Taqiya'S Scret

Taqiya'S Scret
118. Sang Idola 2



"Kenapa Anda membocorkan rahasia kita, Pak?" kata seorang pria yang tadi menendang dan memukuli Satrio. Wajahnya menampakkan ketidaksukaan


Ia adalah anggota murni pasukan ilegal bentukan dari Wijaya Kusuma. Sebelum kedatangan Andika, orang itu adalah ketuanya. Namanya Danang.


Sebenarnya, pasukan itu adalah organisasi liar yang tidak ada hubungannya dengan pasukan keamanan negara. Hanya saja, Wijaya sengaja merekrut Andika agar bisa melegitimasi semua tindakannya.


Andika adalah pasukan resmi negara. Kalau pemuda itu diberi wewenang untuk memimpin pasukan di setiap operasi yang ia lakukan, maka seolah-olah yang mereka lakukan adalah legal.


"Diamlah, itu bukan urusanmu!" bentak Andika marah. Lelaki itu merasa tersinggung karena Danang mulai ikut campur terhadap urusannya.


"Saat ini Pak Andika memang pemimpin kami. Namun, bukan berarti Pak Andika bisa bertindak semaunya. Ingat, saya akan melaporkan semua perbuatan Pak Andika pada Bos Besar," gertak Danang marah.


Sejak awal, Danang memang tidak begitu respek sama Andika karena telah menggeser posisinya. Sekarang, ketika Andika membuat sedikit kesalahan, akhirnya ia memiliki kesempatan untuk membalasnya.


"Oh, silakan saja. Kita liat apakah bos lebih percaya sama kamu atau saya," jawab Andik enteng. Jujur ia merasa tidak suka karena tindakannya dikritik.


"Baik. Saat ini Bos memang lebih percaya sama Pak Andika. Tapi, lihat saja. Kalau saya bisa membuktikan penghianatan Pak Andika, tamatlah Anda rasakan akibatnya," kata Danang sambil berlalu.


Lelaki yang sebelumnya menjadi kepercayaan Wijaya Kusuma itu pergi bersama dengan anak buahnya. Di ruang yang pengap dan lembab itu, tinggal Andika dan Satrio saja.


Satrio yang menyaksikan perdebatan itu dan berhasil memecah kekuatan lawan hanya tersenyum smirk.


***


Sementara itu, di tempat Qia berada, semua orang sedang panik, terutama Qia, kedua orang tua dan mertuanya. Pasalnya, sampai tengah malam Satrio belum kembali juga. Bahkan, sampai pagi menjelang, lelaki itu belum menampakkan batang hidungnya.


Sebenarnya Abi Kun sudah tahu kalau Satrio sedang menyamar untuk masuk ke sarang lawan. Hanya saja, ia tidak menyangka bakal tidak pulang seperti. Dulu, saat Satrio bertugas untuk menjalankan misi, lelaki itu tidak pernah tahu, betapa bahayanya tiap misi yang dilakukan. Bahkan apa pekerjaan anaknya pun ia sendiri tidak tahu.


"Sebenarnya Kak Satrio ke mana, Bu?" tanya Umi saat mereka sedang berada di ruang makan.


"Abi, sih, tidak tahu secara pasti. Abi cuma tahu kalau Satrio kemarin menyamar agar bisa masuk ke sarang musuh," jawab Abi Kun polos.


"Astaghfirullah, jadi Kak Satrio kemarin menyamar, Bu?" tanya Qia hampir tak percaya.


"Betul begitu, Bi?" Umi Silmi menyelidik.


Abi Kun tidak menjawab. Lelaki yang sudah sepuh itu hanya menghela napas panjang. Empat orang yang sedang menghadap ke arahnya itu tidak melanjutkan pertanyaan. Mereka sudah tahu kalau jawabannya adalah iya.


"Qia jadi khawatir, Bi. Kalau Kak Satrio ditangkap oleh mereka bagaimana, Bi?" tanya Qia cemas.


"Loh loh loh, apa betul begitu, Mas Kun?" Kali ini Bu Mirna yang berseloroh karena ikut cemas.


"Ya Allah, Gusti. Kenapa kemarin dibiarkan pergi, Bu?" Umi Silmi jadi ikut cemas.


"Astaghfirullah, mbok ya jangan pada panik seperti itu?" ujar Abi Kun.


Sementara, Pak Zul hanya diam sambil menyimak.


"Bagaimana tidak panik, Bi? Abi kan tahu, anak kita sedang difitnah dan sekarang dinyatakan sebagai buron? Jelas kita semua khawatir. Apa Abi tidak khawatir. Pras sudah pergi jauh, sekarang hanya tinggal dia anak kita, Bi," kata Umi Silmi.


"Astaghfirullah, Umi nyebut, lah. Tentu saja Abi juga sangat khawatir. Namun, apa perlu Abi harus teriak-teriak sambil nangis-nangis heboh?"


"Ya enggak gitu juga, kali, Bi."


"Abi yakin, Satrio pasti tahu apa yang harus dilakukan. Dia itu sangat berpengalaman. Jadi, jangan terlalu cemas. Kita doakan saja semoga semua lancar seperti yang ia rencanakan bersama Adrian," kata Abi Kun.


Semua lalu terdiam, terutama Qia. Dari tadi istri Satrio itu hanya mengaduk-aduk makanan yang ada di piringnya. Belum ada sebutir nasi pun yang sempat masuk ke perutnya.


Sejak beberapa hari yang lalu Qia memang sedang tidak enak badan. Terlebih, dengan berita ketidakpulangan suaminya. Sungguh wanita itu menjadi semakin tidak bergairah.


Saat semua orang masih heboh tentang ketidakpulangan Satrio, tiba-tiba kepala Qia semakin terasa pusing. Karena tidak tahan lagi menahannya, akhirnya kepala jatuh terkulai ke atas meja. Untunnya posisi kepalanya ada di sebelah piringnya.