
Qia senyum-senyum sendiri di depan cermin. Kalau ingat kejadian semalam, rasanya ia ingin selamanya bersembunyi dari Satrio, saking malunya. Semoga suaminya tidak mendengar semua bualannya. Ah, tidak tidak tidak, itu bukan bualan. Itu adalah curahan hatinya dari lubuk yang paling dalam.
Entah apa yang ada di benak suaminya semalam, tiba-tiba saja lelaki itu menarik pinggang Qia kemudian mendekapnya.
Setelah memberikan senyuman termanisnya, Satrio langsung memejamkan mata dengan tangan masih merengkuh tubuh mungil Qia.
Tentu saja gadis itu tidak berani protes. Ia hanya bisa memandangi wajah tampan itu dengan jantung berdebar tak keruan.
"Ya Allah, sepertinya aku harus begadang malam ini," batin Qia.
Andai suaminya meminta hak, tentu dengan ikhlas Qia akan memberikannya. Ia sudah mempersiapkan diri lahir dan batin.
Hanya saja, Satrio hanya memeluknya, tidak lebih. Entah apa yang dipikirkan lelaki itu. Mungkin ada pertimbangan tersendiri hingga ia belum siap menyempurnakan pernikahan mereka. Qia tidak mempersoalkan hal itu.
Meski begitu, tetap saja Qia merasa grogi tak keruan. Itu yang membuat dirinya tidak bisa memejamkan mata barang sekejap. Padahal, ia sangat lelah dan ingin istirahat setelah seharian berkutat membenahi isi rumah dan mengecek ulang skripsinya karena ujian sudah sangat dekat.
Beberapa saat, Qia merasakan napas yang keluar dari hidung Satrio sudah beraturan, begitu juga dengan ritme jantungnya. Ia juga melihat kelopak matanya sama sekali tidak bergerak dalam rentang waktu yang cukup lama. Itu artinya, pemuda tampan itu sudah tertidur lelap.
"Sepertinya ia lelah sekali," batin Qia sambil terus mengamati pemandangan indah yang ada di depannya.
Rahang kokoh, mata setajam elang dengan manik berwarna hitam legam, alis matanya tidak terlalu tebal, tetapi pas dengan bentuk mata dan wajahnya. Begitu juga dengan bibirnya, tidak terlalu tipis sehingga memberikan kesan seksi.
Wajah Qia seketika memanas begitu teringat kalau benda kenyal itu pernah menempel di bibir cerinya.
"Kau lelah? Hmm?" gumam Qia pelan. Tanpa sadar tangan mungilnya sudah berada di wajah tampan itu dan membelainya dengan lembut.
"Maaf, kerjaanmu jadi bertambah banyak, Kak. Karena kasus ini, kau harus standby jagain Qia, juga mengerjakan kerjaan kantor sekaligus." Qia masih menggumam sambil terus membelai wajah tampan itu, menyugar pelan rambut hitam sebahu itu dengan tangan mungilnya.
Setahunya, Satrio selalu pulang dengan membawa berkas setumpuk dan mengerjakannya sampai larut malam di ruang kerja. Itu karena siang hari waktunya lebih banyak terbuang bersama dengan Qia.
Gadis itu menghirup napas panjang. Aroma maskulin yang dari tadi ia hidu, kini semakin menyeruak, masuk ke dalam paru-parunya. Jujur, Qia sangat menyukainya. Entah mengapa ia merasa sangat nyaman, seolah-olah sedang berada di rumahnya. Karena itu, ia sangat suka berlama-lama di sana, hingga tanpa sadar mulutnya berbisik pelan.
"Kau bagaikan pahatan terindah, maha karya luar biasa dari Sang Pemilik kesempurnaan. Lihatlah, bahkan netra laparku enggan tuk terpejam, tak sudi menyia-nyiakan kesempatan.
Tidurlah,
Biar kureguk bius candumu
Biar kuhirup aroma maskulinmu
Biar kurasa semua rasamu
Kau tahu, aku tidak akan pernah merasa kenyang
Sungguh, aku mabuk kepayang.
Kau tahu, Kak, rumahku adalah istanaku, tempat yang paling nyaman untukku. Namun, di pelukanmu, aku merasa seperti pulang ke rumah, membuatku merasa betah berlama-lama di dalamnya. Kak ... bisakah aku pulang ke sini untuk selamanya?"
Qia menyelusup lebih ke dalam dan meringkuk dengan nyaman di sana. Selagi suaminya tertidur, ia menikmati ketenangan dan kenyamanan itu sepuasnya, hingga matanya perlahan terpejam dan napasnya mulai teratur.
Satrio membuka mata. Ia mempererat pelukannya. Senyuman lembut menghiasi bibirnya. Ia mendengar semua yang diucapkan gadisnya. Juga merasakan semua sentuhan lembut darinya.
Sekuat tenaga ia menahan gejolak yang ada di dalam dadanya. Hampir saja ia hilang kendali. Sebenarnya bisa saja saat itu ia melakukannya. Ia yakin istrinya juga tidak akan menolak
Hanya saja, Satrio tidak ingin merusak momen indah yang tercipta. Ia juga tidak ingin Qia terkejut dan merasa ketakutan. Lagipula, ia masih penasaran dengan apa yang akan dilakukan Qia selanjutnya.
Suara lembut dan kata-kata indah itu sungguh membuatnya berbunga-bunga. Entah mengapa ia merasa seolah-olah Qia adalah seorang pujangga.
Kapan hari ia juga melihat beberapa coretan pena di buku Qia atas nama Kemilau Senja.
"Sepertinya ia ngefans berat sama penulis itu."
Apa pun itu, yang jelas tulisannya berhasil menginspirasi istrinya dan membuat lelaki itu bermimpi indah.
***
Seperti biasa, Qia bangun di penghujung malam. Ia belum sepenuhnya sadar. Tubuhnya terasa berat, seolah ada batu besar yang menghimpitnya. Gadis itu akhirnya menggeliat untuk sedikit meregangkan ototnya.
"Tidurlah, jangan bergerak terus, Kakak masih mengantuk."
Sebuah suara serak khas orang bangun tidur mengagetkan dan menyadarkan Qia dari mimpi indahnya. Gadis itu seketika diam.
Saat Satrio kembali memejamkan mata dan bernapas dengan teratur, Qia mencoba mengurai pelukannya, sangat pelan, takut membangunkannya. Ia tahu, suaminya itu sangat lelah.
"Belum subuh, kan? Biar Kakak tidur sebentar, masih ngantuk." Bukannya melepaskan, Satrio malah mempererat pelukannya. "Sepuluh menit saja, oke?"
Qia terdiam, pasrah.
***
Andre mondar-mandir di ruang kerjanya. Pemuda tampan itu terlihat sangat gelisah. Sudah tiga hari ini ia tidak bisa menghubungi Taqiya Eldiina, baik dengan nama Andre ataupun Andrea.
"Apa ponselnya benar-benar rusak?" pikir Andre.
Kalau melihat tongkrongannya, Porche 911 Carrera, tidak mungkin Satrio tidak sanggup membelinya ponsel baru. Kecuali memang lelaki yang menurut Andre kurang ajar itu tidak membolehkan Qia berhubungan dengannya.
Andre memang betul-betul tidak bisa menghubungi Qia, baik lewat pesan WA atau telepon secara langsung. Itu sebabnya ia sangat resah. Pemilik yayasan pendidikan dan sosial itu sangat mengkhawatirkan kekasih diamnya.
"Sial, Satrio memang betul-betul keterlaluan."
Karena tidak tahan lagi, akhirnya Andre menghubungi Ningrum untuk datang ke ruangannya. Selama ini guru dengan paras manis itu memang sangat dekat dengan Qia. Tentu ia tahu apa yang sedang terjadi dengan sahabatnya.
Ningrum yang baru keluar dari ruang kelas buru-buru masuk ke ruangan Andre begitu sang atasan memanggilnya.
"Masuk," perintah Andre dari dalam setelah membalas salam Ningrum.
"Duduklah!" perintah Andre lagi.
Di telinga Ningrum, kata itu terdengar sangat berwibawa.
"Apa yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Ningrum sambil duduk di kursi.
"Betul Ustazah. Saya ingin tahu, sejauh mana perkembangan proyek menulis para siswa" kata Andre.
Ningrum menata lelaki pujaannya itu sekilas, heran kenapa bosnya itu bertanya tentang nubar padanya.
"Bu bukankah tanggung jawab Ustazah Qia, Pak?" tanya Ningrum tergagap.
Gadis itu sangat berhati-hati dalam memilih kata. Kalau berkaitan dengan Qia, ia tidak ingin salah kata.
BERSAMBUNG