Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
88. Pancaroba Cinta 2



"Sayang, Kakak ingin tahu, bagaimana kronologis kejadiannya," kata Satrio. Kata-katanya berubah serius.


Qia sudah menduga akan hal ini. Tadi, sebelum tertidur di mobil, ia sudah memikirkan jawabannya. Namun, ia agak ragu apakah suaminya nanti akan percaya atau tidak. Karena dilihat dari sisi mana pun, jawaban yang diberikan Qia tadi siang sangatlah tidak masuk akal. Qia menyadari itu dan ia yakin, suaminya pasti akan mencari tahu tentang hal itu.


Qia menatap suaminya sekilas, kemudian menyandarkan tubuhnya ke dada bidang yang sudah ia anggap sebagai rumahnya untuk mendapatkan ketenangan.


Seolah mengerti apa yang diinginkan sang istri, Satrio menyambut tindakan itu dengan mengalungkan kedua tangannya ke tubuh mungil itu untuk memberikan kenyamanan.


Diam-diam, lelaki tampan itu menekan salah satu tombol di jam tangan multifungsinya untuk merekam suara Qia.


"Tadi itu memang betul-betul tak terduga, Kak." Qia memulai ceritanya.


Sementara, Satrio hanya diam mendengarkan cerita itu sambil menghidu aroma wangi dari rambut Qia.


"Awalnya, Qia melihat seorang wanita tua yang bongkok kesulitan menyeberang. Qia merasa kasihan dan betul-betul tidak tega melihat dia hanya maju mundur di pinggir jalan tanpa ada seorang pun yang mau menolong. Karena khawatir, akhirnya Qia berlari untuk menolong nenek itu," kata Qia.


"Kenapa tidak menyuruh Aretha saja, hem?" potong Satrio sambil terus menghidu aroma Qia sampai-sampai sang istri merasa kegelian.


"Ya ... gak kepikiran, Kak. Satu-satunya yang terpikir hanyalah, jangan sampai nenek itu tertabrak mobil. Lagipula, mana Qia tahu kalau si nenek ternyata hanya berpura-pura," jelas Qia.


"Oh ya, bagaimana kamu tahu, kalau si nenek hanya berpura-pura? Hem?" tanya Satrio lagi.


Qia tidak langsung menjawab. Ia tampak menggeliat.


"Kak .... jangan gini, geli," protes Qia sambil tertawa kegelian. "Kalau kayak gini, mana bisa menjelaskan."


Mendengar itu, Satrio hanya tertawa, tapi tidak menghentikan aksinya.


"Oke, Kakak minta maaf," jawab Satrio. "Habisnya kamu wangi sekali, sih."


Qia mencebik.


"Harusnya tadi aku gak mandi dulu, biar tidak diinterogasi," batin Qia


"Sekarang lanjutin ceritanya," kata Satrio. Tentu saja ia sengaja melakukan itu agar Qia merasa rileks, tidak merasa diinterogasi olehnya.


"Qia melihat nenek itu masuk ke dalam mobil setelah mendorong wanita yang mirip Qia. Yang membuat Qia terperangah, gerakan nenek itu lincah sekali, Kak, sama sekali tidak seperti orang tua bongkok yang lemah. Baru Qia menyadari kalau semuanya hanya rekayasa," kata Qia.


"Lantas, kenapa tidak kembali pada Aretha?" tanya Satrio.


"Karena seseorang menarik tangan Qia keras, kemudian mendorong Qia ke seberang jalan. Qia tidak bisa menolak karena ada benda keras yang menempel di pinggang Qia. Qia masih trauma, Kak. Qia masih ingat saat ditodong dulu." Qia menghentikan kata-katanya.


Satrio merasakan kalau tubuh istrinya sedikit bergetar. "Rupanya kamu masih trauma," batin Satrio.


Ia lalu mempererat pelukan dan menggenggam erat jemari Qia untuk memberikan ketenangan.


"Maafkan Kakak, Sayang, karena tidak ada di sana, saat kamu dalam kesulitan," bisik Satrio lembut.


"Tidak apa-apa, Kak. Ini memang kesalahan Qia karena kurang hati-hati dalam bertindak," kata Qia.


"Baiklah. Lantas, apa yang dilakukan oleh orang itu?" tanya Satrio menahan amarah. Dalam hati ia berjanji akan memberi pelajaran orang yang telah berani menyentuh tangan istrinya dan menodongkan senjata padanya.


"Qia melihat ada Panther yang sudah menunggu di seberang dan sepertinya Qia akan dimasukkan ke sana."


"Trus?"


"Qia berpikir, kalau sampai Qia dimasukkan ke sana dan dibawa pergi entah ke mana, maka Kakak akan kesulitan menemukan Qia. Karena itu, Qia berpikir untuk membuat ulah."


"Oh ya? Emang Qia melakukan apa?" tanya Satrio penasaran. Masalahnya, bagian ini tidak terdeteksi oleh Aretha. Bawahannya itu hanya mendengar suara tembakan, tapi tidak menemukan ada korban di sana. Ia juga tidak menemukan Qia.


"Qia berteriak lantang, 'Polisi!'


Orang-orang yang berkerumun di tempat itu terkejut mendengar teriakan Qia. Sedangkan si penodong itu terkejut karena mendengar kata polisi. Saat orang itu berpaling, Qia sedikit berbalik dan mendorong pistol itu dengan paper bag sekeras-kerasnya. Orang itu mungkin reflek menarik pelatuk pistolnya hingga terdengar suara tembakan," cerita Qia.


"Qia tidak punya pilihan lain, Kak."


Satrio membalik tubuh istrinya sehingga mereka saling berhadapan.


"Sayang, dengarkan Kakak. Apa yang kamu lakukan tadi sangat berbahaya. Bersyukur saat itu pistol tidak mengarah ke kamu. Kalau sampai mengenai kamu bagaimana? Sayang ... berjanjilah kamu tidak akan melakukan hal seperti itu lagi," kata Satrio serius. Wajahnya betul-betul memancarkan kecemasan.


"Tapi Qia akan dibawa pergi entah ke mana, Kak. Qia tidak punya pilihan," bela Qia.


"Sayang, dengarkan Kakak. Mereka menginginkan sesuatu yang mereka kira ada padamu. Itu sebabnya mereka tidak akan melukaimu, kecuali dalam kondisi tak terkendali seperti tadi. Ia terkejut dan alam bawah sadarnya memerintahkan dia menarik pelatuk untuk melindungi diri. Bisa saja itu mengenai kamu, Qi. Tapi kalau mereka membawamu pergi, mereka tidak akan melukaimu, paling tidak, sampai Kakak menemukanmu," kata Satrio.


Qia mengangguk.


"Baiklah, Qia tidak akan mengulangi lagi. kalau tidak terpaksa ...." Qia memamerkan gigi putihnya di hadapannya Satrio.


"Qi ...."


"Iya iya, Qia akan patuh. Kalau .... ingat." Sekali lagi wanita muda itu memamerkan giginya.


"Emang, minta diginiin, kok ...." ujar Satrio sambil menggelitik pinggang istrinya sampai sang istri kegelian.


"Iya iya, ampun."


Akhirnya Satrio menghentikan kekonyolannya.


Qia lalu menceritakan kejadian selanjutnya. Saat terjadi tembakan itu, ia berlari dan bersembunyi di mall. Ia meminjam ponsel pada seorang wanita yang tidak sengaja menabraknya hingga terjatuh, kemudian menelpon Satrio.


Saat berhasil ditangkap lagi di lantai dua, Qia bertemu dengan wanita itu lagi. Namun, saat itu yang menabraknya adalah anak dari wanita itu yang sedang berkejar-kejaran. Kesempatan itu dimanfaatkan Qia untuk meminjam ponsel lagi, begitu seterusnya sampai akhirnya ia bertemu dengan Anita.


Menurut Qia, timingnya saat itu sudah sangat tepat, hampir bersamaan dengan waktu dirinya menelpon sang suami.


Satrio mendengarkan dengan seksama, tetapi ia berlagak santai agar istrinya tidak merasa diinterogasi.


Sayang sekali, ia tidak tahu kalau wanita mungil itu memiliki kecerdasan di atas rata-rata, meskipun tubuhnya terlihat sangat rapuh dan lemah. Dengan kecerdasannya itu, tentu saja dirinya tahu kalau sedang diinterogasi oleh suaminya.


Itu sebabnya, ia tidak ingin berlama-lama. Tujuannya hanya ingin memberi penjelasan tentang pemilik ponsel yang tadi dipakainya.


Semua yang dikatakan tadi adalah benar, kecuali adegan meminjam ponsel. Tentu saja hal itu hanya rekayasa. Ia tahu, suaminya pasti menyadari hal itu. Karena itu, untuk menghilangkan kecurigaan dan menghindari pertanyaan selanjutnya, maka ia harus membuat ulah sekarang.


Qia lalu menghela napas, kemudian berkata dengan wajah polos.


"Semoga cuma Qia saja yang Kakak interogasi dengan cara seperti ini," kata Qia kemudian sambil melangkah pergi.


Mendengar itu, Satrio jadi membeku. Ia tidak menyangka kalau istrinya merasa bahwa dirinya sedang diinterogasi.


Tentu saja Satrio juga tahu maksud dari pernyataan sang istri. Artinya, Qia menuduh Satrio sering melakukan trik seperti ini saat menginterogasi para wanita, dan ia tidak terima.


"Ternyata kelinci kecil sangat pintar bersilat lidah," batin Satrio..


"Sayang ... tunggu, apa maksud dari perkataanmu tadi?" teriak Satrio sambil mengejar Qia.


"Qi ...." Satrio berhasil menangkap pergelangan tangan Qia.


"Gak mau, Kakak curang."


"Kok curang?"


"Apa memang seperti ini cara Kakak menginterogasi orang? Hem?" tanya Qia pura-pura marah dan cemburu.


"Maafkan Qia, Kak. Qia tahu Kakak tidak seperti itu. Tapi Qia harus mengalihkan perhatianmu," batin Qia.