
Sesuai dengan arahan temannya, mobil yang membawa Bu Mirna dan Pak Zul menambah kecepatan kemudian belok kanan. Yang membuat dua orang tua itu terkejut adalah tiba-tiba saja mobil itu putar balik di tempat yang tidak ada rambu untuk untuk putar balik, kemudian menuju tempat semula. Setelah beberapa puluh meter, mereka putar balik lagi menuju arah simpang tiga dan mengambil jalur kiri.
"Astaghfirullahal aziim, sampai mau jatuh aku, Pak," seru Bu Mirna sambil memegang lengan Pak Zul.
Situasinya sangat mencekam. Dua tubuh renta itu meliuk-liuk mengikuti laju kendaraan yang bergerak menggila. Suara berdecit dari ban mobil yang bergesekan dengan aspal dan rem begitu jelas terdengar bersahutan, baik dari mobil yang mereka tumpangi ataupun dari mobil lain yang kebetulan melintas dan berusaha menghindari tabrakan. Sangat menakutkan.
Namun, Pak Zul dan Bu Mirna tidak berani menegur ataupun sekadar bertanya pada orang-orang itu.
Beberapa saat, mobil sudah kembali berjalan dengan normal. Wajah orang-orang itu sudah tidak terlihat tegang, kecuali Bu Mirna dan Pak Zul.
Namun, kondisi itu tidak berlangsung lama.
"Sial, kita diikuti lagi!" teriak salah seorang di dalam mobil.
Sopir segera menambah kecepatan. Ternyata orang yang membuntuti mereka menyadari kalau mobil yang membawa Pak Zul dan Bu Mirna berusaha menghindari mereka. Karena itu, tamu tak diundang itu pun juga berusaha menambah kecepatan. Tak hanya itu, orang-orang juga berusaha melepaskan tembakan.
Dengan lincah, sopir bergerak menghindar. Sesekali orang yang duduk di sebelahnya juga melepaskan tembakan balasan.
"Di depan ada jalan yang cukup bagus untuk putar balik. Kita balik lagi ke sini, kemudian masuk ke jalan tikus yang tadi kita lewati!" Kembali, orang yang duduk di sebelah sopir memberikan instruksi.
"Siap!"
Sopir kembali beraksi. Akhirnya mobil mereka kembali bermanuver dengan sangat cantik. Baginya, ini sangat menyenangkan. Tentunya hal ini sangat bertolak belakang dengan Bu Mirna dan Pak Zul.
"Maaf, apa Bapak dan Ibu membawa ponsel?" tanya seorang yang berada di sebelah sopir tiba-tiba.
Pak Zul dan Bu Mirna saling pandang. Dalam hati mereka bertanya-tanya, untuk apa mereka menanyakan ponsel? Apakah orang-orang ini tidak ada yang punya? Itu sangat tidak masuk akal.
Namun, orang tua Qia itu memutuskan untuk bersikap kooperatif.
"I iya, kami bawa," jawab Bu Mirna masih dalam mode ketakutan. Bu Mirna segera menyerahkan ponselnya tetapi ternyata orang itu tidak menyambut uluran tangannya.
"Tolong segera dinonaktifkan, ya, bila perlu dikeluarkan batrenya," kata orang itu.
"Loh, tidak jadi meminjam, toh?" tanya Bu Mirna polos.
"Tidak, Bu. Ada yang berusaha mengikuti dan mencelakakan kita. Sepertinya mereka melacak keberadaan kita melalui ponsel Bapak dan Ibu. Jadi, tolong ponsel Bapak sama Ibu dimatikan." Lelaki itu berbicara dengan sopan.
Bu Mirna dan Pak Zul saling pandang. Kelegaan terpancar dari dua pasang mata itu.
"Ternyata orang-orang ini tidak bermaksud jahat," pikir Pak Zul dan Bu Mirna hampir sama.
Mereka menduga kalau orang-orang ini adalah teman Satrio yang ditugaskan untuk menjaga mereka.
Tadinya Pak Zul dan Bu Mirna sangat takut karena orang-orang itu sama sekali tidak bersuara, apalagi bercanda. Setelah bersuara, ternyata mereka adalah orang-orang yang ramah. Karena lebih dominan rasa takut, saat pertama kali diminta masuk ke dalam mobil tadi Pak Zul dan Bu Mirna sama sekali tidak kepikiran kalau orang-orang bersenjata dan berpakaian serba hitam itu adalah teman Satrio.
Tanpa pikir panjang, Pak Zul dan Bu Mirna segera mematikan ponsel.
Seperti dugaan orang yang ada di sebelah sopir, akhirnya mobil mereka sudah tidak dibuntuti lagi. Sepertinya para penyerang sudah kehilangan jejak.
Namun begitu, mobil mereka sudah sangat jauh dari tujuan semula. Harusnya satu atau dua jam mereka sudah sampai di tempat yang sudah ditentukan oleh Satrio. Namun, ini sudah berjam-jam mereka masih di jalan karena harus melalui jalur memutar.
Mereka hanya berhenti sebentar untuk makan dan memberi kesempatan untuk beribadah bagi yang menjalankan, termasuk Pak Zul dan Bu Mirna.
Di tempat terpisah, orang-orang yang bertugas menjemput Abi Kun dan Umi Silmi juga mengalami hal yang sama. Mereka juga diserang secara membabi buta. Untungnya, anak buah Satrio orang-orang yang terlatih. Satrio sendiri yang menggembleng mereka. Itu sebabnya, mereka tahu apa yang harus dilakukan saat berada pada situasi sesulit apa pun.
Sama seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang menjemput Bu Mirna dan Pak Zul, orang-orang yang menjemput Abi Kun dan Umi Silmi ini juga memutuskan untuk memutar karena merasa diikuti. Mereka sengaja melakukan hal itu karena ingin mengelabuhi musuh. Mereka berjaga-jaga, jangan sampai markas rahasia mereka diketahui.
Sekitar pukul sembilan malam, rombongan Bu Mirna sampai di depan pintu gerbang markas.
"Tempat apa ini? Ini rumah siapa?" tanya Bu Mirna.
Wanita itu sudah tidak merasa canggung lagi.
Namun, belum juga pertanyaan mendapatkan jawaban, sebuah minibus berwarna silver berhenti tepat di hadapan mereka. Dua mobil tersebut masuk ketika pintu gerbang dibuka.
Pak Zul turun lebih dulu setelah orang-orang berpakaian itu keluar, kemudian diikuti Bu Silmi.
Belum juga hilang rasa penasaran dua orang itu, dari minibus keluar Abi Kun dan Umi Silmi.
"Ya, Allah. Tidak disangka kita bertemu di sini, Mas Kun," sapa Pak Zul.
"Alhamdulillah, kita semua baik-baik saja tanpa kekurangan apa pun," kata Abi Kun.
"Alhamdulillah."
Umi Silmi dan Bu Mirna saling mendekat. Mereka saling berpelukan. Begitu banyak yang ingin mereka curahkan hingga tak satu pun yang bisa keluar karena bingung, mana yang ingin dikatakan terlebih dahulu.
Mereka berempat lalu dipersilahkan masuk.
Sementara itu, Satrio yang diberi tahu tentang kedatangan keempat orang tuanya langsung keluar. Ia sengaja tidak memberi tahu Qia untuk memberi kejutan.
Lelaki tampan itu lalu mendekati keempat orang itu dan mencium tangan mereka satu-persatu.
"Kalian baik-baik saja, kan?" tanya Satrio sambil memeriksa mereka satu persatu, tapi tetap dengan menjaga kesopanan.
"Alhamdulillah, kami baik-baik saja, Sat. Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Oh ya, bagaimana dengan menantuku?" tanya Abi Kun.
"Kita akan bicarakan ini nanti, Bu. Sebaiknya Umi dan Abi, Ayah dan Ibu istirahat dulu di kamar, kalian pasti sangat lelah. Untuk Qia, Alhamdulillah ia baik-baik saja. Ia belum tahu kalau kalian datang," kata Satrio.
Ia sendiri yang mengantarkan ke kamar mereka. Untungnya, para orang tua itu mengerti dan menurut saja apa yang disampaikan oleh Satrio.