
"Kak, ada Satrio junior di perutku. Tidakkah Kakak ingin menyapanya?" monolog Qia pelan. Ia mulai terisak.
Dulu ia sering membayangkan, suatu saat akan mengalami kondisi seperti ini, sakit ringan, trus ke dokter bersama dengan suaminya, dan mereka akan mendapatkan kejutan bersama-sama, seperti di novel-novel yang sering ia baca atau tulis. Ia membayangkan raut bahagia sang suami ketika mendengar berita bahagia itu langsung dari dokter.
Sekarang, Allah mengijabah doanya. Namun, hukum alam memang seperti itu. Tidak ada kebahagiaan yang sempurna di dunia fana ini. Ia mendapatkan kejutan indah itu, suatu karunia yang tak ternilai harganya, yang tidak semua orang tua, terlebih wanita diberi kepercayaan untuk mengemban amanah ini, yaitu menjadi seorang ibu. Hanya saja, saat ini belahan jiwanya sedang tidak diketahui di mana rimbanya.
"Kak, apa Kakak baik-baik saja? Qia sangat mengkhawatirkan Kakak. Cepat pulang, Kak."
Sekali lagi Qia terisak. Yang paling ia sesalkan adalah kenapa suaminya pergi tanpa pamit? Meski setelah salat Subuh lelaki itu sudah mengatakan akan mengantar kakaknya, tetapi tidak ada salahnya saat akan berangkat pamitan lagi? Bukankah Adrian juga berpamitan pada mereka?
Sekarang tidak ada yang tahu, apakah suaminya sekarang sedang menjalankan misi atau malah tertangkap? Qia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada suaminya.
KRIEK
Pintu ruangan di buka. Umi dan Bu Mirna masuk membawa makanan dan cemilan. Mereka baru saja menunaikan kewajiban Isya kemudian membeli beberapa makanan di kantin rumah sakit.
Qia buru-buru menyeka air matanya. Ia tidak ingin orang-orang di sekitarnya merasakan kesedihannya juga.
"Qi, buburnya sudah dimakan?" tanya Bu Mirna.
"Sudah, Bu," jawab Qia singkat.
Itu sebabnya, keempat orang itu tidak begitu risau saat meninggalkan Qia sendirian di ruangan itu.
***
Sementara itu, seolah tersambung batinnya dengan Qia, malam itu Satrio merasa gelisah. Ia baru saja mengalami penyiksaan bertubi-tubi dan secara terus-menerus. Saat ini tubuhnya seperti mau remuk semua.
Di tengah kondisi antara sadar dan tidak, Satrio beremu dengan Qia. Saking tidak nyamannya perasaan Satrio membuat dirinya tidak mampu menerjemahkan, perasaan apa yang saat itu sedang berkecamuk dalam dirinya. Ini ada pertama kali baginya melakukan misi sejak bersama dengan Qia.
Kalau dulu ia sangat fokus untuk melakukan misi apa pun yang diberikan, sekarang pikirannya terbelah. Dulu tidak ada satu pun yang ia takuti. Ia sudah paham, bergabung di kesatuan memang resikonya besar, termasuk nyawa pun sudah siap ia korbankan. Namun, sekarang ia mulai berpikir ulang.
Andai ia mati, bagaimana dengan Qia?
"Maafkan Kakak, Qi," batin Satrio.
Ia sangat menyesal, kenapa tidak mengikuti saran Adrian untuk berpamitan lagi dan menjelaskan padanya tentang misi ini. Ia tahu, saat ini Qia sedang kebingungan mencarinya.
"Qi, Kakak janji akan pulang secepatnya dengan selamat. Setelah ini, kita bisa menjalani hidup ini dengan tenang," tekad Satrio mantap.
Kamarin ia hampir berhasil menaklukkan Andika tanpa ada perlawanan. Namun, rencana itu ambyar. Satrio menebak kalau Danang sudah mengadukan sikap andika pada Wijaya Kusuma sehingga perwira andalan di ditarik kembali olehnya.