
Hallo Readers, bab ini tidak bermaksud menyinggung siapa pun. Setiap kata dan adegan di dalamnya semata-mata ditujukan untuk memperoleh 'feel' dari cerita ini.
Selamat membaca, jangan lupa like dan komen ya, biar author semakin bersemangat ❤️❤️❤️
***
"Kenapa harus takut? Suamiku mau diambil orang, aku tidak mungkin diam, kan?" ujar Qia serius.
Satrio, "???"
Adrian, "????"
Dokter Iman, "???"
"Ha ha ha." Akhirnya tawa Dokter Iman dan Adrian pecah. Sedangkan Satrio hanya tersenyum simpul.
"Kenapa berpikiran seperti itu? Bagaimana kamu tahu kalau Anita naksir sama suamimu?" tanya Adrian membuat wajah Qia memerah karena malu.
Ia sendiri heran, kok bisa sevulgar itu menjawab pertanyaan Bos Satrio.
Melihat itu, Satrio merasa gemas. Ia lalu mendekatkan tubuh Qia ke dirinya membuat wajah cantik itu semakin memerah.
"Beberapa hari yang lalu Mbak Anita datang ke rumah, Kak," jawab Qia canggung. Sejujurnya ia masih merasa sungkan sama atasan suaminya itu. Apalagi, ia harus memanggilnya kakak.
"Oh ya? Dasar Anita. Rupanya ia bertindak cepat," kata dokter Iman sambil tertawa.
"Memangnya, Anita bilang kalau naksir sama Kakak?" cibir Satrio membuat sang istri merasa kesal.
"Ya ... secara tersirat memang begitu. Ingat ya, Kak, pembicaraan kita kemarin tentang hal ini belum selesai. Kakak masih punya utang penjelasan pada Qia," bisik Qia mengingatkan.
Suaranya cukup pelan. Namun, dua orang yang mereka anggap sebagai kakak itu bukan orang sembarangan. Mereka adalah orang-orang yang terlatih. Tentu saja kata-kata Qia tersebut masih dapat mereka dengar.
"Wah wah wah, kalau yang itu ... kita gak ikut-ikutan, Brow," kata Adrian sambil tertawa meledek.
"Tapi hebat, loh, Dri. Sekarang adek kita sudah punya bodyguard. Lumayan, bisa buat ngusir lalat-lalat yang selalu mengerubunginya."
Kali ini dokter Iman yang berseloroh membuat Qia semakin malu. Bukannya, selama ini Satrio yang selalu menjaga dan melindungi Qia? Kenapa sekarang posisinya terbalik?
Ketiga orang itu akhirnya saling bully membuat Qia semakin canggung.
Untungnya, tak lama kemudian, Hendra datang sambil membawa makanan dan minuman untuk Satrio dan Qia. Dua lelaki tampan yang kini menjadi kakak Qia itu pun akhirnya membiarkan sepasang suami istri itu berduaan.
Malam itu, Satrio dan Qia menginap di rumah sakit. Mereka tidur di ranjang yang sama, tempat Satrio dirawat. Besoknya mereka sudah boleh pulang.
***
[Gue perlu bicara. Ini penting]
[Lo mau gue ke markas sekarang juga?]
[Tidak perlu. Lo masih harus banyak istirahat]
[Baguslah kalau lo masih punya nurani]
[Dasar lo, memang adik durhaka]
[Trus]
[Gue akan datang ke rumah lo nanti siang. Sekalian sama Iman. Dia mau lihat luka lo]
[Pakai alasan ngomong hal penting. Bilang saja kalau kalian mau minta makan siang, kenapa]
[Dasar lo, ya. Bukannya itu wajar, seorang adik menjamu kakak-kakaknya?]
[Terserah lo, lah. Lo kan bosnya]
Telpon ditutup. Satrio memberi tahu Qia kalau nanti siang kedua kakak mereka akan datang.
"Maaf, kali ini Kakak sedikit merepotkanmu. Mereka akan datang saat jam makan siang," kata Satrio sambil menatap istrinya.
"Tidak apa-apa, Kak. Qia tidak merasa repot, kok. Kakakmu adalah kakakku juga." Qia balas menatap.
Qia mengangguk, tapi tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menatap suaminya lekat. Entah mengapa, Qia merasa suaminya saat ini sangat tampan. Apalagi, saat itu mereka saling berhadapan dengan posisi sangat berdekatan.
Satrio sendiri juga merasa seperti itu. Ia merasa istrinya lebih cantik dari biasanya. Padahal sehari-hari gadis bermata kelinci itu sudah sangat cantik.
Di dalam rumah hanya ada mereka berdua. Itu sebabnya Qia berani tidak menutup kepalanya. Rambut hitam yang panjang itu dibiarkan tergerai, membuat yang punya semakin terlihat memesona.
Satrio merapikan sejenak anak rambut yang menutupi kening Qia. Sambil terus menatap, tangan kokoh itu kemudian membelai wajah cantik istrinya.
"Cantik sekali," gumam Satrio membuat wajah gadis itu semakin memerah. Jarang-jarang lelaki itu mengutarakan perasaannya.
Jantung mereka sama-sama berdetak kencang. Mungkin karena terbawa suasana, tiba-tiba Qia berkata dengan suara bergetar.
"Kau tau, Kak, saat ini Qia merasa seperti berada di dalam pusaran, terombang-ambing di tengah ganasnya gelombang. Aku tidak tau kenapa hatiku bergetar, jiwaku seolah sudah tak normal.
Kak, apa Qia ini sudah gila, sampai-sampai, Qia bingung harus bagaimana? Bahkan, tiba-tiba saja Qia merasakan kerinduan yang amat mendalam.
Kak, Qia ingin pulang."
Suara Qia terdengar bergetar. Entah keberanian dari mana yang membuatnya mampu mengucapkan kalimat itu.
Tak dimungkiri, kejadian penembakan kemarin sempat membuat gadis itu terguncang dan sangat takut kehilangan suaminya. Mungkin itu yang menjadi penyebabnya.
Sementara itu, Satrio masih menatap lekat gadisnya. Tangannya masih membelai wajah cantik itu. Hatinya tercekat mendengar kalimat demi kalimat yang meluncur dari bibir ceri itu. Jujur, ia ikut bergetar. Jantungnya semakin bertalu. Suatu perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya kini menghentak-hentak di dada. Sungguh, ia mengerti makna dari kata-kata yang diucapkan istrinya.
"Dan kau sudah tahu, ke mana harus pulang," bisik Satrio akhirnya. Suaranya terdengar serak, tetapi sangat lembut.
Tanpa banyak bicara lagi, pria itu meraih Qia ke dalam pelukannya. Ia tahu, bagi Qia tempat yang paling nyaman adalah di dalam pelukannya. Tempat itu adalah rumah bagi Qia.
"Ini adalah rumahmu. Kau bisa datang kapan saja yang kau mau. Sesering yang kau mau. Hanya untuk kamu," bisik Satrio lembut, masih dengan suara yang serak. Pemuda itu semakin mempererat pelukannya.
Dalam hati Qia bertanya-tanya, "Bagaimana ia tahu? Jangan-jangan ...."
***
Akhirnya, dua orang yang ditunggu itu pun tiba. Dokter Iman datang terlebih dahulu karena ia harus memeriksa keadaan Satrio. Untunglah pemuda itu staminanya memang sangat bagus. Jadi, tinggal menunggu luka di kepalanya mengering.
Kira-kira pukul setengah dua belas Adrian baru tiba. Karena makan siang belum siap, mereka pun menunggu di ruang kerja Satrio. Kalau sudah seperti itu, posisi mereka sudah kembali sebagai atasan dan bawahan.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Aku hanya pingsan kurang dari dua jam, apakah aku melewatkan sesuatu?" tanya Satrio.
"Sebenarnya tidak begitu genting. Hanya saja, ini cukup meresahkan masyarakat," jawab Adrian.
"Harus diperjelas di sini. Maksudnya meresahkan masyarakat atau segelintir orang?" tanya dokter Iman. Pikiran itu juga ada di benak Satrio.
"Tergantung, dari sudut mana kita memandang," jawab Adrian *******.
"Apa ini tentang akun-akun yang kebetulan terjaring sistem pengaman cyber crime kita?" tebak Satrio. Kebetulan tadi pagi ia sempat memeriksa sekilas.
"Ya," jawab Adrian singkat.
"Tadi sempat kuperiksa. Itu hanya tulisan dari para jurnalis yang ingin menyuarakan aspirasinya. Kurasa, tidak ada yang bertentangan dengan norma, baik kepatutan ataupun hukum yang berlaku," jelas Satrio.
"Aku tahu. Hanya saja, seperti katamu tadi, ada pihak-pihak yang merasa terganggu."
"Trus?"
"Sementara ini, kita tidak perlu melakukan apa-apa. Kita hanya perlu mengawasi mereka saja," kata Adrian sambil menyodorkan beberapa nama.
Satrio membacanya sekilas. Ada duapuluh nama. Matanya tiba-tiba sedikit membelalak ketika jatuh pada urutan ke sembilan.
"Kemilau Senja?" gumam Satrio.
"Kenapa? Kau mengenalnya?" tanya Adrian.
"Dia penulis novel idola Qia. Apa iya, ia nulis opini juga?" Gumam Satrio. "Kalau gitu, yang ini, biar aku saja yang mengawasinya."
"Oke."