Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
127



127.


Qia berusaha untuk menggeser tubuhku sekali lagi. Namun, seperti yang terjadi sebelumnya, tubuhnya terasa sangat lemas sehingga hanya mampu bergeser beberapa centi saja.


Saat Qia berusaha untuk bergerak sekali lagi, terdengar bunyi kunci diputar. Serta-merta, wanita muda itu mengatur posisinya seperti semula, kemudian pura-pura belum sadarkan diri.


Pintu dibuka. Dua orang lelaki masuk sambil membawa sebotol tanggung air mineral.


"Belum sadar juga? Berapa banyak dosis yang kamu berikan?" tanya lelaki bernama Parto.


"Entahlah, tidak kutakar. Kukira-kira saja," jawab lelaki yang satu lagi. Namanya Harjo.


"Gila, kamu! Kalau tidak bisa bangun bagaimana?" gumam Parto.


"Entah ... EGP?"


"Jangan macam-macam. Ingat, Bos menginginkan gadis itu dalam keadaan hidup," ujar Parto mengingatkan.


Diingatkan seperti itu, Harjo terdiam. Di antara anggota pasukan bayaran itu, Harjo memang termasuk orang yang tidak sabaran dan agak ceroboh.


"Mau bagaimana lagi? Semua sudah terlanjur." Harjo bergumam penuh sesal.


"Ya, kamu berdoa saja, semoga gadis itu tidak apa-apa," ucap Parto santai.


Harjo menoleh, menatap Parto dengan wajah polosnya.


"Jangan sok polos. Dosamu sudah seluas samudera," gerutu Parto. Kini wajahnya terlihat kesal.


"Justru itu, To'. Dosaku sudah seluas samudera. Apa doaku akan dikabulkan?" tanya Harjo, masih dengan mode polos. Sudah lama Harjo tidak mendengar kata-kata itu.


Dulu, emaknya selalu mengingatkan supaya tidak pernah melupakan doa. Sejak Emak meninggal sepuluh tahun yang lalu, tidak ada lagi yang mengingatkannya.


"Yo 'emboh', Jo. Aku yo, mosok ngerti ngunu iku.nWes, pokoknya sekarang kamu doa saja," jawab Prapto sok bijak.


Harjo terdiam lagi. Ia pandangi tubuh lemah tak berdaya yang ada di depannya. Setiap menjalankan misi, sebenarnya selalu ada pertentangan batin pada dirinya. Terlebih jika teringat sama anak dan istrinya.


Ada banyak mulut yang harus dikasih makan, sedangkan ia tidak memiliki keahlian yang nemadahi. Di tanah rantau ini, tidak ada lapangan pekerjaan yang sesuai dengan pendidikannya.


"To', dia belum sadar juga. Kok aku jadi takut, ya?" gumam Harjo lagi. Jelas sekali ia terlihat sangat gelisah.


"Wes, kita tunggu saja. Taruh botol minuman itu di dekatnya, setelah itu kita tunggu di luar saja," kata Parto.


Harjo menurut. Ia lalu meletakkan botol air mineral itu di dekat Qia kemudian menggamit tangan Parto.


Setelah pintu ditutup dari luar, Qia membuka mata. Meski dalam keadaan terbelenggu, ia tetap bersyukur karena dua orang itu tidak menyentuhnya. Jujur ia merasa lega setelah mendengar bahwa mereka tidak akan menyakitinya. Ia berharap suaminya akan segera menemukannya.


Namun, kelegaan itu segera sirna manakala ada rotasi penjaga. Dua penjaga yang baru ini betul-betul berbeda karakter dengan yang sebelumnya.


Melihat Qia belum juga membuka mata, seorang penjaga bernama Somat langsung membuka botol air mineral yang ada di dekat Qia kemudian tanpa ba bi bu langsung mengguyurkan ke kepala Qia. Wanita cantik itu langsung gelagapan. Ia sangat terkejut.


"Kenapa kau menyiramnya? Kita tidak boleh menyakitinya, Bro. Kata Parto, Bos menginginkan gadis itu dalam keadaan hidup," kata seorang penjaga.


"Aku tahu. Kita memang tidak boleh membunuhnya, tetapi bukan berarti tidak boleh memukul dan menyiramnya, kan?" jawab orang itu santai.


"Betul kan, Nona?" Somat berkata lagi. Kali ini dagunya bergerak ke arah Qia dengan tatapan yang sangat kejam yang diarahkan ke Qia.


Qia yang masih terkejut tidak langsung menjawab. Tatapan sangat tajam diarahkan ke Somat.


"Kenapa? Tidak terima?" tanya Somat lagi. Kali ini ditujukkan pada Qia.


Qia tidak menjawab. Belum hilang rasa terkejut itu, mukanya sudah diguyur dengan air mineral lagi.


"Ditanya itu, jawab," teriak Somat kesal sambil menampar pipi Qia dengan sangat keras.


Namun, Qia yang keras kepala itu sekali lagi tidak menjawab. Ia hanya menatap Somat dengan tajam. Tak ayal, ia mendepat pukulan berulang-ulang.


***