Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
63. Harusnya Kutunggu Jandanya?



Awalnya, Andre menemui Ustaz Hanif karena ingin mengetahui misi dan visi Qia sesuai dengan arahan Ningrum. Dulu ia sempat mendengar perbincangan kedua gadis itu tanpa sengaja.


Menurut Qia, Andre terlalu kaya dan tampan sehingga gadis itu khawatir kalau bersanding dengannya tidak akan sempat berbenah karena sibuk mengawasinya. Selain itu, visi dan misi mereka pun tidak sama. Itulah poin penting kenapa Taqiya Eldiina menolak dirinya.


Andre yang penasaran akhirnya betul-betul menemui suami dari Ustazah Kamila itu untuk menanyakannya. Ia begitu terobsesi ingin memiliki gadis itu. Dialah pecinta gila, seperti yang tertulis dalam puisi Kemilau Senja. Dan sekarang gadis itu sudah ada yang punya.


"Haruskah aku menunggu jandanya?" batin Satrio.


Meski begitu, menurutnya ngobrol bareng sang Ustaz sangat menyenangkan. Suami Ustazah Kamila itu memiliki banyak wawasan. Tak hanya melulu tentang agama semua hal sepertinya mampu ia kuasai. Itu sebabnya, Andre keterusan.


Karena itu, secara berkala ia minta bertemu dengan Ustaz Hanif untuk berdiskusi tentang banyak hal, tak hanya menanyakan tentang misi dan visi Qia. Itulah mengapa sore itu ia ada di rumah sang Ustaz.


Tak disangka, ternyata gadis pujaannya juga datang ke sana. Namun, yang membuat Andre tidak nyaman adalah gadis itu datang bersama dengan kekasih halalnya. Sekarang, lelaki yang sudah merenggut satu-satunya cintanya itu sedang duduk di sebelahnya dengan wajah datar dan tatapan tajam, seolah sedang mengintimidasinya.


Andre adalah anak orang kaya. Sejak kecil ia terbiasa dihormati. Orang-orang banyak yang merunduk di hadapannya. Apalagi, saat ia dewasa seperti sekarang ini. Ia memimpin beberapa yayasan sosial dan pendidikan yang cukup besar. Ia juga memiliki usaha sendiri di luar kerajaan bisnis milik Wijaya, ayahnya.


Namun, lihatlah. Di hadapan lelaki bernama Satrio itu dirinya sungguh tidak berdaya. Jujur dari tadi Andre merasa gelisah. Bahkan, perasaan tidak nyaman itu ia rasakan jauh sebelum ia tahu kalau lelaki itu adalah suami Qia.


Ya, pertama kali mereka bertemu adalah saat Qia mengalami kecelakaan, tertabrak saat gadis itu naik sepeda pancal di bundaran. Saat matanya bersirobok dengan mata Satrio, entah mengapa ia merasa terintimidasi. Dan perasaan itu ia rasakan sampai sekarang. Itulah sebabnya, Andre saat ini merasa tidak nyaman.


Apalagi, Satrio tidak banyak bicara. Ia lebih banyak mendengarkan, lebih tepatnya mengamati keadaan. Namun begitu, matanya yang setajam elang itu seperti siap untuk menerkam mangsa di depannya.


"Jadi ... Pak Andre ini memang sering berkunjung ke sini, ya?" todong Satrio tiba-tiba.


Andre agak terkesiap. Pasalnya, dari tadi suami Qia itu tidak banyak bicara. Sekali bicara, langsung ditujukan padanya, seolah sedang menginterogasi kalau-kalau niatnya ke tempat itu memang sengaja untuk bertemu dengan Qia.


Entahlah, mungkin Andre terlalu berprasangka. Namun, itulah yang ia rasakan saat ini.


"Tidak juga Pak Satrio. Pinginnya sih sesering mungkin, sekalian ikut nyantri di sini. Namun, waktunya ini yang masih susah dicari," jawab Andre, mencoba bersikap tenang.


"Wah, saya jadi penasaran, pingin nyantri juga, Ustaz," jawab Satrio. Kalimat itu ditujukan pada Ustaz Hanif.


"Monggo. Kalau Mas Satrio berkenan, silakan saja. Sebenarnya bukan nyantri, sih. Di sini bukan pondok pesantren. Saya hanya berbagi sedikit yang saya ketahui." Kali ini yang menjawab Ustaz Hanif.


"Bagus," pikir Satrio. Dengan begitu, banyak kesempatan baginya untuk mengorek informasi dari sang Ustaz.


Akhirnya mereka berbincang tentang beberapa hal. Satrio sendiri cukup kagum dengan kecerdasan Ustaz Hanif.


***


Sementara itu, Qia sedang berada di dalam bersama dengan Ustazah Kamila. Hari ini bukan jadwal mereka pengajian. Itu sebabnya, tidak ada orang lain yang datang selain mereka berdua. Qia sengaja minta bertemu dengan Ustazah karena ingin berkonsultasi tentang persoalan pribadi.


Sebenarnya Qia bukan tipikal orang yang suka mengumbar masalah, apalagi aib keluarga. Ia bercerita ini dalam rangka untuk mencari solusi. Itu pun tidak ke sembarang orang, melainkan hanya pada orang yang bisa dia percaya untuk menyelesaikan masalah.


Ustazah Kamila adalah orang yang tepat menurutnya. Bahkan, ibunya sendiri pun tidak tahu masalah sesungguhnya. Bukan karena tidak percaya, tetapi Qia tidak ingin ibunya menjadi cemas karena memikirkannya.


"Bagaimana kabar anti, Dek?" tanya Ustazah setelah berbalas salam dan cipika-cipiki.


"Alhamdulillah, kami sekeluarga juga baik-baik saja."


Tanpa membuang waktu, akhirnya Qia mulai mengutarakan kesulitannya, tetapi tidak semua. Ada beberapa hal yang sengaja ia simpan, misalnya tentang flashdisk dari Prasetyo karena menurutnya akan berbahaya jika diketahui banyak orang.


"Intinya, kalian itu kurang komunikasi, Dek. Tidak bisakah anti tanyakan secara langsung pada beliau, apa sebenarnya yang sedang beliau kerjakan, biar tidak ada prasangka," kata Ustazah.


"Sebenarnya sudah, Us. Hanya saja, jawabannya kurang memuaskan menurut saya," jawab Qia.


"Terkadang ada hal-hal yang sebaiknya kita tidak perlu mengetahuinya, demi kebaikan kita sendiri. Mungkin ... beliau memiliki pertimbangan tersendiri kenapa sampai tidak berterus terang, Dek. Anti ambil positifnya saja.


Bisa jadi, hal itu beliau lakukan karena ingin melindungi anti, mengingat kasus yang sedang anti hadapi saat ini tidak bisa dianggap ringan," jelas Ustazah panjang lebar.


Qia merenungi setiap kata yang disampaikan oleh Ustazah.


"Coba anti bayangkan, apakah nyaman kalau setiap saat anti lalui dengan penuh kecurigaan, padahal setiap hari tinggal bersamanya. Alangkah nelangsanya hidup ini kalau kita menjalaninya seperti itu?


Setiap saat, anti akan disibukan dengan rasa curiga. Padahal, masalah sesungguhnya menunggu untuk dipecahkan. Anti telah menyia-nyiakan waktu yang sangat berharga ini, juga kemampuan dan segala tanggung jawab anti.


Cobalah anti mulai memupuk rasa percaya pada beliau. Toh, sampai sejauh ini hampir tidak ada tindakan beliau yang merugikan ataupun membahayakan anti. Saya lihat, justru beliau selalu melindungi dan perhatian sama anti."


"Iya, Us. Sejauh ini Kak Satrio selalu bersikap baik pada saya. Mungkin saya yang terlalu curiga, Us," jawab Qia sambil menunduk.


"Ingatlah, Dek. Begitu orangnya, begitu pula jodohnya. Kalau anti merasa suami anti sangat misterius, bisa jadi beliau juga merasa kalau anti juga misterius.


Anti menginginkan keterbukaan pada suami, jangan-jangan ... anti sendiri juga tidak bersikap terbuka. Jangan-jangan, malah anti sendiri yang menyembunyikan sesuatu."


"Jleb."


Kalimat Ustazah Kamila tepat menghujam di dada Qia. Jujur, semua yang diucapkan Ustazah itu benar adanya. Mungkin dirinya terlalu berprasangka buruk sama suaminya, padahal lelaki itu sudah bersikap sangat baik.


Satu lagi, ia sendiri juga tidak bersikap terbuka, apa pantas kalau dirinya menuntut keterbukaan pada suaminya?


"Ibarat melihat sebuah cermin, jika ada noda di pipi kita, maka bayangan yang nampak juga ternoda. Begitulah kehidupan berumah tangga. Jangan sampai cermin itu retak gara-gara setitik nila. Kalau sudah seperti itu, kita tidak akan lagi bisa berkaca. Kalau sudah begitu, di mata kita, orang lain selalu salah.


Suami kita adalah cerminan dari kita. Kalau kita menginginkan pasangan kita baik, berusahalah memantaskan diri menjadi orang baik. Itu adalah salah satu ikhtiar termudah yang bisa kita lakukan."


Qia tidak bersuara. Ia hanya menunduk sambil merenungi setiap kata yang meluncur dari bibir Ustazah


Bagi Qia, semua yang disampaikan oleh Ustazah itu tepat mengenai sasaran.


"Coba renungkan itu, Dek. Ingatlah, menyimpan bara di bawah bantal itu tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Lama-lama, bara itu akan berubah menjadi api yang siap membakar kapan saja," kata Ustazah lagi.


Sampai di sini, Qia hanya bisa bungkam.


___