
Karena tidak mau menyerahkan flashdisk, berkali-kali Danang memukuli Satrio dengan brutal dan membabi buta. Begitu suami Qia itu tidak sadarkan diri, Danang langsung mengguyurnya dengan air, setelah sadar kemudian dipukuli lagi, begitu seterusnya sampai bawahan waktu Wijaya itu puas.
Dalam mode tidak sadar, sayup-sayup Satrio melihat Qia yang menatapnya dengan pandangan kuyu, seolah-olah sedang berusaha menerjang badai dan berlari ke arahnya. Satrio sendiri yang sedang dalam keadaan terikat tidak bisa menyongsongnya.
Namun, belum sampai berhasil menyentuh Satrio, Qia sudah ambruk duluan membuat pemuda itu langsung tersadar.
"Qia ... Astaghfirullahal, semoga kamu baik-baik saja. Maafkan Kakak," batin Satrio.
Tiba-tiba perasaannya tidak enak. Sampai selarut ini, ia belum juga mendapatkan kabar tentang Qia dari Adrian. Ia betul-betul khawatir. Terakhir bertemu Qia memang kurang fit. Beberapa kali ia mengaku pusing dan badannya lemas.
Apalagi, sampai detik itu, Satrio belum pernah melihat Wijaya Kusuma sama sekali datang ke tempat itu. Itulah sebabnya ia belum bisa menyempurnakan misinya.
***
Rumah Sakit
Qia menatap langit-langit kamar VVIP itu dengan wajah kuyu. Saat itu pikirannya betul-betul kacau. Sebelum suaminya menghilang, ia sudah tidak merasa nyaman dengan tubuhnya. Entahlah, ia tidak tahu kenapa akhir-akhir ini begitu cepat lelah. Padahal, ia hampir tidak pernah melakukan pekerjaan berat. Di markas itu, semua sudah ada yang mengerjakan. Seringnya, ia hanya ongkang-ongkang saja.
"Kak, kenapa Kakak jahat sekali? Bahkan, pergi pun Kakak tidak mau pamit."
Qia merasakan dadanya terasa nyeri. Tetes demi tetes air bening keluar dari sudut matanya. Hatinya benar-benar serasa terkoyak. Belahan jiwanya sampai saat ini belum kembali, hilang entah kemana membuat Qia semakin kacau.
"Kak, cepat pulang, Qia ingin memberikan kejutan untuk Kakak," bisik Qia lagi sambil meraba perut kecilnya.
Tadi dokter Iman sempat datang untuk memeriksa. Wajahnya yang biasanya kalem dan damai itu terlihat sedikit tegang begitu muncul di hadapan Qia membuat istri Satrio itu sangar khawatir.
Beberapa saat kemudian, wajahnya yang tegang berangsur-angsur normal dan kini tampak cerah. Lelaki itu belum mengatakan apa-apa pada Qia. Ia justru menelpon seseorang agar datang secepatnya ke tempat mereka.
"Kak, apa Kak Kakak sudah mendapatkan informasi tentang keberadaan suami saya? Dia baik-baik saja, kan?"
"Jangan khawatir. Suamimu itu orang yang sangat hebat. Dia tahu secarapasti, apa yang harus dilakukan. Dia pasti baik-baik saja. Adrian juga pasti akan menjaganya," jawab dokter Iman mencoba menenangkan Qia.
Qia sedikit adem. Sebenarnya ia ingin bertanya lebih lanjut, tetapi pintu ruangan diketuk, kemudian muncul seorang dokter cantik berkulit agak gelap. Namanya dokter Maysa.
Setelah saling menyapa, dokter itu langsung memeriksa. Beberapa saat kemudian, dokter itu menatap Qia dan dokter Iman secara bergantian.
"Bagaimana? Apa dugaan saya benar?" tanya dokter Iman.
"Suaminya mana?" tanya
Dokter Maysa tidak langsung menjawab.
"Suaminya sedang bertugas. Ada orang tua dan mertuanya di luar.
Namun, saat ini akulah walinya. Suaminya sudah menitipkannya padaku. Ada apa?" tanya dokter Iman cemas, apalagi Qia yang mengerkan percakapan mereka.
"Jangan cemas. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Selamat ya, Bu Qia, Usia kandungan Ibu saat ini sekitar dua lima minggu."
"Saya hamil, Dok?" tanya Qia hampir tak percaya.
Dokter Maysa tersenyum.
"Betul, Bu Qia. Hanya saja, kondisi kesehatan Bu Qia agak menurun, jadi harus betul-betul dijaga. Jangan terlalu banyak pikiran, dijalani saja hidup ini dengan enjoy dan santai. Pada saatnya, semua masalah pasti menemukan jalan keluar," jelas dokter Maysa.
Qia mengangguk. Ia terlalu bahagia hingga sedikit teralihkan dari masalahnya. Namun, ketika semua orang sudah keluar dan tinggal ia sendiri, bayangan suaminya kembali muncul, menghentak-hentak sanubarinya.