Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
17. Terlalu Tampan



"Tapi kenapa saya, Pak?" tanya Satrio lagi, tanpa bermaksud melawan.


"Karena kamu yang memiliki kedekatan dengan mereka. Dan saya tegaskan sekali lagi...ini adalah perintah!"


Satrio tidak berdaya. Namun, ia bisa apa? Dirinya hanya bawahan. Ia tidak akan sanggup melawan sebuah kalimat sakti dari atasan, "Ini adalah perintah!"


Meski harus melawan nurani, ia harus melakukan, karena itu adalah perintah.


""""""""""""


"Qi, bagaimana seandainya Pak Andre mau melamarmu?" tanya Ningrum suatu siang. Saat itu, Qia mau mengajar ekstrakurikuler, sedangkan Ningrum bersiap-siap untuk pulang.


"Kenapa sih, kamu suka sekali berandai-andai?" Qia balik bertanya.


"Ini bukan berandai-andai, Qi. Ini fakta," jawab Ningrum sambil menatap Qia.


"Maksudmu, kamu diminta Pak Andre untuk bertanya tentang ini?" sindir Qia dengan nada datar.


"Ya, enggak, sih. Pak Andre tidak pernah memintaku seperti itu."


"Ah, kau ini... itu namanya berandai-andai," kata Qia pura-pura kesal.


Bagaimanapun, ia tidak pernah bisa marah pada sahabatnya ini.


"Terserah kamu ah. Yang penting jawab dulu pertanyaanku!" kejar Ningrum.


"Aku tidak mau menjawabnya."


"Tapi, kenapa?" tanya Ningrum.


Qia masih tidak mau menjawab. Gadis itu malah mengeluarkan ponsel dan mulai mengutak-atik benda ajaib itu.


"Qi... Aku masih menunggu jawabanmu...."


"Sudah kubilang, tidak akan kujawab," kata Qia.


"Kenapa?" ulang Ningrum.


"Kau sudah tahu jawabannya, Rum.  Aku sudah pernah bilang, kan?"


"Tapi, sekarang kondisinya beda, Qi. Sekarang Kak Pras sudah tidak ada," kata Ningrum lagi. Guru muda itu masih menatap mata Qia penuh harap.


"Rum, kamu sudah tahu alasannya. Ini bukan karena Kak Pras. Ada atau tidak ada Kak Pras, aku tetap tidak mau."


"Tidak bisakah kamu mempertimbangkannya sekali lagi? Pak Andre itu sempurna, Qi. Kurasa, ia cocok untuk kamu," kata Ningrum lagi. Rupanya gadis itu tidak mau menyerah.


Qia jadi heran, mengapa sahabatnya itu begitu ngotot, padahal dulu mereka sudah pernah membahas masalah ini. Apalagi, Qia tahu bahwa Ningrum juga sangat menyukai Andre. Mungkinkah lelaki itu memaksanya untuk membujuk dirinya?


"Kau benar, Rum. Dia memang sempurna,  terlalu sempurna untukku, malah. Dia terlalu tampan dan juga terlalu kaya, itu yang belum bisa kuterima. Satu lagi, misi dan visi kami juga berbeda,  itu yang paling utama. Dan kamu sudah tahu itu sejak mula," kata Qia mantap sambil memberisi buku-bukunya kemudian memasukkan ke dalam tas.


Ningrum diam. Ia bukannya tidak tahu tentang apa yang dikatakan sahabatnya itu. Tapi, itu dulu, sebelum Prasetyo meninggal. Dan sekarang, setelah tunangan Qia itu telah tiada, ternyata pendirian gadis itu tetap sama. Jauh di lubuk hati, sebenarnya Ningrum merasa lega. Namun, ia juga mencemaskan Andre. Rasa cemas itu mengalahkan benih-benih cinta yang mulai subur di hatinya.


"Sudahlah, tidak usah membahas masalah ini lagi. Aku ke kelas dulu, Rum.  Anak-anak sudah menunggu," pamit Qia, kemudian beranjak.


Sementara itu, Qia terus melangkah. Saat keluar dari ruangan itu, ia melihat Andre sedang berdiri di samping pintu. Sesaat, gadis itu tampak terkejut. Sudah berapa lama lelaki itu ada di sana? Mungkinkah ia mendengar semua pembicaraan antara dirinya dengan Ningrum?


Ah, bodoh amat. Baguslah, kalau ia dengar. Dengan begitu. Qia tidak perlu susah-susah menghindar, atau  menjelaskan sesuatu pada Andre tentang dirinya.


Gadis itu berhenti sejenak, lalu mengangguk sopan. Setelah itu bergegas menuju kelas, tanpa menoleh lagi ke belakang.


""""""""


Andre tertegun.


Jadi, seperti itukah anggapan Qia terhadap dirinya selama ini? Apa iya, dirinya terlalu tampan? Bukankah itu bukan kesalahannya? Sungguh, baru kali ini Andre merasa serba salah dengan mukanya sendiri. Padahal, selama ini, ia sangat membanggakannya.


Dan yang lebih mengherankan, Qia tidak suka karena dirinya terlalu kaya? Bukankah ini unik? Biasanya gadis-gadis pada nempel dan cari perhatian karena ia sangat kaya. Ini yang membuat Andre semakin tertantang dan penasaran.


Dan satu lagi. Qia bilang, misi dan visi mereka berbeda. Memangnya apa yang menjadi misi dan visi gadis itu?


Andre terdiam beberapa saat. Ekor mata pemuda itu masih mengikuti langkah Qia sampai gadis itu menghilang di balik tikungan. Ia masih berdiri dengan rasa penasaran. Sungguh,  ia butuh jawaban. Sejenak, ia masih tampak mematung. Kemudian buru-buru masuk ke dalam ruangan. Seulas senyum di bibir akhirnya mengembang. Ia tahu, jawaban pertanyaan itu ada di dalam.


""""""


Ningrum terkejut begitu mengetahui Andre tiba-tiba berada di dekatnya tanpa mengucap salam. Tidak biasanya sang atasan bersikap seperti itu. Dalam kondisi apa pun, lelaki itu tidak pernah melupakan adab dan sopan santun. Mungkinkah ada sesuatu yang tidak beres? Gadis manis itu merasa lebih terkejut lagi begitu mendengar pertanyaan yang dilontarkan Andre.


"Misi dan visi Qia?" ulang Ningrum dengan nada tanya. Tiba-tiba guru muda itu berdebar-debar. Mukanya menjadi merah.


"Mungkinkah Pak Andre mendengar pembicaraan dirinya dengan Qia tadi?" bisik hati Ningrum.


"Iya. Tolong jelaskan pada saya. Kamu pasti tahu banyak tentang Qia," pinta Andre lagi.


"Untuk yang ini, saya tidak bisa, Pak," tolak Ningrum hati-hati. Sungguh ia merasa tidak enak. Baru kali ini ia membuat lelaki yang diam-diam ia kagumi itu kecewa. Dan itu terasa sangat menyakitkan.


"Kenapa?" tanya Andre tak mengerti. Pemilik yayasan itu tampak mengernyitkan kening. Ningrum jadi semakin serba salah.


"Ini sangat rumit, Pak. Sebaiknya Pak Andre saya perkenalkan pada seseorang saja. Pak Andre bisa bertanya pada beliau sepuasnya," kata Ningrum.


Andre semakin  penasaran. Namun lelaki itu menurut saja ketika Ningrum mengambil ponsel di tasnya dan menghubungi seseorang.


"Baiklah...." jawab Andre singkat.


Ningrum tak mau membuang waktu. Gadis itu lalu menghubungi Ustazah Kamila dan menceritakan apa yang sedang terjadi. Sebenarnya ia merasa tidak enak juga, mengingat dirinya beberapa waktu ini tidak datang ke kajian yang diisi Ustazah.  Namun, demi Andre, gadis itu tidak mau mundur. Ia menghilangkan semua rasa sungkan yang mulai menggayutinya.


Ningrum meminta agar Ustad Hanif, suami Ustazah Kamila berkenan untuk menjawab segala unek-unek Andre terkait misi dan visi Qia.


Alhamdulillah, gadis itu merasa lega karena tak lama, Ustazah Kamila memberikan jawaban.


"Insyaallah,  Pak Andre akan dihubungi secepatnya," kata Ningrum.


"Baiklah....saya akan sabar menanti. Terima kasih, ya, Ust," ucap Andre.


"Sama-sama,  Pak," kata Ningrum pelan. Akhirnya gadis itu bisa bernapas lega.


-Bersambung-