
Satrio mondar-mandir di ruang kerja. Saat jarum jam menunjuk ke angka sebelas, ia segera keluar dari ruangan karena tamunya tidak kunjung datang. Sebuah notifikasi berupa pesan masuk ke jam ajaibnya. Sebuah nama tertulis di layar, Adrian.
[Gue gak jadi ke sana]
Satrio menghela napas panjang. Ia tidak marah atau kecewa. Justru suami Qia itu mencemaskan Adrian karena paham betul bagaimana situasinya di markas. Secara berkala mete memang saling berbalas pesan.
Akhirnya, Satrio kembali ke kamar kemudian mencoba beristirahat di samping Qia.
Dua minggu telah berlalu. Berita mengenai Satrio yang menjadi buronan karena telah mengkhianati satuan terus digoreng. Sementara itu, Adrian tidak muncul sama sekali untuk memberikan klarifikasi. Itu sebabnya, Qia dan para orang tua semakin cemas karena tidak ada yang mengetahui kondisi yang sebenarnya di luar sana. Mereka juga tidak tahu, sampai kapan semua cobaan itu akan berakhir.
"Kau baik-baik saja, Qi?" tanya Umi Silmi begitu melihat wajah Qia yang semakin pucat. Wanita itu memang sangat perhatian sama menantunya, persis seperti Bu Mirna.
"Qia baik-baik saja, Mi," jawab Qia pelan. Akhir-akhir ini tubuhnya memang kurang sehat.
Mungkin karena banyak pikiran. Apalagi, ada perasaan bersalah pada suaminya yang kini nama baiknya sedang tercemar gara-gara dirinya.
"Jangan banyak pikiran. Yakinlah, Allah akan memberi pertolongan. Kamu juga harus yakin kalau Satrio pasti bisa mengatasi ini semua," nasihat Umi Silmi.
"Iya, Mi."
Saat itu mereka sedang duduk di ruang tengah sambil menonton TV. Di ruangan itu juga ada Bu Mirna dan Pak Zul.
"Kamu istirahat saja, Qi," kata Bu Mirna.
"Tiap hari Qia juga tidak melakukan apa-apa, Bu. Istirahat terus malah tambah sakit, Bu," kata Qia.
Dua wanita tua itu hanya saling pandang, kemudian menghela napas.
"Ngobrolin apa, nih, asik banget," kata Satrio yang baru saja muncul bersama dengan Abi Kun.
"Beritanya ini loh, Sat, tiap hari begitu-begitu saja," jawab Pak Zul mengalihkan pembicaraan sambil menunjuk siaran televisi.
Tampak beberapa tokoh masyarakat tampil di media dengan wawancara hebat mereka. Yang paling terlihat menonjol adalah Wijaya Kusuma dan Satya Wiguna dan seseorang yang tampak tidak asing di mata Qia.
"Bukankah itu Satya Wiguna?" gumam Qia ketika mereka sedang berada di ruang tengah.
"Kamu kenal, Qi?" tanya Umi Silmi heran.
"Orang terkenal, Mi. Semua orang juga kenal," jawab Qia.
"Umi, mah, gak tahu politik, Nak, jadi gak begitu kenal," jawab Umi Silmi lagi.
"Ibu juga," timpal Bu Mirna.
"Itu loh, Bu, yang dulu anaknya pernah ngelamar Qia, barengan sama Andre," jelas Pak Zul.
"Oh, yang itu? Tahu tahu, berarti yang diwawancarai itu orang tua si Bayu?" tanya Bu Mirna.
Pak Zul mengangguk, sementara Abi Kun dan Umi Silmi saling pandang. Mereka dulu sudah mendapat informasi kalau Qia pernah dilamar dua anak pejabat, tapi tidak pernah menyangka kalau keduanya betul-betul terpandang. Untungnya mereka tampak biasa-biasa saja. Hanya Satrio yang memasang muka masam.
Qia melirik lelaki itu sekilas. Melihat wajah tampan tetapi tidak enak dipandang, wanita cantik itu menyikut ringan lengan suaminya.
"Jelek," bisik Qia pelan. Tidak ada seorang pun yang mendengar kecuali suaminya.
Satrio melirik Qia sekilas. Ia tahu kalau sang istri sedang menggodanya.
"Awas saja, siap-siap menerima hukuman tar malam," bisik Satrio tak kalah pelan. Wajahnya masih terlihat datar.
"Iya, padahal dulu mereka selalu berseteru, sekarang mulai bersatu." Kali ini Abi Kun yang berkomentar.
Sama dengan Wijaya Kusuma, Satya Wiguna juga termasuk sepuluh orang terkaya dan merupakan orang penting di pemerintahan. Sudah sejak lama dua orang itu tampak tidak akur. Namun, entah mengapa akhir-akhir ini mereka nampak kompak.
"Trus, bagaimana rencanamu berikutnya, Sat? Apa akan begini terus? Di luar sana kamu dicap sebagai buronan, loh, Sat?" Kali ini Umi Silmi yang berbicara.
"Kita lihat saja nanti, Mi. Percayalah, saya dan Kak Adri sudah punya rencana. Hanya saja, kami menunggu waktu yang tepat untuk melancarkan serangan balik. Kalian tahu, publik sudah termakan opini. Begitu juga dengan para pejabat tinggi," kelas Satrio.
"Nah, itu dia. Ibu tuh, gak habis pikir, kenapa ya para pejabat itu bisa termakan opini menyesatkan seperti itu? Padahal, mereka kan orang-orang yang pintar dan cerdas," kata Bu Mirna.
"Iya, saya juga berpikir begitu Mbak Mirna. Apa karena mereka sakit hati? Gara-gara Satrio sudah lebih dulu melamar Qia, akhirnya mereka tidak bisa menjadikan Qia sebagai menantu?" timpal Umi Silmi.
Mendengar itu, Satrio dan Qia saling pandang. Mereka memang belum tahu kejadian sebenarnya. Tentu saja mereka tidak pernah menyangka kalau orang baik seperti Wijaya Kusuma adalah salah satu dalang di balik itu semua.
Namun, melihat orang tua Bayu yang juga getol beropini tentang Satrio dan dirinya, Qia jadi berpikir, apakah Satya Wiguna adalah orang ketiga yang saat itu membelakangi kamera?
Qia sangat penasaran, tetapi ia tidak bisa menanyakan hal itu sekarang pada suaminya karena ada banyak orang di sana. Ia bertekad untuk menanyakan hal itu saat mereka sedang berdua. Ia sangat yakin kalau suaminya mengetahui sesuatu tentang hal itu.
Sementara itu, Adrian datang keesokan harinya pukul satu dini hari, kemudian langsung masuk ke ruang kerja Satrio. Di sana, suami Qia itu sedang sibuk mengutak-atik laptopnya.
"Kalian baik-baik saja, kan?" tanya Adrian sambil menjatuhkan tubuhnya di kursi, tepat depan meja kerja Satrio.
Satrio menatap sekilas lelaki yang sudah menjadi kakaknya itu. Kemudian menghela napas panjang.
"Kami baik-baik saja. Gue rasa, lo yang gak baik-baik saja, Kak," jawab Satrio sambil mengamati pemuda di depannya.
Tidak seperti biasa, malam itu Adrian memang terlihat sangat lusuh. Kelihatan sekali kalau orang nomor satu di kesatuan itu sangat lelah.
Sejak adanya kasus yang menimpa Satrio, kerjaan Adrian memang lebih banyak, terlebih sejak kasus penyerangan dua minggu yang lalu, ia sama sekali tidak istirahat.
"Istirahatlah dulu, Kak, besok pagi kita bahas lagi," kata Satrio lagi.
"Gak bisa, besok pagi gue harus sudah balik," jawab Adrian sambil meregangkan otot-otot di tubuhnya.
"Kalau gitu, kenapa lo paksain ke sini juga? Besok kan bisa," omel Satrio.
"Gue perhatikan, lama-lama lo cerewet banget, ngalahin Qia saja. Mending Qia, cerewetnya di media, lah lo ...?" Kali ini giliran Adrian yang protes.
"Kenapa bini gue dibawa-bawa?" dengkus Satrio kesal.
"Ini fakta," balas Adrian kesal.
"Terserah lo, lah. Rugi gue perhatian sama lo," kata Satrio kesal.
"Eeehh ... , siapa juga yang minta lo perhatian? Bukan lo banget, kale" jawab Adrian sambil menirukan gaya anak-anak lebay.
"Ya sudah, biar gue suruh Badrul bikin minuman dulu. Tar dikira Adek durhaka juga, gue."
Satrio berkata sambil melangkah keluar.
"Lo mau ke mana? Pakai telpon kan bisa?" tanya Adrian heran.
"Sekarang mau lihat Qia sebentar. Tadi dia kurang enak badan."
Setelah Satrio pergi, Adrian meregangkan ototnya sebentar sambil merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang. Mungkin karena saking capeknya hingga ia sudah terlelap ketika Satrio datang.