
Setelah berpamitan pada Andre, Satrio dan Qia melangkah menuju mobil dengan perasaan lega. Qia berharap, setelah ini bosnya itu tidak mengganggunya lagi
***
Di dalam mobil.
"Selama ini Kakak mengira kamu cuma memberi pelajaran tambahan di sana, macam ... kasih les, gitu," ujar Satrio sambil menyetir. Mata elangnya fokus ke arah jalan.
"He he he. Kasih les ya guru mata pelajaran masing-masinglah, masak Qia?" seloroh Qia.
"Loh, kan Kakak tidak tahu. Lagipula, jurusan kamu kan Teknologi Pangan, gimana ceritanya kok bisa ngajar kelas menulis?" tanya Satrio lagi.
Mendengar itu, Qia tertawa renyah.
"Itu sih, kerjaan Ningrum, Kak."
"Kok bisa?" desak Satrio.
"Ya ... bisalah."
"Yakin, itu kerjaan Ningrum? Bukan trik si Andre buat deketin kamu?" Satrio mencibir.
"Ya ... gak tahu, sih. Yang jelas, Qia kan gak kenal sama Pak Andre sebelumnya." kata Qia.
"Lantas?"
"Waktu itu Bina Insani ingin ingin mengembangkan literasi siswa mereka. Awalnya, Ningrum yang ditunjuk karena ia orang sastra. Lagipula, Ningrum juga mengajar pelajaran Bahasa Indonesia di sana. Namun, karena Ningrum tidak biasa menulis, ia keberatan," jelas Qia.
"Kok malah keberatan? Ini kan kesempatan bagi dia untuk mengembangkan karier?"
"Ya ... kan gak semua orang sastra bisa nulis, kali. Tergantung ia mau mengembangkan potensinya atau tidak. Lagian, penulis itu juga gak harus dari orang sastra, kok," jawab Qia retoris.
"Itukah sebabnya orang Teknologi Pangan bisa jadi kuli tinta?" sindir Satrio.
"Maksudnya Qia, nih? Ha ha ha." Qia tertawa renyah.
"Kok malah tertawa?" tanya Satrio penasaran.
"Kalau cuma nulis satu dua opini bisa disebut kuli tinta, bolehlah. Lagian, itu kan cuma sebutan orang saja. Suka-suka mereka."
Qia kembali tertawa. Jujur baru kali ini si mata elang itu melihat gadisnya tertawa lepas seperti itu.
"Iya juga, ya?" Dalam hati, suami Qia itu membenarkan. Mungkin karena pernah membuat beberapa tulisan, Ningrum menyebut Qia sebagai kuli tinta, disamakan dengan kakaknya.
"Trus, kok bisa kamu yang direkomendasikan Ningrum? Memangnya tidak ada guru bahasa yang lain?" tanya Satrio lagi.
"Kalau itu, Qia mana tahu. Itu urusan dalam negeri mereka, Kak. Mungkin saja ada, cuma posisinya sama seperti Ningrum. Karena nulis itu bukan masalah gelar, tapi mempraktikkan," jawab Qia. MK
"Dan kamu?"
"Kalau Qia, sih, cuma kebetulan saja. Dulu Qia pernah beberapa kali menang lomba menulis opini di kampus. Nah, dari situ Ningrum yang mengetahuinya langsung nawarin Qia. Jadilah sekarang Qia mengajar di Bina Insani, deh," jelas Qia.
"Wah, istri Kakak ternyata hebat banget, pernah juara lomba? Kamu nulis tentang apa waktu itu?" pancing Satrio sambil terus menyetir.
Qia tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke arah Satrio dan menatap beberapa saat suaminya itu, seolah ingin memastikan sesuatu.
"Kenapa?"
"Jadi, ceritanya Qia lagi diinterogasi, nih?" sindir Qia. Jujur ia sangat sensitif kalau membicarakan topik ini.
Satrio terkekeh.
"Kok interogasi, sih. Kan wajar kalau Kakak ingin tahu banyak tentang kamu. Kita kan lagi pacaran, Qi."
Mendengar itu, wajah Qia jadi memerah.
"Eh? Kita sudah jadian, ya? Kapan nembaknya?" Qia berlagak pilon. Sebenarnya ia tidak ingin berbicara tentang dunia tulis menulis lagi.
"Sudah, tidak usah mengalihkan pembicaraan. Kakak cuma pingin tahu, kamu nulis tentang apa?" tanya Satrio lagi.
"Ha ha ha ... Ehm, apa, ya? Waktu itu Qia nulis tentang stunting pada balita. Qia juga pernah nulis tentang baby blues yang sedang marak, juga tentang penyakit ginjal dan diabetes melitus yang setahun terakhir ini banyak
menjangkiti anak-anak. Ya .... gitu, deh.
Gak jauh-jauh dari Teknologi Pangan, kan? Itu sebabnya Qia menang, karena Qia sangat menguasai topiknya," jelas Qia panjang lebar.
Dalam hati, Satrio membenarkan. Tadinya, ia ingin memastikan apakah Qia betul-betul seorang kuli tinta. Kalau Qia juga seorang wartawan sama seperti kakaknya, bisa saja saat kejadian itu, Qia juga sedang meliput d sana. Itu sebabnya, orang-orang jahat itu kini memburu Qia.
Namun, ternyata teorinya dapat dipatahkan.
Padahal, tadinya ia sudah merasa yakin sekali. Tadi, sebelum mengintip dan masuk ruang kelas Qia, Satrio sempat bertemu dengan Ningrum. Gadis itu cukup terkejut melihat keberadaan Satrio di tempat itu. Selama beberapa menit mereka mengobrol sekadar beramah-tamah.
Namun, Satrio memanfaatkan momen itu untuk mengorek informasi dari Ningrum. Sebagai sahabatnya, gadis itu pasti mengetahui sesuatu, terutama hubungan antara Qia dengan Andre.
"Saya senang Qia memiliki sahabat seperti Ustazah Ningrum," pancing Satrio ramah.
"Terima kasih, Pak Satrio, saya juga senang punya sahabat seperti Ustazah Qia. Dia baik sekali," balas Ningrum rada gugup. Bagaimanapun, orang yang ada di depannya ini kelewat tampan.
"Tentu saja tidak, Pak, kami memang sangat dekat. Tapi tidak semua hal diceritakan ke saya, termasuk tentang Pak Satrio," jawab Ningrum agak gugup. Ia merasa tidak nyaman.
"Masak, sih? Kalian kan dekat?" tanya Satrio seolah-olah tidak percaya.
"Betul Pak. Qia memang tidak pernah cerita tentang Bapak. Lagipula, pernikahan kalian sangat mendadak. Ini berbeda dengan Kak Pras."
Satrio sedikit menyeringai. Ternyata umpannya dimakan oleh Ningrum.
Ningrum bertambah gugup. Satrio memang tidak terlihat memaksa. Tutur katanya cukup lembut, tidak kasar sama sekali. Tidak ada nada amarah di dalamnya. Namun, mata elang itu seolah mengintimidasinya, membuatnya tergiring untuk menjawab pertanyaan yang diajukan.
"Jadi, Ustazah Ningrum kenal sama Kak Pras juga?" tanya Satrio lagi.
"Secara langsung, sih, tidak, Pak, karena saya belum pernah bertemu dengan Kak Pras. Hanya saja, Qia pernah bercerita sedikit."
"Oh ya?"
"Yang jelas, mereka memiliki misi dan visi yang sama. Mungkin itu yang membuat mereka memutuskan untuk menikah. Satu lagi yang membuat Qia merasa cocok, mereka berdua sama-sama kuli tinta," jelas Ningrum. "Eh, kenapa saya jadi banyak bicara? Maaf Pak Satrio."
"Tidak apa-apa, Ustazah, saya maklum, kok."
Tadinya Satrio ingin mengorek tentang Andre, ternyata ia malah mendapat informasi tentang Prasetyo.
Keberadaan kakaknya sebagai wartawan senior, tentu sudah ia ketahui. Tapi Qia? Apa iya, gadisnya itu seorang wartawan juga? Kenapa tidak pernah melakukan liputan? Setahunya istrinya itu hampir tidak pernah ke mana-mana, kecuali kampus, sekolah Bina Insani, ataupun tempat pengajian.
Karena penasaran, Satrio memutuskan untuk melihat Qia mengajar untuk memastikan. Dan dari percakapan dengan Qia tadi, Satrio menyimpulkan kalau dugaan keterlibatan Qia dalam kasus kakaknya adalah salah.
"Sepertinya Kakak tidak percaya sama jawaban Qia?"
"Siapa bilang? Kakak percaya, kok," jawab Satrio.
"Kalau begitu, kenapa Kakak diam?" tanya Qia lagi.
"Itu karena Kakak sedang terpana sama kecantikan istri Kakak ini. Jujur, baru kali ini, loh, Kakak melihat kamu tertawa lepas seperti tadi."
"Halllah, gombal," potong Qia sambil memonyongkan bibirnya.
"Beneran, kamu memang cantik sekali."
Bisa ditebak, wajah Qia jadi memerah.
"Dasar tukang rayu!" seru Qia sambil memukul ringan lengan suaminya.
Tiba-tiba saja, mobil mereka tampak sedikit oleng. Satrio tampak seperti menghindari sesuatu. Ternyata dari arah depan, ada sebuah pickup yang sepertinya mau menabrak mobil yang dikendarai Satrio.
Untungnya dengan sigap suami Qia itu bisa menghindar dan menyeimbangkan posisi mereka sehingga mobil yang mereka tumpangi tidak sampai kecelakaan.
"Duar."
Tabrakan yang sangat keras antara pickup dengan mobil yang ada di belakang Satrio tidak bisa dihindarkan.
Sementara, Satrio yang berhasil terhindar dari kecelakaan berusaha menguasai keadaan. Belum sampai stabil, sebuah panther hitam menghantam bemper Porche dengan cukup keras.
Untuk kedua kalinya, Satrio berhasil menguasai keadaan.
Qia yang duduk di sampingnya langsung ketakutan. Wajahnya yang tadi merona kini me jadi pucat.
"Pegangan yang kuat, Qi!" teriak Satrio dari samping. Pemuda itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Duar ...duar ... duar."
Terdengar suara tembakan beruntun. Qia semakin ketakutan.
"Merunduk, Qi!" Perintah Satrio.
Pemuda itu lalu menghubungi Hendra melalui arloji pintarnya, kemudian mengeluarkan pistol dari balik jaketnya. Qia semakin tercekat. Perasaannya seperti diaduk-aduk. Bagaimana tidak, ternyata diam-diam suaminya menyimpan senjata di balik bajunya.
Sementara itu, Satrio masih fokus menyetir sambil sesekali melepas tembakan. Di belakang, mobil yang mengejar mereka bertambah dua. Suara tembakan masih terus terdengar.
"Tetap merunduk, Qi," seru Satrio. Jujur ia agak khawatir karena ada Qia di sisinya. Andai ia sedang sendiri, tentu lain lagi ceritanya.
"Duar."
Satu tembakan sepertinya menyerempet kaca samping mereka. Untungnya Satrio masih bisa mengendalikan.
Namun, saat itu posisi mereka sangat sangat rawan. Satrio menyadari itu.
"Halo, Bos." Terdengar suara Hendra dari seberang.
"Jalan Yos Sudarso KM 7, gue diserang. Dua penembak jitu, tiga panther di belakang. Cepatlah!"
"Siap!"
Sementara itu, Qia masih merunduk. Ia sangat ketakutan, tetapi tidak berani mengganggu suaminya yang sedang berkonsentrasi.