
[Bod*h. Kamu gagal lagi]
[Jangan memgumpatku seperti itu. Anakmu yang bod*h itu yang menggagalkan rencanaku]
Jack sangat marah. Ia tidak terima dikatakan bod*h.
[Jangan bawa-bawa anakku untuk menutupi ketidakbecusanmu. Lagipula, siapa yang menyuruh meledakkan tempat itu?]
[Bukannya kau ingin aku mengacaukan dan menggagalkan pernikahan itu]
[Pakai otakmu, bod*h. Membuat kekacauan dan menggagalkan pernikahan bukan berarti menghancurkan tempat itu. Ingat, aku butuh gadis itu dalam keadaan hidup. Aku tidak peduli bagaimana caranya, dan aku tidak ingin ada kata gagal. Kecuali ....]
[Kecuali apa?]
[Kecuali memang rumor itu benar]
[Rumor? Rumor apa?]
[Bahwa kau sebenarnya tidak bisa apa-apa. Kau hanya seorang pecundang yang tidak becus melakukan apa pun, tidak ada seujung kuku pun dibandingkan dengan Satrio]
"Brak!' Jach menggebrak meja di depannya. Hatinya sangat panas karena direndahkan, terlebih dibandingkan dengan Satrio.
[Brengsek ... Jangan pernah sebut nama itu lagi di depanku. Sekali lagi kau bandingkan aku dengan bedebah itu, kupastikan ....]
[Jangan banyak bicara. Buktikan saja omonganmu]
"Klik." Sambungan ditutup secara sepihak. Jack semakin kesal. Ia membanting apa pun yang ada di meja kerjanya.
Satrio adalah musuh bebuyutannya. Sejak awal bertemu, ia memang tidak suka. Terlebih, semua orang selalu membandingkan mereka berdua, termasuk bigbos yang menurutnya pilih kasih. Puncaknya, Jack membelot dan memutuskan untuk selalu berseberangan dengan Satrio
Jack tidak peduli apa motif Wijaya Kusuma membayarnya untuk mengikuti dan menakuti Qia. Ia juga tidak peduli apa tujuan pengusaha besar itu menyuruhnya menggagalkan pernikahan gadis itu, meski ada selentingan kalau Wijaya melakukan itu demi putranya.
Awalnya Jack ingin menolak tugas remeh seperti itu. Namun, begitu tahu kalau gadis yang menurutnya tidak penting itu berkaitan erat dengan Satrio, ia menerima pekerjaan itu tanpa syarat. Baginya, yang paling penting adalah bagaimana caranya bisa menggebuk Satrio
"Aaaaakhhh ... Sial, betul-betul sial. Kenapa si brengsek itu selalu saja beruntung!" maki Jack kesal.
***
Sementara itu, di rumah Qia, semua orang sedang menikmati hidangan.
"Bosmu ada di luar, kau tidak ingin menemuinya?" bisik Satrio pada Qia. Mereka baru saja menandatangani buku nikah.
"Bos?" tanya Qia tak mengerti.
"Orang gila yang kapan hari melamar kamu," ujar Satrio jengkel.
"Oh." Qia baru 'ngeh' siapa yang dimaksud Satrio.
"Hanya oh?"
"So what, gitu loh?"
"Ayo, Kakak antar menemuinya," kata Satrio dengan tenang.
"Buat apa, Kak? Dia ke sini atas kemauannya sendiri. Qia gak ngundang, kok," tolak Qia. Sesungguhnya ia takut akan ada keributan.
"Meski begitu, kamu tetap harus menemuinya. Dia memaksakan diri untuk datang, tentu ada hal yang ingin disampaikan. Lagipula, orang itu harus diberi pelajaran," kata Satrio lagi.
"Maksud Kakak apa? Jangan bikin keributan, ah.'
"Jangan khawatir. Suamimu ini tidak bodoh. Bagaimanapun, ini adalah hari penting bagi Kakak. Kakak gak akan merusaknya dengan membuat keributan dengan orang yang tidak penting," jelas Satrio berusaha meyakinkan Qia.
Mendengar pengakuan dari suaminya bahwa ini adalah hari yang sangat penting, wajah Qia menjadi merah.
"Lantas?"
"Kakak hanya ingin menunjukkan posisi dia sebagaimana mestinya. Cukup kapan hari saja dia berulah."
"Kapan hari? Berulah?" Qia betul-betul tidak paham maksud Satrio. Dia berpikir, jangan-jangan mereka sempat bertemu kemudian bertengkar?
Sekali lagi, wajah Qia memerah. Mereka baru beberapa menit yang lalu menjadi suami istri, tentu istilah itu masih cukup janggal di telinga Qia. Jujur ia masih belum terbiasa.
Tanpa menunggu jawaban dari Qia, Satrio langsung menggamit tangan istrinya itu dan mengajaknya ke luar. Beberapa orang tampak memberi ucapan selamat pada mereka.
Andre yang saat itu sedang berbincang dengan Pak Zul dan Abi Kun langsung menghentikan aktivitasnya. Tatapannya langsung beralih ke Qia dan Satrio yang sengaja berjalan mendekati mereka.
Sesaat, pemuda itu terdiam, tak tahu harus bersikap bagaimana. Tadi ia sok-sokan ingin mengucapkan selamat secara ksatria. Ia ingin Qia melihat bahwa dirinya adalah lelaki yang berjiwa besar.
Namun, begitu wanita pujaannya itu datang mendekat lengkap dengan gaun pengantin sederhana yang memancarkan pesona luar biasa, Andre jadi mati gaya.
"Astaghfirullah!" ucapnya berkali-kali dalam hati. "Ya Allah, dia cantik sekali. Andai aku yang ada di sampingnya?" bisik Andre dalam hati. Untuk beberapa saat, angan pemuda itu sedikit melayang.
Semakin dekat Qia, jantung Andre semakin berdebar. Entah mengapa, matanya seolah terpaku, enggan untuk berpaling.
Sampai-sampai Satrio yang melihat dari jauh ingin mencolok biji matanya. Laki-laki mana, sih, yang rela istrinya ditatap sedemikian rupa oleh lelaki lain, apalagi ia tahu kalau lelaki itu pernah melamar istrinya. Meski secara fakta, Satrio belum memiliki rasa khusus pada Qia.
Pak Zul dan Abi Kun yang melihat perubahan sikap Andre, serentak melihat ke arah tatapan pemuda itu, kemudian kedua lelaki tua itu saling pandang.
"Ehem ...." Suara Satrio yang sengaja berdehem itu membuat Andre terkejut. Sejenak, pemuda itu tampak gelagapan.
"Oh, Sat. Kenalkan, ini adalah Pak Andre, pemilik yayasan tempat Qia mengajar."
Pak Zul berusaha mencairkan suasana begitu merasakan gelagat yang tidak baik. Ia lalu beralih ke Andre.
"Pak Andre, ini adalah Satrio, menantu saya."
Andre memaksakan diri untuk tersenyum. Ia lalu mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Satrio, kemudian mengatupkan kedua tangan dan diletakkan di depan dada untuk mengucap salam pada Qia.
"Selamat untuk kalian berdua. Semoga Allah memberkahi kalian. Semoga sakinah mawadah warahmah," ucap Andre canggung.
Berada sedekat itu, ia tidak berani menatap Qia. Apalagi, di situ ada Satrio yang terus menggenggam erat tangan Qia, seolah ingin menunjukkan pada Andre bahwa Qia adalah miliknya, jangan sekali-sekali mengganggu atau menggodanya.
"Terima kasih," jawab Qia dan Satrio serempak.
"Silakan dinikmati hidangannya, Pak Andre, seadanya," tambah Qia sopan.
"Terima kasih, Ustazah."
"Silakan, kami mau menemui yang lain dulu," kata Qia lagi.
Ia lalu menarik tangan Satrio yang sampai saat masih menggenggamnya.
***
"Selamat ya, Bos," ucap salah satu anak buah Satrio.
Qia langsung mengernyitkan dahi demi mendengar sapaan Bos untuk suaminya? Sekali lagi benaknya dipenuhi tanda tanya, memangnya Satrio ini siapa? Benarkah sekadar teman
Qia lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ia melihat beberapa orang yang katanya teman Satrio. Tiba-tiba mata kelinci itu melihat sosok yang cukup familiar.
"Bukankah itu orang yang kapan hari menolongku saat ditodong? Ah, iya. Itu memang orang yang duduk denganku di Rubicon," batin Qia. "Pantesan dia tahu tentang kejadian di Rubicon."
"Kenapa?" tanya Satrio melihat tatapan tak biasa pada istrinya.
"Bukankah itu orang yang ada di Rubicon pas nolongin Qia? Kakak kenal sama mereka?"
Pada saat Qia mengutarakan pertanyaan itu, dua anak buah Satrio yang lain datang dan mengucapkan selamat pada mereka.
"Selamat ya, Bos," ucap mereka serentak.
Qia semakin memicingkan mata.
"Kenapa semua teman Kakak manggil Bos? Emang, Kakak ini siapa?" tanya Qia setelah dua orang itu pergi.
"Apa masalahnya? Ini Indonesia, semua orang bisa jadi bos. Tukang parkir bisa jadi bos, kuli bangunan juga bisa jadi bos, bahkan orang gila pun bisa jadi bos. Masak suamimu yang tampan dan baik hati ini tidak boleh dipanggil bos?" bisik Satrio sambil tersenyum nakal.
Qia melengos. Betul-betul, ya, orang ini narsis banget.