
Hallo Readers, mohon maaf kalau bab ini terkesan ngasal 🙏🙏 karena author lagi sakit kepala, nih.
Oh ya, jangan lupa like dan komen ya, selamat membaca ❤️❤️❤️
***
Diam Berarti Iya
Qia sudah selesai mengumpulkan bahan untuk reportase, tinggal menyusun saja. Biasanya ia mengeksekusi tulisan itu sepertiga waktu di penghujung malam. Menurutnya, itu adalah waktu yang paling efektif menulis karena pikirannya sedang fresh.
Melihat Qia beres-beres dan memasukkan alat tulis ke dalam tas, Satrio Menghentikan aktivitasnya sekarang.
"Sudah selesai, Qi?" tanya Satrio sambil meletakkan ponsel di sampingnya.
"He em," gumam Qia. Tangannya terlihat menutup resleting tas, kemudian menoleh ke suaminya.
"Kakak butuh sesuatu?" tanya gadis itu lembut sambil mendekati Satrio. Ia juga sempat menyentuh kening lelaki itu.
"Sini, berbaring di sini." Bukannya menjawab pertanyaan itu, Satrio malah meminta Qia mendekat dan berbaring di sisinya sambil menepuk-nepuk bantal di sebelahnya.
Qia menurut. Tiga bulan tinggal bersama, tentu rasa canggungnya sudah mulai hilang. Sebenarnya ia sudah mulai lelah dan agak mengantuk, tetapi ia tidak keberatan menemani suaminya. Ia berpikir, Satrio sedang terluka, siapa tahu membutuhkan sesuatu atau masih merasa sakit.
"Kau ... sudah ngantuk?" tanya Satrio melihat istrinya menguap.
"Dikit."
"Dikit? Ya sudah, kalau begitu besok saja, ngobrolnya. Sekarang kamu tidur dulu," jawab Satrio.
"Tidak apa-apa, Kak. Kalau ngantuknya masih dikit, biasanya susah tidurnya. Siapa tahu, dengan ngobrol nanti Qia bisa tertidur," ujar Qia retoris sambil meletakkan kepalanya di atas bantal.
Sesungguhnya ia penasaran, apa yang akan dibicarakan oleh laki-laki yang sudah mulai meluluhkan hatinya ini. Ia tidak mau penasaran sepanjang malam. Semakin cepat diutarakan, maka semakin cepat juga ia mencari dan menemukan solusi. Tiba-tiba ia teringat pembicaraan Satrio dengan dua kakak angkatnya tadi siang.
"Apa ini tentang Kemilau Senja?" pikir Qia. Namun, gadis itu mencoba untuk bersikap normal meski jantungnya mulai tidak normal.
"Ha ha ha, teori dari mana itu? Sependek yang Kakak tahu, nih, ya, semakin kita ngobrol malah semakin tidak bisa tidur." Satrio tertawa renyah, terdengar sangat merdu di telinga Qia.
"Yaa ... Teori dari Qialah, Kak. Kan tadi Qia yang bilang. Apalagi ngobrolnya sambil gini."
Qia memiringkan tubuhnya. Tangan kanannya memeluk tubuh Satrio, kemudian kepalanya disusupkan ke dada bidang sang suami. Terlihat sekali kalau ia sudah tidak begitu canggung lagi berdekatan dengan suaminya.
Maksud Qia tadi hanya bercanda, toh ia sudah pernah memeluk suaminya seperti itu. Ternyata, di luar dugaan Satrio malah diam beberapa saat. Qia jadi khawatir, jangan-jangan ada yang salah dalam ucapannya.
Sementara itu, Satrio menelan ludah.
"Astaga, kenapa godain Kakak kayak gini, Qi?" batin Satrio.
"Kalau kayak gini, tar malah ada yang tidak bisa tidur. Kamu harus tanggung jawab loh, ya? Kamu dengar sendiri kan, jantung Kakak mulai berdegup kencang," jawab Satrio terus terang, tanpa malu atau gengsi. Suaranya terdengar serak.
Beberapa saat, Qia masih belum bisa mencerna apa yang dimaksud Satrio. Namun, setelah itu ....
"Astaghfirullah!" serunya dalam hati.
Buru-buru gadis itu bangkit dan duduk tegak dengan wajah seperti kepiting rebus.
"Kenapa?" tanya Satrio sambil bangkit juga, kemudian duduk. Sebuah seringai tipis muncul di sudut kanan bibirnya.
"Tidak apa-apa. Maaf, tadi Qia tidak bermaksud begitu, Kak. Tadi hanya ...." Qia mendadak gugup.
"Begitu apa maksudnya?" tanya Satrio pura-pura tidak mengerti.
"Ya ... Itu. Seperti yang Kakak katakan tadi."
"Memangnya, Kakak bilang apa tadi?" goda Satrio.
"Kakak ...." Qia memukul ringan dada Satrio.
"Aduh, sakit Qi. Memang Kakak salah apa? Kakak lagi sakit, nih. Trus kamu tindih seperti itu, Kakak jadi sesak. Makanya jantung Kakak berdebar keras dan gak bisa tidur," kilah Satrio sambil tersenyum nakal.
Qia bangkit dengan wajah semerah tomat. Ia betul-betul malu karena sudah berpikir ngeres. Itu sebabnya, ia bermaksud keluar dari kamar itu. Namun, Satrio menangkap tangan Qia dan mendudukkan kembali di pangkuannya.
"Mau ke mana?" Satrio berbisik lembut membuat Qia merinding.
"Qia ... mau ambilin Kakak minum."
"Kakak gak haus."
"Tapi Qia haus."
Rupanya Qia memilih kata-kata yang salah karena Satrio menerjemahkan kalimat itu berbeda. Itu terlihat dari tatapan Satrio yang tidak biasa.
Buru-buru gadis itu mengubah topik pembicaraan.
"Katanya mau ngobrol. Kakak mau bicara tentang apa?" tanya Qia gugup. Wajahnya terlihat sangat tegang.
"Dasar kelinci kecil!" ujarnya sambil mencubit ringan hidung Qia.
"Auw! Sakit, Kak."
Satrio hanya tertawa mendengarnya.
"Jangan tegang gitu, Kakak tidak akan menelanmu. Kita ngobrol santai aja."
"Oke. Kita mau ngobrol tentang apa, nih?"
"Tidak terlalu penting, sih, Kakak cuma pingin tahu, kenapa kamu ngefans sama Kemilau Senja?" tanya Satrio santai.
Namun, di telinga Qia seperti palu godam, meski ia tadi sempat menduga.
"Deg!" Jantung Qia kini giliran yang berdetak kencang. Namun, sedapat mungkin ia berusaha untuk bersikap wajar.
Ia tidak langsung menjawab, tetap menatap mata suaminya beberapa saat.
"Kenapa diam?" tanya Satrio lembut, seolah tidak ada apa-apa. Namun, pikirannya saat itu sibuk menganalisa, setiap perubahan wajah dan gestur tubuh istrinya.
"Mengapa Kakak mengira Qia ngefans sama Kemilau Senja?" Qia balik bertanya.
"Kelinci kecil ini sangat tenang. Kalau memang dia adalah Kemilau Senja, pengendalian dirinya pasti sangat baik," batin Satrio kagum.
"Kakak lihat, kamu suka banget baca novelnya sampai-sampai senyum-senyum sendiri. Kadang terlihat sangat tegang, kadang juga sedih," jelas Satrio.
"Kalau ngefans sih, tidak ya, Kak. Cuma seneng aja baca beberapa tulisannya," jawab Qia retoris.
"Oh ya? Kakak jadi penasaran, memangnya bagus sekali, ya?" tanya Satrio lagi.
Sementara itu, Qia sadar sepenuhnya kalau dirinya sedang diinterogasi secara halus oleh suaminya.
"Kalau menurut Qia, lumayan, sih. Kalau dibilang sangat bagus, enggak juga, cuma ... gimana ya? Orang kalau seneng itu ya, kadang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata."
"Kamu bikin Kakak makin penasaran, Qi. Seistimewa itukah?" tanya Satrio lagi.
"Tentu saja. Apa pun jawaban Qia, Kakak akan selalu penasaran. Orang Kakak lagi menyelidiki Qia," gerutu Qia kesal, tentu hanya sampai di tenggorokan saja.
"Pokoknya Qia merasa cocok aja dengan ceritanya. Dalam cerita itu, kadang dia itu konyol sekali hingga Qia senyum-senyum sendiri. Kadang dia serius banget hingga Qia merasa bosan membacanya, kadang juga menjengkelkan," jelas Qia.
"Kalau membosankan kenapa terus dibaca?" kejar Satrio.
"Kan, kadang-kadang saja, Kak? Lagipula, banyak pelajaran yang bisa dipetik dari tulisannya. Qia banyak terinspirasi darinya," kata Qia lagi.
"Oh ya? Inspirasi kayak apa?" tanya Satrio lagi.
Qia melirik sekilas suaminya.
"Sudah waktunya mengalihkan pembicaraan, nih," batin Qia.
"Misalnya ... Apa, ya? Bagaimana cara menangani suami yang jutek dan nenyebalkan," kata Qia dengan mode polos.
"Ha ha ha ... Jadi, Kakak ini jutek dan nenyebalkan, ya?" kata Satrio.
"UPS!" Qia menutup mulutnya.
"Maksud Qia gak gitu, Kak?" kata Qia pura-pura gugup.
"Tentu saja kamu bermaksud," potong Satrio merajuk.
"Kak ... beneran, Qia gak bermaksud kayak gitu."
"Oh ya? Trus maksudnya gimana?" desak Satrio.
Kalau sudah begini, Qia yang salah tingkah. Mau tidak mau, ia harus memilih kata yang pas.
"Qia kan cuma cari referensi saja, habisnya dulu Kakak jutek dan menjengkelkan banget, sih."
"Kalau sekarang?" tanya Satrio kesal sambil meraih pinggang Qia dan mendekapnya. Kali ini Satrio benar-benar penasaran dengan pendapat Qia tentang dirinya yang sekarang. Tiba-tiba saja ada keinginan yang sangat kuat untuk menghukumnya.
Qia menatap sekilas suaminya, kemudian menunduk. Jujur, kali ini ia menjadi gugup dengan tatapan mata Satrio yang tidak biasa. Itu sebabnya, gadis itu terus menunduk dan tidak berani mengangkat wajah.
Tiba-tiba ia merasakan atmosfer yang berbeda. Sunyi. Qia semakin merinding ketika hembusan hangat napas Satrio melintas di tengkuknya.
"Qi, bolehkah Kakak minta sekarang?" Satrio berbisik lembut, tepat di telinga Qia.
Qia menatap suaminya sekilas, kemudian menunduk. Namun, ia tidak berkata apa-apa. Hanya jantungnya saja yang saat itu berdegup kencang.
"Diam berarti, iya," bisik Satrio lagi.
Lagi-lagi Qia tidak berkata-kata. Ia hanya menunduk pasrah. Bismillah!
Akhirnya, malam itu Satrio dan Qia menggenapkan ibadah mereka.