Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
48. Tambah Curiga



Ketakutan akhirnya melingkupinya. Bahkan saking takutnya, sampai-sampai ia pipis di celana. Tentu saja bau pipis orang dewasa tidak sama dengan anak-anak.


"Astaga ... Kamu betul-betul ngompol?" gerutu Satrio kesal.


"Si siapa lo sebenarnya?" tanya Bayu ketakutan.


"Gue? Tentu saja gue ini suami Qia. Dan gue gak suka lo deket-deket bini gue, apalagi coba merayunya," jawab Satrio rendah, tetapi nadanya datar. Tatapannya terlihat dingin, membuat Bayu semakin menggigil.


Bayu tidak bersuara. Lututnya gemetar.


"Lihatlah ... lo tampak menyedihkan, gak sepadan sama mulut besar lo kemarin. Apa pendapat lo andai Qia lihat lo yang kayak ini?" kata Satrio lagi. Sementara, pistol miliknya masih menempel di pelipis Bayu.


Bayu masih tetap diam. Dia hanya menoleh, menatap Satrio dengan tatapan penuh makna, membuat suami Qia itu merasa jijik.


"Kenapa liat gue kayak gitu? Jangan bilang lo sekarang berubah haluan? Atau ... lo penasaran, pingin tau bagaimana pendapat Qia? Baiklah ...."


Satrio menggantung kalimatnya. Ia merogoh saku, pura-pura mengambil ponsel.


Melihat gelagat itu, Bayu segera bereaksi.


"Tidak ... tidak ... jangan rekam. Jangan kasih tahu yayang gue," pinta Bayu.


"Apa? Yayang? Coba ulangi sekali lagi!" bentak Satrio sambil menekan pelipis Bayu dengan pistol itu. Tentu saja ia semakin kesal. Berani-beraninya mulut ember itu memanggil istrinya yayang.


"Ti tidak. Maksud gue, jangan kasih tahu Qia," pinta Bayu lagi.


"Kenapa? Bukankah lo suka sekali caper sama bini gue."


"Tidak ... tidak ... tidak. Gue janji gak akan ngerecoki lo sama Qia lagi."


"Oke. Gue juga gak punya banyak waktu buat main-main sama lo. Gue bakal lepasin lo kalau .... Satrio sengaja menggantung kalimatnya sekali lagi.


Bayu menatap Satrio memelas.


"Kalau apa?" tanya Bayu tak sabar.


"Gue akan hitung dalam hati. Dalam hitungan ke lima, kalian semua harus sudah tidak tampak dari penglihatan gue. Kalau tidak, peluru-peluru ini akan menembus kepala kalian."


Suara Satrio cukup keras hingga Bayu dan semua anak buahnya mendengar. Mereka saling berpandangan.


Belum sampai Satrio menghitung, mereka sudah ngacir duluan.


"Cabuuut," teriak Bayu sambil berlari ke mobil, diikuti oleh yang lain.


"Akhirnya," kata Satrio lega.


Ia lalu naik ke motornya dan mulai memakai helm. Sekilas, diliriknya jam di pergelangan tangan.


"Astaga, setengah satu kurang. Qia bakal terlambat, nih."


Akhirnya Satrio memacu kuda besinya dengan kecepatan tinggi.


***


Di rumah Satrio.


Qia menunggu kedatangan suaminya dengan harap-harap cemas. Sekarang hampir pukul setengah satu, tetapi lelaki itu belum menampakkan batang hidungnya.


"Tadi katanya cuma sebentar,' gerutu Qia dalam hati.


Meski hanya ekstrakurikuler, Qia tidak ingin terlambat. Kalau dulu, jarak antara rumah ke sekolah tidak terlalu jauh. Biasanya ia naik sepeda pancal. Namun, selain karena sepeda itu ia tinggal di rumah ibunya, ia juga belum hafal jalan. Ia juga belum tahu, jaraknya jauh atau tidak.


Qia sudah menelpon Satrio sejak satu jam yang lalu, tetapi tidak diangkat. Karena khawatir mengganggu pekerjaan suaminya, akhirnya Qia tidak menelpon lagi.


Ketika terdengar deru motor memasuki halaman rumah sepuluh menit kemudian, Qia menjadi lega.


"Maaf, tadi ada sedikit halangan, jadi Kakak tidak bisa cepet," kata Satrio setelah mereka berbalas salam.


Qia tidak menjawab. Ia hanya melirik jam di pergelangan tangannya.


"Masih ada waktu, kok, Kak," jawabnya akhirnya, kemudian melangkah keluar. Maksudnya agar mereka segera berangkat.


"Masih setengah jam lagi, kan? Kakak mau mandi sebentar, badan Kakak lengket sekali soalnya tadi ada kerja bakti. Kakak juga belum salat."


"Kerja bakti? Siang-siang begini?" tanya Qia sedikit tidak percaya.


"Dari tadilah, cuma ... baru selesai."


Sebenarnya Qia mau protes. Ia merasa tidak masalah kalau badan suaminya rada lengket, toh dia masih terlihat oke-oke saja. Mandi setelah mengantar kan tidak masalah, karena ia sudah terlambat. Jujur Qia tidak tahu seberapa jauh jarak antara rumah Satrio dengan sekolah. Ini adalah kali pertama Qia mengajar lagi setelah menikah.


Hanya saja, karena Satrio bilang kalau dirinya belum salat, akhirnya Qia tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau dia ngotot berangkat sekarang, maka suaminya akan kehabisan waktu salat.


"Insyaallah tidak akan telat, Kakak janji," ujar Satrio melihat kegamangan di mata Qia


"Iya, Kak," jawab Qia akhirnya.


"Lagipula, suamimu ini baru saja datang, haus banget. Kamu gak nawarin Kakak minum?" goda Satrio untuk mencairkan suasana.


Bukannya cair, kata-kata itu malah membuat Qia merasa tidak nyaman. Wajah cantik itu langsung merah. Tentu saja ia malu. Tadi ia terlalu memikirkan kepentingannya sendiri, sehingga lupa akan tugasnya sebagai seorang istri.


"Ya Allah, istri macam apa aku ini?" batin Qia.


Ternyata ia masih harus banyak belajar, terutama untuk mempraktikkan teori yang ia dapatkan di pengajian.


"Maaf, Kak. Kakak pingin minum apa?" tanya Qia malu-malu.


"Apa saja buatan kamu, Kakak pasti suka," jawab Satrio menggombal.


Ia mengacak kepala Qia pelan kemudian bergegas ke kamar mandi.


Sementara itu, Qia langsung ke dapur membuat segelas jus. Cuaca saat itu cukup terik, gak pas kalau ia membuat kopi atau teh.


Tepat setelah Satrio selesai salat, Qia masuk ke kamar sambil membawa segelas jus jeruk dan air putih dingin. Ia tahu kalau suaminya itu suka sekali minum air putih dingin. Ia sengaja membawanya barangkali segelas jus jeruk belum mampu menghilangkan dahaganya.


"Makasih, Qi," ucap Satrio sambil menyeruput jus jeruk, kemudian dilanjut minum air putih, sesuai dengan prediksi Qia.


"Ayo, kita berangkat sekarang," ajak Satrio sambil bangkit dari duduk.


"Kakak mau makan dulu? Tadi sudah Qia siapkan," tawar Qia. Ia tidak ingin dibilang mengabaikan suami.


"Nanti saja," jawab Satrio singkat sambil menggamit tangan Qia.


Pegangan tangan Satrio cukup erat sehingga mau tidak mau, Qia mengikuti langkah suaminya.


***


Qia berdiri mematung dan tidak bersuara ketika tiba di teras dan mendapati suaminya sudah nongkrong di atas motor, lengkap dengan helmnya.


"Kenapa?" tanya Satrio.


"Bagaimana kalau kita pesan taksi online saja?" usul Qia tiba-tiba.


Satrio memicingkan mata, heran.


"Kenapa?" tanya Satrio lagi.


Qia menunduk. Ia takut kalau dikira tidak mau naik motor.


"Qi, katanya sudah telat? Kalau kita pesan taksi online, butuh waktu lagi. Kamu bisa telat beneran," kata Satrio.


"Maaf, Kak. Qia agak kesulitan kalau naik motor dengan posisi miring. Pinggang Qia sakit," jawab Qia jujur, tetapi ia tidak berani menagih pada suaminya yang tempo hari bilang kalau saat itu terakhir mereka boncengan pakai motor. Itu sebabnya, ia tetap menunduk.


"Maaf, Kakak lupa. Tunggu sebentar."


Satrio turun kemudian berjalan menuju ke garasi rumah. Beberapa saat terdengar suara mesin dari garasi. Sebuah Porsche 911Carrera keluar dari dalamnya kemudian berhenti tepat di depan Qia membuat gadis itu membelalakkan mata.


Qia memang belum pernah melihat barang mewah itu di dunia nyata. Namun, sebagai seorang penulis fiksi, tentu dia sering melakukan riset berbagai jenis mobil untuk keperluan ceritanya. Jadi, ia tahu betul, mobil yang dinaiki Satrio itu jenisnya apa.


Asli, bukannya kagum atau kesenangan, justru hal itu membuat Qia semakin curiga, siapa sebenarnya suaminya.