
Pagi itu, Andre tidak pergi ke yayasan. Ia memutuskan untuk menemani mamanya di rumah. Ia tahu, saat ini sang mama butuh teman, dan ia siap untuk menampung unek-uneknya.
Seperti biasa, ruang keluarga itu tampak sepi, hanya ada Andre dan mamanya. Para penjaga dan asisten rumah tangga sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
Areta duduk bersandar di sofa. Wajahnya sudah terlihat segar setelah beristirahat semalam. Sementara, Andre, duduk di sofa yang lain.
"Sepertinya, Mama tidak punya pilihan lain, Ndre. Mama juga merasa berat sebenarnya. Andai Mama bisa, sebenarnya Mama ingin keluarga kita tetap utuh." Areta mengawali pembicaraan. Ia menghela napas panjang, kemudian meraih segelas susu yang tadi disiapkan oleh asistennya.
"Andre ngerti, Ma," jawab Andre.
"Lagipula, ini bukan hanya tentang penderitaan Mama yang sudah terpendam selama bertahun-tahun. Tapi, ini tentang orang banyak. Karena papamu tidak hanya menyakiti Mama, tapi setiap orang yang secara sengaja atau tidak telah menghalangi jalannya," beber Areta.
"Apa papa seburuk itu, Ma?" tanya Andre hampir tidak percaya.
"Baik atau buruk, kamu sendiri yang bisa menilai. Kau tahu, Nak, kenapa dulu papamu sangat ngotot ingin melamar guru itu untukmu? Padahal, kamu tahu, papamu itu mempunyai standar yang tinggi, apalagi kamu adalah anak satu-satunya. Paling tidak, papamu akan mencarikan jodoh yang menurutnya sepadan untukmu?" tanya Areta, membuat Andre penasaran.
"Kenapa, Ma? Bukankah papa memang menyukai Qia karena ia baik dan juga cantik?" tanya Andre.
"Bulsit! Itu hanya rekayasa saja. Gadis itu memiliki rahasia besar tentang kejahatan papamu. Entah kejahatan yang mana, sepertinya ini sangat berat. Bahkan, sudah berkali-kali gadis itu dicelakai oleh anak buah papamu. Untungnya, intel itu selalu melindunginya hingga ia bisa lolos," jelas Areta.
"Intel? Intel yang mana?" tanya Andre penasaran. Jantungnya mulai berdegup kencang.
"Apakah itu Satrio?" batin Andre.
"Yang sekarang jadi suaminya," jawab Areta singkat.
DEG!
Jantung Andre seolah berhenti berdetak. Tadinya ia sudah menduga, tapi tak urung tetap terkejut juga
"Jadi, dia seorang Intel? Bukan buronan?" pikir Andre lagi.
"Lantas, kenapa papa malah ngotot, ingin menjadikannya menantu?" Andre semakin penasaran.
"Kamu terlalu lugu, Ndre. Tentu saja jika gadis itu menjadi istrimu, papa akan lebih mudah meminta bukti itu baik-baik padanya. Ternyata itu pun gagal. Ya, Intel itu berhasil menggagalkannya." Areta menjelaskan.
Saat ia berhasil menemukan Qia dan menolongnya ketika disekap di rumah Wandira, ia merasa sedikit bangga. Ia masih belum menemukan bukti kalau papanya adalah dalang dari penyekapan itu. Itu sebabnya, ia masih percaya diri dan berpikir jika papanya belum tentu bersalah. Ia sendiri juga belum menemukan alasan yang tepat, untuk apa papanya melakukan itu semua?
Namun, setelah mendengar penjelasan dari mamanya, pikiran Andre berubah.
"Apa kau akan semakin membenciku, Qi?" bisik hati Andre.
"Dari mana Mama mengetahui semua?" tanya Andre penasaran.
Mendengar pertanyaan itu, Areta tertawa renyah. Untuk beberapa saat, ia tampak melupakan kesedihannya.
"Andre ... Andre. Anak Mama ini rupanya polos sekali. Kamu ini terlalu lurus. Kadang Mama berpikir kalau kamu itu tidak cocok menjadi anaknya Wijaya Kusuma." Areta diam sejenak.
"Kamu lupa, ya. Mamamu ini adalah istri berjabat, juga pengusaha besar di negeri ini. Sekadar mencari informasi seperti itu, bagi Mama sangat gampang, Sayang," jelas Areta masih dengan tertawa.
Andre terhenyak beberapa saat. Kalau sudah begini tidak bisa berbuat apa-apa.
"Semua terserah Mama. Yang penting Mama bahagia. Maafin Andre, Ma, karena selama ini cenderung mengabaikan Mama. Andre mengira kalau Mama sudah bahagia," sesal Andre.
Melihat namanya yang selalu bersenang-senang dengan teman sesama sosialita, juga pulang pergi ke negara lain seperti makan kacang goreng saja, siapa yang sangka kalau wanita yang melahirkannya itu sebenarnya tidak bahagia.
"Mama juga minta maaf, Ndre. Mama juga salah. Selama ini Mama sudah berusaha untuk bertahan. Mama suka bersenang-senang dengan teman-teman yang memiliki nasib sama, tetapi ternyata itu hanya sementara. Mama sadar, semua itu hanya pelarian, tidak bisa menyelesaikan persoalan. Mama ingin menghentikan itu semua. Mama ingin bertobat, Ndre, tolong bantu Mama."
Areta menatap anaknya, sementara mata pemuda itu sudah berkaca-kaca. Begitu beratnya penderitaan mamanya, ia sendiri tidak tahu.
"Iya, Ma," jawab Andre pelan sambil memeluk mamanya. Ia sudah tidak bisa berkata-kata. Basa-basi hanya akan semakin menambah luka di hati mamanya.
Sekali lagi, Areta menangis di pelukan anaknya
"Papamu harus dihentikan, Ndre, biar tidak ada lagi yang menderita karena ulahnya. Mama sudah memutuskan untuk mengambil sikap tegas. Harus ada yang berani menghentikan kejahatannya agar tidak semakin menjadi-jadi. Kasihan dia, pertanggungjawabannya akan semakin berat nanti," sambung Areta lagi masih dengan sesenggukan.
Andre tidak bisa berbuat apa-apa.