Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
109. Ternyata Dia Orangnya



Meski sudah menduga tentang adanya konspirasi, tetapi Qia tidak pernah menyangka kalau Adrian yang memiliki hubungan begitu dekat dengan suaminya juga ikut-ikutan bersekongkol memojokkan mereka.


Namun, begitu melihat lelaki tampan yang sudah sah menjadi suaminya itu tenang-tenang saja, Qia jadi merasa lega. Meski belum begitu lama bergaul dengan mereka, ia tahu seperti apa hubungan tiga bersaudara plus Hendra itu. Ia juga mengenal karakter Satrio yang pasti akan menampakkan kemarahan jika ada sesuatu yang kurang tepat menurutnya.


Dan sekarang, suaminya tercinta tidak menampakkan gelagat amarah sama sekali. Itu berarti apa yang dikatakan Adrian itu hanya sebuah kamuflase. Qia menduga bahwa suaminya juga sudah merencanakan itu semua dengan Adrian.


"Jadi, Kakak sudah mengetahui apa yang akan disampaikan oleh Kak Adrian tadi?" tanya Qia serius.


Satrio tidak menjawab. Ia hanya menatap istri kecilnya itu  sambil tersenyum nakal.


"Menurutmu?" Satrio malah balik bertanya.


"Apa dengan Wijaya Kusuma dan yang lainnya juga?" tanya Qia lagi.


Bagaimanapun, Qia masih penasaran, kenapa jawaban Adrian hampir sama dengan WK dan beberapa tokoh penting lainnya. Mungkinkah WK dan yang lain itu merupakan bagian dari rencana Adrian dan suaminya? Dugaan Qia, mereka tidak bersekongkol. Adrian dan Satrio hanya memanfaatkan situasi yang ada sambil menunggu umpan dimakan.


Qia juga menduga kalau Hendra dan anggota kesatuan yang lain tidak tahu rencana mereka berdua. Buktinya, tadi Hendra betul-betul terlihat marah dan kecewa dengan sikap Adrian.


Seandainya ini adalah persekongkolan berjamaah oleh semua pihak untuk mengendalikan situasi, tentu Hendra pasti tahu, dan tidak akan semarah itu.


Sekali lagi, Satrio tidak langsung menjawab. Ia hanya mengedikkan bahu sambil bertanya balik.


"Menurutmu?"


"Kaaak," rajuk Qia.


"Oke, baiklah. Untuk mengetahui jawabannya, sebaiknya kita lihat flash sekarang," jawab Satrio.


Qia mengangguk setuju. Mereka lalu mematikan televisi kemudian menuju ke ruang kerja.


***


Laptop sudah menyala. Satrio mengeluarkan benda kecil berwarna biru muda di sakunya, benda yang membuat Qia diburu banyak orang, karena ada rahasia besar yang ada di dalamnya.


Qia duduk tepat di samping Satrio, sedangkan Hendra berada di sisi yang lain, sementara Satrio berada di tengah dan kini sedang mengutak-atik laptop tersebut.


Selang beberapa saat, muncul suatu tampilan yang luar biasa menurut Qia. Dalam video itu tampak tiga orang pria sedang berbincang serius di arena pacuan kuda. Entah di daerah mana, Qia sendiri tidak tahu. Tiba-tiba jantung Qia berdebar kencang. Pasalnya, ia mengenal dua orang yang saat itu memang menghadap ke arah kamera.


"Wijaya Kusumah? Apa yang dia lakukan di sana?" gumam Qia sambil menatap suaminya.


Sedangkan yang ditatap hanya tenang-tenang saja.


"Astaghfirullah, bukankah itu almarhum Prayoga Iskandar?" gumam Qia lagi dengan hebohnya.


Siapa yang tidak kenal Prayoga Iskandar? Dia adalah pejabat penting yang beberapa bulan lalu meninggal karena serangan jantung. Beritanya cukup viral karena dia adalah pejabat yang dikenal suka membela rakyat kecil. Itu sebabnya, banyak orang merasa bersimpati dan sangat kehilangan.


Sekali lagi Qia menoleh ke suaminya, yang saat itu masih terlihat tenang tanpa gejolak sedikit pun, meski hanya reaksi terkejut.


"Trus, yang satunya itu siapa, Kak?" tanya Qia lagi. Kali ini ia tidak menoleh ke arah suaminya.


"Coba lihat adegan selanjutnya," kata Satrio tanpa menjawab pertanyaan Qia.


Arena pacuan itu lumayan sepi, mungkin sedang tidak ada jadwal pertandingan berkuda. Namun, tga orang itu tampak tidak terpengaruh dan terkesan enjoy saja.


Tak berapa lama, muncul dua lelaki asing yang terlihat sangat berwibawa. Mereka dikawal oleh beberapa orang bodyguard berpakaian serba hitam yang tinggi besar.


"Bukankah itu konglomerat terkenal dari negara tetangga? Apa yang mereka lakukan di sana? Apakah ini ada hubungannya dengan isu penjualan aset negara beberapa bulan yang lalu?" gumam Qia pelan, tetapi masih terdengar oleh dua orang di sampingnya.


Satrio dan Hendra tidak menjawab. Mereka hanya saling menatap satu sama lain. Setelah mengetahui identitas Kemilau Senja, mereka sudah tidak heran dengan pengetahuan dan wawasan Qia.


Perasaan tidak nyaman mulai menyelimuti Satrio. Ia paham dunianya dan dunia Qia itu seperti apa. Ia juga tahu kalau pengetahuan istrinya itu sangat berbahaya bagi dirinya sendiri.


Kembali, mereka fokus pada layar. Awalnya, orang-orang yang berada di arena pacuan kuda itu berbincang santai sambil minum-minum. Tiba-tiba mereka terlihat tegang, kemudian terlibat percekcokan.


Wijaya Kusumah, Prayoga Iskandar, dan seseorang yang tidak terlihat mukanya di layar itu terlihat berdiri sambil terus cekcok. Tiba-tiba Wijaya Kusuma mengeluarkan pistol dan menembakkannya ke arah Prayoga, tepat ke kantungnya.


Karena Prayoga masih bisa berdiri dan sempat menuding-nuding ke arah Wijaya Kusuma, maka orang ketiga yang sedari tadi membelakangi layar juga ikut menembakkannya. Tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali hingga Prayoga roboh tak bergerak.


"Astaghfirullah, jadi dia meninggal bukan karena serangan jantung, tetapi jantungnya memang diserang," ujar Qia.


Wanita cantik itu mendadak linglung, hampir tidak percaya dengan apa yang terjadi. Pasalnya, tiga orang itu dikenal publik sebagai orang yang sangat baik, berjasa pada bangsa dan negara. Mereka yang selalu berteriak lantang untuk menjaga keutuhan bangsa, ternyata mereka sendiri yang menodainya.


"Sayang, kamu baik-baik saja?" bisik Satrio.


Qia tidak menjawab. Ia masih terlihat syok.


"Itukah sebabnya ia begitu ngotot ingin menjadikan Qia sebagai menantu?" tanya Qia pada dirinya sendiri.


"Mungkin saja," jawab Satrio yang mendengar gumaman itu.


Pikirkan Qia menerawang. Ia ingat, bagaimana hari-harinya penuh dengan ketakutan dan kecemasan. Setiap hari dia diteror, baik secara fisik ataupun mental.


Dulu ia sempat depresi setelah kepergian Pras, ditambah dengan isu-isu negatif di media massa tentang dirinya. Belum lagi penyerangan, penodongan, bahkan rencana penculikan beberapa hari yang lalu. Terakhir, penyerangan besar-besaran tadi siang.


Ternyata semua itu dilakukan oleh orang yang sama. Yang lebih miris, orang-orang hebat itu baru saja tampil di televisi dengan wajah tak berdosa.


"Trus, sekarang kita harus bagaimana, Kak? Apa langkah kita selanjutnya?" kata Qia sambil menatap suaminya.


"Tidak ada," jawab Satrio tenang.


"Tapi, Kak ...."


"Percayalah, semua akan baik-baik saja. Kita sudah tahu siapa pelakunya, tinggal bagaimana cara untuk mengungkapnya. Kita butuh sedikit waktu karena ini tidak akan mudah. Kamu tahu, kan, mereka ini siapa?" kata Satrio meyakinkan Qia.


Qia menghela napas.


"Apakah Kak Adri bagian dari rencana kita?" tanya Qia hati-hati.


"Tentu saja. Jangan pernah meragukan dia. Dia tahu apa yang harus dilakukan."


Sebenarnya, saat Qia tidur tadi, Satrio sudah lebih dulu membuka flashdisk itu. Itulah sebabnya mengapa ia tidak terkejut saat melihat bersama Qia. Dengan cepat, ia lalu mengirim informasi itu secara rahasia ke Adrian dan merencanakan langkah selanjutnya.