
Satrio masuk sebentar ke ruang kerja Adrian.
"Lo yakin bakal pilih jalan ini?" tanya Adrian sekali lagi.
Masalahnya, misi yang akan dijalankan oleh Satrio kali ini sangat berbahaya dengan taruhan nyawa. Bagaimanapun, ia tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa adiknya
"Hem," jawab Satrio datar. "Bukankah ini memang resiko dari kerajaan kita?"
"Gue tahu. Namun, apa ini sepadan dengan hasil yang akan kita dapatkan?" tanya Adrian lagi.
"Gak ada pilihan lain, Kak. Plan B jelas gak mungkin gue pilih karena terlalu berbahaya, terutama buat Qia. Dia sudah cukup menderita selama ini. Gue gak mau dia lebih menderita lagi, terlebih ini membahayakan nyawanya," jawab Satrio tegas.
"Baiklah kalau begitu. Segera hubungi gue kalau kondisi tidak memungkinkan untuk bertahan."
"Siap. Kita sudah tahu siapa dalangnya, tetapi tidak mudah membuatnya menyerah. Sekarang, kita hanya perlu mencari tahu pionnya untuk memaksa sang dalang membuka tabirnya sendiri," kata Satrio pelan.
"Oke. Lakukan dengan cermat, dan cepat kembali dengan selamat."
***
Satrio melangkah keluar kemudian membawa Maybach hitamnya dengan kecepatan sedang.
Memasuki simpang tiga, suami Qia itu sudah mulai bersiap-siap. Masih dengan kecepatan sedang, kendaraan yang ia naik melaju dengan tenang. Benar saja dugaannya, beberapa saat kemudian, mobil-mobil yang sedari tadi mengikuti dengan menjaga jarak, kini mulai terang-terangan mendekat. Bahkan ada yang dengan berani menyenggol bemper Maybach.
"Oke, lo jual gue beli. Mari kita bermain-main sebentar," gumam Satrio.
Dengan lincah, ia menghindar dan mulai menambah kecelakaan. Sama seperti anak buahnya kemarin, ia juga mulai bermanuver di sana.
Tamu-tamu tak diundang yang sedang jengkel itu akhirnya mulai melepaskan tembakan. Dengan lincah Satrio menghindar dan terus menghindar. Namun, jumlah mobil yang mengejarnya semakin banyak. Tiba-tiba saja,
'DUAR'
"Sial, ban belakang gue kena tembak," gerutu Satrio kesal.
Untungnya Satrio sudah terbiasa menghadapi situasi seperti itu. Karena itu, ia mencoba bersikap tenang dan mengendalikan setir dengan tenang, sementara mobil masih terus melaju dengan kecepatan seperti sebelumnya. Ia sengaja tidak menginjak rem agar rodanya yang pecah tidak menjadi liar.
Sementara itu, orang-orang itu terus mengejar dan semakin dekat, sedangkan mobil Satrio
masih terus melaju di jalanan. Tidak ada jalan lain, Satrio mulai melepaskan pedal gas secara perlahan untuk mengurangi kecepatan agar mobil tidak liar.
Ia lalu menurunkan gigi mobil secara perlahan, hingga mobil berhenti dengan aman. Dengan cepat, suami Qia itu keluar dari mobil dan sudah bisa ditebak.
Beberapa orang berpakaian serba hitam dan bersenjata lengkap langsung menodongkan moncong senjata mereka ke arah Satrio. Mereka menutup wajah layaknya seorang ninja sehingga Satrio tidak mengenali mereka.
Mau tidak mau, Satrio akhirnya mengikuti mereka. Ia digiring masuk ke dalam mobil dan dibawa ke suatu tempat.
Orang-orang itu tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Beberapa di antara mereka bahkan terlihat agak rikuh saat menghadapi Satrio membuat lelaki itu tersenyum dalam hati. Ia tahu, mereka adalah anak buahnya.
Bagaimanapun, Satrio adalah orang nomor dua di kesatuan. Tentu mereka masih merasa segan untuk bersikap kurang ajar, meski saat ini posisi sang Bos adalah sebagai buronan.
Meski begitu, mereka masih menampakkan sikap segan. Satrio tahu, mereka melakukan semua ini hanya karena menjalankan tugas.
Bisa saja Satrio menggertak dan melepaskan diri dari penyergapan. Satrio sendiri yang melatih sebagian besar dari mereka, tentu mudah baginya untuk mengalahkan. Namun, ia sengaja tidak melakukan hal itu karena ini merupakan bagian dari rencananya bersama dengan Adrian.