Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
21. Lamaran



Hari ini Qia sengaja tidak mengajar meski sebenarnya ada jadwal. Nanti sore, Umi Silmi sekeluarga akan datang melamar untuk kedua kali. Entah mengapa kali ini Qia berdebar-debar. Sungguh ia merasakan sensasi yang luar biasa. Ini berbeda dengan saat Prasetyo melamar. Saat itu, ia merasa biasa-biasa saja.


Kepada Ningrum, Qia belum berani cerita apa-apa. Qia tidak ingin terjadi perang dunia ke tiga di sekolah. Bagaimanapun, ia tetap khawatir dengan respon Andre kalau mengetahui bahwa Qia akan dilamar untuk yang kedua kalinya.


"Kamu sudah siap, Qi?" tanya Bu Mirna sumringah.


Sejenak, gadis itu menatap ibunya.  "Sebenarnya, Qia masih belum tahu harus bagaimana," kata Qia jujur.


"Qi, ayah dan ibu tidak memaksamu. Tapi, yang harus kamu ingat, kehidupan tidak berhenti karena kepergian Pras. Kamu harus tetap melanjutkan hidup ini dan berjuang untuk meraih kebahagiaan!" jelas Bu Mirna.


"Ini tidak ada hubungannya dengan Kak Pras, Bu. Insyaallah Qia sudah mengikhlaskannya. Hanya saja, Qia belum tahu banyak tentang Satrio."


"Ibu paham, Qi. Namun, Ibu percaya sama Umi Silmi. Beliau tidak hanya baik, tapi juga sangat menyayangimu. Begitu pula dengan Abi Kun. Mereka tidak akan menjerumuskan Qia pada penderitaan. Mereka tidak mungkin mencarikan jodoh yang tidak baik meski itu anak sendiri," jelas Bu Mirna lagi.


Sampai di sini, Qia merasa semakin tak berdaya. Terlebih setelah mengetahui kalau ayah dan ibunya sudah mantap dengan Satrio. Saat melakukan istikharah, ia belum mendapat petunjuk apa-apa meski sudah dilakukan berulang-ulang.


"Petunjuk itu tidak harus melalui mimpi, Dek, tapi juga bisa dengan kemudahan-kemudahan yang anti dapatkan. Kalau kalian berjodoh, maka Allah akan mempermudah prosesnya. Tapi kalau tidak, biasanya ada saja rintangan menuju ke sana," jelas Ustazah Kamila suatu ketika.


Kalau ingat kata-kata itu, Qia menjadi agak lega. Masalah jodoh memang terlalu rumit. Ini adalah rahasia Ilahi. Sungguh ia tidak mampu meraba atau menanganinya sendiri. Saat ini, yang mampu ia lakukan hanyalah menyerahkan urusan itu pada Yang Maha Berwenang. Gadis itu akhirnya memilih pasrah.


**"


Pukul empat sore, rombongan Umi Silmi sudah tiba. Hanya ada mereka bertiga, Abi Kun, Umi Silmi, dan Satrio. Bu Mirna sekeluarga menyambut dengan hangat.


Memang tidak ada sajian istimewa. Yang ada hanya sedikit kue dan makanan sederhana. Namun, kedua keluarga merasakan sesuatu yang sangat istimewa. Qia sendiri sampai terhanyut dengan keakraban di antara mereka.


"Kamu baik-baik saja, kan, Qi?" tanya Umi Silmi sambil cipika-cipiki. Seperti biasa, wanita itu lalu memeluk Qia.


Entah mengapa, saat berada dalam pelukan wanita itu, Qia ingin sekali melebur di dalamnya. Ia merasa nyaman dan damai, persis ketika ibunya sedang menenangkannya. Karena itu, Qia sengaja berlama-lama. Ingin sekali ia mencurahkan segala rasa dan gundah.


Namun, suara deheman di belakang Umi Silmi menyadarkannya. Tadi ia seolah sedang terbang ke angkasa dan sekarang suara itu membuatnya jatuh, terjerembab lagi ke tanah.


Melalui pundak Umi Silmi, Qia melirik sekilas ke sumber suara itu. Kebetulan, saat itu sang pemilik suara juga sedang menatapnya, seolah memberi peringatan bahwa wanita yang dipeluk itu adalah ibunya, miliknya, Qia tidak boleh berlama-lama.


"Dug!"


Qia jadi berdebar-debar tak keruan. Tuh, kan, penglihatannya tidak salah. Senyum pemuda itu, betul-betul tidak biasa. Tarikan ke atas di sudut kanan bibir itu lebih menyerupai serigaian, seperti mengandung ejekan dan cemoohan. Atau apalah artinya, Qia tidak bisa menerjemahkan.


Dan mata elang itu ... masih seperti yang dulu, tajam dan menakutkan. Seolah siap untuk menerkam mangsa.


Qia jadi takut. Ya, betul. Ini adalah perasaan takut. Qia takut akan segala-galanya. Akhirnya ia bisa mendefinisikan apa yang dia rasakan selama ini.


Karena itu, bukannya melepaskan pelukan, ia malah mempereratnya. Sejenak ia membenamkan diri di dalamnya, sampai mendapat sedikit kekuatan. Umi Silmi seolah mengerti kegalauan yang dirasa Qia. Wanita itu pun membalas dan menanggapi dengan mengelus kepala gadis itu dengan lembut untuk menenangkan.


Saat Qia melepas pelukan itu dan memberanikan diri mengangkat wajah, dia masih melihat Satrio sedang memandang dengan tatapan yang sama.


Qia menjadi semakin geram. Beruntung ia sudah memiliki sedikit kekuatan. Karena itu, dengan sedikit keberanian, gadis itu melotot dengan galak ke arah Satrio.


LIhatlah, bukannya takut, pemuda itu malah tersenyum mengejek sambil membuang muka. Qia jadi tambah kesal.


Tapi, kenapa hanya Qia saja yang menangkap gelagat tidak baik dari Satrio, ya?


Yaa, kejadiannya memang tidak lama, hanya sekilas pandang. Tentu saja Satrio bersikap seperti itu di saat semua orang sedang tidak memperhatikan mereka.


"Hemm, betul-betul licik," gerutu Qia dalam hati.


**"


"Alhamdulillah, akhirnya sampai juga kami dengan selamat," kata Abi Kun sambil meletakkan pantatnya.


"Alhamdulillah, semua atas rahmat dan karunia dari Allah," jawab Pak Zul. "Mari, silakan," lanjut Pak Zul sambil mempersilakan mereka duduk.


Umi Silmi duduk di sebelah Abi Kun di sofa panjang. Satrio duduk di samping kiri di sofa kecil. Sementara, Bu Mirna dan Qia duduk berhadapan dengan Abi Kun dan Umi Silmi, sedangkan Pak Zul duduk di samping, berhadapan dengan Satrio. Dengan begitu, Qia tidak langsung berhadapan dengan Satrio ketika dia harus mengangkat wajah.


Mereka berbasa-basi sejenak, saling menanyakan kabar masing-masing. Hidangan juga sudah disuguhkan di atas meja. Kelihatan sekali kalau mereka sangat akrab.


Hanya dua orang yang sedang berseteru dalam diam. Raga mereka tak bergerak, tapi hati dan mata mereka saling menghujat. Setidaknya, itu yang ada dalam anggapan Qia.


Tiba-tiba gadis itu tersadar, jangan-jangan ini adalah permainan setan yang ingin menjerumuskannya dalam zinah hati dan mata. Astaghfirullah, Qia jadi takut. Serta merta ia menunduk, tak perduli dengan anggapan Satrio tentangnya. Biarlah, untuk saat ini ia dianggap kalah.


Dulu, saat Pras melamar, ia tidak seperti itu. Entah karena sudah pernah mengalami peristiwa lamaran, atau karena apa, yang jelas saat ini rasanya berbeda.


Kalau dulu, bahkan ia tak berani memandang sedikit pun ke arah Pras. Bukan karena takut, tetapi aura yang dipancarkan lelaki itu memang luar biasa. Pras sungguh tampak berwibawa. Bicaranya kalem, tapi tegas. Kelihatan sekali kalau ia orang yang sangat serius. Dan itu setipe dengan Qia.


Memang Qia tidak merasa berdebar-debar saat itu. Akan tetapi, Pras adalah calon imam yang ideal, seperti yang ia impikan selama ini. Sayangnya, Allah tidak menghendaki lelaki itu berjodoh dengan dirinya.


Qia semakin menunduk. Tiba-tiba hatinya kembali tersayat-sayat. Mungkinkah ia memang belum pantas? Pikiran-pikiran buruk itu kembali menghantui Qia.


Tak jauh dari tempat duduknya, tepatnya di samping meja, sepasang mata elang itu diam-diam sedang mengamati setiap perubahan yang ada di muka Qia.


-Bersambung-