yang sedang duduk di sebelahnya.
"Tenang saja, aku masih memiliki kartu As. Jangan lupa, gadis itu kini berada di tangan kita. Aku sudah lama menahan diri untuk tidak bertindak terhadap gadis itu hanya karena menjaga perasaan Andre. Tapi, kali ini, pemuda brengsek itu memaksaku untuk melakukannya," dengkus Wijaya Kusuma kesal.
"Kalau anak kesayanganmu itu mengetahuinya bagaimana? Apa kau sanggup berhadapan dengannya?" tanya sang mitra.
Mendengar itu, Wijaya Kusuma hanya menghela napas. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan itu karena menyadari bahwa Andre adalah kelemahannya.
"Sudah kuduga, kau tidak akan pernah berani berhadapan dengannya," sindir sang mitra.
"Kalau mulut kamu tidak 'nggacor', tentu Andre tidak akan pernah mengetahuinya," jawab Wijaya Kusuma.
Lelaki itu lalu mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja, kemudian mulai menelpon.
"Bagaimana?"
"Beres, Bos, gadis itu sudah berada di tangan kita," jawab suara di seberang.
"Baiklah, sekarang tugasmu, hubungi media segera. Buat jadi panas seolah-olah pemuda itu sedang berbuat onar. Bila perlu, Pampang fotonya di berbagai media agar ia tidak berkutik. Dengan begitu, ia tidak akan bisa bergerak dengan leluasa untuk mencari istrinya. Aku ingin tahu, sampai kapan ia bisa bertahan dengan dengan situasi seperti ini," kata Wijaya Kusuma sambil tertawa terbahak-bahak sampai mengeluarkan air mata.