Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
87. Pancaroba Cinta 1



...Pancaroba di hatiku...


...Membuat aku ragu...


...Akan makna hadirmu,...


...Yang serba ambigu...


...Duhai separuh nyawaku!...


***


Di dalam mobil, Satrio segera memesan makanan melalui delivery order. Seperti dugaan Qia, setelah selesai memesan makanan, Satrio langsung memencet nomor yang tadi dipakai Qia untuk menelponnya. Namun sayang, nomor itu tidak aktif karena memang Qia sudah mematikannya. Pemuda itu lalu mengetikkan beberapa huruf, kemudian mengirimkan pada Arka.


[Cari informasi tentang  nomor ini sekarang, GPL]


[Siap]


Sementara itu, Qia yang benar-benar merasa lelah akhirnya tertidur dengan kepala menyandar di pundak Satrio, sementara kedua tangannya memeluk lengan kokoh suaminya.


"Untuk ukuran orang kebanyakan, Kakak ipar ini termasuk luar biasa, Bos," kata Hendra yang sedang duduk di depan.


"Lo muji istri gue, Hen?" Gumam Satrio datar. Aura dingin terpancar dari kata-kata itu.


Sebenarnya hubungan antara Satrio dengan Hendra cukup dekat, tidak seperti dengan anak buahnya yang lain. Itu sebabnya, Satrio masih sering ber elo gue sama pemuda itu. Namun, kalau sudah berbicara tentang wanitanya, si Bos tidak pandang bulu. Posesifnya ini, loh, betul-betul tidak ketulungan.


Melihat geliat yang kurang mengenakkan, Hendra jadi keder. Karena takut tambah salah, maka ia memutuskan untuk diam. Untungnya, gerbang rumah Satrio sudah mulai terlihat.


"Sudah sampai, Bos."


Satrio tidak menjawab. Tanpa ba bi bu, ia langsung mengangkat tubuh mungil istrinya yang sedang terlelap. Ia terlihat sangat hati-hati karena tidak ingin kelinci kecil itu terbangun. Selain karena tidak tega karena sang istri terlihat betul-betul lelah, ia juga tahu, dalam keadaan sadar istri mungilnya itu tidak akan pernah mau digendong saat berada di luar rumah. Takut yang jomlo pada ileran, katanya.


Melihat itu, Hendra hanya bisa bergumam sambil mencebikkan bibirnya.


"Astaga, Bos, sampai segitunya."


Satrio tidak peduli. Ia membawa istrinya masuk dan perlahan-lahan membaringkannya di tempat.


Satrio menghela napas, sambil menatap wajah cantik itu. Ia lalu membuka kerudung Qia agar sang istri merasa nyaman. Namun, ia membiarkan pakaian luar atau gamis Qia tetap melekat di tubuh mungilnya karena takut membuat sang istri bangun.


Wajah cantik itu masih tergolek tak berdaya, begitu polos dan rapuh. Tapi kalau sedang marah, judesnya minta ampun. Satrio sendiri pernah kena getahnya.


Dulu, saat pertama kali bertemu, ia sempat kena damprat gara-gara memegang pundaknya. Padahal, waktu itu Satrio baru saja mengangkat tubuh Qia yang ada di tengah jalan setelah tertabrak motor. Jujur, waktu itu Satrio sempat kesal juga. Bagaimana tidak, orang sudah ditolong malah belagu amat.


Dulu, pernah kepikiran juga untuk mengerjai Qia kalau sudah resmi menikah. Namun, melihat wajah polos dan rapuh seperti itu, ia malah tidak tega.


Sekali lagi Satrio menghela napas. Ia pandangi wajah cantik itu lebih inten.


"Kenapa kau sangat misterius? Melihat genggaman tanganmu yang sekecil ini, volume otakmu mungkin tidak terlalu besar. Tapi kenapa Kakak sulit sekali menjangkau isi pikiranmu? Kakak tahu kamu menyembunyikan sesuatu. Tidak bisakah kau percaya sepenuhnya sama Kakak?" gumam Satrio sambil mengelus lembut kepala Qia. Sekali lagi, pemuda itu menghela napas


Beberapa saat kemudian, ponsel Satrio berdering.


"Bos, makanan sudah sampai." Terdengar suara Hendra di seberang begitu Satrio mengangkat ponselnya.


"Oke. Terima kasih. Gue akan segera turun. Lo makanlah sekalian, Hen," kata Satrio.


"Tidak usah, Bos. Saya sudah makan tadi," tolak Hendra halus. Mana mungkin ia mau membersamai dua anak manusia yang sedang bucin-bucinnya.


Satrio tidak memaksa. Ia tahu siapa Hendra. Lelaki yang sudah lama menjadi anak buahnya itu memang selalu bilang apa adanya. Kalau dia bilang sudah makan, pasti tadi memang sudah makan sungguhan.


Satrio lalu mengalihkan kembali perhatian ke istrinya. Tangan kokohnya kini membelai pipi halus itu ragu. Mau membangunkan, ia merasa tidak tega karena istrinya masih terlihat lelah. Tapi kalau tidak dibangunkan, istrinya akan masuk angin dan biasanya butuh waktu cukup lama untuk sembuh.


Qia juga terlihat terkejut karena begitu bangun yang pertama kali ia lihat adalah wajah suaminya.


"Kak ... kita ada di mana sekarang?" tanya Qia sambil mengucek matanya ringan. Suaranya terdengar serak, terlihat jelas kalau ia baru bangun.


"Di kamar kita," jawab Satrio sambil terus menatapnya.


"Jadi, sudah sampai rumah, ya?" tanya Qia dan dijawab oleh Satrio dengan anggukan.


Secara spontan, tangan kanan Qia menyentuh ringan saku gamisnya, sekadar untuk mengetahui apakah benda keras itu ada di sana.


"Syukurlah, Kak Satrio belum sempat melepas baju ini atau menyentuh saku gamis ini, meski secara tidak sengaja. Jika itu terjadi, kemungkinan besar Kak Satrio akan menemukan ponsel ini," batin Qia.


"Makanannya sudah datang, kita makan dulu, yuk," ajak Satrio.


Qia mengangguk.


"Tapi Qia mandi dulu, ya, Kak? Rasanya lengket sekali," ujar Qia yang dibalas dengan anggukan.


"Kalau begitu, biar Kakak persiapkan," kata Satrio kemudian.


Qia tidak menolak. Ia memang sangat lelah, terlebih kejadian tadi memang sangat menegangkan.


Ia lalu bergegas ke kamar mandi setelah terlebih dahulu mengamankan ponsel Kemilau Senja.


***


"Apa masih pusing?" tanya Satrio setelah mereka makan.


Saat itu, mereka sedang duduk di ruang keluarga.


Qia mengangguk. Ia tidak berbohong. Kepalanya memang sedang berdenyut-denyut.


"Biar Kakak ambilkan pereda nyeri," ujar Satrio kemudian bangkit. Tak lama, ia kembali dengan segelas air putih dan obat pereda nyeri.


"Terima kasih, Kak."


Qia meminum obat itu kemudian menyandarkan kepalanya di sofa. Namun, Satrio memindahkan tubuh mungil itu ke pangkuannya. Kemudian ia mulai memijit perlahan daerah di antara alis, di atas jembatan hidung Qia. Suami Qia itu menekan secara perlahan titik tersebut menggunakan ibu jari dengan tingkatan tekanan yang beragam hingga Qia merasa nyaman.


Satrio juga memijit  pelipis  di sisi kanan dan kiri menggunakan ketiga jari yang berada di tengah dengan gerakan memutar selama beberapa detik. Pijatan ini membuat Qia merasa lebih baik.


"Apa sekarang masih terasa sakit?" bisik Satrio lembut.


"Alhamdulillah, sudah lebih enakan, Kak. Kakak pinter banget mijitnya," puji Qia. Entah karena pijitan sang suami atau karena obatnya sudah bekerja, nyatanya kini Qia sudah tidak merasa sakit lagi.


Satrio merasa lega. Bagaimanapun, kesehatan Qia adalah yang utama.


"Alhamdulillah, kamu punya waktu satu hari untuk memulihkan kesehatan. Lusa kamu ujian, kalau kamu sakit, ujianmu tidak akan optimal," kata Satrio.


"Iya, Kak. Semoga saat ujian nanti tidak akan ada drama lagi. Apa menurut Kakak, mereka akan menyerang Qia lagi?" tanya Qia cemas.


"Bismillah, Kakak akan perketat penjagaan. Jadi, jangan terlalu cemas akan hal itu. Pikirkan saja tentang ujian itu, jangan sampai pikiranmu bercabang," tutur Satrio.


"Iya, Kak. Tapi, semua di luar kehendak Qia. Semua terjadi begitu saja. Sepertinya mereka sudah tahu apa saja kegiatan Qia. Apa mungkin kita disadap ya, Kak?" tanya Qia.


Satrio tidak langsung menjawab. Ia menatap wajah istrinya lekat-lekat.


Ditatap seperti itu, tiba-tiba Qia menyadari sesuatu. Sungguh ia menyesal kenapa menanyakan itu pada suaminya. Pertanyaan itu sama saja dengan mengingatkan Satrio akan pertanyaan di mobil tadi.


Dan benar saja dugaannya. Satrio benar-benar menanyakan itu padanya.